Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURIGA
"Membuat parfum sampai menghancurkan benteng latihan? Sejak kapan adikku yang lembut menjadi penghancur batu?"tanya Lucius menyipitkan mata, menatap barikade batu yang hancur berkeping-keping di ujung lapangan.
Tiba-tiba, Leo berlari dan memeluk kaki kakeknya.
"Kakek Raja! Paman Lucius! Kami sedang belajar jadi kuat supaya bisa jemput Ayah-"
"Leo!" potong Jasmine cepat, suaranya sedikit meninggi.
Jasmine tidak ingin ayahnya tahu rencana gila ini sekarang, jika Raja tahu Lucas masih hidup dan disekap, beliau pasti akan menggunakan jalur diplomasi yang lambat, atau melarang Jasmine berangkat karena dianggap terlalu berbahaya.
"Jemput siapa, Sayang? Ayahmu sudah tenang di surga. Apa kau sedang rindu?" tanya Raja Reifan menggendong Leo, mencium pipi cucunya.
Cup
Leo menatap Jasmine, lalu menatap kakaknya, Lucian.
Lucian memberikan kode dengan menggelengkan kepala pelan.
"Maksud Leo, menjemput kemenangan di latihan, Kakek! Seperti Ayah dulu," jawab Lucian membantu adiknya, meskipun hatinya terasa sakit karena harus menyebut ayahnya sudah tiada.
"Jangan membohongiku, Mine, aku mencium bau mesiu dan bau darah di tempat ini, jika kamu merencanakan sesuatu yang berbahaya karena belum bisa merelakan Lucas, katakan padaku, jangan berjalan sendirian," bisik Pangeran Lucius, di telinga Jasmine.
"Aku hanya sedang menjaga apa yang tersisa, Kak, Lucas mungkin sudah tidak ada bagi dunia, tapi kediaman ini harus tetap kuat," jawab Jasmine menatap kakaknya dengan mata yang tak gentar.
"Baiklah, kami akan menginap beberapa hari di sini, aku ingin menghabiskan waktu dengan cucu-cucuku sebelum mereka lupa wajah kakeknya," ucap Raja Reifan menghela napas, dia merasa Jasmine mungkin sedang depresi berat.
Jasmine melirik ke arah Taun Steven dan Nyonya Kimberly yang berdiri di kejauhan, dan mereka mengangguk kan kepala nya.
Situasi menjadi semakin sulit, dia harus menyembunyikan pasukan serigalanya dan rencana peledakannya dari mata tajam kakak dan ayahnya, atau semuanya akan berantakan.
Suasana di halaman itu mendadak jadi canggung banget.
Mark, Peter, dan Ketty yang biasanya terlihat garang dan liar, sekarang malah menunduk kaku seperti patung, berusaha keras tidak mengeluarkan aura serigala mereka di depan Raja.
Raja Reifan menurunkan Leo dari gendongannya, lalu menatap sekeliling dengan kening berkerut.
"Jasmine, Ayah serius. Kenapa suasana di sini rasanya beda sekali? Terakhir Ayah ke sini, kediaman Alistair itu isinya taman bunga dan ksatria yang rapi, tapi sekarang kenapa rasanya seperti barak tentara rahasia?" tanya Raja Reifan, memicing kan matanya.
Pangeran Lucius, tidak tinggal diam, dia berjalan pelan mendekati Mark, dia itu jenderal perang, instingnya kuat sekali.
Saat ini, Pangeran Lucius sudah berdiri tepat di depan Mark yang badannya jauh lebih besar.
"Kau? Pemburu dari Utara, katamu? Tapi tanganmu tidak terlihat seperti tangan pemburu hewan? Posisi berdiri mu itu posisi berdiri prajurit yang siap menerjang leher lawan," tanya Pangeran Lucius, menatap tajam mata Mark.
Mark berkeringat dingin, dia tidak berani menjawab karena suaranya yang berat bisa bikin Lucius curiga, dai cuma menunduk makin dalam.
"Kak Lucius, sudahlah," ucap Jasmine sambil berjalan cepat ke antara mereka.
"Dia memang pendiam, dia dan teman-temannya sedang membantuku mengamankan perbatasan hutan dari hewan buas. Kakak tahu kan, sejak Lucas tidak ada, keamanan di sini agak longgar," ucap Jasmine, mengalihkan pembicaraan.
"Lalu anak-anak ini? Lucian, kenapa sedari tadi telingamu terus bergerak-gerak seperti sedang mendengar suara dari jarak satu mil? Dan Leo, kenapa tanganmu panas sekali saat menyentuh jubah Ayah tadi?" tanya Pangeran, menyipitkan mata, melihat ke arah Lucian dan Leo.
Jasmine hampir saja kehilangan kata-kata, dia lupa kalau anak-anaknya belum mahir menyembunyikan kekuatan mereka di depan orang dewasa yang sangat teliti.
"Yang Mulia Raja, Pangeran Lucius, anak-anak ini sedang bersemangat karena sedang tumbuh besar, di kelurga Alistair anak laki-laki memang diajarkan untuk sangat peka pada sekitar, itu tradisi keluarga kami," ucap Nyonya Kimberly maju dengan senyum anggunnya, menyelamatkan situasi.
Raja Reifan mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya masih terlihat tidak percaya sepenuhnya.
Leo yang merasa suasana jadi tidak enak, tiba-tiba menarik tangan Paman Lucius.
"Paman! Lihat deh, Leo bisa bikin api kecil!" ucap Leo, mengalihkan pandangan semua orang.
Jasmine hampir jantungan, dengan tingkah Putra bungsu nya itu, bukan nya keadaan makin reda, justru kecurigaan Kakak dan Ayahnya, semakin tinggi.
"Leo sayang, Paman Lucius capek, nanti saja ya main sulapnya," ucap Jasmine, langsung memegang tangan Leo.
"Sulap?" ulang Pangeran Lucius menaikkan alisnya.
"Sejak kapan keluarga Alistair punya bakat sulap?" tanya Pangeran Lucius, semakin curiga.
"Hanya, trik mainan kecil yang aku ajarkan pada mereka, Kak," jawab Jasmine, bohong lagi.
Jasmine memberikan kode mata diam yang sangat galak pada Leo, membuat Leo langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Lucius menghela napas panjang. Dia menepuk gagang pedangnya.
"Baiklah, terserah apa katamu, Mine, tapi aku tidak bodoh, aku tahu ada sesuatu yang besar yang kau sembunyikan, dan bau benda hancur di sana itu bukan bau parfum," ucap Pangeran Lucius, menghela nafas panjang.
"Sudahlah, Lucius, adikmu mungkin hanya butuh hobi baru untuk melupakan kesedihannya. Ayo masuk, Ayah sudah lapar," ucap Raja Reifan menepuk pundak Lucius.
"Dan Jasmine, Ayah ingin mengobrol banyak denganmu tentang masa depan anak-anak," lanjut Raja Reifan, menatap Putri nya.
"Baik, Ayah, silakan masuk, pelayan sudah menyiapkan kamar untuk Ayah dan Kakak," jawab Jasmine mengangguk pelan, merasa lega sekaligus tertekan.
Saat rombongan Raja masuk ke dalam bangunan, Jasmine sempat melirik ke arah Mark dan memberikan isyarat tangan untuk bubar dan hati-hati.
Mark mengangguk kecil, wajahnya terlihat lega karena tidak harus berurusan lebih lama dengan Lucius.
Bukan takut,. lebih tepat nya Mark takut tidak bisa menahan diri nya, untuk tidak menyerang Pangeran Lucius, saat pria itu dengan kurang ajarnya menatap dirinya dari atas sampai bawah, dengan tatapan menilai.
Harga diri Serigala raksasa itu, terluka, Mark tidak pernah di pandang seperti itu sebelum nya.
"Leo, Lucian, ingat jangan cerita apapun pada Kakek Raja dan Paman Lucius," ucap Jasmine, memperingati kedua Putra nya.
"Maaf ibu..." cicit Leo, menunduk kan kepala nya.
"Tidak apa-apa, ibu tidak marah, tapi lain kali jangan begitu lagi yaa," jawab Jasmine, mengusap lembut kepala Leo.
Jasmine menatap punggung ayah dan kakaknya dengan cemas.
"Jasmine, jangan khawatir, rencana ini akan tetap berjalan, sekalipun nanti Ayah mu harus tahu, karena ibu yakin Reifan tidak akan membiarkan mu berjuang sendiri," ucap Nyonya Kimberly, menang kan, menantu nya.
"Benar, kamu tidak perlu memikirkan ini, fokus pada rencana mu saja, biar Ayah yang urus Ayah mu," ucap Tuan Steven, menimpali.