Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tak Harus Buru-buru
Raisa terengah-engah mencapai puncak tangga, napasnya memburu karena harus segera menghadiri kelas di lantai dua.
Pikirannya penuh dengan catatan kuliah yang belum sempat dibaca, membuatnya kurang memperhatikan sekeliling.
Bruk!
Tanpa diduga, tubuh Raisa menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah.
Buku-buku dan alat tulisnya berhamburan ke lantai, menciptakan suara gaduh yang memecah keheningan.
"Aduh, maaf," ucap Raisa menyesal, mendongak menatap orang yang baru saja ditabraknya.
Tubuhnya membeku seketika, jantungnya berdegup kencang seperti genderang yang ditabuh bertalu-talu.
"Darma?" gumam Raisa dalam hati, terkejut dengan sosok yang berdiri di hadapannya.
"Iya Santai aja. Kamu nggak apa-apa kan?" Ucap Darma dengan nada khawatir. Ia berjongkok membantu memungut buku-buku Raisa yang berserakan, gerakannya cepat dan cekatan.
"Ah, nggak apa-apa," jawab Raisa gugup, berusaha mengumpulkan barang-barangnya secepat mungkin. dia ingin segera menjauh dari Darma yang masih terpaku di tempatnya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dalam sekejap Raisa sudah berlalu dari hadapan Darma.
Darma mengerutkan kening, heran dengan tingkah laku Raisa yang langsung pergi.
"Bukannya dia SPG yang kulihat waktu itu di acara pameran?" gumam Darma pelan, mencoba mengingat-ingat wajah yang Raisa.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah dompet berwarna cokelat yang tergeletak di lantai. Dengan perlahan, Darma mengambil dompet itu.
"Sepertinya punya dia," pikirnya, sudah bisa menebak.
Dia membuka dompet itu dan memeriksa kartu identitas yang ada di dalamnya.
"Raisa Swandy, Administrasi Keuangan," Darma tersenyum tipis.
Hanya dengan bermodalkan kartu mahasiswa itu, ia yakin bisa mengumpulkan informasi lengkap tentang Raisa, membuka lembaran baru dalam hidupnya.
-----------
Hampir satu semester Raisa menjalani rutinitas melelahkan, pulang pergi antara Lengkong dan Cisitu Lama.
Belum lagi, dia harus bekerja sebagai seorang SPG event untuk menambah penghasilan, bukan karena butuh tapi karena cinta.
Kondisi itu membuat Andini dan Indah merasa cemas, terlebih karena Raisa sudah hampir satu minggu tidak masuk kuliah.
Mereka memutuskan untuk menjenguk Raisa di kosannya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang mana kosannya, Din?" tanya Indah sambil memperhatikan deretan bangunan di sepanjang jalan, matanya menyipit berusaha mencari petunjuk.
"Sepertinya yang ini," kata Andini sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan kos berpagar abu-abu.
"Yakin?" Indah menatap Andini dengan ragu, seolah meragukan ingatan temannya itu.
"Yakinlah, kan waktu itu aku yang antar Raisa ke sini," sahut Andini sambil membuka pintu gerbang kosan. Mereka berdua berjalan bersama-sama memasuki halaman kos yang tampak sepi dan tenang.
Dengan perlahan, mereka mulai memperhatikan sekeliling, mencari-cari tanda kehidupan di antara kamar-kamar yang berjajar rapi.
"Kamarnya yang mana ya?" tanya Indah dengan nada agak berisik, memecah kesunyian sore itu.
"Ssst, pelankan suaranya," bisik Andini sambil terus berjalan menuju kamar kos Raisa, berharap tidak mengganggu penghuni lainnya.
"Seingatku sih nomor lima ya," sambung Indah, lalu langsung menghampiri kamar dengan nomor yang dimaksud.
Tok... tok...
"Cha... Cha... Raisa!"
Suara Indah dan Andini terdengar berisik hingga membuat Raisa yang sedang beristirahat di kamar segera bangkit dan membuka pintu.
"Eh, Dini, Indah?" seru Raisa sedikit terkejut dengan kedatangan kedua temannya itu.
Wajahnya tampak pucat dan lelah, namun senyumnya tetap merekah.
"Ya ampun, Raisa, kamu pucat banget!" celetuk Andini dengan nada khawatir, memperhatikan setiap detail wajah sahabatnya.
"Yuk, masuk dulu," kata Raisa mempersilakan Andini dan Indah untuk masuk ke dalam kamarnya.
Mereka pun duduk di atas tempat tidur Raisa yang tampak berantakan, namun tetap terasa nyaman untuk bersantai.
"Aku dan Andini khawatir, soalnya kamu sudah hampir seminggu tidak masuk kuliah," kata Indah membuka percakapan dengan nada khawatir, menatap Raisa dengan tatapan penuh perhatian.
"Iya, soalnya beberapa hari yang lalu aku harus merawat Digta yang sakit, terus sekarang aku ketularan jadi ikut sakit deh," kata Raisa menjelaskan kondisinya, suaranya terdengar lemah dan lesu.
"Ya ampun, Cha, kamu sampai segitunya sih," ungkap Indah dengan nada sedikit jengkel mendengar penjelasan Raisa.
"Kamu ini kenapa sih, sampai kerja jadi SPG pulang malam, siang kuliah, pulang pergi ngekos di dua tempat," kata Indah lagi, mulai mencurahkan kekhawatirannya yang selama ini dipendamnya.
"Aku cuma mau selalu dekat sama Digta," jawab Raisa lirih, suaranya hampir tak terdengar.
"Ya, tapi kamu tuh mengorbankan kesehatan kamu sendiri..."
"Maaf ya, Cha, tapi kali ini aku juga sependapat sama Andini," timpal Indah, mencoba memberikan pengertian dengan nada lembut.
"Kamu mengejar cowok sampai segitunya sih?"
"Kayaknya sudah terlalu obsesi deh, aku nggak mau kamu terluka, Cha," sambung Andini dengan nada lembut, menggenggam tangan Raisa erat.
Raisa terdiam, matanya melirik ke arah Andini dan Indah, merasa tersentuh dengan perhatian kedua sahabatnya itu.
"Kalian nggak ngerti gimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai," ungkap Raisa pelan, suaranya bergetar menahan kesedihan yang selama ini dipendamnya.
Tanpa mereka sadari, Digta mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
Awalnya, Digta hendak memeriksa keadaan Raisa, namun Digta mengurungkan niatnya begitu mendengar percakapan itu.
Digta berbalik dan kembali ke kamarnya, hatinya dipenuhi dengan berbagai macam perasaan.