Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Strawberry
...Selamat membaca semuanya......
...********...
...********...
Frederick meninggalkan Boris di kebun Strawberry, dia diizinkan mengambil buah di sana. Saat Boris sedang memilih buah dan akan memotong batang strawberry, suara Rania membuyarkan fokusnya.
"Aku bantuin ya, Ris." Rania menawarkan diri dan dengan semangatnya mengambil keranjang, menyusul mendekati Boris yang diam menatapnya.
Boris terdiam memandangi wajah cantik Rania, menikmati kesempurnaan bak bidadari yang sedang turun ke bumi.
"Waahh.. Besar banget, cobain ah." Sebelum buah strawberry itu masuk ke dalam mulutnya, tangannya di tahan oleh Boris.
"Dicuci dulu, Nona." Rania menggeleng kuat.
"Tenang saja, Ris. Aku tidak akan mati hanya karena memakan buah strawberry tanpa dicuci." Senyuman lebar membantah ucapan Boris. Wanita itu melahap satu buah strawberry yang cukup besar memenuhi mulutnya. "Emmm.." Gumamnya menikmati manisnya buah tersebut.
Semua tidak lepas dari tatapan Boris, memuja penuh wanita itu. Seandainya dia mampu dan setara dengan Rania, mungkin sudah dari awal Boris akan berani mengajak wanita itu menikah. Kesetaraan kasta dan kemampuan dalam beberapa aspek masih kalah jauh dengan wanita itu.
"Boris.. Boris.. Cobain ini! Aku mendapatkan yang lebih besar." Rania menghampiri Boris, membuyarkan lamunannya. Tanpa izin langsung memaksa Boris melahap buah strawberry yang cukup besar itu, "manis tidak?" Tidak menjawab, justru Boris masih menatap wajah cantik Rania yang membuatnya terhipnotis.
"Cantik."
"Apa?" Matanya membulat sempurna mendengar jawaban Boris, dia bertanya soal buah strawberry tapi jawaban Boris jauh dari itu. Pipinya menunjukkan betapa malu dan senangnya mendapat pujian dari Boris.
"Maaf Nona, Saya tidak bermaksud. Maksud saya buah strawberrynya sangat manis." Boris gelagapan mengulang membenarkan jawabannya, sambil mengusap rambut belakang kepalanya gugup.
"Aku tahu kalau aku cantik, jadi aku tidak akan marah." Rania memberikan senyuman dan kerlingan matanya, Boris semakin ikut memerah menahan debar jantungnya yang tidak karuan. Rania kembali memetik buah strawberry, Boris memegang dadanya yang mengacau saat ini.
"Bisa mimisan aku jika terus seperti ini. Tenang Boris..Tenang.." Boris hanya bisa mengontrol debaran itu dan rasa ingin memeluk erat atasannya saat ini juga.
...******...
Malam yang sunyi dan damai, Boris memandangi langit kamarnya. Senyuman lebar dan tangannya yang memegang dada. Membayangkan kecantikan Rania, membayangkan wanita itu kelak akan menjadi istrinya. Betapa bahagianya dia seumur hidup memiliki wanita seperti Rania.
Ingatannya kembali saat Frederick mengatakan bahwa dia dan Rania dijodohkan. Tapi, banyak hal yang harus dia pelajari dari Rania. Dia kedepannya akan selalu menjaga wanita itu dari berbagai macam bahaya. Apapun rintangannya dia akan hadapi, demi bisa bersanding dengan Rania. Dia jatuh cinta pada wanita itu. Boris mencintai Rania.
...--------...
"Kemana lagi sih, Pah? Aku tidak mau pergi jauh. Rania lelah.." Wanita itu merengek bergelayut manja pada Frederick di depan Boris yang berdiri tegap menyaksikan drama wanita itu.
Frederick menatap wajah anaknya yang sedang memeluk tubuhnya sekarang, "kamu tidak sendiri, Rania. Aku akan minta Boris menemanimu. Mulai sekarang dia yang akan menggantikan Papah untuk menjagamu." Rania menoleh ke arah Boris yang langsung enggan menatapnya langsung ke arahnya.
"Papah mau pensiun ya?" Tembak Rania sambil memicingkan matanya tajam, Frederick mengusap lembut kepala putrinya.
"Anak Papah memang pintar. Sudah, keputusan Papah sudah bulat. Rania harus mengurus bisnis Korea Selatan bersama Boris." Rania menghempaskan tangan Papahnya kesal.
"Rania tidak mau jauh dari Papah."
"Boris" Walau mendengar putrinya merengek, Frederick justru masih mengabaikannya.
"Iya, Tuan."
"Kamu akan aku beri tugas mengurus bisnis Perusahaan cabang Korea Selatan bersama Rania selama sebulan. Sekalian kau belajar dengan Rania, sekarang dia akan aku lepas dan kamu yang bertanggung jawab penuh soal putriku."
Pesan dan tanggung jawab yang sangat besar. Tapi, Boris senang dan tulus jika itu berkaitan dengan Rania. Dia akan melakukan apapun, bahkan nyawa juga akan dia korbankan.
...Bersambung......
Terima kasih sudah mampir semua, jangan lupa like dan komen ya. Warung kecil aku jajanannya masih sedikit jadi harap maklum ya.. 😚🤗🤭