Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Di Balik Identitas Baru
Matahari pagi menerangi gedung pencakar langit PT. Dewi Santoso yang terletak di kawasan pusat bisnis Bandung. Gedung bertingkat 15 dengan fasad kaca yang mencerminkan langit biru terasa megah dan mengesankan, menjadi bukti kemakmuran yang diduga diraih dengan cara yang tidak benar. Di lobi utama yang luas dan bersih, banyak orang berkumpul untuk melamar pekerjaan—semua berusaha menunjukkan diri terbaik agar bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan obat-obatan terkemuka di Indonesia.
Di antara mereka, Siti Wijaya berdiri dengan penampilan yang sama sekali berbeda dari biasanya. Dia mengenakan blus putih polos dengan rok kain hitam hingga lutut, rambut hitamnya yang biasanya diikat rapi kini dibuat lurus dan ditutupi dengan topi rambut hitam. Kacamata bulat yang dikenakannya menambah kesan akademis pada wajahnya yang biasanya terlihat anggun dan berwibawa sebagai anggota keluarga Wijaya. Di tangannya, dia membawa map kulit hitam kecil yang berisi surat lamaran dan riwayat hidup palsu dengan nama “Siti Kusuma”.
Setelah mendaftar di meja penerimaan, dia diarahkan ke ruang tunggu lantai 3 bersama dengan calon karyawan lain yang melamar posisi di departemen keuangan. Sambil menunggu, dia mengamati lingkungan sekitar dengan cermat—dinding yang dihiasi dengan foto-foto produk perusahaan dan profil manajemen puncak, termasuk foto Ratna dan Budi Santoso yang tersenyum lebar di depan gedung perusahaan. Di pojok ruangan, terdapat foto kecil Dewi yang ditempatkan di antara foto karyawan lama, seolah hanya sebagai tambahan tanpa makna khusus.
“Siti Kusuma!” suara seorang wanita dengan jas hitam memanggil namanya dari pintu ruangan rapat kecil di ujung koridor.
Siti segera berdiri dan mengikuti wanita tersebut ke dalam ruangan. Di dalam, seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun dengan rambut sudah mulai memutih duduk di belakang meja besar yang penuh dengan dokumen. Dia mengenakan jas biru tua dengan dasi bergaris, wajahnya tampak serius dan penuh dengan fokus. Di namanya terdapat tulisan “Hendra – Kepala Bagian Keuangan”.
“Silakan duduk, Nona Siti,” ujar Hendra dengan suara yang jelas namun tidak terlalu ramah. Dia mengambil surat lamaran dari atas meja dan membacanya dengan seksama. “Menurut riwayat hidup Anda, Anda baru saja lulus dari Universitas Pasundan dengan gelar Sarjana Akuntansi dan memiliki pengalaman kerja selama satu tahun di sebuah perusahaan kecil di Tasikmalaya. Benar?”
“Betul, Pak,” jawab Siti dengan suara yang tenang dan percaya diri. Dia telah mempersiapkan semua detail dengan sangat matang, termasuk membuat referensi palsu yang bisa diverifikasi jika diperlukan. “Saya ingin berkembang karir di perusahaan besar dan terpercaya seperti PT. Dewi Santoso, sehingga saya bisa belajar banyak hal dan memberikan kontribusi yang terbaik untuk perusahaan.”
Hendra mengangguk perlahan, kemudian mengajukan serangkaian pertanyaan tentang pengetahuan akuntansi, pengalaman dalam mengelola laporan keuangan, dan cara menangani situasi sulit di tempat kerja. Siti menjawab setiap pertanyaan dengan jelas dan tepat, menggunakan pengetahuan yang dia dapatkan selama bertahun-tahun membantu keluarga mengelola keuangan grup usaha Wijaya.
Setelah sekitar tiga puluh menit wawancara, Hendra menunjukkan ekspresi yang cukup puas. “Saya sangat terkesan dengan jawaban Anda, Nona Siti,” katanya dengan suara yang sedikit lebih ramah. “Kami akan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat hidup dan referensi Anda dalam waktu dua hari kerja. Jika semua sesuai, Anda akan mendapatkan panggilan untuk memulai pekerjaan minggu depan.”
Siti merasa lega mendengar kata-kata tersebut. Ini adalah langkah pertama yang sukses dalam misinya untuk menyelidiki perusahaan dan mengumpulkan bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Budi. “Terima kasih banyak, Pak,” ujarnya dengan senyum sopan. “Saya sangat menantikan kabar baik dari perusahaan ini.”
Sebelum dia bisa bangun dan pergi, Hendra menarik lengannya dengan lembut. “Sebelum Anda pergi, ada hal yang ingin saya tanyakan,” katanya dengan suara yang lebih pelan dan penuh dengan rasa ingin tahu. “Apakah Anda memiliki hubungan keluarga dengan seseorang bernama Dewi Wijaya? Wajah Anda terlihat sangat mirip dengan dia, terutama ketika Anda sedang fokus menjawab pertanyaan saya tadi.”
Siti merasa jantungnya berdebar kencang sejenak, tapi dia tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesusahan. “Maaf, Pak,” jawabnya dengan suara yang tetap stabil. “Saya tidak tahu siapa Dewi Wijaya dan tidak memiliki hubungan keluarga dengan orang tersebut. Mungkin hanya kemiripan wajah semata saja.”
Hendra mengangguk perlahan, seolah masih ragu namun tidak ingin memaksakan pertanyaan lebih lanjut. “Baiklah, Nona Siti,” katanya dengan senyum lembut. “Semoga kita bisa bekerja bersama dalam waktu dekat. Silakan pulang dan tunggu kabar dari kami.”
Setelah keluar dari ruangan wawancara, Siti segera pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri. Dia tidak menyangka bahwa kemiripannya dengan kakaknya akan terdeteksi begitu cepat. Ini menjadi peringatan bagi dia untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindakan dan perkataannya selama bekerja di perusahaan.
Sebelum meninggalkan gedung, dia berjalan ke arah kantin perusahaan yang terletak di lantai dasar. Dia ingin mengamati karyawan-karyawan biasa dan mungkin mendapatkan informasi berharga dari mereka. Di sudut kantin, dia melihat beberapa karyawan sedang duduk bersama dan berbincang dengan suara yang cukup rendah.
“…rasanya tidak adil kan? Perusahaan ini awalnya dibangun oleh Bu Dewi dengan kerja kerasnya, tapi sekarang malah dikuasai oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang pengobatan tradisional,” suara seorang wanita muda terdengar dengan jelas.
“Ya benar,” jawab seorang pria di sebelahnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Bu Dewi selalu memperhatikan karyawan dan mengembangkan produk dengan hati-hati. Sekarang hanya fokus pada keuntungan semata, bahkan beberapa resep asli Bu Dewi diubah agar lebih murah namun tidak seefektif dulu.”
Siti mendengarkan percakapan tersebut dengan sangat cermat. Ini adalah bukti lain bahwa masih banyak karyawan yang mengingat kontribusi sebenar dari kakaknya dan tidak puas dengan cara Ratna dan Budi mengelola perusahaan. Dia mencatat wajah-wajah karyawan tersebut dalam benaknya—mereka bisa menjadi sumber informasi penting nantinya.
Setelah keluar dari gedung perusahaan, Siti langsung pergi ke kedai kopi kecil yang terletak di dekat sana untuk bertemu dengan salah satu anggota tim intelijen yang telah disiapkan oleh ayahnya. Dia memberi tahu mereka tentang perkembangan hari ini dan tentang bagaimana kemiripannya dengan Dewi hampir terbongkar.
“Kita harus lebih berhati-hati dari sekarang,” ujar anggota tim tersebut dengan suara yang rendah. “Kami telah mendapatkan informasi bahwa Ratna telah menyewa orang untuk memantau setiap orang yang baru masuk ke perusahaan, terutama mereka yang menunjukkan minat pada sejarah perusahaan atau memiliki hubungan dengan keluarga Wijaya.”
Siti mengangguk dengan tekad yang semakin kuat. Dia tahu bahwa misinya tidak akan mudah, bahwa dia akan menghadapi banyak bahaya dan rintangan di jalan. Tapi dengan dukungan keluarga dan tim yang ada di belakangnya, serta dengan tekad yang kuat untuk memberikan keadilan bagi kakaknya dan menemukan Ridwan, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang.
“Saya akan tetap bekerja dengan seksama dan mengumpulkan sebanyak mungkin bukti,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Segera atau kemudian, kebenaran akan terungkap dan orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.”
Matahari mulai berpindah ke sisi lain gedung, membawa bayangan panjang yang menutupi sebagian jalan raya yang ramai. Siti berdiri dari kursinya dan membayar tagihan kopinya sebelum pergi ke arah parkiran tempat mobilnya disimpan. Di hatinya, dia berjanji kepada kakaknya yang telah lama tiada bahwa dia akan melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Budi, untuk mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya, dan untuk menemukan Ridwan yang telah hilang selama bertahun-tahun.