NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kayak Lagi Liat Sirkus

Salma mengangkat alis, menatap cewek di depannya dengan geli.

"Lo yakin ngomong Kakak gue itu 'cewek muka dua' langsung di depan muka gue?"

Naya tersenyum miring.

"Bilang dia 'muka dua' itu terlalu sopan, Sal. Jangan bilang otak lo ikutan konslet kayak orang-orang sekelas."

Salma sedikit terkejut. Naya bicara sangat blak-blakan.

"Kenapa lo sentimen banget sama dia?"

"Terlalu lebay. Gue heran kok bisa dia pede ngaku-ngaku putri kandung keluarga Tanudjaja. Sal, lo boleh anggep gue ikut campur, tapi sebagai anak angkat yang malah nindas anak kandung, dia itu nggak tahu diri."

Jantung Salma berdegup. Naya tahu rahasia itu?

Rahasia yang Manda tutup rapat di SMA Citra Bangsa?

"Dari mana lo tahu?"

Naya terkekeh pelan.

"Biar adil, gue kasih satu rahasia. Kakek gue itu Bachtiar Wardhana."

Salma melongo. Bachtiar Wardhana? Mantan Menteri Luar Negeri? Pantas saja aura Naya berbeda.

"Gue nggak nyangka lo yang notabene 'Tuan Putri' asli malah ngalah sama barang palsu itu," Naya mengedipkan mata.

"Lo deketin gue cuma buat nonton Manda jatuh?"

"Fifty-fifty. Gue takut lo luluh lagi sama air mata buayanya.

Manda itu bukan orang baik, Sal. Percaya sama gue."

Kecurigaan Salma memudar. Dengan latar belakang sekelas Bachtiar Wardhana, Naya tidak butuh apa-apa darinya.

Persahabatan itu aneh. Ada yang bertahun-tahun serumah tapi seperti musuh,

ada yang baru bicara dua kalimat langsung klik.

"Liat tuh," dagu Naya menunjuk ke koridor.

Di sana, Manda berjalan terpincang-pincang bak putri kaca yang retak. Di sekelilingnya, para siswa laki-laki memandangnya dengan tatapan memuja sekaligus khawatir.

"Manda, sakit banget ya?" tanya seorang cowok sok pahlawan.

Manda menggeleng lemah, memasang wajah tegar yang terlatih. "Nggak apa-apa kok. Salma juga nggak sengaja. Jangan salahin Salma ya, gimanapun dia adikku.

Kalau kalian bully dia, aku nggak bakal maafin."

Kalimatnya terdengar membela, tapi nadanya jelas menuduh Salma sebagai pelaku.

"Udah gue duga, pasti ulah Salma!" seru cowok itu marah.

"Manda, lo terlalu baik! Pokoknya gue bakal bikin Salma bayar!"

"Jangan! Masa dia tega nyelakain kakaknya sendiri? Udah ya, please..."

Manda memasang ekspresi sedih yang membuat siapa pun ingin melindunginya.

Salma tersenyum dingin melihat drama gratis itu.

"Ratu drama mulai aksinya," cibir Naya. "Sok tersakiti biar lo yang dihujat, Sal."

"Ati-ati, level liciknya dia kayaknya di atas lo."

"Tenang aja." Jawab Salma santai.

Cukup sekali dia bodoh di kehidupan sebelumnya.

"Yuk, sakit mata gue liatnya."

Begitu Salma masuk kelas, tatapan tajam penuh kebencian langsung menyambutnya.

Manda menatapnya dengan wajah penuh penyesalan palsu, seolah berkata 'Maaf ya Sal, aku nggak bisa kontrol mereka'. Salma membalasnya dengan senyum tipis seolah tak peduli.

Saat jam istirahat, teror kecil dimulai. Dito dan gengnya sengaja mondar-mandir, menyenggol meja Salma, menjatuhkan tempat pensilnya. Salma dengan sabar memunguti barangnya.

Melihat Salma diam, mereka makin ngelunjak. Puncaknya, mereka pura-pura dorong-dorongan lalu "terjatuh" menimpa meja Salma, menyapu bersih semua bukunya ke lantai.

"Eh, sori, nggak sengaja," ucap Dito sambil menginjak buku paket Salma dengan sepatu kotornya.

Manda hanya diam, pura-pura sibuk membaca buku, menyembunyikan senyum puasnya.

Merasa di atas angin, Dito memberi kode pada teman-temannya untuk melakukan ronde kedua.

Namun, saat mereka hendak "jatuh" lagi, hal gila terjadi.

Dengan gerakan kilat, Salma mengangkat mejanya, dan meja sebelahnya, tinggi-tinggi dengan kedua tangan,

lalu mundur selangkah.

BRAK! GEDEBUK!

Geng Dito kehilangan tumpuan dan jatuh menghantam lantai keras secara berjamaah.

Teriakan kesakitan menggema. Siswa lain menganga melihat posisi jatuh mereka yang tumpang tindih memalukan.

Salma berdiri santai masih sambil mengangkat dua meja berat itu seolah sedang mengangkat bantal.

Tatapannya dingin.

"Ckckck, sakit tuh pasti. Untung meja gue selamat."

"Salma! Cewek gila, lo sengaja ya?!" Dito melompat bangun, wajahnya merah padam.

"Lho? Gue kan cuma ngasih ruang buat kalian main dorong-dorongan. Salah lagi?" jawab Salma santai.

"Gue balikin ya mejanya."

Salma bersiap melempar meja itu kembali ke posisi semula, tempat Dito berdiri.

"Heh! Berani lo?!" Dito memucat, refleks melindungi kepala.

"Digeser salah, dibalikin salah. Plin-plan banget jadi cowok."

Melihat Salma mengangkat meja tanpa keringatan, nyali Dito ciut.

Salma meletakkan meja itu kembali dengan tenang, lalu menatap Dito tajam. "Gue kasih kesempatan minta maaf. Atau... jangan salahin gue kalau gue nggak sopan."

"Salma! Kamu yang harusnya minta maaf!"

Sang Dewi Penyelamat Palsu akhirnya berdiri. Manda menatap Salma dengan kecewa. "Teman-teman cuma bercanda, tapi kamu mainnya fisik, kan bahaya banget. Kalau ada yang patah tulang gimana?"

"Iya bener! Salma cepet minta maaf!" Para pemuja Manda langsung menyerang,

buta fakta bahwa Dito yang mulai duluan.

Naya sudah siap mengamuk, tapi Salma menahannya.

"Jadi menurut Kakak, 'ada asap ada api' itu nggak berlaku?" Salma menatap Manda lurus.

"Mereka ngerusak barang gue, ganggu gue, itu bercanda? Apa gue harus luka dulu baru dibilang korban? Kalian buta atau sengaja bego?"

Manda terpojok. Dia tidak biasa dilawan. Merasa kehilangan kendali, dia mengeluarkan jurus andalan: air mata.

"Salma... kamu nyalahin Kakak? Kakak cuma mau kamu bisa bergaul. Kakak takut Ayah khawatir..." Air matanya menetes cantik.

"Manda, lo sakit jiwa ya?" semprot Naya. "Mata lo picek nggak liat mereka nindas Salma?"

Salma meremas tangan Naya. Giliran gue, batinnya.

Begitu Manda menangis, Salma langsung meneteskan air mata. Bukan tetesan cantik, tapi air mata deras yang menyayat hati. Wajah cantiknya yang basah terlihat jauh lebih menderita dibanding tangisan buatan Manda.

"Tadi kaki aku keinjek, barang aku dirusak, aku diem aja, Kak... Kenapa pas aku ngehindar biar nggak luka, malah aku yang dibilang bikin onar? Aku emang nyalahin Kakak, karena Kakak nggak pernah belain aku! Kakak selalu bikin orang mikir semua ini salah aku!" isak Salma pilu.

Naya melongo. Gila, bakat aktingnya Salma ngeri juga.

Efek visualnya dahsyat. Jika Manda seperti bunga layu,

Salma seperti bidadari yang sayapnya dipatahkan.

"Dito, berani sumpah lo nggak sengaja?" Salma menoleh ke Dito dengan mata basah.

Dito gelagapan. Rasa bersalah menghantamnya telak.

"Kak, liat sendiri kan? Kalau dia nggak salah, dia pasti udah maki-maki aku," lanjut Salma.

Manda panik. Situasi berbalik. Dia buru-buru menghapus air matanya, mencoba playing victim lagi.

"Kalau kamu ngerasa perhatian Kakak itu salah, ya sudah. Kakak minta maaf."

Dia menelungkupkan wajah di meja, bahunya berguncang. Pura-pura menangis histeris.

Pengikutnya langsung bereaksi. "Salma, nggak tahu diuntung lo!"

"Siapa yang nggak tahu diuntung?" potong Naya tajam.

"Ayo kita buka rekaman CCTV kelas! Biar jelas siapa yang salah!"

Tubuh Manda yang sedang "menangis" mendadak kaku.

"Kak, aku nggak mau difitnah. Ayo ke ruang keamanan, kita liat CCTV bareng-bareng," tantang Salma.

Skakmat.

Manda mengangkat wajahnya, matanya sembab.

"Cuma masalah kecil, nggak usah dibesar-besarin. Oke, ini salah Kakak."

"Kenapa lo yang minta maaf? Biar Salma keliatan jahat karena maksa kakaknya ngalah?" sindir Naya.

Manda menatap Naya benci.

"Naya, kenapa kamu suka banget ngadu domba aku sama adikku?"

"Kak, Naya bener. Cuma CCTV yang bisa buktiin.

Aku nggak mau dituduh terus." Salma tidak membiarkan Manda lolos.

Tiba-tiba, Dito bersuara. "Ma... maaf. Salma, sori.

Tadi emang gue yang salah."

Permintaan maaf Dito bagaikan tamparan keras di wajah Manda. Dia mengepalkan tangan di bawah meja sampai memutih. Belum pernah dia semalu ini.

"Udah Nay, cukup," potong Salma lembut.

"Dito udah minta maaf, Kak Manda juga nggak bermaksud jahat. Lupain aja."

Dalam hati Salma tertawa dingin. Berakting "Malaikat?" Dia juga bisa. Dia ingin menghancurkan Manda perlahan, bukan instan.

Sepulang sekolah, Manda mendekati Salma.

"Salma, makan malem bareng yuk di luar? Kita ngobrol-ngobrol."

Salma tersenyum polos. "Boleh." Salma tahu ini jebakan, tapi dia penasaran.

Ternyata, "makan malam bareng" itu adalah jebakan di tempat berkumpulnya anggota inti OSIS.

Dan di sana duduk Farel, cowok yang dulu Salma kejar mati-matian, yang kelak menjadi suami Manda dan bekerja sama dengan Manda menghancurkan keluarganya.

Farel menatap Salma dengan kilatan terkejut dan kagum.

Dulu Salma mengemis perhatiannya, sekarang Salma hanya merasa jijik.

"Lho, kok ada Salma? Manda, bukannya ini acara internal?" Vina, humas OSIS, langsung protes.

"Iya nih, nggak banget. Manda, liat tempat dong.

Salma kan... reputasinya jelek," timpal Siska.

Manda memasang wajah memelas. "Maaf ya temen-temen. Aku cuma pengen quality time sama adikku.

Jangan marah ya. Salma, jangan dimasukin hati ya omongan mereka."

Salma hanya tersenyum tipis, menatap kumpulan manusia sombong itu dengan datar.

Satu per satu anggota OSIS mulai menyindir, bahkan mengancam mau pulang kalau Salma tetap di sana.

"Manda, gue cabut deh. Males satu meja sama dia," ancam Aldi.

"Jangan dong! Aku ajak Salma biar nggak ada salah paham di antara kami," Manda memohon.

"Halah, ngapain sih lo bela dia? Woy, Salma!

Lo nggak liat kita semua jijik sama lo? Nggak punya harga diri banget maksa ikut!" seru Vina kasar.

Farel dari tadi diam saja, mengamati Salma dengan rasa penasaran.

Kok gadis ini tenang sekali meski dikeroyok?

"Lo budek ya? Nggak punya sopan santun banget orang ngomong dikacangin!" Vina makin emosi.

Salma akhirnya tertawa kecil. Tawa yang dingin dan meremehkan.

"Sopan santun?" ulang Salma.

"Jadi menurut standar 'anak OSIS' sekolah elit ini, ngehina tamu di depan mukanya itu bentuk sopan santun?

Wow. Suram banget masa depan negara kalau dipegang modelan kayak kalian."

"Salma! Lo ngatain kita?!"

"Siapa yang ngerasa, ya berarti dia orangnya."

Salma bersedekap, menatap mereka tajam.

"Dan satu lagi... Emangnya gue pernah bilang mau ikut acara sampah kalian ini?

Kalian yang geer, drama sendiri, heboh sendiri.

Sumpah, gue nontonnya lucu banget, kayak lagi liat sirkus."

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!