Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Pagi di Desa Bunga selalu datang tanpa tergesa. Matahari muncul seperti tahu batas, menyentuh atap rumah satu per satu, berhenti sebentar di kebun kecil Nara sebelum naik lebih tinggi. Udara masih menyimpan dingin sisa malam ketika suara langkah pelan terdengar dari dapur.
Mbah Narsih sudah bangun sejak subuh. Rambutnya disanggul sederhana, kain jariknya terikat rapi. Tangannya cekatan menyalakan tungku, seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah meski usia sudah bertambah.
“Ngene iki nek wong enom,” gumamnya pelan sambil mengaduk panci kecil.
(Begini ini kalau orang muda.)
Nara tersenyum kecil dari ambang pintu. Ia tahu, gumaman itu bukan keluhan, hanya cara Mbah Narsih bercakap dengan dunia.
“Mbok, niki bade damel jamu?” tanya Nara sopan.
(Mbah, ini mau bikin jamu?)
Mbah Narsih menoleh. “Iyo. Bapakmu ki yen ora tak paksa ngombe, yo mung mesem thok.”
(Iya. Bapakmu itu kalau tidak kupaksa minum, ya cuma senyum saja.)
Dari ruang tengah, Albi berdehem pelan. Ia sudah duduk, mengenakan kemeja ladang yang bersih tapi lusuh. Wajahnya tampak lebih segar dari beberapa hari lalu, meski sorot matanya masih menyimpan lelah.
“Mbok, aku wis enakan,” katanya pelan.
(Mbah, aku sudah mendingan.)
Mbah Narsih mendengus. “Enakan kuwi ora ateges waras.”
(Mendingan itu tidak berarti sembuh.)
Arbani muncul dari kamar, rambutnya masih sedikit acak. Ia berhenti sejenak melihat ayahnya, lalu mendekat tanpa suara. Anak itu berdiri di samping kursi Albi, memperhatikan gelas jamu yang mulai mengepul.
“Pak,” katanya lirih.
“Iya, Le?”
“Ngombe sek.”
(Minum dulu.)
Albi melirik Nara, lalu Mbah Narsih. Senyum kecil muncul di wajahnya. Ia mengambil gelas itu dan meneguk pelan, tanpa protes.
“Nah, ngono,” kata Mbah Narsih puas.
(Nah, begitu.)
Arbani tidak langsung pergi. Ia menunggu sampai gelas itu kosong setengahnya, baru kemudian mengangguk kecil dan duduk di bangku dekat meja. Kebiasaan itu tidak pernah diminta, tidak juga diajarkan. Ia hanya merasa perlu.
Sarapan pagi berlangsung sederhana. Nasi hangat, sayur bening, tempe goreng, dan sambal yang tidak terlalu pedas. Tidak ada obrolan panjang, tapi juga tidak ada sunyi yang canggung.
“Ban, mengko sekolah ojo kesusu,” pesan Nara.
(Ban, nanti sekolah jangan terburu-buru.)
“Inggih, Bu,” jawab Arbani patuh.
(Iya, Bu.)
Albi berdiri setelah makan. Ia meraih capingnya. “Aku arep neng ladang sek.”
(Aku mau ke ladang sebentar.)
Arbani langsung menoleh. “Pak…”
“Iya?”
“Ojo kakean.”
(Jangan kebanyakan.)
Albi tersenyum. “Sithik wae.”
(Sedikit saja.)
Mbah Narsih menatap punggung menantunya yang melangkah keluar. “Bocah ki luwih pinter tinimbang bapake,” gumamnya.
(Anak ini lebih pintar daripada bapaknya.)
Nara menahan senyum.
Siang merayap pelan. Setelah sekolah, Arbani pulang dengan langkah teratur. Ia menyapa setiap orang yang dilewati, bukan karena diwajibkan, tapi karena begitulah ia tumbuh—menyadari keberadaan orang lain.
Di rumah, Mbah Narsih sedang duduk di teras, memilah bunga kering. “Ban, kene,” panggilnya.
Arbani mendekat. “Nggih, Mbok?”
(Iya, Mbah?)
“Kowe ngerti ora, kenapa omah iki ora rame?”
(Kamu tahu tidak, kenapa rumah ini tidak ramai?)
Arbani berpikir sebentar. “Amarga ora perlu rame?”
(Karena tidak perlu ramai?)
Mbah Narsih terkekeh. “Pinter.”
(Pintar.)
Ia menepuk kursi di sampingnya. “Omah kuwi sing penting urip. Dudu rame utawa sepi.”
(Rumah itu yang penting hidup. Bukan ramai atau sepi.)
Arbani mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti. Tapi ia menyimpan kata-kata itu di tempat yang aman.
Sore hari, Albi pulang. Bajunya basah keringat, tapi wajahnya tenang. Ia mencuci tangan, lalu duduk di teras bersama Arbani.
“Pak,” kata Arbani sambil menyodorkan air.
“Matur nuwun, Le.”
Mbah Narsih memperhatikan dari dalam. Tidak ada pelukan, tidak ada kata manis berlebihan. Tapi matanya menangkap sesuatu yang membuat dadanya hangat—keseimbangan yang jarang.
Nara keluar membawa pisang goreng. “Monggo.”
(Silakan.)
Mereka makan bersama, duduk berderet, menatap senja yang turun pelan di Desa Bunga. Tidak ada rencana besar yang dibicarakan. Tidak ada masa lalu yang diungkit. Tidak ada masa depan yang dikhawatirkan.
Hanya hari ini. Dan hari ini cukup. Mbah Narsih berdiri lebih dulu. “Aku mlebu sek.”
(Aku masuk dulu.)
Sebelum melangkah, ia menoleh pada Arbani. “Eleng, Le. Wong urip kuwi dudu sing paling banter mlaku. Ning sing ngerti kapan kudu mandheg.”
(Ingat, Nak. Hidup itu bukan tentang siapa yang paling cepat berjalan. Tapi siapa yang tahu kapan harus berhenti.)
Arbani mengangguk pelan.
Di teras itu, rumah kecil mereka tidak terlihat istimewa. Tapi di sanalah, cinta bekerja tanpa suara, menjaga, menunggu, dan tumbuh dengan caranya sendiri.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, kehangatan itulah yang kelak akan menjadi pembanding paling sunyi bagi seseorang yang hanya bisa melihatnya dari jauh.
☘️☘️☘️☘️☘️
Senja di Desa Bunga turun tanpa suara. Cahaya jingga memantul di jalan tanah, menyusup di sela daun, lalu berhenti di satu titik teras rumah kecil yang tidak mencolok.
Dari seberang jalan, Ardan berdiri. Ia tidak berniat berhenti di sana. Kakinya hanya melambat, lalu terhenti sendiri, seolah ada sesuatu yang menahannya tanpa izin.
Ia melihat mereka duduk berderet. Seorang perempuan dengan gerak yang tenang. Seorang pria dengan tubuh lelah tapi wajah damai. Seorang anak kecil yang duduk di antara mereka, menekuk kaki, mendengarkan lebih banyak daripada bicara.
Tidak ada tawa keras. Tidak ada obrolan panjang. Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan di udara sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diciptakan, hanya bisa dijaga.
Ardan tidak mendengar apa pun, namun ia tahu itu keluarga. Tangannya refleks masuk ke saku celana. Dadanya terasa sempit, bukan karena sesak, melainkan karena perasaan asing yang menekan dari dalam.
Ia pernah punya rumah. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat apa yang dulu ia tinggalkan.
Anak itu menoleh ke ladang, memastikan pria dewasa di sampingnya benar-benar ada. Perempuan itu menyodorkan makanan tanpa bicara. Pria itu menerimanya tanpa merasa perlu menjelaskan apa pun.
Sederhana, dan utuh Ardan menarik napas panjang. Ia tidak maju. Tidak juga pergi. Ia hanya berdiri, cukup jauh untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk merasa.
Untuk sesaat, ia ingin memalingkan wajah. Tapi kakinya tidak bergerak.
Di dalam dirinya, ada satu kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa yang paling menyakitkan bukan kehilangan, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan itu nyata… dan bukan lagi miliknya.
Ketika lampu rumah itu akhirnya menyala, Ardan berbalik. Langkahnya pelan, lebih berat dari datangnya.
Di belakangnya, Desa Bunga tetap tenang. Dan di dadanya, sesuatu mulai retak bukan untuk dihancurkan, tapi karena ia akhirnya melihat dengan mata yang terlambat.
"Aku telat," gumamnya getir.
Bersambung ....