NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Batas Teritori

​"Geser meja itu sedikit ke kiri, Mina. Ya, di situ. Jangan sampai menghalangi cahaya jendela."

​Suara Elena menggema di lorong lantai dua yang biasanya sunyi. Sejak pagi, dia sudah menyulap kamar tamu di ujung lorong—yang dulunya difungsikan sebagai gudang berkas lama Kairo—menjadi markas besarnya.

​Mina mendorong meja kayu jati berat itu dengan napas tersengal. Keringat membasahi dahi pelayan muda itu.

​"Nyonya, serius kita tidak perlu panggil tukang angkut?" tanya Mina sambil menyeka keringat. "Meja ini berat sekali. Kalau Tuan Kairo tahu Nyonya angkat-angkat barang berat begini, dia bisa marah."

​Elena yang sedang merapikan konektor di meja hanya mendengus.

​"Kairo tidak perlu tahu. Dan kalaupun dia tahu, dia tidak akan peduli punggungku patah atau tidak. Yang dia pedulikan cuma apakah sahamnya hijau atau merah hari ini."

​Elena menghubungkan hub USB-C ke sisi laptop barunya—aset tempur yang dia beli dengan uang hasil jualan tas kemarin.

​Satu kabel terhubung, dan dua monitor LED melengkung di hadapannya langsung menyala serentak, menampilkan logo booting yang elegan.

​Elena mundur selangkah, menatap puas hasil kerjanya.

​Ruangan itu sudah berubah total.

​Dulu, ruangan ini penuh debu, tumpukan kardus tidak jelas, dan perabot tak terpakai. Sekarang, ruangan ini terlihat seperti war room. Bersih, minimalis, dan dingin.

​Dua monitor layar lebar berdiri berdampingan di atas meja, siap menampilkan data pasar global. Papan tulis putih besar tergantung di dinding, penuh dengan coretan spidol warna merah dan hitam yang berisi rencana strategi, diagram alur kas, dan daftar target.

​Di sudut ruangan, Elena meletakkan shredder atau penghancur kertas dan sebuah brankas kecil.

​"Sempurna," gumam Elena. "Ini baru namanya ruang kerja. Bukan meja rias penuh bedak."

​"Tapi Nyonya..." Mina menunjuk pintu. "Kenapa Nyonya pasang alat itu di gagang pintu?"

​Elena menoleh ke arah pintu kayu jati yang kokoh. Di sana, tepat di atas gagang pintu standar, terpasang sebuah perangkat elektronik hitam kotak dengan panel angka menyala biru.

​Kunci digital pintar.

​"Itu namanya privasi, Mina," jawab Elena sambil berjalan mendekati pintu. Dia menekan kombinasi angka dengan cepat.

​Bip. Bip. Bip. Ceklek.

​Lidah kunci otomatis terkunci dengan suara mekanis yang memuaskan.

​"Mulai hari ini, ruangan ini adalah zona terlarang. Tidak ada yang boleh masuk kecuali aku. Termasuk kamu, kecuali aku panggil. Dan terutama..." Elena menatap Mina tajam. "Terutama Kairo."

​Mina melongo. Matanya membulat ngeri.

​"Nyonya mau mengunci Tuan Kairo di rumahnya sendiri? Nyonya, ini sama saja cari gara-gara! Tuan Kairo itu paling benci kalau ada pintu yang tertutup untuk dia!"

​"Bagus kalau dia benci," Elena tersenyum miring. Dia menepuk panel kunci digital itu pelan. "Biar dia belajar. Di dunia ini, tidak semua akses itu gratis. Kalau dia mau masuk ke duniaku, dia harus punya tiket. Dan tiketnya mahal."

​Tepat pukul delapan malam, suara deru mesin mobil sport terdengar memasuki halaman.

​Kairo pulang.

​Langkah kaki pria itu terdengar berat saat menaiki tangga. Seharian ini dia pusing tujuh keliling di kantor. Saham perusahaannya memang membaik sedikit setelah dia mengikuti saran Elena—secara diam-diam—untuk menjual aset ritel yang merugi. 

Tapi egonya menolak mengakui kalau itu ide istrinya. Dia meyakinkan dirinya sendiri kalau itu cuma kebetulan.

​Kairo melonggarkan dasinya sambil berjalan menuju lorong lantai dua. Tujuannya bukan kamar tidur utama, melainkan gudang berkas di ujung lorong.

​Dia butuh dokumen lama tentang sengketa lahan Sukajaya tahun 2018. Asistennya bilang berkas fisik aslinya tersimpan di gudang rumah karena waktu itu kantor sedang renovasi.

​"Sial, kenapa harus aku sendiri yang cari?" gerutu Kairo. "Harusnya aku suruh Reza saja."

​Dia sampai di depan pintu gudang berkas. Tanpa pikir panjang, tangannya meraih gagang pintu dan menekannya ke bawah.

​Keras.

​Kairo mengernyit. Dia mencoba memutar gagang pintu itu lagi. Terkunci.

​"Sejak kapan gudang ini dikunci?" gumamnya bingung. Biasanya pintu-pintu di rumah ini tidak pernah dikunci, kecuali pintu utama.

​Mata Kairo kemudian menangkap benda asing yang menempel di pintu. Kotak hitam dengan lampu angka menyala biru redup.

​Alat apa ini?

​Kairo mundur selangkah, menatap alat itu dengan tatapan tidak percaya. Ini kunci digital. Tipe security grade tinggi yang biasa dipakai di ruang server kantornya. Kenapa benda canggih ini ada di pintu gudang rumahnya?

​Rasa kesal mulai merambat naik ke kepalanya. Dia lelah, dia lapar, dan sekarang dia harus berhadapan dengan pintu yang sok canggih di rumahnya sendiri.

​Bang!Bang!Bang!

​Kairo menggedor pintu kayu itu dengan kepalan tangannya.

​"Sora! Apa yang kau lakukan di dalam? Buka pintunya!"

​Hening sejenak.

​Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat dari dalam.

​Ceklek.

​Pintu terbuka, tapi hanya sepuluh sentimeter. Rantai pengaman—yang entah sejak kapan dipasang—menahan pintu itu agar tidak terbuka lebar.

​Wajah Elena muncul di celah pintu. Dia memakai kacamata baca, rambutnya dicepol tinggi dengan pensil. Tidak ada senyum manis menyambut suami pulang. Hanya tatapan datar seperti resepsionis hotel yang sedang melayani tamu menyebalkan.

​"Ada apa gedor-gedor? Kau mau merobohkan rumah?" tanya Elena dingin.

​Kairo menatap celah pintu itu, lalu menatap wajah istrinya. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun.

​"Buka pintunya lebar-lebar," perintah Kairo tajam. "Aku mau masuk."

​"Tidak bisa," jawab Elena singkat. "Ini jam kerjaku. Aku sedang sibuk."

​"Jam kerja?" Kairo tertawa tak percaya. Tawa yang terdengar mengejek. "Kerja apa? Kau main game di dalam? Atau sedang live streaming jualan panci sekarang?"

​"Terserah aku mau ngapain. Intinya, ini ruang privatku," Elena hendak menutup pintu kembali, tapi Kairo dengan cepat menahan daun pintu dengan tangannya yang kuat.

​"Jangan main-main denganku, Sora," desis Kairo. Dia mendorong pintu itu, tapi rantai pengaman menahannya kuat. "Ini rumahku. Setiap inci tanah, setiap batu bata, setiap pintu di rumah ini milikku. Kau tidak berhak mengunci ruangan apapun dariku."

​Elena menatap tangan Kairo yang mencengkeram pinggiran pintu. Urat-urat tangan pria itu menonjol, menunjukkan betapa dia sedang menahan diri untuk tidak mendobrak paksa.

​"Secara sertifikat, memang ini rumahmu," aku Elena tenang. "Tapi secara etika hunian bersama, setiap penghuni berhak punya privasi. Anggap saja aku penyewa kamarmu. Aku butuh ruang dimana aku tidak perlu melihat wajahmu yang selalu marah-marah itu."

​"Aku butuh berkas!" bentak Kairo, kesabarannya habis. "Berkas sengketa lahan Sukajaya ada di lemari arsip di dalam situ. Minggir, aku mau ambil."

​Elena diam sejenak. Matanya berkedip sekali.

​"Berkas Sukajaya? Oh, tumpukan kertas kuning berdebu di lemari besi pojok?"

​"Ya! Itu dokumen penting perusahaan!"

​"Sudah aku shredder."

​Kairo mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik.

​"Apa?" bisiknya horor. "Kau... kau hancurkan?"

​"Bercanda," Elena menyeringai tipis. Seringai yang menyebalkan. "Berkasnya aman. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu masuk sekarang. Ruangan ini berantakan. Aku sedang menyusun... sesuatu. Dan aku tidak suka ada orang asing mengacak-acak zonaku."

​"Orang asing?!" Kairo merasa pembuluh darah di pelipisnya mau pecah. "Aku suamimu!"

​"Status di KTP, ya. Status di hati? Kita orang asing yang kebetulan satu atap," balas Elena telak.

​Wanita itu menatap Kairo lurus-lurus. Tatapannya begitu tegas, begitu mendominasi, sampai-sampai Kairo merasa dia sedang dimarahi oleh ibunya atau dosen pembimbingnya, bukan oleh istri yang dulu suka merengek minta dipeluk.

​"Kalau kau butuh berkas itu, buat janji temu. Kirim pesan ke Mina. Nanti kalau aku sedang luang, aku carikan dan aku letakkan di depan pintu. Sekarang, silakan pergi. Kau mengganggu konsentrasiku."

​Blam!

​Elena menutup pintu dengan keras tepat di depan hidung Kairo.

​Suara kunci digital berbunyi lagi. Bip. Bip. Bip. Tut. Terkunci otomatis.

​Kairo berdiri mematung di lorong. Dia menatap pintu kayu itu dengan mulut ternganga.

​Dia baru saja diusir?

​Di rumahnya sendiri?

​Oleh istrinya sendiri?

​"Sialan!" Kairo menendang pintu itu sekali, meninggalkan jejak sepatu di kayu pernis yang mengkilap.

​Sakit di kakinya tidak seberapa dibandingkan sakit di egonya. Harga dirinya sebagai "Tuan Rumah" dan "Suami Dominan" baru saja diinjak-injak dan dibuang ke tempat sampah oleh Elena.

​Dulu, Sora selalu membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar. Sora bahkan sengaja menyemprotkan parfum di lorong agar Kairo terpancing masuk. Sora selalu menunggu, berharap Kairo sudi mampir barang semenit.

​Sekarang? Elena menutup setiap celah. Dia membangun tembok. Dia menciptakan batas teritori.

​Dan yang paling membuat Kairo gila adalah... dia tidak tahu apa yang ada di balik tembok itu.

​Rasa penasaran itu membakar dadanya lebih panas daripada rasa marah. Apa yang disembunyikan wanita itu di dalam sana? Kenapa dia butuh kunci digital? Kenapa dia butuh privasi sebegitu ketatnya? Apa dia menyembunyikan laki-laki lain?

​Pikiran tentang laki-laki lain membuat darah Kairo mendidih.

​"Kau pikir kau bisa main kucing-kucingan denganku, Sora?" geram Kairo pelan sambil berjalan mundur. Dia menatap pintu terkunci itu dengan tatapan predator. "Kau lupa siapa yang pegang kunci utama di istana ini."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!