NovelToon NovelToon
Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Runtuhnya Langit di Menara Keputusasaan

Langit di atas Menara Keputusasaan tidak lagi berwarna merah atau hitam; langit itu telah kehilangan warnanya, menjadi abu-abu mati seolah-olah seluruh kehidupan di cakrawala telah tersedot masuk ke dalam tubuh satu orang. Xiao Yuan berdiri di tengah reruntuhan, memegang Pedang Duka Sang Naga yang transparan namun bergetar dengan frekuensi yang sanggup merobek dimensi. Di sekelilingnya, debu perak sisa-sisa tubuh ibunya masih melayang, sebuah pengingat abadi akan pengorbanan yang tak ternilai.

Xiao Tian, Pangeran Mahkota yang biasanya penuh kebanggaan, kini gemetar hebat. Ia mencoba memanggil kembali energi ilahinya, namun aura putih yang keluar dari tubuh Xiao Yuan menekan energinya kembali ke dalam pori-porinya. Keberadaan Xiao Yuan saat ini bukan lagi soal tingkat kultivasi; dia adalah manifestasi dari kehampaan yang menolak keberadaan cahaya.

"Yuan... adikku... dengarkan aku!" Xiao Tian mencoba bernegosiasi, suaranya melengking karena ketakutan. "Itu semua perintah Ayahanda Kaisar! Aku hanya menjalankan tugas! Kita bisa membagi kekuasaan di Alam Atas bersama-sama!"

Xiao Yuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah maju. Satu langkah.

BOOM!

Gelombang kejut dari langkah itu membuat tanah di bawah kaki Xiao Tian amblas sedalam sepuluh meter. Seluruh prajurit elit yang tersisa di belakang Xiao Tian mendadak membeku, lalu hancur menjadi serpihan es putih tanpa sempat mengeluarkan suara.

"Kau bicara soal kekuasaan?" suara Xiao Yuan terdengar seperti bisikan ribuan arwah yang dingin. "Kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan ibuku? Kekuasaan yang mencuri masa mudaku? Simpan bicaramu untuk neraka, Xiao Tian."

Xiao Yuan mengangkat pedangnya. Gerakannya sangat lambat, namun Xiao Tian mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Ruang di sekelilingnya telah membeku, mengunci setiap sendinya.

"Tebasan Terakhir: Kehampaan Duka Sang Naga."

Hanya satu garis putih yang muncul di udara. Garis itu membelah langit, membelah awan, dan membelah Menara Keputusasaan yang berdiri angkuh selama jutaan tahun. Menara hitam raksasa itu terpotong secara diagonal seolah-olah ia hanyalah selembar kertas yang ditarik oleh silet tajam.

DUAARRRRR!

Menara itu runtuh. Ribuan jiwa yang terperangkap di dalamnya berhamburan keluar, membentuk pusaran cahaya yang terbang menuju langit, terbebas dari belenggu abadi. Di saat yang sama, Xiao Tian berteriak saat tubuhnya mulai memudar dari kaki hingga kepala. Ia tidak mati karena luka fisik; jiwanya sedang dihapus dari eksistensi oleh pedang Xiao Yuan.

"TIDAKKKK! AYAHANDAA, SELAMATKAN AKUUU!"

Teriakan Xiao Tian lenyap bersamaan dengan hancurnya tubuhnya menjadi butiran cahaya kelabu. Pangeran Mahkota Alam Atas telah musnah, bahkan tanpa meninggalkan setetes darah pun.

Kini, pandangan Xiao Yuan beralih ke arah Ling’er.

Wanita itu terduduk lemas di tanah. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi oleh kengerian yang tak terlukiskan. Ia melihat Menara Keputusasaan runtuh, ia melihat pelindungnya musnah, dan ia menyadari bahwa ia kini benar-benar sendirian menghadapi monster yang ia ciptakan sendiri.

"Yuan... jangan..." Ling’er merangkak mundur, air matanya mengalir deras. "Kau mencintaiku, bukan? Ingat saat kita masih di Sekte Awan Langit? Ingat janji kita di bawah pohon plum? Aku hanya tersesat, Yuan! Aku dipaksa oleh Aliansi Dewa!"

Xiao Yuan berdiri di depan Ling’er. Pedang transparannya menempel di dahi wanita itu. "Cinta?" Xiao Yuan terkekeh, suara tawa yang paling menyedihkan yang pernah didengar Yun’er. "Cinta itu mati saat kau menusuk punggungku di malam pernikahan kita. Janji itu terbakar saat kau membiarkan ibuku disiksa di menara ini."

Xiao Yuan mencengkeram rambut Ling’er, memaksanya menatap reruntuhan menara. "Lihat itu, Ling'er. Itulah masa depanmu. Aku tidak akan membunuhmu dengan pedang ini. Itu terlalu bersih untuk pengkhianat sepertimu."

Xiao Yuan menyentuh dahi Ling’er dengan jarinya yang dingin. "Aku akan menyegel jiwamu ke dalam sisa-sisa reruntuhan menara ini. Kau akan tetap sadar, kau tidak akan bisa mati, dan kau akan merasakan setiap rasa sakit dari jiwa-jiwa yang pernah kau siksa di sini, selama sepuluh ribu tahun ke depan."

"TIDAK! BUNUH AKU SAJA! YUAN, KUMOHON BUNUH AKU!" Ling’er menjerit histeris.

Namun, Xiao Yuan tidak menunjukkan belas kasihan. Cahaya putih keluar dari jarinya, membungkus tubuh Ling’er dan menyeretnya masuk ke dalam fondasi menara yang hancur. Suara jeritannya perlahan meredup saat segel batu menutupinya. Poetic justice telah ditegakkan; wanita yang haus akan kemegahan menara itu kini menjadi bagian abadi dari puing-puingnya.

Setelah semuanya selesai, Xiao Yuan berdiri mematung. Pedang di tangannya menghilang menjadi asap. Aura putih yang menyelimuti tubuhnya mulai memudar, namun bersamaan dengan itu, tubuh Xiao Yuan mulai limbung.

"Yuan!" Yun’er berlari sekuat tenaga, menangkap Xiao Yuan sebelum ia menghantam tanah.

Yun’er terisak saat menyentuh kulit Xiao Yuan. Dingin. Sangat dingin. Melalui ikatan jiwa mereka, Yun’er tidak lagi merasakan kemarahan atau dendam. Ia hanya merasakan kehampaan yang sunyi. Jantung Xiao Yuan tidak lagi berdetak. Penggunaan Pedang Duka barusan telah menghabiskan seluruh sisa esensi hidupnya.

"Jangan begini... Yuan, kau sudah menang! Ibumu sudah bebas, musuhmu sudah hancur! Bangunlah!" Yun’er memeluk tubuh Xiao Yuan, mencoba menyalurkan sisa-sisa energi Phoenix Es-nya yang juga sudah hampir habis.

Kakek Gu dan Long Chi mendekat dengan wajah penuh duka. Long Chi menatap ke arah langit yang mulai memerah, pertanda bahwa otoritas tertinggi Alam Atas Kaisar Langit yang asli telah menyadari kehancuran Menara dan kematian putranya.

"Waktu kita tidak banyak," ucap Long Chi dengan suara berat. "Xiao Yuan telah menggunakan teknik terlarang 'Penghapusan Jiwa'. Dia tidak hanya membunuh musuhnya, dia membunuh masa depannya sendiri."

"Pasti ada cara!" Yun’er berteriak pada Sang Permaisuri Phoenix Es yang kini berdiri dengan sisa kekuatannya. "Ibu, kau bilang kita terikat sejiwa! Jika dia mati, aku mati! Gunakan hidupku untuk menghidupkannya kembali!"

Sang Permaisuri menggeleng lemah. "Penyatuan jiwa kalian membuat kalian berbagi beban, tapi kematian Xiao Yuan saat ini adalah kematian spiritual. Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan, tapi harganya adalah kau harus melupakan segalanya."

"Lakukan!" Yun’er menjawab tanpa ragu. "Aku tidak peduli jika aku harus melupakan duniaku, asalkan dia tetap bernapas."

Sang Permaisuri mendesah, lalu meletakkan tangannya di atas dahi Yun’er dan Xiao Yuan. "Ini adalah Teknik Reinkarnasi Terbalik. Aku akan membekukan jiwa Xiao Yuan di dalam inti jiwamu. Dia akan hidup kembali, namun ia akan kehilangan seluruh ingatannya tentang dendam ini, dan kau... kau akan tertidur di dalam pedangnya sampai saat ia mampu memanggilmu kembali."

Proses pun dimulai. Cahaya biru es yang sangat murni menyelimuti mereka berdua. Yun’er menatap wajah Xiao Yuan untuk terakhir kalinya, mencium bibirnya yang dingin dengan penuh kasih.

"Temukan aku lagi, Yuan... di kehidupan yang tanpa darah ini," bisik Yun’er sebelum tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran cahaya biru yang masuk ke dalam dada Xiao Yuan.

Derrrrtt...

Jantung Xiao Yuan berdenyut sekali. Lalu dua kali.

Tepat saat itu, langit di atas mereka benar-benar runtuh. Sebuah tangan raksasa yang seribu kali lebih besar dari sebelumnya turun dari balik awan. Kaisar Langit sendiri telah turun untuk menghukum sang pemberontak.

"BERANI SEKALI KAU MENGHANCURKAN CIPTAANKU!" suara itu sanggup menghancurkan gunung-gunung di sekitarnya.

Kakek Gu dan Long Chi bersiap untuk mati, berdiri di depan Xiao Yuan yang masih tak sadarkan diri. Namun, sebelum tangan itu menghujam mereka, sisa-sisa debu perak dari Ye Ling tiba-tiba berkumpul, membentuk perisai raksasa yang menahan serangan Kaisar Langit.

"Pergilah!" suara Ye Ling terdengar untuk terakhir kalinya. "Bawa dia ke Alam Bawah yang Tersembunyi! Biarkan dia tumbuh kembali tanpa beban masa lalu ini!"

Dengan dorongan energi terakhir dari roh ibunya, sebuah portal terbuka di bawah kaki mereka, menelan Xiao Yuan, Kakek Gu, dan Long Chi, mengirim mereka jauh dari jangkauan Alam Atas.

Satu Tahun Kemudian - Di Sebuah Desa Terpencil di Lereng Gunung

Seorang pemuda berambut putih duduk di tepi sungai, menatap pantulan dirinya di air. Wajahnya tampan namun memiliki tatapan yang kosong, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu yang hilang. Di sampingnya, tersampir sebuah pedang hitam yang memancarkan aura dingin yang menenangkan.

"Yuan! Ayo pulang, makan malam sudah siap!" teriak seorang pria tua dari kejauhan Kakek Gu yang kini menyamar sebagai petani biasa.

"Iya, Kek!" jawab pemuda itu Xiao Yuan.

Ia berdiri, namun langkahnya terhenti saat ia merasakan getaran halus dari pedangnya. Ia mengusap hulu pedang itu, dan untuk sesaat, ia seolah mendengar suara seorang gadis membisikkan namanya. Namun, saat ia mencoba mengingatnya, kepalanya terasa sakit.

Ia tidak ingat pengkhianatan itu. Ia tidak ingat menara itu. Ia tidak ingat ibunya. Namun, di dalam hatinya, ada satu api yang tidak pernah padam sebuah janji yang tak terucapkan untuk melindungi seseorang yang ia rasa sangat berharga.

Tiba-tiba, seorang gadis desa berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah. "Yuan! Ada pasukan berkuda di gerbang desa! Mereka mencari pria berambut putih! Katanya... mereka dari Aliansi Dewa Baru!"

Xiao Yuan menatap ke arah gerbang desa. Matanya yang tadinya tenang, mendadak berubah menjadi tajam. Secara insting, tangannya menggenggam hulu pedangnya.

"Aliansi Dewa?" gumam Xiao Yuan. Nama itu memicu rasa benci yang tak bisa ia jelaskan.

Ia tidak tahu siapa dirinya yang dulu, tapi ia tahu satu hal: Jika ada yang mencoba mengusik kedamaiannya, ia akan membuat mereka menyesal.

Meskipun Xiao Yuan kehilangan ingatannya, insting naga dan kekuatannya yang tersegel mulai bangkit kembali saat ia mencium bau musuh lamanya. Namun, yang lebih mengejutkan, pemimpin pasukan berkuda itu adalah seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Ling’er, namun ia memperkenalkan dirinya sebagai putri dari keluarga kerajaan baru yang sedang mencari 'Pahlawan yang Diramalkan'. Apakah Ling'er berhasil bereinkarnasi lebih cepat, ataukah ini adalah jebakan baru dari Alam Atas untuk memancing Xiao Yuan kembali? Dan di dalam pedangnya, Yun’er mulai merasakan kehadiran musuh, namun ia tidak bisa bangun kecuali Xiao Yuan meneteskan darah cintanya pada bilah pedang tersebut.

1
Rebeka Saja
keren ka...
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
Nur Aini
lanjut terus Thor
christian Defit Karamoy: siap kak 🙏
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
christian Defit Karamoy
mantap
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!