NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria misterius

Di balik jeruji besi yang dingin, Richard Hoffmann tidak kehilangan martabatnya. Sel khususnya lebih mirip kamar hotel boutique daripada penjara; lengkap dengan ranjang nyaman, rak buku, dan keheningan yang mahal. Ia sedang menyesap kopi hitam saat suara ketukan di pintu jeruji membuyarkan lamunannya.

"Tuan Hoffmann," ujar seorang sipir dengan nada yang sangat sopan, hampir tunduk. "Ada seseorang yang ingin menemui Anda. Secara pribadi."

Richard melirik jam tangannya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang mengandung rasa muak. "Katakan pada mereka, aku tidak menerima kunjungan dari pengacara malam ini."

"Ini bukan pengacara Anda, Tuan. Dan orang ini... memiliki izin khusus dari tingkat atas," bisik sipir itu hati-hati.

Alis Richard terangkat. Ia bangkit dengan malas, merapikan kemejanya yang masih licin tanpa cela. Ia berjalan menyusuri lorong penjara dengan langkah yang tetap angkuh, dikawal menuju ruang kunjungan yang telah dikosongkan dari narapidana lain.

Begitu pintu ruang kunjungan terbuka, Richard melangkah masuk dengan sisa-sisa kesombongannya. Namun, hanya dalam dua langkah, ia mendadak membeku. Seluruh tubuhnya menegang, dan cangkir kopi plastik yang dibawanya nyaris remuk dalam genggamannya.

Di balik kaca pembatas, duduk seorang sosok yang sangat tenang, seolah sedang menunggu teman lama. Mata Richard membelalak, napasnya tertahan di kerongkongan. Identitas tamu itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia duga akan muncul di sana—sebuah rahasia yang ia pikir sudah terkubur bersama masa lalu.

"Kau..." bisik Richard, suaranya bergetar antara rasa takut dan tidak percaya.

...****************...

Suasana di mansion terasa jauh lebih tenang namun mencekam dengan caranya sendiri. Sophie baru saja selesai memastikan ayahnya tidur dengan nyenyak. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya sebelum melangkah masuk ke kamar utama.

Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan. Di sana, Max sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Ia tidak lagi mengenakan kemeja, melainkan kaus hitam polos yang santai. Sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya, namun matanya tidak tertuju pada tulisan di sana.

Max mendongak begitu menyadari kehadiran Sophie. Lampu tidur yang temaram di samping ranjang memberikan siluet tajam pada garis rahangnya yang kokoh.

"Kau lama sekali," ucap Max lembut, namun ada nada tuntutan yang halus di sana. Ia meletakkan bukunya di meja nakas, lalu menepuk sisi ranjang di sebelahnya. "Ayahmu sudah tidur?"

Sophie terpaku sejenak di ambang pintu. Melihat Max menunggunya dengan cara seperti itu membuatnya teringat kembali pada janji "hanya untuk tidur" yang ia ucapkan sore tadi. Ia menutup pintu dengan pelan, mencoba menjaga wajah datarnya meskipun ia tahu hatinya sedang tidak tenang.

"Ayah sudah tidur setelah minum obatnya," jawab Sophie sambil melangkah perlahan mendekati ranjang. “Bagaimana keadaan bahumu? Masih terasa sakit?"

"Sudah jauh lebih baik," jawabnya santai. Untuk membuktikannya, ia sedikit mengangkat tubuhnya dan memutar bahu serta lengan kanannya yang kokoh dan berotot.

Gerakan itu membuat otot-otot di lengan dan dadanya tercetak jelas di balik kaus hitam tipis yang ia kenakan. Sophie terpaku. Dalam cahaya lampu tidur yang keemasan, garis-garis tubuh Max tampak seperti pahatan sempurna. Entah karena suasana yang sunyi atau aroma maskulin Max yang memenuhi ruangan, jantung Sophie tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Pria ini benar-benar tampan, batinnya tanpa sadar.

Max menyadari keheningan Sophie. Ia melihat mata Sophie yang terpaku pada lengannya sebelum wanita itu dengan cepat membuang muka saat menyadari Max sedang memperhatikannya.

Max terkekeh rendah, suara tawa yang dalam dan merdu. "Kenapa, Sayang? Apa kau baru sadar kalau calon suamimu ini tampan?" godanya.

"Jangan terlalu percaya diri , Maximilian," sahut Sophie cepat, meski pipinya sudah mulai memanas. Ia berpura-pura sibuk merapikan selimut di sisi ranjangnya.

Max tidak membiarkannya lolos begitu saja. Melihat semburat merah di pipi Sophie adalah hobi barunya yang paling favorit. Ia sengaja bergerak lebih dekat, merayap di atas kasur hingga wajahnya berada tepat di samping telinga Sophie yang kini memerah sempurna.

"Apa mungkin karena kau ingin memeriksa apakah ototku masih berfungsi?" bisik Max dengan nada serak yang menggoda. "Atau kau sedang membayangkan bagaimana rasanya bersandar di dada ini sepanjang malam?"

"Maximilian! Hentikan!" Sophie mencoba mendorong wajah Max menjauh dengan telapak tangannya, tapi Max malah menangkap tangan kecil itu dan mengecup telapak tangannya dengan lembut.

"Katakan saja, Sophie. Akui kalau calon suamimu ini luar biasa menarik. Aku tidak akan berhenti menggodamu sampai kau mengatakannya," tantang Max dengan binar jenaka di matanya.

Sophie mendengus kesal, ia mengambil bantal kecil dan mencoba memukul wajah Max. "Kau sangat menyebalkan! Kau narsis, sombong, dan... dan tukang paksa!"

Max tertawa lepas, ia menangkap bantal itu dengan mudah dan dalam satu gerakan cepat, ia menggulingkan tubuhnya hingga posisi Max berada di atas Sophie, menopang tubuhnya dengan kedua sikut agar tidak menghimpit wanita itu, sementara Sophie terjebak di antara kedua lengan kokohnya.

"Sombong? Mungkin. Tapi aku hanya jujur," ujar Max, suaranya melembut, tatapannya kini mengunci mata Sophie. "Dan aku tukang paksa karena aku tahu kau sebenarnya menyukainya."

"Aku tidak—" Kalimat Sophie terputus saat Max menundukkan kepalanya, ujung hidung mereka bersentuhan.

Sophie bisa merasakan napas hangat Max di bibirnya. Suasana yang tadinya penuh canda mendadak berubah menjadi sangat intim. Max menjauhkan beberapa helai rambut dari wajah Sophie dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kau sangat menggemaskan kalau sedang marah," bisik Max pelan. Ia tidak menciumnya, ia hanya menatap Sophie dengan pemujaan yang begitu tulus hingga membuat pertahanan Sophie runtuh.

Sophie yang tadinya ingin memprotes kini hanya bisa terdiam, tangannya yang semula berada di dada Max untuk mendorong, kini perlahan meremas kaus pria itu. Ia merasa kesal karena Max selalu tahu cara membuatnya tak berdaya, tapi di sisi lain, ia merasa sangat dicintai.

"Kau curang, Max," gumam Sophie pelan, matanya mulai sayu mengikuti ritme emosi yang dibangun Max.

"Aku tidak curang, Sayang. Aku hanya sedang memenangkan hatimu setiap detiknya," balas Max sebelum akhirnya ia mendaratkan kecupan ringan di hidung Sophie, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Sophie dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang protektif. "Sudah, jangan marah lagi. Aku akan diam sekarang, sebelum kau benar-benar menendangku keluar dari kamar ini."

Sophie mendongak, menatap dagu kokoh Max dari balik dekapannya. Suasana yang tadinya penuh tawa kini perlahan berganti menjadi lebih tenang dan serius. Jemari Sophie tanpa sadar memainkan ujung kaus hitam yang dikenakan Max.

"Max?" panggilnya lirih.

"Hmm?" Max menjawab tanpa membuka mata, jemarinya masih asyik mengusap lengan Sophie dengan gerakan pelan yang menghipnotis.

"Apa besok kau sudah harus mulai bekerja lagi?" tanya Sophie. "Maksudku... setelah kekacauan di kantor kemarin dan penangkapan ayahmu, keadaan pasti sangat tidak stabil di sana, kan?"

Max membuka matanya perlahan. Tatapannya yang tadi jenaka kini berubah sedikit lebih dalam, memantulkan bayangan lampu kamar yang mulai redup. Ia terdiam sejenak, memikirkan tumpukan masalah yang sudah menunggunya: saham yang anjlok, dewan direksi yang mulai bergejolak, dan tentu saja, bayang-bayang Blackwood Holdings yang terus menghantuinya.

"Secara teknis, aku harus berada di sana sejak pagi buta, Sophie," jawab Max dengan suara beratnya. "Dewan direksi kemungkinan besar akan melakukan pemungutan suara darurat besok. Mereka ketakutan karena skandal ini merusak citra perusahaan."

Max menarik napas panjang, lalu mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin melepaskan kehangatan yang ia rasakan saat ini.

"Tapi jujur saja," lanjut Max sambil mengecup puncak kepala Sophie, "setelah semua yang terjadi, aku hanya ingin menghabiskan waktu sehari penuh di sini. Memastikan kau dan ayahmu merasa aman di rumah ini jauh lebih penting daripada memenangkan ruang rapat."

Sophie bisa merasakan beban yang dipikul Max dari nada bicaranya. Meskipun Max berusaha terlihat tenang di depannya, Sophie tahu pria itu sedang bersiap untuk masuk ke medan perang yang berbeda—perang politik bisnis yang tidak kalah kejam dari peluru.

"Max," Sophie memanggil pelan, membuat usapan tangan Max di lengannya terhenti.

"Besok... apa aku masih boleh ikut ke kantor? Maksudku, apa aku masih bisa bekerja sebagai sekretarismu?"

Seketika, suasana hangat di antara mereka mendadak mendingin. Max yang tadinya memejamkan mata kini membukanya lebar-lebar. Ia melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap wajah Sophie dengan lebih jelas.

"Tidak," jawab Max singkat dan tegas. Tidak ada nada bercanda di sana.

Sophie melepaskan diri dari dekapan Max dan berpindah posisi menjadi duduk, menatap Max dengan tatapan menuntut penjelasan. Penolakan yang begitu mutlak dan dingin tadi cukup untuk menyulut api rasa penasaran sekaligus kekesalannya.

"Kenapa tidak? Aku bukan sekadar karyawan biasa, aku sekretaris. Aku tahu seluk-beluk jadwalmu dan bagaimana menghadapi orang-orang di kantor itu," tanya Sophie dengan nada yang mencoba tetap tenang namun tegas.

Max menghela napas panjang, ia ikut bangkit dari posisi berbaringnya hingga kini mereka duduk berhadapan. Ia meraih jemari Sophie, mengusap punggung tangannya dengan lembut, mencoba meredam ketegangan yang mulai merayap di antara mereka.

"Sophie," ucap Max dengan nada suara yang sangat lembut, seolah sedang berbicara pada sesuatu yang paling berharga di dunia ini. "Kantor Hoffmann Motors besok bukan lagi kantor yang kau kenal beberapa hari lalu. Tempat itu akan menjadi sarang serigala."

Ia menatap mata Sophie dalam-dalam, mencoba menyalurkan rasa kekhawatiran yang ia pendam.

"Richard tidak hanya meninggalkan kursi kosong, dia meninggalkan kekacauan. Para pemegang saham akan saling sikut, jurnalis akan mengepung setiap sudut gedung, dan orang-orang yang selama ini bersembunyi di balik bayangan ayahku akan mulai memunculkan taring mereka," lanjut Max.

Ia membelai pipi Sophie dengan punggung jarinya. "Aku sudah cukup menderita melihatmu tergantung di balkon kemarin, Sophie. Jantungku tidak akan sanggup jika harus memikirkan keselamatanmu di kantor sementara aku harus bertarung di ruang sidang dewan direksi. Aku ingin kau di sini, di tempat yang bisa kukontrol keamanannya secara penuh."

"Ini bukan karena aku tidak percaya pada kemampuanmu. Justru karena aku terlalu mencintaimu, aku tidak bisa membiarkanmu menjadi target empuk bagi siapa pun yang ingin menjatuhkanku. Biarkan aku menjadi perisaimu untuk kali ini saja. Di sini, bersama ayahmu, kau aman. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

Sophie tidak menarik diri. Ia justru menatap balik mata Max dengan keberanian yang sama besarnya dengan cinta yang pria itu tawarkan. Ia melepaskan tangan Max dari pipinya, lalu menggenggam kedua tangan pria itu dengan kuat.

"Max, dengar,," ujar Sophie, suaranya kini tidak lagi lirih, melainkan penuh otoritas. "Kau bilang kau ingin menjadi perisai bagiku, tapi apa kau tidak sadar? Perisai yang paling kuat adalah perisai yang tahu dari mana serangan akan datang. Jika aku hanya duduk manis di sini, aku akan buta. Dan jika aku buta, aku tidak bisa membantumu saat kau hampir tumbang."

Sophie menarik napas pendek, matanya berkilat. "Alasan pertamaku tetap bekerja adalah karena aku sekretaris yang paling kompeten saat ini. Tidak ada orang di kantor itu yang benar-benar bisa kau percayai selain Lucas. Jika kau butuh dokumen rahasia di tengah rapat direksi yang memanas, apa kau akan memercayakannya pada sekretaris sewaan yang mungkin saja mata-mata musuh?"

Max hendak menyela, namun Sophie menaruh jarinya di bibir Max, membungkamnya.

"Kedua," lanjut Sophie, "semua orang sudah tahu bahwa aku adalah wanita yang kau bawa dari vila itu. Jika aku tiba-tiba menghilang dan 'dikurung' di mansion ini, musuhmu akan menganggapku sebagai titik lemahmu. Mereka akan berpikir aku adalah sandera atau kelemahan yang bisa mereka gunakan untuk memerasmu. Tapi jika aku berdiri di sampingmu, dengan kepala tegak di kantor itu, kita mengirimkan pesan bahwa kita tidak takut."

Sophie mencondongkan tubuhnya, menatap Max dengan tatapan yang sangat dalam. "Dan alasan terakhir, Max... Ayahku. Sepuluh tahun dia menderita karena Hoffmann Motors. Aku tidak akan membiarkan perusahaan itu jatuh ke tangan orang yang lebih buruk dari Richard. Aku punya hak untuk memastikan warisan yang seharusnya menjadi milik kerjasama ayahku dan ayahmu tetap berada di tangan yang benar. Yaitu tanganmu."

Ia membelai rahang tegap Max yang masih tampak ragu. "Jangan jadikan aku pajangan, Max. Biarkan aku menjadi senjatamu. Kita sudah melewati peluru bersama di vila itu, apakah menurutmu dewan direksi yang tua dan rakus itu lebih menakutkan daripada senapan mesin?"

Max terdiam. Argumen Sophie menghantamnya tepat di logika yang selama ini ia banggakan. Ia melihat tekad yang luar biasa di mata calon istrinya, sebuah kekuatan yang membuatnya sadar bahwa Sophie Adler bukanlah wanita yang bisa dijinakkan dengan kemewahan dan perlindungan semu.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!