NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peran Adik Tersakiti

Seketika, Kelas X-7 hening. Bentakan Salma barusan sukses membungkam mulut-mulut yang sibuk mencaci maki Manda. Salma menatap sekeliling kelas dengan tatapan tajam dan dingin, seolah dia adalah ratu yang sedang menertibkan rakyatnya.

"Kalian pikir kalian siapa? Punya hak apa menunjuk hidung kakakku? Tutup mulut kalian!"

Anak-anak kelas itu gemetar. Mereka menunduk, tak berani menatap mata Salma. Wajah mereka berubah warna, antara malu dan takut.

Sementara itu, Manda yang 'dibela' justru merasa hampir meledak karena amarah. Dia menatap Salma dengan penuh kebencian.

Pembelaan Salma barusan bukan membuatnya lega, malah membuatnya merasa semakin rendah, seperti anjing terbuang yang harus berlindung di bawah kaki majikannya karena tak punya pilihan lain.

Salma menatap balik Manda tanpa rasa takut. Sorot matanya penuh ejekan yang tak ditutup-tutupi.

"Oh ya, Kak Manda," ujar Salma dengan nada manis yang dibuat-buat, "semoga di ujian akhir nanti Kakak bisa membuktikan kemampuan asli Kakak, ya."

Manda mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Sabar, batinnya. Hanya dengan bersabar aku bisa menghancurkanmu nanti.

Ketegangan di kelas itu pecah ketika pintu Kelas X-7 mendadak didatangi segerombolan siswa yang memblokir jalan masuk.

"Wah, dengar-dengar Kelas 7 sekarang lagi viral di Citra Bangsa. Nggak nyangka, ternyata murid kelas ini hebat banget, sampai berani maling soal ujian. Kalau mau juara satu bilang aja, dong. Kami anak Kelas X-1 nggak pelit kok, bisa kami kasih. Nggak perlu sampai mencuri begitu, kan?"

Yang berbicara adalah seorang cowok berkacamata dengan tinggi sekitar 175 cm. Wajahnya biasa saja, tapi nada bicaranya penuh kesombongan yang memuakkan. Dia adalah Jordy Jalendra, ketua Kelas X-1, putra Wakil Walikota yang terkenal angkuh dan hobi merendahkan siswa dari kelas bawah.

Jordy bersedekap di pintu kelas, menatap seisi ruangan dengan jijik sebelum matanya jatuh pada Manda. "Manda Tanudjaja... Putri Keluarga Tanudjaja yang terhormat ternyata cuma barang palsu. Untung dulu lo nolak gue, makasih banget ya."

Wajah Manda merah padam menahan malu. Jordy beralih menatap Rizky Alatas, ketua Kelas X-7 yang terkenal penakut. Rizky langsung menyusut di pojokan, keringat dingin mengucur deras.

"Lo ketua kelasnya? Sini lo!" bentak Jordy. "Kalau kelas kalian mau ranking satu, gue ada syaratnya. Lo harus mohon-mohon di depan semua anak Kelas X-1 supaya kami ngalah. Gimana?"

Rizky gemetar, nyaris menangis. Melihat itu, Dimas, teman sebangku Rizky, menggebrak meja karena tak tahan, tapi Salma lebih dulu mengambil alih panggung.

"Tuan Muda Jordy," suara Salma terdengar tenang namun menusuk. Dia bangkit dari kursinya, tersenyum miring.

"Pembagian kelas saat masuk sekolah itu cuma berdasarkan nilai rata-rata awal. Itu sama konyolnya kayak lo banggain harta bokap lo buat nindas orang lain. Adil nggak tuh?"

Jordy terpancing emosi. "Terus lo mau adu apa?"

Salma melangkah maju, menantang tatapan Jordy. "Karena lo sudah repot-repot datang, nggak sopan kalau kami tolak. Gimana kalau kita adu nilai individu? Tiga besar ranking pararel angkatan, semuanya bakal diborong anak Kelas X-7! Dan buat lo, Jordy... siap-siap aja gue injak."

Naya Wardhana tiba-tiba muncul menyeruak masuk, berdiri di samping Salma. "Taruhan yang menarik. Berani nggak, Jo? Kalau takut, mending minta maaf sekarang sebelum malu."

Melihat Naya, si jenius sekolah, yang entah kenapa memilih masuk kelas X-7 dari pada X-1 pada saat penerimaan masuk dulu, wajah Jordy berubah masam.

"Jangan ngelawak. Nilai sampah Kelas 7 mau naik panggung? Oke, kalau gue menang, Salma, lo harus jadi pembantu gue selama satu semester. Standby 24 jam!"

"Gue nggak butuh pembantu kayak lo, ngerusak pemandangan," balas Salma pedas. "Kalau lo kalah, lo harus pindah ke Kelas X-9."

Kelas X-9 adalah kelas "buangan" berisi anak-anak paling bermasalah. Rahang Jordy mengeras. "Oke! Salma, lo siap-siap aja belajar cara nyebokin tuan lo nanti!"

Jordy pergi dengan amarah meledak-ledak. Di belakangnya, anak-anak Kelas 7 yang tadinya minder, kini terbakar semangatnya setelah mendengar ucapan dingin Aksa Abhimana yang tiba-tiba bersuara.

"Siapa yang bikin aturan kalau Kelas X-1 harus selalu di atas?" tanya Aksa datar. "Dan siapa yang jamin kita bakal selamanya jadi pecundang?"

Tiga hari ujian berlalu dengan cepat. Soal-soal kali ini dibuat mendadak dengan tingkat kesulitan tinggi, tapi bagi Salma yang jiwanya sudah melampaui materi SMA, itu hal sepele.

Saat keluar dari ruang ujian terakhir, Jordy kembali menghadang Salma di koridor sekolah.

"Salma, kalau sadar diri nggak mampu, mending nyerah sekarang," Jordy menyeringai licik. "Daripada lo jadi pembantu, mending lo kasih nomor HP lo ke gue, terus kita damai. Gue bisa pertimbangkan buat jadiin lo pacar."

Salma menatap Jordy dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menilai barang rongsokan. "Gue kasih tahu ya, lo memang cocoknya di Kelas 9. Oh ya, satu lagi... buat ngiket tali sepatu Aksa aja lo nggak pantas."

Wajah Jordy memerah menahan amarah dan malu. "Salma! Dikasih hati minta jantung. Jangan nyesel lo ya!"

"Yang bakal nyesel itu lo. Mukanya udah jelek, kelakuan makin jelek."

Suara bariton itu muncul dari belakang Jordy. Aksa Abhimana melangkah maju, memisahkan Salma dari Jordy. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang mengintimidasi.

"Saran gue," lanjut Aksa dengan nada datar yang menusuk, "mending lo terbang ke Korea, masuk bengkel oplas, benerin dulu muka lo itu, baru balik lagi ke sini buat ngaca."

Mulut pedas Aksa sukses membuat harga diri Jordy hancur lebur. "Bangsat lo!" Jordy melayangkan tinjunya ke wajah Aksa.

Hap.

Aksa menangkap pergelangan tangan Jordy di udara. Cengkeramannya sekuat besi.

"Le-lepasin gue!" Jordy mencoba meronta, tapi sia-sia. Keringat dingin mulai menetes saat dia merasakan tulangnya seakan mau remuk. "Sakit! Lepasin! Gue bilang lepasin!"

"Minta maaf," perintah Aksa dingin. "Lo bikin cewek gue nggak nyaman. Kalau nggak mau minta maaf, tangan lo ini gue patahin sebagai gantinya."

Wajah Jordy sudah tak berbentuk karena menahan sakit. "Oke! Oke! Maaf! Salma, gue minta maaf! Puas lo?!" teriaknya panik.

Aksa menghempaskan tangan Jordy dengan kasar hingga cowok itu terhuyung mundur. Tanpa memedulikan Jordy yang kesakitan, Aksa berbalik menghadap Salma.

Tatapannya berubah 180 derajat menjadi sangat lembut. "Yuk, pergi."

Salma tersenyum lebar dan langsung menggandeng lengan Aksa manja, meninggalkan Jordy yang menatap punggung mereka dengan dendam membara.

Mereka berjalan melewati papan pengumuman utama sekolah yang sedang dikerumuni siswa. Di sana, terpampang jelas Surat Peringatan Keras untuk Manda Tanudjaja. Isinya bukan main-main: Skorsing, pencopotan jabatan OSIS, dan yang paling parah, Manda resmi dipindahkan ke Kelas X-9 mulai semester depan.

"Wah, Manda jatuh dari surga ke neraka. Tontonan menarik nih," gumam Salma sambil menahan senyum.

Tak lama kemudian, Manda terlihat berjalan sendirian ke arah sana. Dulu dia selalu dikelilingi dayang-dayang, sekarang setiap siswa yang berpapasan dengannya langsung buang muka atau menatap jijik.

Saat Manda sampai di depan papan pengumuman dan membaca nasibnya, bisikan-bisikan pedas langsung menyerangnya.

"Tuh lihat, si 'Bunga Teratai Putih' datang. Akting polosnya juara banget ya."

"Cih, kasihan Salma punya saudara ular berbisa gini. Udah diangkat jadi anak, malah gigit tuan rumah."

"Manda, saran gue sih mending lo pindah sekolah aja. Malu-maluin Citra Bangsa."

Wajah Manda memanas. Rasanya seperti ditelanjangi di depan umum. Pertahanannya runtuh.

"DIAM KALIAN SEMUA!" teriak Manda histeris.

Suasana hening sejenak, tapi kemudian ledakan cemoohan makin keras. "Dih, ngamuk! Mending lo yang minggat!"

Saat Manda hampir meledak, Salma maju membelah kerumunan.

"Teman-teman, mulutnya dijaga ya," ujar Salma dengan nada lembut yang menipu. "Ingat pepatah, kalau mau pukul anjing, lihat dulu tuannya. Bagaimanapun dia masih pakai nama Keluarga Tanudjaja. Kalian nggak punya hak menghina dia di sini."

Kerumunan langsung diam. Dada Manda naik turun menahan amarah. Salma baru saja secara halus menyebutnya anjing di depan semua orang!

"Kak Manda, jangan takut. Aku di sini kok. Kalau mereka berani ngomong kasar lagi, aku yang bakal hadapi mereka," lanjut Salma dengan senyum malaikat yang mematikan.

Pertahanan Manda putus.

"Salma! Nggak usah sok suci lo!" bentak Manda keras, jarinya menunjuk wajah Salma. "Liat gue hancur begini lo puas kan?! Senang kan lo bisa injak-injak gue?! Nggak usah akting baik di depan orang!"

Salma langsung membelalakkan mata, memasang ekspresi kaget dan terluka yang sangat meyakinkan. Matanya berkaca-kaca dalam sekejap.

"Kak... kok Kakak ngomong gitu?" suaranya bergetar. "Aku cuma mau belain Kakak... Kenapa Kakak marah sama aku? Memangnya aku yang nyuruh Kakak nyontek? Memangnya aku yang paksa Kakak maling soal ujian?"

Salma memainkan peran 'adik tersakiti' dengan sempurna. Simpati orang-orang di sana langsung beralih padanya.

"Gila ya Manda, udah dibelain malah ngigit."

"Salma sabar banget sih. Kalau gue jadi dia, udah gue jambak tuh si Manda."

"Benar-benar kayak cerita Petani dan Ular. Udah ditolong malah mau bunuh."

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!