DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Ada kemarahan yang tidak lahir dari cemburu.
Ia lahir dari kelelahan yang terlalu lama dipendam.
Aira baru menyadari itu ketika pintu ruang diskusi ditutup terlalu keras.
Bukan dibanting.
Tapi cukup keras untuk mengatakan: aku tidak ingin bicara pelan lagi.
Naya berdiri di dekat meja, tangannya gemetar. Bima duduk dengan kepala tertunduk. Raka berdiri di sudut ruangan, ragu antara maju atau mundur.
“Aku capek,” kata Naya akhirnya. Suaranya tidak tinggi, tapi bergetar. “Aku benar-benar capek.”
Aira menelan ludah. “Nay”
“Jangan potong aku dulu,” Naya mengangkat tangan. “Sekali ini aja. Dengerin.”
Aira mengangguk. Ia duduk. Sambil mendengarkan cucuran keringat nampak menghiasi wajahnya, ia takut sesuatu akan berakhir tidak baik di hari ini.
“Kamu tahu kenapa aku marah?” tanya Naya.
Aira menatapnya, ia takut sesuatu yang akan di ucapkan Naya akan membuat persahabatan nya renggang “Maaf aku enggak tau nay?” jujur Aira
Naya tertawa kecil, sambil menelan ludahnya yang terasa Pahit. “Karena aku menaruh hidupku di proyek ini.” Ruangan mendadak sunyi.
“Aku butuh proyek ini, Ra,” lanjut Naya. “Bukan buat CV. Tapi buat beasiswa.”
Bima mendongak terkejut.
“Aku tidak pernah cerita ke kalian,” kata Naya, kini menatap meja. “Beasiswaku dievaluasi semester ini. Kalau proyek ini gagal, aku bisa dicoret.”
Aira membeku.
“Kamu… nggak pernah bilang,” katanya pelan.
“Iya,” Naya mengangguk. “Karena aku tidak mau dikasihani. Dan karena aku percaya, kita solid.”
Raka menghela napas pelan.
“Kamu tahu apa yang terjadi minggu lalu?” Naya mendongak, matanya merah. “Proposal kita hampir ditolak sponsor. Karena revisi yang harusnya kamu kirim… telat.”
Aira menegang. “Aku kirim.”
“Kamu kirim jam dua pagi,” tegas Naya. “Deadline-nya jam sembilan malam. Aku yang harus begadang, nelpon sana-sini, minta perpanjangan waktu sambil minta maaf atas nama TIM.”
Aira menutup mulutnya, ia tidak tau masalahnya akan serumit ini, setau Aira deadline nya keesokan hari nya.
“Aku tidak pernah menyalahkan mu,” lanjut Naya. “Aku enggak bertanya lagi tentang tanggal deadline yang di majuin karna aku ngertiin kamu Ra, karna aku tau kamu lagi banyak masalah, aku pikir kamu tau, tanpa harus aku beritahu"
"Maaf Nay, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, seharusnya aku bisa cari tau sendiri tentang proyek ini tanpa harus kamu beritahu, aku lupa, aku hanya terbiasa mendengarkan semua nya dari kamu"
Naya hanya tersenyum getir, Ia tau Aira tidak sepenuhnya salah, " kamu menyakiti ku Ra
Air mata Aira jatuh.
“Aku tidak tahu,” bisiknya. “Kalau aku tahu”
“Justru itu,” potong Naya. “Kamu tidak tahu. Karena kamu tidak hadir sepenuhnya lagi.”
Bima akhirnya bicara. “Nay, kita bisa cari solusi”
“Tidak semua hal bisa diselesaikan belakangan,” balas Naya. “Ada hal-hal yang rusaknya sekali, langsung berdarah.”
Aira berdiri, langkahnya pelan. “Aku minta maaf. Bukan sebagai formalitas. Tapi sebagai teman.”
Naya menatapnya. Lama. Terlalu lama.
“Aku percaya kamu,” katanya pelan. “Dan itu yang bikin aku marah.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan, Aira tak mengira bahwa ia akan menggores luka untuk teman ny
...####...
Sore itu, Aira duduk sendiri di tangga kampus.
Langit tidak ada.
Dan kini ia merasa benar-benar sendirian, Aira benar-benar merasakan sepi yang utuh.
Raka datang membawa dua botol air mineral. Ia duduk di samping Aira tanpa bicara.
“Aku kacau,” kata Aira akhirnya.
Raka menggeleng. “Kamu manusia.”
“Aku melukai mereka.”
“Iya,” jawab Raka jujur. “Dan kamu juga sedang terluka.”
Aira menatap Raka. “Kamu tahu soal beasiswa Naya?”
Raka mengangguk. “Aku tahu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena Naya minta aku diam,” kata Raka pelan. “Dan karena aku pikir… kamu akan tau sebelum semuanya sejauh ini.”
Aira tertawa kecil, pahit. “Aku bahkan tidak sadar aku pergi.”
Raka menatap lurus ke depan. “Kadang orang pergi bukan karena ingin. Tapi karena tidak tahan tinggal.”
Aira terdiam.
“Aku salah, Ra,” lanjut Raka. “Aku menutupimu. Aku pikir itu melindungi. Ternyata itu mempercepat jarak.”
Aira mengusap wajahnya. “Aku tidak ingin kehilangan kalian.”
“Kamu mungkin sudah kehilangan versi lama kita,” jawab Raka. “Tapi bukan berarti tidak bisa membangun ulang.”
“Dan kamu?” tanya Aira pelan. “Kamu masih mau berdiri di sini?”
Raka menatapnya lama. “Aku masih di sini. dan akan selalu ada di sini.”
Aira mengangguk. Ia paham.
...####...
Malamnya, Aira berjalan tanpa tujuan.
Langkahnya berhenti di halte bus lama.
Langit duduk di sana, membaca buku.
“Kamu kelihatan seperti orang yang habis berkelahi,” katanya tanpa menoleh.
“Aku memang habis berkelahi,” jawab Aira.
Langit menutup bukunya. “Kamu mau cerita?”
“Aku melukai sahabatku,” kata Aira. “Dan kali ini… alasannya nyata.”
Langit mengangguk. “Itu lebih menyakitkan.”
“Aku egois?”
“Tidak,” jawab Langit. “Kamu manusia yang belajar memilih. Tapi setiap pilihan punya harga.”
Aira duduk di sampingnya. “Aku takut aku tidak pantas punya siapa pun.”
Langit menoleh. “Kamu pantas. Tapi kamu juga harus bertanggung jawab.”
Aira tersenyum kecil. “Kamu tidak pernah membelaku.”
“Aku tidak datang untuk membenarkanmu,” jawab Langit tenang. “Aku datang untuk menemanimu menghadapi akibatnya.”
Kalimat itu membuat Aira menunduk.
“Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya,” bisiknya.
“Mulai dengan hadir,” kata Langit. “Tanpa alasan. Tanpa pembelaan.”
Aira mengangguk.
Aira merasa kedewasaan tidak datang dari memilih cinta, tetapi dari berani menanggung luka.
...####...
Malam itu, Naya duduk sendirian di kamarnya. Email dari pihak beasiswa terbuka di layar. Status: Dalam Peninjauan Ulang.
Ia memejamkan mata. Ponselnya bergetar.
Aira:
Aku tahu maafku tidak cukup.
Tapi aku akan tetap di sini.
Kalau kamu masih mau berjalan bersamaku, pelan pun tidak apa.
Naya menatap layar lama. Ia enggan untuk membalas.
...####...
Raka tidak pernah berniat jatuh cinta.
Kalau pun iya, ia tidak pernah merencanakannya.
Perasaan itu datang pelan, tumbuh dari kebiasaan: menunggu Aira datang paling akhir, menyimpan kursi kosong di sebelahnya, mengingatkan makan, menutup kekosongan yang bahkan Aira sendiri tidak sadar sedang terbuka.
Dan seperti kebanyakan hal yang tumbuh diam-diam, perasaan itu tidak pernah diberi nama.
Pagi itu, Aira datang ke kampus seperti biasa. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi tidak berantakan.
“Rak,” sapa Aira ringan. “Kamu sudah makan?”
Raka mengangguk. “Sudah. Kamu?”
“Belum sempat,” jawab Aira sambil membuka tas.
Raka mengeluarkan roti dari tasnya. “Ini. Aku beli dua.”
“Eh, makasih,” kata Aira tanpa ragu, langsung menerima. “Kamu penyelamat banget.”
Kalimat itu ringan.
Bagi Aira, itu biasa.
Bagi Raka, itu seperti bunga yang mulai mekar.
“Rak?” panggil Aira lagi. “Kamu kenapa?”
Raka tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, cuman lagi mikirin sesuatu aja"
Dan itu tidak sepenuhnya bohong.
Beberapa hari setelah konflik dengan Naya, hubungan mereka tidak benar-benar membaik. Tidak juga sepenuhnya rusak. Mereka masih satu tim. Masih bicara. Tapi ada jarak yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Aira mencoba hadir. Ia datang tepat waktu. Mengirim revisi sebelum deadline. Tidak menghilang.
Tapi satu hal tidak berubah:
Raka tetap menjadi orang yang paling sering berada di dekatnya.
Dan itu yang perlahan membuat semuanya semakin rumit.
Suatu sore, setelah rapat selesai, hanya Aira dan Raka yang tertinggal di ruang diskusi.
“Kamu langsung pulang?” tanya Raka.
“Iya,” jawab Aira. “Ayah lagi di rumah.”
Nada suara Aira datar. Raka tahu, itu bukan kabar baik.
“Kalian masih dingin?” tanya Raka hati-hati.
Aira tertawa kecil. “Kami tidak pernah benar-benar hangat.”
Raka mengangguk. “Kamu… nggak kepikiran buat ngekos?”
Aira menoleh cepat. “Nggak. Ayah nggak bakal izinin. Lagian, aku juga nggak mau ninggalin Ibu.”
Raka diam.
“Oh,” katanya singkat.
“Aku tahu kelihatannya aku kayak nggak punya ruang,” lanjut Aira, seolah membaca pikirannya. “Tapi ini rumahku. Mau seberantakan apa pun.”
Raka tersenyum. “Iya. Aku ngerti.”
Padahal tidak sepenuhnya.
...####...
Malam itu, Aira pulang dengan kepala penuh.
Ayah duduk di ruang tengah, membaca berkas. Tidak menyapa.
“Kamu pulang,” kata Ayah akhirnya, tanpa menoleh.
“Iya, Yah.”
“Ayah dengar kamu masih lanjut proyek itu.”
“Iya.”
“Walaupun sudah jelas tidak ada manfaat langsung?”
Aira menahan napas. “Manfaatnya tidak selalu langsung kelihatan.”
Ayah menutup berkas. “Kamu terlalu sering membela sesuatu yang tidak bisa menjamin masa depanmu.”
“Ayah terlalu sering menganggap hidup Aira sebagai investasi,” balas Aira pelan.
Ayah berdiri. “Airaa.” suara ayah pelan, namu cukup mengetahui kalau ayah tidak mau di banta
“Aira capek” jawab Aira. “Aira cuma ingin didengar.”
Ayah tertawa kecil. “Kamu harus jadi hebat untuk di dengar Aira. dan untuk itu kamu harus berubah.”
“Aira tidak minta diubah,” suara Aira bergetar. “Aira minta dimengerti.” tak ada kata-kata lagi yang keluar, Ayah tidak menjawab. Ia kembali ke berkas-berkasnya.
Dan Aira kembali ke kamarnya dengan dada yang semakin sesak.
Pesan dari Raka masuk tidak lama kemudian.
Raka:
Kamu sudah sampai rumah?
Aira:
Sudah. Aman.
Raka:
Ayahmu gimana?
Aira menatap layar lama.
Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Aira:
Masih sama.
Kaku.
Raka:
Kalau kamu capek, kamu boleh cerita.
Aira tersenyum kecil.
Aira:
Aku nggak mau bikin kamu ikut capek.
Di sisi lain layar, Raka memejamkan mata.
Ia ingin membalas:
Aku capek justru karena kamu tidak pernah mau membebani aku.
Tapi yang ia kirim hanya:
Raka:
Istirahat ya.
Malam itu, Raka duduk sendirian di kamarnya.
Ia membuka chat Aira. Membaca ulang percakapan mereka berbulang-bulang ke belakang. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang berlebihan.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
“Aku bahkan tidak pernah diberi kesempatan ditolak,” gumamnya.
Karena Aira tidak tahu.
Dan mungkin, tidak pernah perlu tahu.
Bersambung