NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Orion dan Ambrosia.

Namaku adalah Rembulan Senja. Kata ibu panti, aku ditemukan saat langit berwarna jingga di senja (sore) hari dan di langit menyembul rembulan penuh berwarna oranye. Kata ibu panti, dia baru melihat rembulan sesempurna dan seindah itu. Tubuhku bulat, kulit berwarna merah muda, begitu bersih dan bersinar, tertimpa selaksa cahaya, seperti rembulan yang dilihatnya. Oleh karena itu, khawatir salah mengenal, ibu panti segera menamaiku dengan nama tersebut. Tambahnya lagi, karena sebelumnya, ada tiga bayi lainnya baru ditemukan sejam yang lalu dan belum diberi nama. Aku suka nama itu. Rembulan Senja. Seperti nama dari surga."

Bagiku, ibu panti yang menemukanku adalah ibu peri yang baik hati. Namanya Ratna Sumirat. Beliau menikah tanpa anak. Suaminya lebih dahulu dipanggil Tuhan karena kecelakaan. Beliau sangat menyayangiku (melebihi anak yang lain). Katanya, aku cantik dan menggemaskan, tembem dan imut. Dan aku mereguk banyak kasih sayang darinya namun sayang kebahagiaanku dengannya hanya sampai usia 4 tahun.

Beliau wafat karena penyakit yang sudah lama di deritanya, jantung dan gagal ginjal. Aku sedih sekali dan mogok makan seharian. Biasanya, ibu peri yang baik hati (aku selalu memanggilnya seperti itu) selalu menyuapiku dengan lembut dan kasih sayang. Makanku menjadi sedikit karena tak ada ibu peri yang menyuapiku hingga pipi tembemku mengempis. Kepengurusan panti diganti sepupunya yang juga mengenal pemilik panti. Mereka berasal dari daerah pinggir pantai. Tentu saja berbeda dengannya. Tak ada lagi dekapan hangat dan makanan enak yang mengepul hangat yang menjadi jatahku.

Saat kepemimpinan wanita bernama Wati Supriati, ada kesempatan, aku dibuli habis-habisan oleh anak-anak yang tidak menyukaiku karena kesayangan ibu Ratna Sumirat. Dia pun membiarkan pembulian yang terjadi di depan matanya. Barulah, ketika ada pemilik panti (berasal dari kota besar) dia berakting seolah ibu peri yang baik hati padahal dia itu ibu peri palsu.

Anak-anak panti dan pengurus lainnya tidak berani mengadu pada pemilik karena selalu diancam akan diusir (para pengurus juga anak panti yang sudah besar dan tak ada yang mengadopsi). Bagi mereka, panti selamanya adalah rumahnya. Barulah, pengurus panti yang sudah menikah tidak boleh tinggal di panti (begitu menurut peraturan yang dibuat ibu peri atas persetujuan pemilik panti). Mereka menyuruhku tidur di gudang (beralas tikar), makan hanya setengah porsi dan satu hari sekali, belum bekerja di dapur dan mencuci.

Satu-satunya kebebasanku adalah mengaji di mesjid (selama 3 jam), alasanku tidak kembali secepatnya karena menyambung dengan waktu sholat. Meteka pun percaya. Lokasinya mesjid, tak jauh dari panti dan hiburanku bernyanyi lagu yang sedang trend atau bersholawat di pinggir sawah. Hatiku pun menjadi damai dan tenteram. Bila kembali ke panti, aku merasa sedih dan gelisah.

Kata ustadz dan ustadzah, aku termasuk anak yang cerdas dan pintar. Daya hafalanku kuat sehingga mampu menghafal 15 juz (dari 30) di usia 5 tahun. Di usiaku memasuki 6 tahun aku sudah hafal berikut beberapa hadits resmi beserta bahasa asli (Arab). Aku bersyukur diberi otak yang encer oleh Yang Maha Kuasa. Hafalanku bagus dan suaraku merdu sehingga aku sering tampil saat perayaan di desa dan menjuarai kontes mengaji. Kadang, ikut grup menyanyi kasidah anak di desa untuk menyambut tamu desa atau pejabat yang mengunjungi perkampungan kami.

Semakin bertambahlah kebencian anak-anak panti (notabene teman mengaji) padaku. Aku disiram dengan air comberan dan dikunci di kamar mandi yang rusak, seharian. Rasa sedih dan trauma menumpuk rasanya di dada ini bila mengingatnya.

"Oh ya, hampir lupa! Aku dan pria yang berkata sinis tadi, telah menikah selama tiga tahun. Dalam ingatannya yang cukup jelas, tidak ada kebahagiaan dalam pernikahan kami. Pada akhirnya, dia harus menerima sosok sang suami sebagai imamnya dan belajar mencintainya. Yah, dia adalah wanita yang dijodohkan oleh nenek dari pria tersebut karena dirinya pernah menyelamatkan dari kecelakaan maut di suatu daerah di Jawa Barat. Sebagai balas budi, dirinya diadopsi, disematkan nama keluarga, Orion-Ambrosia, dibesarkan dan dinikahkan dengan cucu pertama.

Dia yang yatim-piatu kemudian diangkat anak saat berusia 7 tahun (satu bulan pasca penyelamatan) dari panti asuhan tempatnya bernaung, ternyata milik kedua paruh baya tersebut yang sedang dikunjunginya. Setelah diadopsi, dia dimasukkan dalam kartu keluarga dari pria yang telah mencoba membunuhnya malam ini. Ibu dari pria sinis tersebut, merupakan puteri tertua. Karena usia oma yang lanjut, tidak memungkinkan mengadopsi seorang anak, maka dirinya di bawah asuhan puteri sulungnya.

Pria yang membentaknya, tak lain adalah kakak angkat dan anak sulung dari keluarga angkatnya berusia 25 tahun. Mereka tiga bersaudara. Si pria dan kedua adik wanita (kembar tidak identik). Mereka (ayah-ibu, ketiga kakak adik) tidak menyukainya dengan kata lain membencinya karena sang nenek sangat menyayanginya. Empat belas tahun sudah dirinya tinggal satu atap bersama keluarga besar tersebut.

Saat kelulusan SMU, di usia 18 tahun, sang nenek menyatukan keduanya dalam ikatan pertunangan dan tak lama, menikahkan keduanya, saat dirinya lulus sekolah. Usia mereka terpaut dua tahun, sang kakak lebih tua. Dirinya tak kuasa menolak keinginan nenek angkatnya.

Untuknya pernikahan, apapun itu, adalah kebahagiaan, ibadah terpanjang sepasang anak manusia. Hanya satu kali sepanjang hidup. Baginya, pernikahan adalah ibadah namun sebaliknya, pernikahan tersebut adalah prahara bagi sang kakak. Bagai menggenggam bara api, katanya.

Dalam diamnya, sambil terengah menghela nafas, dia mengingat, mereka suami-isteri yang dijodohkan secara paksa menurut sudut pandang si pria, sudut pandangnya adalah kerelaan. Anak adopsi menikahi putera dari keluarga angkatnya.

Siapa yang tidak kesengsem dan jatuh cinta pada salah satu calon pewaris dari Orion Group dari pihak ayah dan Ambrosia Group dari pihak ibu. Dua keluarga terkaya di tanah air, bersatu. Suaminya bernama Calvin Orion, digadang sebagai pewaris keempat dari Orion Group (anak sulung dan dua puteranya, ayahnya, dirinya) dan dalam Ambrosia group (urutan ke-2 setelah sang paman) sebagai perusahaan wahid di Indonesia, bergerak dalam bisnis jaringan hotel, restauran, penerbangan, minyak, tambang dan sebagainya.

Ayah angkatnya, Damian Orion (Sunda-Italia) saat ini masuk dalam daftar waris keempat perusahaan Orion milik kedua orangtuanya, bergerak dalam telekomunikasi, otomotif dan pertambangan. Menempati urutan ketiga di tanah air.

Sang nenek, Marina Fredericka Vandenburg (Indo Belanda) menikah dengan sang kakek, Jonathan Joseph Ambrosia (Belanda) dan ibu angkat (puteri sulung) adalah salah satu pewaris Ambrosia, Ellena Carletha Ambrosia. Kakeknya (Jonathan) merupakan Blijver (asli Belanda, lahir, dewasa dan menikah di Indonesia), akhirnya bisa kembali ke tanah air, sepuluh tahun, setelah kemerdekaan (saat politik stabil).

Wajah suaminya cukup tampan dengan darah campuran, mata cokelat muda, kulit kopi susu, karena kegemarannya berselancar menerjang ombak, namun wajahnya terlukis kebengisan saat menatap matanya.

"Simpan nafas busukmu agar dapat melihat malaikat maut menjemput nyawamu, yang tidak berharga tak lama bagi, ha ha ha!" kekeh jumawa suara seorang wanita muda seusianya yang ke 25 tahun malam ini.

Wanita itu juga jongkok, di belakang suaminya. Berkelas namun berhati iblis, serasi dengan sang pria.

Yah! Suara itu, aku mengenalinya. Suara dari wanita bernama Helga Hendrio (keluarga Hendrio) atau dikenal dengan nama panggung, Helga Oriza, wanita asli Indonesia, berkulit eksotik. Profesinya adalah model Internasional yang cukup lama berkarier di luar negeri. Karena keelokan warna kulit serta parasnya yang manis dan ayu, mampu ditangkap manik mata para pemilik brand baik dalam dan luar negeri, memuluskan kariernya di bidang modeling, ditopang nama besar Ambrosia. Tentu saja dia mengenal wanita itu karena dia kekasih suaminya sebelum dijodohkan.

Pria itu, untuk pertama kalinya, membawa kekasihnya ke kediaman Ambrosia seusai pesta pernikahan kami yang sederhana (kemauan keluarga pria). Oma opa mengizinkan asal jami berdua sah secara agama dan negara. Wanita itu lebih sering ke mansion kadang menginap. Helga dan keluarganya adalah teman dan kami bertetangga. Mereka memanfaatkan waktu saat kakek-nenek angkatku sakit secara bersamaan ke luar negeri untuk penyembuhan didampingi anak bungsunya. Entahlah, dirinya yang pelakor atau wanita itu. Jelas, wanita itulah sang pelakor! Sedangkan dirinya wanita yang menyandang titel isteri sah di mata hukum dan negara sekaligus nona muda Ambrosia!

Dalam ketidakberdayaan, satu persatu keluarga angkatnya mencaci dan meludah di atas tubuh lemahnya, lantas berlalu menuju kendaraan yang terparkir tidak jauh dari tempatnya, meninggalkan dirinya dalam keadaan sekarat. Mereka pun berlalu. Hanya derai air mata bercampur cairan merah yang menemaninya. Dadanya sesak menahan amarah, sakit hati serta kepiluan. Lagi dan lagi, dia harus menerima ketidakadilan dalam diam dan kepasrahan dalam raga yang rapuh. Tak ada sandaran dan tameng untuk membendung luka yang dialamatkan pada jiwa dan raganya yang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!