Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perampokan di Rumah Sendiri
Hujan di Jakarta belum juga reda saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Alea menatap kunci tua bermotif singa perak yang baru saja ia ambil dari balik bingkai foto di rumah lamanya. Kunci itu terasa dingin, seberat rahasia yang ia pikul. Di sampingnya, Arka sedang memeriksa magasin pistolnya, wajahnya tampak seperti bayangan di bawah lampu jalan yang remang.
"Bank Swiss cabang Jakarta," gumam Arka, matanya menatap gedung pencakar langit yang menjulang di kawasan Sudirman dari kejauhan. "Gedung itu adalah benteng. Keamanannya menggunakan pemindaian termal dan sensor getaran. Dan yang lebih buruk, dewan direksi Malik Group memegang setengah dari saham bank tersebut."
Alea menoleh. "Artinya, mereka sudah tahu kita akan ke sana?"
"Tentu saja," Arka menyeringai, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Mereka sedang menunggumu masuk ke lobi agar mereka bisa 'mengamankan' kunci itu dan melenyapkanmu secara legal. Tapi mereka lupa satu hal..."
"Apa itu?"
"Aku yang merancang sistem keamanan gedung itu lima tahun lalu."
Arka mengeluarkan sebuah tablet militer dan menunjukkan skema pipa pembuangan udara dan jalur lift barang. "Kita tidak akan lewat pintu depan. Kita akan masuk lewat lantai basement empat, jalur yang digunakan untuk pengiriman emas batangan. Rio sudah menyiapkan pengalih perhatian di gerbang utama."
Operasi dimulai tepat pukul 02.45. Sebuah ledakan kecil—hanya cukup untuk memicu alarm kebakaran namun tidak menghancurkan gedung—terjadi di gardu listrik seberang jalan. Saat petugas keamanan sibuk berkoordinasi, sebuah mobil boks hitam meluncur masuk ke area bongkar muat.
Alea mengenakan setelan taktis hitam, rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Ia merasa jantungnya berdegup kencang, seolah-olah detaknya bisa memicu sensor getaran di dinding.
"Tetap di belakangku. Jangan menyentuh dinding kecuali aku suruh," bisik Arka sembari menggunakan laser khusus untuk melumpuhkan kamera pengawas di lorong bawah tanah.
Mereka bergerak seperti bayangan. Arka sangat presisi; setiap gerakannya efisien, setiap langkahnya terukur. Namun, saat mereka mencapai pintu baja menuju ruang brankas utama, langkah Arka terhenti.
"Ada yang salah," desis Arka.
"Apa?"
"Sensor tekan di pintu ini aktif. Padahal seharusnya mati saat alarm kebakaran menyala. Seseorang telah mengubah protokolnya secara manual."
Tiba-tiba, lampu di lorong itu menyala terang benderang. Dari balik pilar-pilar beton, muncul belasan pria bersenjata lengkap. Di tengah mereka, berdiri sesosok pria yang sangat Alea kenal.
Rio.
Dunia Alea seolah runtuh seketika. Pria yang selama ini menjaga Arka, pria yang menyelamatkannya di Italia, kini berdiri dengan senjata terarah pada mereka.
"Rio?" suara Alea bergetar.
Arka tidak tampak terkejut. Ia justru menurunkan senjatanya perlahan, wajahnya mengeras. "Jadi, berapa dewan direksi membayarmu, Rio? Atau apakah ini soal posisi CEO yang mereka janjikan?"
Rio menatap Arka dengan wajah tanpa ekspresi, meski ada sedikit kilatan penyesalan di matanya. "Mereka memegang keluarga saya, Tuan. Anda tahu bagaimana mereka bekerja. Maafkan saya, tapi kesetiaan tidak bisa memberi makan orang mati."
"Kau bajingan!" teriak Alea, ia ingin maju namun Arka menahan lengannya.
"Berikan kuncinya, Alea," ucap Rio dingin. "Jika kau memberikannya sekarang, aku akan membiarkan Arka hidup. Dia akan diasingkan ke luar negeri, tapi dia akan tetap bernapas."
Arka tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk Alea berdiri. "Kau pikir kau mengenalku setelah sepuluh tahun, Rio? Kau pikir aku akan masuk ke sini tanpa tahu kau sudah bertemu dengan Wijaya di belakang punggungku?"
Mata Rio membelalak. "Apa maksudmu?"
"Tembak," ucap Arka pendek.
Tiba-tiba, tiga orang di barisan belakang Rio berbalik dan menembak rekan-rekan mereka sendiri. Kekacauan pecah di lorong sempit itu. Arka dengan cepat menarik Alea ke balik pilar dan melepaskan tembakan presisi ke arah lampu, membuat ruangan kembali gelap gulita.
"Kau punya tim sendiri di dalam timnya?!" bisik Alea di tengah desingan peluru.
"Selalu punya rencana cadangan, Sayang," balas Arka.
Dalam kegelapan, Arka bergerak seperti hantu. Suara jeritan dan tembakan menggema. Saat lampu darurat berwarna merah menyala, Rio sudah tersudut, pistolnya terlempar, dan Arka menodongkan moncong senjata tepat di bawah dagu mantan orang kepercayaannya itu.
"Aku bisa membunuhmu sekarang, Rio," ucap Arka dingin. "Tapi aku ingin kau melihat bagaimana aku menghancurkan orang-orang yang mengancam keluargamu."
Arka memukul tengkuk Rio hingga pria itu pingsan, lalu menoleh pada Alea. "Ayo. Waktu kita tidak banyak."
Mereka sampai di depan brankas bernomor 0912—tanggal lahir Alea. Alea memasukkan kunci singa perak itu ke lubangnya. Terdengar suara mekanisme mekanis yang rumit, diikuti oleh desisan udara yang keluar dari segel kedap udara.
Pintu brankas terbuka perlahan.
Alea mengira akan menemukan tumpukan uang atau emas. Namun, di dalamnya hanya ada sebuah kotak beludru hitam dan satu map besar bertuliskan: PENGAKUAN DOSA MALIK.
Alea membuka kotak beludru itu. Isinya adalah sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk tetesan air mata yang sangat indah, dan sepucuk surat kecil.
“Untuk Alea. Mahar ini bukan untuk membelimu, tapi untuk menjamin bahwa kau punya kekuatan untuk menghancurkan apa pun yang mencoba mengurungmu. Kau adalah darahku yang paling murni. – Don Malik.”
Alea kemudian membuka map itu. Isinya adalah daftar nama seluruh anggota dewan direksi, lengkap dengan bukti keterlibatan mereka dalam pembunuhan ayah Alea, transaksi senjata ilegal, dan yang paling mematikan: bukti bahwa mereka berencana mengudeta Arka sejak hari pertama Arka menjabat.
"Ini bukan mahar," bisik Alea, air matanya jatuh menetes di atas kertas itu. "Ini adalah bom atom."
Arka membaca dokumen itu dari balik bahu Alea. Rahangnya mengeras. "Ayahku memang bajingan, tapi dia tahu cara menjatuhkan musuhnya dari balik liang lahat. Dengan data ini, kita tidak perlu membunuh mereka dengan peluru. Kita bisa menghapus mereka dari sejarah bisnis dunia."
"Tapi Arka," Alea menatapnya. "Di sini tertulis namamu juga. Ayahmu mencatat bahwa kau tahu tentang beberapa transaksi di awal kariermu."
Arka terdiam. Ia menatap Alea dengan tatapan pasrah. "Ya. Aku melakukannya untuk bertahan hidup saat itu. Jika kau menyerahkan data ini ke pihak berwenang, aku juga akan ikut hancur. Itulah ujian terakhir ayahku, Alea. Apakah kau akan menyelamatkanku, atau kau akan memberikan keadilan murni untuk ayahmu?"
Alea menatap dokumen itu, lalu menatap Arka. Di depannya berdiri pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuknya, pria yang telah menculik lalu melindunginya, pria yang ia sadari telah menjadi bagian dari jiwanya.
"Aku jurnalis, Arka," ucap Alea lirih. "Tugasku adalah mengungkap kebenaran."
Alea merobek halaman yang berisi nama Arka, lalu memasukkannya ke dalam saku blusnya. Ia menatap Arka dengan senyum sedih. "Tapi aku juga seorang wanita yang tidak bisa membiarkan monsternya mati sendirian. Sisa data ini cukup untuk membakar dewan direksi. Mengenai dosamu... kau harus membayarnya padaku seumur hidupmu."
Arka terpaku, lalu ia menarik Alea ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia mencium puncak kepala Alea dengan rasa syukur yang luar biasa. "Aku akan membayar setiap detiknya, Alea. Janjiku."
Mereka keluar dari bank saat fajar mulai menyingsing. Di luar, puluhan mobil polisi dan media sudah berkumpul—hasil dari laporan anonim yang dikirim oleh tim Arka.
Alea melangkah maju, memegang map merah itu tinggi-tinggi di depan kamera wartawan yang mengerumuninya. Arka berdiri tepat di belakangnya, seperti tembok yang tak tergoyahkan.
"Nama saya Alea Senja!" teriaknya, suaranya menggema di antara gedung-gedung beton. "Dan hari ini, saya akan membacakan akhir dari Malik Group yang kalian kenal!"
Saat Alea mulai menyebutkan nama-nama direktur satu per satu beserta dosa mereka, di gedung seberang, para anggota dewan direksi yang sedang menonton televisi hanya bisa duduk lemas saat polisi mulai mengetuk pintu kantor mereka.
Perang fisik telah berakhir, dan perang legal baru saja dimulai. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, Alea merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya di bawah sorotan kamera.
"Siap untuk hidup yang normal?" bisik Arka di telinganya.
Alea tertawa kecil sembari menatap kilatan kamera. "Bersamamu? Sepertinya normal adalah kata yang mustahil. Tapi aku tidak keberatan."