Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Dalam Darah dan Hukum yang Terkoyak
Pelabuhan memang sudah tenang, namun ketenangan di Istana Cahaya kali ini terasa palsu. Li Hua tidak bisa melupakan bisikan yang ia dengar saat melewati paviliun yang pernah ditempati Aruna. Cermin kecil berwarna merah yang tertinggal di sana kini disimpan di ruang rahasia Li Hua, terbungkus kain sutra hitam untuk meredam auranya yang jahat.
Setiap kali Li Hua mendekati cermin itu, hatinya berdegup kencang. Bukan karena takut pada musuh luar, tapi karena peringatan itu: "Pengkhianatan dari dalam darahmu."
Perjamuan yang Dingin
Pagi itu, istana kedatangan tamu yang tidak terduga—Dewan Penatua Agung, sekelompok menteri dan pendeta tua yang selama ini mengasingkan diri di biara pegunungan. Mereka adalah penjaga hukum kuno Kerajaan Li, sosok-sosok yang bahkan Kaisar Tian Long pun harus menghormatinya.
Dipimpin oleh Penatua Gwan, mereka masuk ke aula dengan membawa gulungan perkamen yang sangat tua dan rapuh. Wajah mereka kaku, tanpa senyum.
"Yang Mulia Kaisar," suara Penatua Gwan berat dan bergema. "Kami datang bukan untuk merayakan kemenangan atas Solis. Kami datang untuk meluruskan pilar kerajaan yang telah miring." kaisar
Tian Long mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Penatua? Kerajaan ini sedang berada di puncak kemakmuran."
"Kemakmuran di atas fondasi yang tidak sah adalah kutukan," jawab Gwan dingin. Ia membuka gulungan perkamen itu. "Menurut Hukum Purba Lex Sanguis, seorang Kaisar hanya boleh memiliki Permaisuri yang garis keturunannya telah disucikan melalui ritual 'Cawan Leluhur' sebelum pernikahan. Permaisuri Li Hua... dia tidak pernah menjalani ritual itu. Terlebih lagi, identitasnya sebagai putri haram klan Mu menjadikannya subjek yang harus diuji secara hukum."
Tian Long berdiri dengan geram. "Itu hukum lama yang sudah tidak berlaku! Li Hua adalah penyelamat kerajaan ini!"
"Hukum tidak peduli pada jasa, Yang Mulia," sela Penatua Gwan. "Hukum hanya peduli pada kemurnian. Dan selama ritual itu tidak dilakukan, pernikahan kalian secara teknis dianggap batal di mata langit. Itu berarti... kedua anak yang baru lahir itu tidak memiliki hak waris atas takhta."
Serangan Tersembunyi: Sang Pengkhianat
Di tengah perdebatan itu, permaisuri Li Hua merasakan firasat buruk. Ia segera berlari menuju kamar bayi, meninggalkan aula yang tegang. Namun, di lorong istana, ia berpapasan dengan seseorang yang tidak seharusnya ada di sana.
Itu adalah Bibi Lan, pelayan setia yang telah mengasuh Li Hua sejak ia pertama kali masuk istana—satu-satunya orang yang sangat dipercayai Li Hua selain Tian Long.
Bibi Lan tampak terburu-buru, wajahnya pucat. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kecil yang persis dengan botol aroma milik Aruna.
"Bibi Lan?" panggil Li Hua pelan.
Wanita tua itu tersentak, menjatuhkan botol tersebut hingga pecah. Cairan hitam kental merembes ke lantai, mengeluarkan bau anyir yang membuat kepala Li Hua pening.
"Apa yang kau lakukan, Bibi?" tanya Li Hua, suaranya bergetar karena kecewa.
Bibi Lan jatuh bersimpuh, air mata mengalir di wajahnya yang keriput. "Maafkan hamba, Permaisuri... Mereka menyandera putra hamba di Kerajaan Barat. Mereka bilang jika hamba tidak memberikan 'Tetesan Hitam' ini ke dalam susu pangeran dan putri, putra hamba akan dikuliti hidup-hidup."
Li Hua merasa jantungnya berhenti berdetak. "Siapa? Siapa yang menyuruhmu?"mengapa mereka sekejam itu?
"Seseorang dari klan Mu yang masih hidup... seseorang yang kau anggap sudah mati yang mulia", bisik Bibi Lan sebelum tiba-tiba ia batuk darah dan ambruk. Ia telah meminum racun sendiri untuk mengakhiri penderitaannya.
Li Hua berteriak memanggil pengawal, namun di dalam hatinya ia menyadari: Musuhnya kali ini menggunakan orang-orang yang ia cintai. Dan kalimat "pengkhianatan dari dalam darah" bukan hanya tentang silsilah, tapi tentang orang-orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga.
Ujian Cawan Leluhur
Kaisar Tian Long datang berlari mendengar keributan itu. Ia melihat Bibi Lan yang tewas dan Li Hua yang terguncang. Namun, tekanan tidak berhenti di situ. Penatua Gwan dan Dewan Penatua muncul di belakang mereka.
"Lihatlah," ucap Gwan sambil menunjuk mayat Bibi Lan. "Kekacauan mulai terjadi di dalam istana karena langit menolak kehadiran Permaisuri yang tidak sah. Jika Anda ingin menyelamatkan takhta dan nyawa anak-anak Anda, Permaisuri harus menjalani ritual Cawan Leluhur malam ini juga."
Tian Long ingin menolak, tapi Li Hua memegang lengannya. Li Hua tahu, jika ia tidak melakukan ini, Dewan Penatua akan menggunakan alasan hukum untuk menggulingkan kaisar Tian Long dan mengambil bayi mereka.
"Aku akan melakukannya," ucap Li Hua tegas. "Tapi jika aku berhasil, kalian harus bersumpah untuk tidak pernah lagi mempertanyakan hak waris anak-anakku,dan jangan ganggu anak-anakku lagi.
Malam yang Mencekam
Ritual itu diadakan di ruang bawah tanah istana yang paling tua. Permaisuri Li Hua harus meminum air dari cawan perak yang telah dibacakan mantra oleh para penatua. Konon, jika darah di dalam tubuh peminumnya memiliki noda pengkhianatan atau ketidakmurnian, air itu akan berubah menjadi racun mematikan dalam waktu satu jam.
Li Hua meminumnya tanpa ragu.
Satu jam pertama berlalu. Tubuh Li Hua mulai terasa panas membara. Mata emasnya tiba-tiba terbuka lebar, namun kali ini memancarkan cahaya merah darah.
"Li Hua!" kaisar Tian Long mencoba mendekat, tapi para penatua menahannya.
"Ini adalah pembersihan!" teriak Gwan.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di dalam penglihatan batin Li Hua, ia tidak melihat para leluhur. Ia justru melihat bayangan seorang pria muda yang sangat mirip dengannya, mengenakan baju zirah klan Mu, berdiri di sebuah perkemahan militer di perbatasan.
Pria itu tersenyum licik. "Terima kasih sudah meminumnya, Kakak. Sekarang, darahmu dan darahku telah terhubung. Apa yang kurasakan, akan kaurasakan. Dan aku baru saja memulai penyerangan ke istanamu."
Li Hua menyadari dengan ngeri: Ia memiliki seorang saudara laki-laki kandung yang selama ini disembunyikan oleh klan Mu. Dan ritual Cawan Leluhur ini adalah jebakan untuk menghubungkan energi mereka agar pria itu bisa menggunakan kekuatan Mata Emas Li Hua dari jarak jauh. Permaisuri
Li Hua muntah darah, tapi ia berdiri dengan sisa kekuatannya. Ia menatap Penatua Gwan. "Kau... kau bekerja sama dengannya?"
Penatua Gwan tersenyum tipis. "Kami hanya menginginkan penguasa pria dari darah Mu yang murni, bukan seorang wanita dari jalanan." kaisar
Tian Long menghunus pedangnya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kalian semua telah mengkhianati mahkota ini untuk terakhir kalinya!"