Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Akhir pekan itu, rumah keluarga Wijaksana terasa lebih dingin dari biasanya. Andrew telah menjadi seperti bayangan; ia hadir secara fisik, namun pikirannya seolah berada di tempat lain yang sangat jauh. Ia tidak lagi menyentuh konsol gamenya, tidak lagi menegur Ares, bahkan hampir tidak menyentuh makanannya.
Mommy Revana, dengan intuisi seorang ibu yang tajam, tahu bahwa putranya sedang berada di ambang kehancuran batin. Maka, ia melancarkan "misi" kecilnya.
"Papi, hari ini Mommy pinjam Andrew dulu ya. Mommy mau ditemani belanja, perawatan, dan makan siang. Berdua saja," ucap Mommy Revana di meja sarapan dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Papi Adrian mengerutkan kening. "Tumben sekali, Mom? Biasanya kan ada sopir atau bersamaku."
"Sekali-sekali Mommy mau dimanjakan anak laki-laki tertua Mommy. Boleh kan, Andrew?" Mommy menatap Andrew dengan tatapan lembut namun mengunci.
Andrew, yang tidak punya kekuatan untuk berdebat, hanya mengangguk pelan. "Ya, Mom. Aku antar."
Sepanjang perjalanan di mobil, Andrew tetap diam. Ia mengemudi dengan sangat hati-hati, namun matanya kosong. Mommy Revana sengaja tidak menyalakan radio. Ia membiarkan kesunyian itu menyelimuti mereka sampai mereka tiba di sebuah salon spa eksklusif.
Setelah sesi perawatan selesai, Mommy mengajak Andrew ke sebuah kafe di atap gedung yang sepi, menghadap pemandangan kota. Ia memesan teh chamomile dan menatap putranya yang sejak tadi hanya menatap cangkir kopinya tanpa meminumnya.
"Andrew," panggil Mommy pelan.
Andrew mendongak. "Ya, Mom?"
"Mommy bukan Papi yang bisa kamu bohongi dengan alasan 'sibuk kerja' atau 'audit perusahaan'," Mommy meletakkan tangannya di atas tangan Andrew yang kaku. "Luka di matamu itu bukan karena angka-angka di kantor, Sayang. Itu luka karena seseorang."
Andrew mencoba menarik tangannya, namun Mommy memegangnya lebih erat. "Apa ini soal wanita ? Wanita yang membuatmu membentak adikmu sendiri?"
Andrew memalingkan wajah, rahangnya mengeras. "Aku nggak tahu apa yang Mommy bicarakan."
"Kamu tahu, Andrew. Kamu anak Mommy yang paling jujur, itulah kenapa saat kamu mencoba berbohong, seluruh tubuhmu terlihat kesakitan," Mommy menghela napas panjang. "Apakah itu Alana?"
Pertanyaan itu membuat Andrew tersentak. Keheningan yang mengikuti terasa sangat berat. Andrew merasa dunianya seolah berhenti berputar.
"Andrew... Mommy bisa melihat cara kamu menatapnya saat makan malam keluarga. Mommy juga melihat bagaimana kamu menghindarinya seolah dia adalah api yang bisa membakarmu hidup-hidup," lanjut Mommy Revana dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik. "Katakan pada Mommy, apa yang terjadi di antara kalian?"
Air mata yang sejak beberapa hari ini ditahan Andrew hampir meledak. Ia menunduk dalam, bahunya yang tegap kini tampak merosot.
"Aku sudah mengkhianati Ares, Mom." suara Andrew pecah, nyaris tak terdengar. "Aku mencintai wanita yang seharusnya menjadi adik iparku. Aku mencoba membencinya, aku mencoba menghinanya, tapi aku tidak bisa. Dan sekarang... aku membenci diriku sendiri lebih dari apa pun di dunia ini."
Mommy Revana tertegun. Meskipun ia sudah menduga, mendengar pengakuan itu langsung dari bibir Andrew terasa seperti hantaman di hatinya. Ia melihat putranya yang selalu terlihat sempurna dan tak terkalahkan, kini hancur berkeping-keping di depannya.
Andrew menutup matanya rapat-rapat, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya di hadapan sang ibu. Dengan suara yang gemetar, ia mulai menumpahkan segalanya, beban yang selama ini nyaris menghancurkan kewarasannya.
"Semua yang dikatakan Kiara... itu benar, Mom. Kami melukis bersama, dan untuk sesaat, aku membiarkan diriku bermimpi memiliki hidup seperti itu," Andrew menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. "Bahkan kejadian di kantor kemarin... aku menciumnya. Aku kehilangan kendali. Tapi yang paling membuatku merasa kotor adalah karena Alana... dia tidak menolak. Dia menyambutku, Mom."
Andrew menarik napas panjang yang terasa sesak. "Aku sudah mencoba menjauh, bersikap kasar, bahkan menghinanya di depan Ares agar dia membenciku. Tapi setiap kali kami berdekatan, gravitasi itu terlalu kuat. Aku memang salah karena memulai, tapi dia... dia seolah memberiku ruang untuk terus masuk lebih dalam."
Mommy Revana terdiam, jemarinya yang tadi mengusap punggung tangan Andrew perlahan berhenti. Ekspresi lembut di wajahnya berubah menjadi garis ketegangan yang dingin. Sebagai seorang ibu yang sangat mengenal anak-anaknya, ia tahu Andrew adalah pria yang sangat disiplin dan penuh perhitungan. Andrew tidak akan pernah melangkah sejauh itu jika tidak ada "pintu" yang dibukakan untuknya.
"Mommy terkejut, Andrew. Benar-benar terkejut," suara Revana kini terdengar lebih tegas, ada nada kekecewaan yang bukan ditujukan pada putranya, melainkan pada situasi ini.
"Tapi dengarkan Mommy," lanjut Revana sambil menatap tajam mata Andrew. "Mommy sangat mengenalmu. Kamu adalah pria yang paling berhati-hati, paling menjaga martabat, dan tidak akan pernah bertindak agresif pada perempuan tanpa alasan. Berbeda dengan Ares yang memang ekspresif dan terbuka, kamu selalu punya batas."
Revana menghela napas, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang nyata. "Bagi Mommy, dalam hal ini, Alana-lah yang paling tidak punya pendirian. Jika dia memang mencintai Ares, dia seharusnya tahu batas. Dia seharusnya menjadi benteng yang tidak bisa ditembus, bukannya malah pasrah dan menyambut kehadiranmu. Seorang wanita yang membiarkan pria lain masuk ke hatinya di saat dia sudah memiliki komitmen dengan pria lain, apalagi kakaknya sendiri itu adalah bentuk pengkhianatan yang sangat rendah."
Andrew terpaku mendengar penilaian ibunya. Ia ingin membela Alana, namun logika di kepalanya membenarkan kata-kata sang ibu.
"Dia seperti tidak punya harga diri di depan perasaannya sendiri," lanjut Revana dingin. "Dia bermain api dengan dua pria bersaudara di keluarga kita. Itu bukan cinta, Andrew, itu kehancuran. Dan Mommy tidak akan membiarkan wanita seperti itu merusak ikatan darah antara kamu dan Ares."
Revana memegang wajah Andrew dengan kedua tangannya. "Kamu harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri secara berlebihan. Kamu tergoda, iya, tapi dia yang membiarkan godaan itu terjadi. Sekarang, janji pada Mommy, jangan pernah temui dia lagi. Jika dia memang mencintai Ares, biarkan dia membuktikannya dengan menjauhimu. Dan jika dia tidak bisa... maka dia memang bukan wanita yang pantas untuk siapa pun di keluarga Wijaksana."
Andrew hanya bisa terdiam. Nasihat ibunya memberikan perspektif baru yang lebih pahit: bahwa wanita yang ia puja ternyata dianggap sebagai ancaman bagi keutuhan keluarganya.
----
Setelah pembicaraan mendalam di kafe itu, Mommy Revana menjalankan perannya sebagai pelindung keluarga dengan sangat presisi. Ia tidak meledak marah di depan umum, namun ia membangun tembok tak kasat mata yang mulai dirasakan oleh semua orang.
Beberapa hari kemudian, Ares membawa Alana ke rumah untuk makan malam santai. Biasanya, Mommy Revana akan menyambut Alana dengan pelukan hangat atau menanyakan kabar galerinya. Namun kali ini, atmosfer di ruang tamu berubah seketika saat Alana melangkah masuk.
"Malam, Tante," sapa Alana lembut.
Mommy Revana hanya mendongak sekilas dari majalahnya, memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Oh, Alana. Silakan duduk. Ares, Mommy minta tolong panggilkan Papi di ruang kerja ya, makanan udah siap?"
Saat Ares pergi ke lantai atas, keheningan di ruang tamu terasa mencekam. Alana mencoba mencairkan suasana. "Tante, aku bawa beberapa kue buatan sendiri—"
"Simpan saja di dapur, Alana," potong Mommy Revana dingin. Ia menatap Alana dari atas ke bawah, seolah melihat sesuatu yang mengotori karpet mewahnya. "Tante baru saja bicara dengan Andrew. Dia bilang dia sedang sangat sibuk dan mungkin tidak akan ikut makan malam. Sepertinya dia butuh ketenangan tanpa gangguan dari... pihak luar."
Alana tersentak. Kata-kata "pihak luar" itu terasa seperti tamparan. Ia menyadari bahwa Mommy Revana sudah tahu sesuatu. Sepanjang makan malam, Mommy Revana hanya berbicara pada Ares dan Papi Adrian, benar-benar menganggap Alana seolah tidak ada di sana. Bahkan ketika Alana mencoba berbicara, Mommy akan memotongnya dengan topik lain.
Ares yang polos mulai menyadari ada yang salah. "Mi, Alana lagi nanya soal resep masakan yang Mommy suka itu, lho."
"Oh, Mommy lupa. Mommy sedang kurang enak badan, jadi tidak ingin membahas hal-hal sepele," jawab Revana tanpa menoleh pada Alana.
----
Melihat situasi yang semakin tegang dan Andrew yang semakin mengurung diri, Mommy Revana memutuskan untuk mengambil langkah ekstrim. Ia tahu, memisahkan mereka secara perlahan tidak akan berhasil selama status Alana masih "tidak jelas".
Malam itu, setelah Alana pulang, Mommy Revana duduk bersama Papi Adrian dan kedua putranya di ruang tengah.
"Papi," panggil Mommy Revana dengan nada serius. "Ares dan Alana sudah berhubungan cukup lama. Karir Ares juga sudah stabil. Sepertinya tidak baik membiarkan mereka terus seperti ini tanpa ikatan resmi."
Ares langsung bersemangat. "Maksud Mommy, pertunangan?"
"Bukan hanya pertunangan, Ares. Mommy mau bulan depan kalian resmi bertunangan secara besar-besaran, dan tahun depan kalian menikah," ucap Mommy Revana sambil melirik Andrew yang duduk di pojok ruangan.
Andrew mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap ibunya, menyadari bahwa ini adalah cara ibunya untuk "mengunci" Alana agar tidak bisa lagi mendekatinya, sekaligus menguji kesetiaan wanita itu.
"Wah, aku setuju banget, Mom! Tapi apa Alana siap menikah secepat itu?" tanya Ares ragu namun bahagia.
"Jika dia memang mencintaimu dan menghargai keluarga ini, dia tidak punya alasan untuk menolak," jawab Mommy Revana tajam. "Besok, Mommy sendiri yang akan bicara pada Alana. Kita akan siapkan pesta pertunangan yang paling megah."
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......