Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN
"Ethan, beri tahu aku, siapa saja ksatria di kediaman ini yang benar-benar bisa kita percayai? Aku tidak bicara tentang loyalitas pada mahkota kerajaan, tapi loyalitas pada Lucas," tanya Jasmine, tegas.
Ethan terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat.
"Hanya ada sepuluh orang, Yang Mulia, Mereka adalah kelompok Serigala Hitam, unit khusus yang dibentuk Duke Lucas secara pribadi, mereka mengira Duke sudah mati, dan saat ini mereka hanya bertugas menjaga perbatasan luar," jawab Ethan, sopan.
"Panggil mereka kembali, satu per satu, jangan sekaligus," perintah Jasmine, tegas.
"Katakan pada mereka, ada tugas dari ku, gunakan sandi yang hanya mereka dan Lucas yang tahu," lanjut Jasmine, tanpa ragu.
"Baik, Yang Mulia," jawab Ethan, mengangguk kan kepala nya tegas.
"Ibu, tadi Ibu bilang tiga bulan, kenapa harus menunggu bulan purnama merah? Kenapa tidak sekarang?" tanya Jasmine, menatap Nyonya Kimberly.
Hah...
Nyonya Kimberly menghela napas panjang, dia duduk di tepi ranjang, menatap kedua cucunya yang mulai terlelap kembali meski suasana tegang.
"Karena benteng itu dibangun dengan sihir yang menghisap energi kehidupan, Jasmine, jika kita masuk sekarang, kekuatan serigala di dalam tubuh Lucian dan Leo akan disedot habis sebelum mereka sempat bertarung," jawab Nyonya Kimberly, memberikan penjelasan.
"Hanya saat bulan purnama merah, energi alam akan berbalik melawan sihir hitam, itu adalah satu-satunya celah di mana kekuatan mereka bisa meledak sepuluh kali lipat," lanjut Nyonya Kimberly, menatap kedua cucu kecil nya.
"Jadi dalam tiga bulan ini, anak-anakku harus belajar menjadi senjata," gumam Jasmine, menatap Lucian dan Leo dengan perih di hatinya.
"Mereka masih lima tahun, seharusnya mereka bermain dengan mainan kayu, bukan dengan pedang dan api," ucap Jasmine, sendu.
"Mereka adalah Alistair dan mereka memiliki darah dari Nenek nya, Jasmine," ucap Tuan Steven yang sejak tadi hanya menyimak.
"Darah mereka tidak mengizinkan mereka untuk menjadi lemah. Lihatlah Leo..." lanjut Tuan Steven, melihat ke Leo.
Jasmine menatap Leo, dalam tidurnya, tangan bocah itu sedikit mengepal, dan seprai di bawah tangannya tampak agak hangus.
Sementara Lucian, telinganya sesekali bergerak halus, seolah-olah dalam tidurnya pun dia sedang memantau seisi kediaman.
"Mereka tidak takut, Jasmine, mereka hanya butuh bimbingan," tambah Nyonya Kimberly.
Jasmine mengangguk pelan, dia mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan beberapa daftar dengan sangat cepat, tulisan tangannya tegas dan rapi.
"Ethan, ambil ini," Jasmine menyodorkan kertas itu.
Ethan menerimanya dan membacanya dengan dahi berkerut.
"Belerang, perak murni, ekstrak tanaman belladonna, dan bubuk mesiu? Yang Mulia, untuk apa semua ini? Ini bukan bahan untuk pedang," tanya Ethan, mengernyit kan alisnya, heran.
"Pedang mungkin bisa melukai tubuh, Ethan, tapi aku butuh sesuatu yang bisa menghancurkan sihir dan meruntuhkan benteng. Jika sihir mereka tidak masuk akal, maka aku akan melawan mereka dengan ilmu pengetahuan dari tempat asalku yang tidak kalah gila," jawab Jasmine menatap Ethan dengan tatapan yang sangat dalam.
"Dan satu lagi, mulai besok, jangan panggil aku Yang Mulia saat kita berada di ruang bawah tanah. Panggil aku pelatih, karena di sana, aku bukan Duchess kalian! Aku adalah orang yang akan memastikan kalian semua tetap hidup saat neraka itu meletus!" perintah Jasmine, tegas.
Glek.
Ethan menelan ludah, dia merasakan aura kepemimpinan yang jauh lebih menekan daripada Duke Lucas sekalipun.
"Baik Pelatih," jawab Ethan, mengangguk kaku.
Setelah Ethan dan Tuan Steven keluar untuk memulai persiapan, Nyonya Kimberly mendekati Jasmine dan memegang bahunya.
"Kau benar-benar luar biasa, Jasmine, Steven selalu bilang kau adalah bunga yang cantik, tapi dia lupa bahwa bunga yang paling indah seringkali memiliki racun yang paling mematikan," ucap Nyonya Kimberly, menatap menantu nya dengan lembut.
"Aku hanya seorang istri yang merindukan suaminya, Ibu, dan seorang ibu yang tidak ingin anaknya tumbuh tanpa ayah. Itu saja," jawab Jasmine tersenyum getir, dia menyentuh lencana perak di lehernya.
"Lucas sangat beruntung memiliki istri seperti mu Sayang, dan ibu jauh lebih beruntung karena memiliki menantu seperti mu," ucap Nyonya Kimberly, tersenyum lembut.
Nyonya Kimberly memeluk Jasmine sesaat, sebuah pelukan yang menyalurkan kekuatan antar dua wanita yang kini menjadi pilar pertahanan terakhir keluarga Alistair dan garis keturunan nya.
Keheningan kembali menyelimuti kamar, namun bukan keheningan yang damai, melainkan ketenangan di mata badai.
Jasmine melepaskan pelukan itu perlahan, matanya beralih ke arah ranjang tempat Lucian dan Leo tertidur, dia mendekat, membenarkan selimut Leo yang tersingkap akibat hawa panas yang keluar dari tubuh kecil itu.
"Ibu, apa yang terjadi jika energi mereka meledak sebelum waktunya? Tadi Ibu bilang, mereka butuh bimbingan," tanya Jasmine tanpa menoleh.
"Tanpa kendali, api Leo bisa membakar dirinya sendiri dari dalam, dan ketajaman indra Lucian bisa membuatnya gila karena mendengar terlalu banyak suara di dunia ini," jawab Nyonya Kimberly berdiri di samping Jasmine, ikut menatap kedua cucunya.
"Mereka membutuhkan jangkar, Jasmine, dan jangkar itu adalah dirimu, darahmu yang tenang adalah penyeimbang bagi darah serigala mereka yang liar," lanjut Nyonya Kimberly, melihat ke arah Jasmine.
Jasmine mengangguk paham, dia kemudian duduk di kursi kayu di samping ranjang, mengambil belati perak yang tadi sempat ia genggam dalam mimpinya.
"Mulai besok pagi, jadwal mereka berubah," ucap Jasmine datar, suaranya kini terdengar seperti seorang jenderal yang sedang menyusun strategi.
"Pagi hari mereka akan berlatih fisik bersama Ethan, dan siang nya mereka akan berlatih kendali energi dengan Ibu dan Ayah, untuk sore hari, mereka akan bersamaku, aku akan mengajarkan mereka cara berpikir, cara membaca musuh, dan cara bertahan hidup ketika kekuatan mereka tidak bisa digunakan," ucap Jasmine, berusaha menguatkan hati nya, walaupun sebenarnya dia tidak tega menekan anak-anak nya yang masih berumur lima tahun.
"Apa maksudmu, Jasmine? Bagaimana jika kekuatan mereka hilang?" tanya Nyonya Kimberly mengerutkan kening.
"Sihir bisa disegel, Ibu. Energi bisa habis," jawab Jasmine menoleh dengan tatapan tajam.
"Tapi kecerdikan dan insting bertahan hidup adalah sesuatu yang melekat di otak, aku akan melatih mereka untuk tidak bergantung hanya pada api dan taring, mereka tidak hanya menjadi serigala liar, tapi aku akan membuat mereka menjadi Alistair yang paling mematikan yang pernah ada," lanjut Jasmine, dingin.
Tiba-tiba, Lucian membuka matanya sedikit, dia tidak bangun sepenuhnya, namun tangan kecilnya mencari-cari tangan Jasmine.
Saat jemari mereka bertautan, kilatan emas di mata Lucian meredup, berganti dengan binar anak kecil yang mencari perlindungan.
"Ibu... jangan pergi..." racau Lucian dalam tidurnya.
Cup
"Ibu tidak akan pergi, Sayang, Ibu akan menjadi pedang yang menebas jalan agar Ayah bisa pulang," jawab Jasmine mengecup dahi Lucian lembut.