Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Motif yang Disembunyikan
Bella Shofie berdiri sendiri di aula bawah.
Bukan karena diperintah.
Bukan pula karena hukuman.
Melainkan karena ia yang memintanya.
Aula itu sunyi, lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di lantai beton. Bau logam dan minyak senjata masih sama, tetapi pagi ini terasa lebih pekat, seolah ruangan itu tahu ada sesuatu yang akan diungkap.
Madam Doss berdiri beberapa langkah di depannya.
Ia tidak langsung menjawab permintaan Bella. Tatapannya menelusuri tubuh gadis kecil itu, berhenti cukup lama di wajahnya. Mata yang terlalu tenang untuk usia delapan tahun. Mata yang tidak meminta izin, tidak pula memohon.
“Apa yang kau cari di tempat ini?” tanya Madam Doss akhirnya.
Suaranya datar, namun pertanyaannya berat.
Bella tidak menjawab dengan segera.
Di dalam kepalanya, ingatan itu kembali muncul tanpa diundang. Ayahnya tergeletak di lantai. Tubuh yang tidak bergerak. Darah yang merambat perlahan, dingin, dan bau besi yang menusuk hidungnya. Malam itu sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah akhir.
Dan wajah itu.
Wajah yang berdiri di ambang pintu. Wajah yang menatap sekilas sebelum menghilang. Wajah yang tak pernah sempat ia ingat sepenuhnya, namun bayangannya terus menghantuinya.
“Jawabanmu akan menentukan latihanmu,” lanjut Madam Doss.
“Dan menentukan seberapa jauh kau akan bertahan di sini.”
Bella mengangkat kepala.
“Aku ingin tahu,” ucapnya pelan namun jelas,
“siapa yang pantas ditembak.”
Untuk sesaat, aula itu kembali sunyi.
Madam Doss menatap Bella lebih lama dari sebelumnya. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
“Jadi itu,” katanya pelan.
Tidak ada ceramah.
Tidak ada penjelasan panjang.
Simulasi dimulai tanpa aba-aba.
Dinding-dinding aula bergerak perlahan, membentuk gang sempit. Cahaya meredup lebih jauh. Lampu-lampu kecil di sudut ruangan menciptakan bayangan yang terus berubah, membuat jarak dan bentuk sulit ditebak.
“Ini bukan ujian teknik,” suara Madam Doss terdengar dari pengeras suara.
“Ini ujian niat.”
Bella berdiri di titik awal.
Tangannya menggenggam pistol dengan mantap. Tidak ada getaran. Napasnya teratur, masuk dan keluar seperti latihan balet yang sudah mendarah daging. Ia melangkah maju dengan hati-hati, telinganya menangkap setiap bunyi kecil.
Langkah.
Gesekan.
Hening.
Target pertama muncul tiba-tiba.
Seorang pria bertopeng, tubuhnya besar, senjata palsu terangkat seolah siap menembak. Tidak ada waktu untuk berpikir.
Bella menembak tanpa ragu.
Dor.
Target itu jatuh ke belakang, tubuhnya membentur lantai dengan suara tumpul.
Bella tidak berhenti.
Target kedua muncul dari sisi kanan. Gerakannya cepat, mencoba mengejutkan. Bella memutar tubuhnya, langkahnya menyerupai gerakan balet yang telah diubah bentuknya. Tidak indah, tetapi efisien.
Dor.
Target kedua jatuh.
Setiap kali ia menembak, tidak ada wajah yang benar-benar ia lihat. Semua target menyatu menjadi bayangan yang sama. Satu sosok yang terus ia cari di balik topeng dan simulasi.
Wajah pembunuh ayahnya.
Gang semakin sempit. Cahaya semakin redup. Suara napas Bella tetap stabil, meski detak jantungnya mulai terdengar di telinganya sendiri.
Target ketiga dan keempat muncul hampir bersamaan. Bella bergerak mundur setengah langkah, menyesuaikan posisi kakinya, lalu menembak berurutan.
Dor. Dor.
Keduanya jatuh.
Namun di tengah simulasi, sesuatu berubah.
Sebuah target muncul di ujung gang dan tidak langsung menyerang. Tubuhnya hanya berdiri diam, sedikit condong ke depan, seolah menunggu.
Bella berhenti melangkah.
Bukan karena takut.
Melainkan karena jaket yang dikenakan target itu.
Jaket itu berwarna gelap, dengan potongan yang terlalu familiar. Jaket yang pernah ia lihat pada malam itu. Jaket yang melekat pada ingatannya seperti noda yang tidak bisa dihapus.
Untuk sepersekian detik, napas Bella tertahan.
Tangannya menegang.
Bukan karena ragu untuk menembak.
Melainkan karena ia merasa terlalu dekat dengan jawabannya.
Dor.
Peluru menembus tepat di dada target.
Tubuh itu terjatuh perlahan, dan simulasi langsung berhenti.
Lampu menyala terang.
Dinding-dinding kembali ke posisi semula. Gang sempit menghilang, digantikan oleh aula bawah yang kosong dan dingin.
Madam Doss masuk ke ruangan.
Langkahnya pelan, namun mantap. Ia berhenti di depan Bella, menatap target terakhir yang tergeletak di lantai.
“Kau membunuh dengan motif,” ucapnya.
“Bukan karena perintah. Bukan karena latihan.”
Bella menurunkan pistolnya.
Ia menatap lantai, bukan karena malu, melainkan karena pikirannya masih tertahan di satu titik.
“Apa itu salah?” tanyanya pelan.
Madam Doss menggeleng.
“Justru itu yang membuatmu berbahaya,” jawabnya.
Ia melangkah lebih dekat, hingga jarak mereka tinggal satu tarikan napas.
“BALLERINA MURDERER penuh dengan pembunuh,” lanjutnya.
“Namun hanya sedikit yang tahu siapa yang ingin mereka bunuh. Sebagian besar hanya menari mengikuti perintah.”
Bella mengangkat wajahnya.
“Apakah di sini,” tanyanya dengan suara yang nyaris tidak berubah,
“ada orang yang tahu tentang ayahku?”
Madam Doss tidak langsung menjawab.
Wajahnya mengeras, namun tidak menunjukkan keterkejutan. Ia diam beberapa detik, cukup lama untuk membuat udara terasa lebih berat.
“Jawaban atas dendammu,” ucapnya akhirnya,
“tidak akan kau temukan di luar tempat ini.”
Ia berbalik, langkahnya perlahan menjauh.
“Tapi jika kau bertahan,” lanjutnya tanpa menoleh,
“suatu hari, seseorang akan menyebut namanya di hadapanmu. Dan saat itu, kau harus siap.”
Bella menggenggam pistolnya lebih erat.
Kini ia tahu.
Balet adalah kedok.
Pembunuhan adalah jalan.
Dan dendam adalah alasan ia tidak pernah boleh berhenti menari.
Di tempat ini, setiap gerakan adalah janji.
Setiap tarikan pelatuk adalah langkah menuju kebenaran.
Dan Bella Shofie tidak berniat berhenti sebelum musiknya benar-benar usai.
...Bersambung ~...