NovelToon NovelToon
Kebangkitan Zahira

Kebangkitan Zahira

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

pernikahan selama 20 tahun ternyata hanya jadi persimpangan
hendro ternyata lebih memilih Ratna cinta masa lalunya
parahnya Ratna di dukung oleh rini ibu nya hendro serta angga dan anggi anak mereka ikut mendukung perceraian hendro dan Zahira
Zahira wanita cerdas banyak akal,
tapi dia taat sama suami
setelah lihat hendro selingkuh
maka hendro sudah menetapkan lawan yang salah
mari kita saksikan kebangkitan Zahira
dan kebangkrutan hendro

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KZ 08

Zahira berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal, kakinya hampir tersandung dan jatuh. Tapi ia tak peduli. Yang ia pikirkan saat itu hanya satu—menyelamatkan diri secepat mungkin.

"Astaga, salahku apa? Sudah diceraikan, sekarang malah dikejar orang tak dikenal," gumam Zahira dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar antara lelah dan takut, namun tekadnya untuk bertahan tetap membara.

Melawan kecepatan sepeda motor tentu bukan tandingan bagi lari kaki. Zahira sadar sepenuhnya, tapi ketakutan membuatnya terus berlari, meski napasnya mulai tersengal dan langkahnya semakin goyah.

Zahira akhirnya terkejar. Kini ia berdiri di ujung jembatan, napas tersengal, matanya menatap sungai di bawahnya—penuh batu-batu besar dan tajam, siap menyambut siapa pun yang jatuh.

Laki-laki itu perlahan membuka helmnya, memperlihatkan wajah yang tampak samar di mata Zahira. Ia menyipitkan mata, berusaha memperjelas pandangannya. Dalam hati, ia menghela napas—tampaknya ia harus mulai menerima kenyataan bahwa usianya tak lagi muda, dan sudah saatnya menabung untuk membeli kacamata..

 "Zahira, kamu ini kenapa sih?" tanya pria itu dengan wajah heran, menatapnya penuh kebingungan.

Zahira mendongak dengan kesal. Tanpa banyak pikir, ia melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah pria itu dengan penuh emosi. Lelaki ini… seolah tak pernah lelah mengejarnya, selalu muncul di saat yang tak terduga. Zahira baru menyadari—pria di depannya itu adalah Adit, dokter muda yang dulu pernah mengejar cintanya. Kini, ia telah berubah menjadi pria paruh baya, dengan seragam ojek online, namun tetap dengan tatapan yang sama: keras kepala dan sulit dilupakan.

"Ih, galaknya masih sama aja kayak dulu," ucap Adit sambil menyeringai, senyum jahilnya muncul seperti masa muda mereka dulu.

Zahira duduk di tepi jembatan, napasnya tersengal-sengal. Ia jarang keluar rumah, dan kini, baru saja ia bertekad untuk mandiri, lepas dari bayang-bayang mantan suaminya. Namun baru beberapa langkah menapaki kebebasan, kejadian seperti ini sudah membuatnya syok dan limbung, seolah dunia tak memberinya jeda untuk bernapas.

"Kamu gila ya, Adit! Kenapa kamu ngikutin aku?" ucap Zahira dengan nada kesal, menatap tajam wajah pria di depannya.

"Ih, pede banget! Siapa juga yang ngikutin kamu? Aku ini tukang ojek online, ya! Tugas aku cari order, bukan ngejar-ngejar kamu," ucap Adit dengan nada sombong dan sedikit nyengir.

Zahira tampak kesulitan membuka botol air minum. Melihat itu, Adit dengan sigap mengambilnya dari tangan Zahira, membukanya, lalu menyerahkannya kembali. Zahira menatap Adit, ada kehangatan samar di matanya.

"Jangan tatap aku seperti itu, nanti aku bisa-bisa rebut istri orang," ucap Adit sambil tersenyum geli, lalu duduk di samping Zahira dengan santai seperti sedang terjadi apa-apa.

"Kamu mau ke mana, Zahira? Bawa koper segala. Kamu kabur, ya?" tanya Adit dengan nada penasaran.

"Bukan urusan kamu," ucap Zahira dengan nada kesal, mengalihkan pandangannya agar tak perlu menjawab lebih jauh.

"Galak amat, Nyonya Pejabat... Kamu mau ke mana sih?" tanya Adit sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana dengan senyum jahilnya.

"Bukan urusan kamu!" ucap Zahira ketus, wajahnya menunjukkan kekesalan, tapi ada sedikit gemetar dalam suaranya—antara lelah, marah, dan terluka.

Adit bukannya marah, ia justru tersenyum geli. Tatapannya tetap tenang, seolah menikmati setiap reaksi Zahira yang meledak-ledak. Baginya, wanita itu tak pernah benar-benar berubah—tetap kuat, tetap menarik, bahkan saat sedang marah.

"Kamu sebaiknya telepon suami kamu, minta dijemput. Ini udah mulai petang, lho. Wilayah sini rawan, banyak begal," ucap Adit dengan nada serius, meski senyumnya masih tersisa di sudut bibir.

Zahira memandang Adit sejenak, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Setelah jembatan, jalanan terlihat sepi dan gelap, membentang menuju hutan yang cukup jauh dari pemukiman. Bulu kuduknya merinding, perasaan tak nyaman mulai merayap perlahan.

"Apa aku teleponin aja suami kamu, atau aku antar kamu pulang?" tawar Adit dengan nada lembut, mencoba membantu, meski sorot matanya masih menyimpan rasa ingin tahu.

Telepon Hendro? Zahira menelan ludah pahit. Kalau ia kembali ke rumah itu, berarti semua penghinaan yang tadi diterimanya akan sia-sia. Dia sudah berjalan sejauh ini, sampai ke ujung kota, lalu harus berbalik arah dan kembali? Lalu apa artinya perceraian yang baru saja dijatuhkan?

Meninggalkan Hendro dan anak-anaknya adalah keputusan bulat. Pilihan yang menyakitkan, tapi juga menyelamatkan harga dirinya. Dan sekarang, mundur bukan lagi pilihan.

Zahira menatap Adit dalam diam. Jalan kaki dengan sisa uang 15.000 rupiah, sementara perjalanan masih sangat jauh, jelas bukan pilihan yang masuk akal. Ia sempat terpikir untuk pura-pura seperti peziarah—menuliskan di dadanya "Go to Mekkah" agar dapat sumbangan dari warga. Tapi ia segera menggeleng pelan. Itu konyol... dan terlalu memalukan.

"Kamu bisa antar aku pulang?" tanya Zahira pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh angin sore. Ada keraguan di matanya, tapi juga secercah harapan—bahwa mungkin, untuk sekali ini saja, ia tak harus berjalan sendirian.

"Ya udah, kalau mau pulang sekarang, mumpung belum malam," ucap Adit sambil bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk celana dan menatap Zahira dengan ekspresi siap membantu.

Zahira berdiri perlahan, lalu mengangkat kopernya dengan tenaga yang tersisa. Meski tubuhnya lelah, ada sedikit kelegaan di wajahnya—setidaknya kini ia tak harus melanjutkan perjalanan panjang itu sendirian.,

"Aduh, Ibu Pejabat biasa naik mobil ya, jangan taruh koper di belakang dong, susah aku duduknya," ucap Adit sambil bercanda. Ia lalu mengambil koper Zahira dan menaruhnya di depan motor, sementara Zahira naik dan duduk di belakang, masih terdiam namun perlahan mulai merasa lebih tenang.

Adit memutar motornya, bersiap melaju, namun baru beberapa meter berjalan—

"Arahmu salah," ucap Zahira pelan namun tegas.

"Hah, salah? Bukannya rumah kamu di kota? Kok salah sih?" Adit menoleh ke belakang, bingung.

"Aku mau pulang ke rumahku di desa... kamu masih ingat, kan?" ucap Zahira, menatap punggung Adit dengan tatapan kosong. Tak ada senyum, tak ada cahaya seperti dulu. Dari sorot mata itu, Adit tahu Zahira sedang memikul beban berat—sesuatu yang tak ia ceritakan. Tapi Adit memilih diam, membiarkannya. Kadang, luka tak perlu ditanya... cukup ditemani.

Adit menurunkan standar samping motornya, lalu berdiri tegak di samping kendaraan itu.

Zahira masih duduk di jok belakang, baru saja merasa lega karena mengira akan mendapat pertolongan dari Adit. Tapi harapan itu segera menguap.

"Turun," ucap Adit singkat, tanpa ekspresi.

Dengan wajah cemberut, Zahira turun dari motor. Ia tahu, rumahnya di desa butuh waktu tempuh delapan jam—siapa juga yang mau mengantar sejauh itu secara cuma-cuma, apalagi Adit... pria yang dulu pernah ditolaknya jadi wajar saja kalau adit tidak mau mengantarnya,

Adit menurunkan koper dari bagian depan motor, meletakkannya di tanah.

Zahira menunduk, mengambil koper itu dengan gerakan pelan. Tanpa kata, ia mulai berjalan kembali, menyeret langkahnya di jalan panjang menuju entah di mana—sendirian, lagi.

1
Derma S
Luar biasa
Nila Sari Sari
bagus nih cerita nya singkat padat ga bertele tele 👍
Nasiati
ceritany ok bangrt👍👍👍
Nasiati
alhamdulillah makin seru cerita ny
Nasiati
tunggu azab anak durhaka
Wiliam Zero
Novelnya bagus dan happy ending 👍
Mei Saroha
masa sih zahira ngga ngenalin
Mei Saroha
Zainab bukannya ud punya anak, koq suaminya ngga pernah disebut ya
budak jambi
kutuk be kedua ank tu.tidak akan kebahagiaan di hidup mereka dan Ratna jg Hendro hidup sengsara
Hana Nisa Nisa
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Dedeh Dian
sungguh bagus alur ceritanya..banyak terselip kisah hidup insan manusia ...sebagai contoh yg baik dan buruk untuk diambil hikmahnya... makasih author
Ihay Hairunnisa
keren ceritanya.. perjalanan kehidupan...
itin
kok lama lama flat ya 🫣
zahira terlalu mulus sekali perubahannya
dan ceritanya hanya disitu situ ajjah. maap. maap. maap
itin
apa begitu kali ya jalan cerita dunia perpolitikan uang dan jabatan. menggulingkan terbukti yang bersalah mengangkat naik jabatan bagi sekutunya yang kemudian nanti akhirnya justru terbukti sebagai pelaku/oknum kejahatan. pdahal ini masih tentang garment belum yang lahan basah tapi banyak sekali intriknya 😁😄
itin
angga anggi seumuran kan ya dgn senja dan kembarannya tp knp pendidikannya kayak lbh tinggi senja ya. anak magang status pendidikan sdh S1 atau setara kan ya sesgkan anggi msih anak kuliah ingusan
itin
kampung mana ini tempat tinggalnya zahira sekarang kok bodoh semua penduduknya. patutlah adit bilang kliniknya bisa tutup krn satu hasutan sekampung percayaan ternyata memang sesempit itu pola pikir sekampungnya zahira tinggal.
itin
padahal ada kata bijak "SEBURUK BURUKNYA INDUNG KANDUNGMU MENGASUH TAPI BILA MENDADAK DIDIKAN YANG BAIK DARI ORANG ORANG TERDEKAT YANG MENGASIHIMU SEDIKITNYA BISA PUNYA SISI BAIKNYA ITU ANAK ANAK BEDJATT" 😁🫣🥺
itin
wkwkwkwkwk betapa sang khalik maha pembolak balik keadaan
yang dengan setia menguji mental dan keimanannya zahira dan setelah zahira mulai mengambil sikap atas ujiannya beliau langsung membayar kontan kesetiaannya zahira dengan kehancuran tanpa jeda untuk hendro ibunya dan kedua anak perselingkuhannya 😄😄

saya suka
saya suka

seperti real kehidupan didunia yang fana ini
itin
bertahan sampai 20 tahun? moon maap itu jelas karena zahira lemah. lemah akan kata cinta dan pengabdian. sudah jelas dari 10thn pernikahan ada noda tapi justru bertahan. cuman mungkin kata kata yang tepat "MEMANG SUDAH WAKTUNYA KEWARASAN MENANG DARI KATA KEWAJIBAN"
malaikat juga paham lah saat mencatat dibuku dosa manusia 😄
itin
sianida zahira. sianidakan mereka atau minyak bensin. sieamkan bensin itu ke mereka. sudah ada kok yg melakukannya 🫣🥺. sakitnya jadi zahira masya ampun deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!