NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Nafas Sekte

Udara di sekitar wilayah itu berubah tanpa tanda yang jelas. Angin kering masih bertiup, tetapi setiap hembusannya terasa lebih berat ketika melewati kulit. Tanah yang retak tidak lagi sepenuhnya mati. Getaran halus menjalar dari dalam, pelan namun konsisten, seperti denyut yang baru terbangun.

Xu Tian berhenti melangkah. Telapak sepatunya menekan tanah keras, dan ia menurunkan pandangan. Retakan-retakan tipis di permukaan batu tampak sama seperti sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang bergerak di bawahnya. Bukan panas, bukan dingin. Sebuah tekanan samar yang tidak terlihat.

Ia berdiri diam cukup lama sebelum mengangkat tangan. Isyarat singkat itu membuat Chen Yu berhenti di belakangnya. Murid itu menahan langkah, bahunya sedikit menegang, matanya menyapu sekeliling tanpa suara.

“Jangan bergerak dulu,” kata Xu Tian singkat.

Chen Yu mengangguk. Ia menutup mulut, menelan napas yang nyaris keluar terlalu cepat. Pandangannya tertuju pada tanah di depan mereka, lalu pada garis cahaya tipis yang masih melayang di udara, menandai batas aula yang belum selesai.

Cahaya itu tidak bertambah terang. Tidak juga memudar. Ia hanya berdenyut perlahan, seirama dengan getaran tanah di bawah kaki mereka.

Xu Tian memutar tubuh sedikit. Pandangannya menyusuri wilayah sekitar, dari batu-batu besar yang berserakan hingga lereng tandus di kejauhan. Tidak ada tanaman yang tumbuh lebih banyak dari kemarin. Tidak ada perubahan mencolok pada bentuk tanah. Namun, keheningan terasa berbeda.

Biasanya, wilayah ini sunyi karena kosong. Sekarang, sunyi itu terasa menahan sesuatu.

Suara patahan kecil terdengar dari arah kiri. Bukan batu besar. Lebih seperti ranting kering yang diinjak. Xu Tian menoleh tanpa tergesa. Jaraknya cukup jauh, di balik gugusan batu yang menonjol dari tanah.

Chen Yu ikut menoleh. Ia merapatkan genggaman pada alat sederhana yang ia bawa, sebuah tongkat kayu yang ujungnya masih kasar. Tangannya sedikit bergetar sebelum ia menurunkannya kembali, mengikuti contoh Xu Tian.

“Dengar dan lihat,” ujar Xu Tian. “Jangan bereaksi dulu.”

Chen Yu mengangguk lagi. Rahangnya mengeras, dan ia menurunkan pusat berat tubuhnya, lutut sedikit ditekuk. Napasnya lebih pelan dari sebelumnya.

Getaran di tanah semakin jelas ketika waktu berlalu. Tidak kuat, tetapi cukup untuk dirasakan jika berdiri diam. Retakan kecil di dekat batas cahaya memancarkan kilau samar, seperti pantulan cahaya matahari pada air tipis.

Xu Tian melangkah satu langkah ke depan. Saat kakinya menyentuh tanah di dalam batas itu, tekanan di udara berubah. Tidak ada ledakan, tidak ada dorongan. Hanya perbedaan tipis, seperti memasuki ruangan tertutup setelah berdiri lama di luar.

Ia berhenti di sana. Tidak ada perintah dari mana pun. Tidak ada suara yang memandu. Hanya respons lingkungan terhadap sesuatu yang baru hadir.

Di kejauhan, bayangan bergerak cepat di antara batu. Xu Tian menangkapnya dengan sudut mata. Tubuh rendah, gerakan gesit, lalu menghilang lagi di balik kontur tanah.

Chen Yu menarik napas pendek, lalu menahannya. Matanya melebar sesaat sebelum ia menunduk, mengingat instruksi. Bahunya masih kaku, tetapi ia tidak bergerak.

“Guru,” katanya pelan, hampir tanpa suara. “Itu…?”

Xu Tian tidak langsung menjawab. Ia menunggu beberapa detik, memastikan tidak ada pergerakan lain yang terlewat. Ketika bayangan itu tidak muncul kembali, barulah ia berkata, “Belum tentu satu.”

Ia menggeser posisi sedikit, memastikan Chen Yu berada di belakang dan sedikit ke samping. Gerakan itu tenang, tanpa kesan tergesa. Setiap langkahnya terukur, seolah menguji reaksi tanah di bawahnya.

Udara bergetar halus. Bukan karena angin. Lebih seperti tekanan yang menyebar dari satu titik, perlahan tapi stabil. Xu Tian menoleh ke arah aula yang belum terbentuk. Garis cahaya itu tampak sedikit lebih tebal dibanding sebelumnya, meski perubahannya nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Suara lain muncul, kali ini dari arah berlawanan. Gesekan batu kecil. Nafas berat yang cepat, lalu berhenti. Xu Tian menyipitkan mata.

“Jaga jarak,” katanya singkat. “Ikuti langkahku.”

Chen Yu bergerak sesuai perintah. Ia tidak bertanya. Kakinya menapak tanah dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara lebih dari yang diperlukan. Setiap kali tanah bergetar, ia menyesuaikan keseimbangan, meniru cara Xu Tian berdiri.

Dari balik batu besar di depan mereka, sepasang mata muncul. Tidak bersinar, tidak juga memancarkan cahaya. Hanya refleksi cahaya sore yang mengenai permukaannya. Tubuh makhluk itu rendah dan berotot, bulunya kusam, warnanya hampir menyatu dengan tanah.

Makhluk itu tidak mendekat. Ia hanya menatap, kepala sedikit miring. Hidungnya bergerak, mengendus udara. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan suara rendah dari tenggorokan, bukan geraman penuh, lebih seperti peringatan.

Xu Tian tidak bergerak. Tatapannya tenang, tubuhnya tetap tegak. Ia tidak mengeluarkan tekanan apa pun. Tidak ada langkah maju, tidak ada sikap menantang.

Makhluk itu melangkah satu langkah ke samping. Batu kecil bergeser di bawah cakarnya. Suaranya cukup jelas di keheningan.

Dari arah lain, bayangan kedua muncul. Lalu ketiga. Tidak semuanya terlihat jelas, tetapi pergerakan di sekitar wilayah itu semakin sering. Mereka menjaga jarak, membentuk setengah lingkaran longgar.

Chen Yu menelan ludah. Ia menurunkan pandangan sesaat, lalu kembali mengangkatnya. Tangannya kembali mencengkeram tongkat kayu itu, kali ini lebih erat, tetapi posisinya tetap rendah.

“Guru,” katanya lirih. “Mereka tidak masuk.”

“Belum,” jawab Xu Tian.

Ia melirik tanah di sekitar mereka. Retakan yang memancarkan cahaya samar tampak lebih aktif. Getaran kecil menjalar lebih sering, seolah tanah merespons keberadaan makhluk-makhluk itu.

Xu Tian mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Chen Yu berhenti tepat di tempatnya. Ia sendiri melangkah setengah langkah ke depan, berdiri tepat di batas cahaya.

Makhluk terdekat mendongak. Matanya tertuju pada kaki Xu Tian. Hidungnya bergerak lebih cepat. Tubuhnya merendah, otot-otot di kakinya menegang.

Tidak ada serangan. Tidak juga mundur.

Udara terasa semakin padat. Sinar matahari sore masih ada, tetapi bayangan-bayangan di sekitar mereka tampak lebih panjang. Angin berhenti bertiup untuk beberapa saat, membuat keheningan semakin terasa.

Xu Tian menggeser berat tubuhnya. Tanah di bawah kakinya merespons dengan getaran kecil. Garis cahaya di udara berdenyut sekali, lalu kembali stabil.

Makhluk itu mundur setengah langkah. Suara rendah keluar dari tenggorokannya lagi, kali ini lebih pelan. Ia menoleh ke arah lain, seolah berkomunikasi tanpa suara.

Xu Tian mengamati semuanya tanpa ekspresi berlebihan. Setiap perubahan kecil ia catat, setiap jarak ia ukur dengan pandangan. Ia tidak mengejar, tidak juga memancing.

Chen Yu merasakan punggungnya basah oleh keringat. Ia tidak menyekanya. Fokusnya terjaga, matanya mengikuti arah pandang Xu Tian.

Beberapa saat berlalu seperti itu. Tidak ada yang bergerak maju. Tidak ada yang pergi sepenuhnya. Wilayah itu berada di antara dua keadaan, menunggu sesuatu yang belum terjadi.

Akhirnya, satu makhluk berbalik. Ia melangkah pergi, perlahan tapi tidak ragu. Dua lainnya mengikutinya, meski tetap menoleh beberapa kali ke arah cahaya di tengah wilayah.

Xu Tian tidak mengejar. Ia menunggu sampai bayangan terakhir menghilang di balik kontur tanah.

Getaran di tanah tidak berhenti. Namun, ritmenya berubah, menjadi lebih lambat. Cahaya di udara tetap ada, tenang seperti sebelumnya.

Xu Tian menghembuskan napas pelan. Ia menurunkan tangan yang sejak tadi terangkat sedikit.

“Wilayah ini sudah terlihat,” katanya.

Chen Yu mengangguk. Bahunya turun sedikit, meski tubuhnya masih siaga. “Apakah mereka akan kembali, Guru?”

Xu Tian menatap kejauhan. “Kemungkinan besar.”

Ia berbalik, melangkah kembali ke arah pusat wilayah. Chen Yu mengikutinya tanpa jarak berlebihan. Setiap langkah mereka kini terasa lebih berat, bukan karena tanah, tetapi karena kesadaran akan apa yang telah memperhatikan mereka.

Di belakang, keheningan kembali menyelimuti wilayah itu. Namun, kali ini, keheningan itu tidak lagi kosong.

...

Suara langkah kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini lebih dari satu arah. Batu kecil bergeser, tanah kering terinjak, lalu berhenti serempak.

Xu Tian berhenti di dekat batas cahaya. Tubuhnya tegak, satu kaki sedikit di depan. Ia mengangkat tangan tanpa menoleh. Chen Yu langsung berhenti di belakangnya.

Bayangan-bayangan muncul di antara batu. Lebih banyak dari sebelumnya. Beberapa rendah dan cepat, lainnya lebih besar dengan langkah berat. Jarak mereka masih aman, tetapi lingkaran itu mulai menyempit.

Salah satu makhluk maju dua langkah. Kepalanya rendah, bahu terangkat. Tanah di bawah kakinya bergetar pelan.

Xu Tian tidak mundur. Ia menurunkan pusat tubuhnya sedikit, telapak kaki menekan tanah lebih dalam. Retakan di dekatnya memancarkan cahaya lebih jelas, lalu meredup.

“Di belakangku,” katanya singkat.

Chen Yu bergerak cepat. Ia berdiri tepat di belakang Xu Tian, tongkat kayu diangkat setengah tinggi. Ujung tongkat itu bergetar halus mengikuti denyut tanah.

Makhluk pertama berhenti. Hidungnya bergerak cepat. Ia mengeluarkan suara pendek, tajam.

Jawaban datang dari arah kanan. Makhluk lain melangkah keluar dari bayangan. Ukurannya lebih besar, bulunya tebal, cakarnya meninggalkan bekas dangkal di tanah.

Udara terasa semakin padat. Angin tidak bergerak. Cahaya dari batas aula berdenyut sekali, lalu diam.

Xu Tian melangkah maju satu langkah. Tanah merespons dengan getaran lebih kuat. Batu kecil di sekitarnya bergeser menjauh.

Makhluk besar itu mendongak. Matanya terkunci pada Xu Tian. Tubuhnya merendah, lalu menegang.

Serangan datang tanpa aba-aba. Makhluk itu menerjang lurus, tanah terbelah tipis di bawah cakarnya. Jarak puluhan langkah terpotong dalam sekejap.

Xu Tian memutar tubuh. Kakinya menghantam tanah. Getaran menyebar, membuat arah lompatan makhluk itu sedikit melenceng.

Cakar tajam menyapu udara di depan dada Xu Tian. Ia menghindar setengah langkah. Ujung cakar itu tetap merobek kain lengan, meninggalkan bekas panjang.

Chen Yu bergerak refleks. Ia mengayunkan tongkat ke arah kaki makhluk itu. Pukulan itu tidak menghentikan serangan, tetapi membuat pijakannya goyah.

Makhluk itu mendarat berat. Tanah di bawahnya retak. Ia berbalik cepat, mulut terbuka, taring terlihat jelas.

Xu Tian sudah berada di sampingnya. Tangannya menghantam leher makhluk itu dari samping. Benturan tumpul terdengar. Makhluk itu terhuyung, tetapi tidak jatuh.

Dari arah lain, dua bayangan bergerak bersamaan. Satu rendah dan cepat, satu lagi meloncat tinggi. Serangan datang berlapis.

“Jangan diam,” kata Xu Tian.

Chen Yu mundur setengah langkah. Ia menggeser posisi, menjaga jarak. Tongkat di tangannya menghantam batu kecil, melemparkannya ke arah makhluk yang melompat.

Batu itu mengenai kepala makhluk tersebut. Arahnya melenceng, tubuhnya jatuh menghantam tanah. Debu beterbangan.

Makhluk rendah itu sudah dekat. Ia menerjang ke arah Chen Yu. Xu Tian memutar tubuh dan menghalangi. Kakinya menyapu rendah, menghantam kaki depan makhluk itu.

Makhluk itu terjungkal. Tubuhnya menghantam tanah keras, suara tulang beradu terdengar jelas. Ia menggeliat, lalu berhenti bergerak.

Cahaya di batas aula berdenyut lebih cepat. Retakan tanah memancarkan kilau lebih terang. Getaran menjalar lebih luas.

Makhluk-makhluk lain berhenti maju. Mereka menatap pusat wilayah dengan jarak yang sama. Beberapa mundur satu langkah.

Makhluk besar yang terluka menggeram. Darah menetes dari lehernya, membasahi tanah. Ia menatap Xu Tian beberapa detik, lalu berbalik.

Satu per satu, bayangan itu mundur. Tidak lari, tetapi menjauh dengan jarak aman. Lingkaran itu terurai perlahan.

Xu Tian tetap berdiri di tempatnya sampai yang terakhir menghilang. Tangannya menurunkan posisi perlahan. Nafasnya stabil, tetapi langkahnya meninggalkan bekas lebih dalam dari sebelumnya.

Chen Yu berdiri beberapa langkah di belakang. Ujung tongkatnya menyentuh tanah. Tangannya masih menggenggam erat.

“Apakah mereka akan kembali?” tanyanya pendek.

Xu Tian menatap retakan tanah yang masih berkilau. “Jika wilayah ini terus berubah.”

Getaran perlahan mereda. Cahaya di udara kembali stabil, tipis dan tenang. Tanah yang retak menutup sebagian, meninggalkan garis-garis halus.

Xu Tian berbalik menuju pusat wilayah. Ia melangkah masuk ke dalam batas cahaya. Chen Yu mengikutinya tanpa bicara.

Di belakang mereka, jejak darah perlahan mengering di tanah tandus. Udara kembali sunyi, tetapi tekanan itu belum sepenuhnya hilang.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!