NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. PERPISAHAN DARI RUMAH LAMA

Hari pemindahan tiba lebih cepat dari yang diharapkan. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung, angin mulai bertiup kencang seolah merasakan kesedihan yang akan terjadi. Rian dan anak-anak baru saja menyelesaikan mengemas barang-barang terakhir ketika mobil pickup milik keluarga Novi datang berhenti di depan rumah. Budi turun dari mobil bersama dua orang pria yang tidak dikenal, wajah mereka menunjukkan ekspresi yang tidak ramah sama sekali.

“Waktunya sudah habis, Rian,” ujar Budi dengan suara yang dingin dan tegas, tanpa sedikit pun rasa iba melihat kondisi Rian dan anak-anak yang sedang menangisi perpisahan dengan rumah lama mereka. “Kita sudah memberi kamu waktu yang cukup. Sekarang kamu harus keluar dari sini segera.”

Rian berdiri dengan tegak, meskipun hatinya merasa sangat berat dan tubuhnya terasa lemah akibat kelelahan dan kesedihan. Dia melihat ke arah Budi dengan mata yang penuh dengan penghormatan namun juga keyakinan. “Kita sudah siap untuk pergi,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Kita hanya akan mengambil barang-barang yang sudah kita bawa dan tidak akan menyentuh apa-apa lagi dari rumah ini.”

Alea menangis pelan dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh ayahnya, sementara Hadian menggenggam tangan ayahnya dengan erat, matanya penuh dengan kemarahan namun dia tidak berani berkata apa-apa. Mereka sudah mengemas semua barang penting yang bisa mereka bawa – beberapa kotak kardus berisi baju, buku cerita, boneka Kiki, peralatan makan kecil, serta kompor listrik kecil yang masih bisa digunakan. Semua barang lain yang mereka tinggalkan sudah diletakkan rapi di sudut ruangan, namun Budi hanya mengangguk dengan acuh tak acuh ketika melihatnya.

“Jangan berharap kita akan memberikan sesuatu yang lebih dari itu,” ujar Budi dengan nada yang penuh ejekan. “Kamu sudah cukup diberi kesempatan untuk tinggal di sini selama ini meskipun kamu tidak mampu membayar sewa. Keluarga kita sudah sangat baik hati terhadapmu.”

Rian merasa darahnya mendidih mendengar kata-kata itu, namun dia memilih untuk tetap tenang agar tidak membuat situasi menjadi semakin buruk bagi anak-anak. Dia hanya mengangguk dan mulai mengarahkan anak-anak untuk membawa barang-barang kecil ke dalam mobil pickup yang telah disediakan oleh Pak Slamet – yang sudah datang untuk membantu mereka meskipun dia tahu bahwa keluarga Novi tidak menyukainya.

“Pak Slamet, kamu tidak perlu campur urusan keluarga kita,” ujar Budi dengan suara yang mengancam ketika melihat Pak Slamet sedang membantu mengangkat kotak-kotak barang ke mobilnya. “Kamu bisa pergi sekarang sebelum ada masalah yang tidak diinginkan terjadi.”

Pak Slamet mengangkat dagunya dengan tegas, tidak sedikit pun takut dengan ancaman Budi. “Rian adalah tetanggaku yang baik dan telah banyak membantu saya selama ini,” jawabnya dengan suara yang mantap. “Saya hanya melakukan apa yang benar dan membantu orang yang membutuhkan. Jika kamu tidak suka, silakan lakukan apa yang kamu mau – tapi saya tidak akan pergi sebelum mereka semua selamat keluar dari sini dengan barang-barang mereka.”

Budi ingin membantah lagi, namun pada saat itu Novi turun dari mobil dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan rasa bersalah. Dia melihat anak-anak yang sedang menangis dan Rian yang tampak sangat lelah, dan hatinya terasa seperti sedang diiris-iris oleh pisau tajam.

“Tolong berikan mereka sedikit waktu lagi, Kakak Budi,” ujar Novi dengan suara yang bergetar, mendekat ke arah anak-anak namun segera berhenti ketika melihat Hadian yang mundur menjauh darinya dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kemarahan dan kesedihan. “Mereka hanya perlu sedikit waktu untuk berpisah dengan rumah ini.”

Budi menghela nafas dengan kesal namun akhirnya mengangguk. Dia memberi mereka waktu selama sepuluh menit lagi untuk berpisah dengan rumah yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama tiga tahun terakhir.

Rian membawa anak-anak ke setiap kamar untuk terakhir kalinya. Di kamar anak-anak, Alea berjalan pelan menyentuh dinding yang dipenuhi dengan gambar-gambar mereka, menangis pelan sambil berbisik pada boneka Kiki-nya, “Ini adalah tempat kita dulu bermain, Kiki. Kita tidak akan pernah melupakannya ya.”

Hadian berdiri di depan rak buku yang sudah kosong, mengambil sebuah kepingan kertas kecil yang tertinggal di lantai – sebuah gambar keluarga yang dia lukis beberapa bulan yang lalu, menunjukkan dia, Alea, Rian, dan Novi sedang tertawa bersama di taman. Dia menyimpan kertas itu dengan hati-hati di dalam saku bajunya, tidak mau meninggalkannya di rumah lama yang sekarang sudah tidak lagi menjadi milik mereka.

Di ruang tamu, Rian menyentuh lantai kayu yang sudah aus akibat sering mereka injak, mengingat bagaimana mereka dulu berkumpul di sini untuk makan malam bersama atau menonton acara televisi yang jarang bisa mereka tonton. Di dapur, dia melihat kompor gas yang sudah tidak bisa mereka bawa, mengingat bagaimana Novi dulu sering memasak makanan kesukaan anak-anak di sana.

“Sudah cukup, Rian,” ujar Budi dengan suara yang keras setelah sepuluh menit berlalu. “Sekarang kamu harus pergi sekarang juga.”

Rian mengangguk dan membawa anak-anak keluar dari rumah. Sebelum masuk ke mobil, mereka berbalik untuk melihat rumah lama mereka untuk terakhir kalinya – rumah yang telah menyaksikan semua suka dan duka mereka sebagai keluarga, rumah yang telah menjadi tempat perlindungan bagi mereka selama mereka membutuhkannya.

Novi mendekat dengan hati-hati dan memberikan sebuah kantong plastik kecil kepada Rian. “Ini adalah beberapa makanan dan uang sedikit yang bisa kamu gunakan untuk perjalanan,” ujarnya dengan suara yang sangat lembut, tidak berani melihat mata suaminya yang sekarang sudah menjadi mantan suaminya. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Rian. Maafkan aku.”

Rian menerima kantong itu dengan rasa terima kasih yang dalam, meskipun hatinya merasa sangat sakit melihat betapa tidak berdayanya Novi di depan keluarganya sendiri. “Kamu tidak perlu minta maaf, Novi,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Kita semua hanya melakukan apa yang kita pikir terbaik untuk anak-anak.”

Hadian melihat ibunya dengan mata yang masih penuh dengan kemarahan namun juga sedikit rasa sayang. “Kita akan baik-baik saja, Bu Mama,” ujarnya dengan suara yang jelas, membuat Novi menangis lebih deras lagi. “Kita hanya ingin kamu tahu bahwa kita masih mencintaimu, meskipun kamu melakukan semua ini terhadap kita.”

Setelah itu, Rian membantu anak-anak masuk ke dalam mobil pickup milik Pak Slamet. Budi segera memberi isyarat kepada dua orang pria yang menyertainya untuk segera membersihkan rumah dari barang-barang yang ditinggalkan oleh Rian dan anak-anak. Mereka bekerja dengan cepat, seolah tidak ingin ada satu jejak pun dari keberadaan mereka di rumah itu.

Ketika mobil mulai bergerak dan meninggalkan rumah lama mereka semakin jauh, Alea menangis keras di dalam pelukan ayahnya, sementara Hadian melihat ke arah belakang dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan tekad. Rian memeluk anak-anaknya dengan erat, melihat ke arah jalanan yang belum diketahui di depannya dengan hati yang penuh dengan harapan namun juga ketakutan akan masa depan yang tidak pasti.

Pak Slamet mengemudi dengan hati-hati, sesekali melihat ke arah spion untuk memastikan bahwa Rian dan anak-anak baik-baik saja. “Jangan khawatir, Rian,” ujarnya dengan suara yang hangat. “Rumah baru yang akan kamu tempati mungkin tidak sesempurna rumah lama kamu, tapi setidaknya kamu punya tempat untuk tinggal dan bisa mulai hidup baru dari sana.”

Rian mengangguk dan memberikan senyum yang lemah kepada Pak Slamet. Dia tahu bahwa dia harus kuat untuk anak-anak – mereka sudah kehilangan banyak hal dalam hidup mereka, dan dia tidak bisa membiarkan mereka kehilangan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Meskipun mereka tidak diberikan apa-apa selain barang-barang yang sudah mereka bawa dan sedikit makanan serta uang dari Novi, dia yakin bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka akan bisa bangkit kembali dan membangun kehidupan yang layak bagi diri mereka sendiri.

Saat mobil melaju semakin jauh dari rumah lama mereka, menuju ke arah pinggiran kota yang tidak dikenal, Rian melihat anak-anak yang sudah mulai tertidur lelap akibat kelelahan dan kesedihan. Dia menyadari bahwa perpisahan dari rumah lama ini bukan hanya akhir dari satu babak dalam hidup mereka, tapi juga awal dari babak baru yang penuh dengan tantangan namun juga peluang untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia bertekad bahwa dia akan melakukan segala yang bisa untuk memastikan bahwa anak-anak bisa tumbuh dengan baik dan bahagia, tidak peduli seberapa sulit jalan yang harus ditempuh – karena itu adalah satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!