"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Fitnah Suster Mia dan Dominasi Dokter Raden
Pagi itu suasana rumah Alana begitu hidup. Ia terbangun mendengar suara nyanyian sumbang ayahnya dari kamar sebelah. Entah apa yang membuat pria itu begitu bersemangat.
Begitu Alana sampai di dapur, aroma nasi goreng seafood kesukaannya sudah memenuhi ruangan. Di samping hidangan itu, terselip secarik kertas dengan tulisan tangan ayahnya yang agak miring dan besar-besar.
"Alana sayang, semangat kerjanya ya. Jangan lupa habiskan makanannya supaya punya tenaga untuk menghadapi dokter-dokter galak."
"Ayah lagi sibuk nih, latihan pakai daster dan kerudung sambil jalan ala model terkenal, biar nanti tidak kaku pas nyamar jadi ibu-ibu sosialita buat jagain kamu di pesta nanti malam."
"To: Ayahmu yang paling tampan sedunia. Love you."
Alana tertawa renyah seperti kerupuk yang digoreng garing saat membaca tulisan itu. Ia benar-benar mempunyai Ayah yang konyol namun sangat menyayanginya.
Namun, tanpa Alana sadari, di balik pintu kamar semalam, Ayahnya hancur sendirian meratapi pengkhianatan sang ibu.
Setelah sarapan, Alana melilitkan syal tebal di lehernya untuk menutupi tanda merah yang masih sangat kentara.
"Pokoknya hari ini harus lancar tanpa ada drama lagi," gumam Alana penuh harap.
Namun, senyumnya langsung luntur saat menginjakkan kaki di koridor rumah sakit. Suster Mia sudah berdiri di sana dengan tatapan menghakimi.
"Wah, guys! Primadona kita sudah datang, nih!" teriak Suster Mia nyaring, memancing perhatian semua orang.
Tiba-tiba, Mia maju dan menarik syal Alana dengan kasar.
Sret!!
Syal itu terlepas. Mata Suster Mia melotot melihat leher Alana yang kini terekspos jelas.
"Eh, lihat deh semuanya! Ternyata benar dugaanku!" teriak Mia histeris.
"Di balik wajah polosnya, ternyata Alana punya stempel merah di leher! Pantas saja dapat kalung mewah dari Direktur. Ternyata cara mainnya hebat sampai bekasnya tertinggal begini? Benar-benar tidak tahu malu!"
Tawa ejekan dari suster-suster lain terasa bising. Wajah Alana panas seperti disiram bara api. Namun, ia sadar tidak boleh diam saja.
Alana memungut syalnya, lalu berdiri tegak menatap tajam Suster Mia.
"Jaga mulut kamu, Mia! Sebelum menghinaku, lebih baik kamu berkaca dulu. Atau perlu aku belikan kaca yang besar supaya kamu sadar diri?!" bentak Alana tegas.
"Minimal kalau tidak punya prestasi, jangan pamer kebusukan hati. Apa kamu iri karena sudah berusaha menggoda Dokter Raden maupun Direktur, tapi mereka tidak sudi melirikmu?"
"Padahal kamu sudah memakai baju seketat itu plus lipstik setebal tembok. Sadar diri, Mia! Dasar mulut ember!"
"Kamu—! Berani-beraninya menghinaku!" Mia mengangkat tangannya, bersiap mendaratkan tamparan.
Namun, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangan Mia dengan sangat erat. Dokter Raden sudah berdiri di sana dengan wajah sedingin es.
"Berani kamu menyentuh asisten saya?" bentak Raden menggelegar. "Atau kamu memang sudah siap kehilangan pekerjaanmu, Suster Mia? Saya tidak butuh perawat yang mulutnya lebih busuk daripada sampah."
Begitu cengkeraman dilepas, Suster Mia lari terbirit-birit. Suasana mendadak hening seketika.
Tanpa memedulikan tatapan orang, Dokter Raden menarik tangan Alana menuju sebuah ruangan privat yang kedap suara.
Brak! Klik!
Raden membanting pintu dan menguncinya. Tubuh tegapnya mengurung Alana di tembok dengan kedua tangan terkunci rapat.
"Dok... saya mohon, lepaskan! Ini di rumah sakit!" rintih Alana.
"Rumah sakit? Kamu masih ingat ini rumah sakit setelah menyebut nama Direktur itu di depan semua orang?" tanya Raden dengan mata menyala karena cemburu.
"Saya hanya tidak ingin difitnah, Dok!" bela Alana gemetar.
Tatapan Raden jatuh ke leher Alana. Melihat tanda merah buatannya mulai memudar, rahang pria itu mengeras.
"Tandanya hampir hilang, hm? Kamu pikir kamu bisa terbebas dariku begitu saja?" gumamnya serak.
Tanpa aba-aba, ia menarik kerah seragam Alana agar gadis itu makin merapat. Ia menunduk, kembali mengklaim leher Alana di titik yang sama dengan lebih dalam.
"Dok... jangan... s-sakit..." rintih Alana. Tubuhnya seolah berkhianat dengan semakin merapat.
"Malam ini semua mata akan tertuju padamu, Sayang. Aku ingin pria mana pun tahu siapa pemilik sahnya," bisik Raden posesif.
Setelah puas meninggalkan jejak yang lebih pekat, Raden merapikan rambut Alana yang berantakan.
"Pulanglah sekarang. Persiapkan dirimu untuk nanti malam. Dan ingat, jangan coba menutupi tanda ini dengan perhiasan dari pria itu."
Sore harinya, Alana menatap tanda merah yang mencolok di lehernya. Foundation miliknya pun hampir gagal menutupinya.
"Lan, putri cantik Ayah sudah pulang? Sini lihat, Ayah sudah siap tempur!" teriak Ayah dari ruang tamu.
Alana keluar dan tertegun melihat Ayahnya memakai daster kuning bunga matahari, kerudung miring, dan kumis palsu dari bulu kemoceng.
"Gimana penampilan Ayah? Cantik, 'kan? Ayah yakin bakal jadi ibu sosialita paling cantik di pesta nanti malam!"
Ayah memutar tubuhnya dengan gaya genit. Alana segera memeluk Ayahnya erat-erat.
"Makasih ya, Yah... sudah selalu ada untuk Alana. I love you."
"Loh, kok jadi sedih! Siapa pun yang macam-macam, bakal berurusan dengan daster sakti mandraguna Ayah ini!" canda Ayah.
Alana mencoba tersenyum. Baginya, malam ini bukan sekadar pesta, tapi medan perang antara ambisi direktur, obsesi Dokter Raden, dan kasih sayang tulus dari Ayah.
****
Catatan Penulis:
Gimana bab ini menurut kalian? Jujur, aku sendiri terharu sama kasih sayang Ayahnya Alana, meskipun kelakuannya bikin geleng-geleng kepala dengan daster bunga matahari itu! 😂
Tapi di sisi lain, Dokter Raden makin nggak ada obat posesifnya! Kira-kira Alana bakal berani melanggar ancaman Dokter Raden atau justru pasrah dengan tanda di lehernya saat di pesta nanti?
Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar, dan Vote kalian ya! Dukungan kalian adalah semangatku untuk lanjut ke medan perang yang sesungguhnya. ❤️✨