NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Rumah itu masih berdiri utuh. Dindingnya sama, atapnya juga, bahkan jam dinding di ruang tengah masih berdetak dengan suara yang sama. Namun di dalamnya ada dua orang yang hidup seolah asing, dulu mereka pernah sedekat nadi, saling berjuang satu sama lain hingga akhirnya berkomitmen. Tapi di dalam pernikahan itu. Cinta pun tidak cukup untuk bisa menerima satu sama lain.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Nara bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena ingin menyiapkan sarapan seperti dulu, melainkan karena tidur tak lagi memberi istirahat. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sisi kosong yang sudah lama tak ditempati suaminya. Bantal itu rapi. Terlalu rapi. Seolah tak pernah ada kepala yang bersandar di sana semalam.

Nara mencoba untuk kuat, meskipun hatinya sudah lelah bertahan sendiri, jika memang perpisahan sudah melekat dengan takdirnya sekuat apapun ia menentang pasti tetap kalah.

"Tuhan ... aku sudah pasrah, jika memang jalannya harus seperti ini," gumam Nara, tangannya menekan erat dadanya yang terasa sakit.

Mereka masih serumah. Tapi sudah lama tak berbagi ruang yang sama, ia berharap di kasih kesempatan, namun pintu itu sepertinya sudah tertutup rapat, seolah kesalahannya sudah fatal dan tidak bisa diperbaiki.

Di dapur, Nara membuat teh. Tangannya bergerak otomatis, seperti tubuhnya masih mengingat kebiasaan lama dua gelas, satu manis, satu pahit. Namun saat air mendidih, ia tersadar. Ia hanya menuang satu.

Suaminya Ardan sudah tidak sarapan di rumah. Ia berangkat lebih pagi, pulang lebih malam. Jika pun bertemu, hanya sekilas bayangan lewat, tanpa sapa, tanpa tanya.

Diam mereka bukan diam yang tenang, Diam itu seperti retakan kaca yang dalam diantara dua orang, dan siap hancur jika disentuh pelan dengan ujung jari. Hanya ujung jari.

Teh tawar ia nikmati sendiri, asapnya masih sedikit mengepul, namun lidahnya tidak terasa, sama halnya dengan hatinya yang sudah kebal dengan sikap acuh tak acuh yang dilakukan suaminya atas dasar kecemasannya yang berlebihan.

Nara mulai sadar, jika tidak ada manusia yang mau mengerti meskipun itu suaminya sendiri, dan di pagi ini ia menangis bukan karena lemah, tapi menyadari jika cinta yang dipilih tak benar-benar mengerti.

"Setelah ini aku harus apa?" tanya Nara pada dirinya sendiri. "Apa benar, tunggu waktunya tiba," sahutnya sendiri pada akhirnya.

Ia menelan kasar teh hangat yang membasahi tenggorokannya, tangannya mulai terulur, untuk menghubungi seorang teman yang berada di kota lain.

"Albi," suara Nara terdengar pelan.

Dari seberang pria yang bernama Albi itu terkejut karena sudah lama sahabatnya itu tidak pernah memberi kabar. "Astaga Nar, lama banget gak pernah kasih kabar," sahut Albi.

"Maaf, ya. Aku jarang kasih kabar, oh ya kamu masih ada di Bogor gak?" tanya Nara.

Albi menjawab. "Aku sudah lama meninggalkan kota kelahiranku, aku sekarang berada di sebuah desa yang begitu indah jauh dari hiruk pikuk kota," sahut Albi.

Nara sedikit beringsut, padahal tujuannya ingin menghibur diri, karena ia tahu Albi sangat jago akan hal itu. "Ya, padahal aku ingin banget ketemu sama kamu Bi," ucap Nara.

"Ya belum rejekimu Ra, lagian kenapa tiba-tiba kamu ngajakin ketemu, entar tahu Ardan bisa berabeh," ujar Albi. "Entar disangkanya aku rebut kamu lagi," ungkap Albi, karena yang ia tahu Ardan begitu mencintai Nara. namun tanpa Albi sadari lambat tahun hubungan keduanya berubah jauh dari bayangannya.

Nara hanya terdiam, di dalam panggilannya, mungkin yang orang luar tahu, Ardan merupakan suami yang penyayang dan melindungi, namun tiada yang tahu jika pria yang dulu sangat mencintainya berubah hanya karena sikap istrinya yang dinilai terlalu berlebihan.

"Ya sudah Bi, kalau memang gak bisa, semoga kita bisa berjumpa lain waktu ya," ujar Nara akhirnya.

Albi pun hanya mengangguk tanpa berprasangka apapun. "Bay bay semoga hidupmu selalu berbahagia bersama suamimu," ujarnya diakhir kalimat.

Nara langsung menutup teleponnya, kalita akhir dari sang sahabat, seolah menjadi ketenangan sesaat, namun pada dasarnya saat ini hatinya benar-benar sesak, luka yang kini ia pikul benar-benar berat, dan tidak ada satu orang pun yang tahu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, hujan turun pelan. Nara duduk di ruang tamu, memeluk lutut, mendengarkan suara hujan yang menabrak jendela. Dulu, hujan adalah alasan untuk duduk berdekatan. Kini, hujan hanya membuat rumah terasa lebih dingin.

Pintu terbuka, Ardan masuk tanpa menoleh.

“Aku buatkan makan,” ucap Nara akhirnya, suaranya hampir kalah oleh hujan.

Ardan berhenti sejenak. Bukan menoleh, hanya berhenti. “Aku sudah makan,” jawabnya singkat.

Itu saja. Tidak ada tambahan. Tidak ada pertanyaan balik. Nara mengangguk, meski tahu Ardan tak melihatnya. Dadanya terasa penuh, dan sesak menahan bulir bening yang hendak berjatuhan. Entah kenapa sikap Ardan yang seperti itu membuat hatinya berbicara.

"Kau jangan gila Nara, dia itu sudah tidak menganggapmu, dia hanya menggantung hubungan ini hingga pada akhirnya kau yang menyerah sendiri, itu yang ia mau!" gertak Nara pada dirinya sendiri.

Nara duduk kembali, kali ini dadanya benar-benar tersayat, bukan dengan belati, melainkan dengan ucapan rendah yang terdengar dingin, itu lebih menyakitkan dari sayatan apapun.

Setelah cukup lama berdiam diri, Nara pun mencoba bangkit, ia tahu kalau sore ini tidak ngapa-ngapain, bahkan tanpa sadar ia belum membersihkan tubuhnya, Nara hendak melangkah ke arah kamar mandi dekat dapur, namun tanpa ia sadari langkahnya bertemu dengan Ardan.

Ia terdiam, namun mencoba untuk tidak bicara, karena terlalu sakit, ucapannya sering diabaikan, dan ia memilih melanjutkan langkah seolah tiada siapapun di rumah ini.

Ardan mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Nara berbuat cuek seperti ini, dan hal itu membuat hati kecilnya bertanya.

"Tumben dia cuek," ucapnya sendiri. "Baguslah begini lebih baik," ujarnya kembali untuk menutupi egonya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam datang dengan sunyi yang lebih berat. Mereka tidur di kamar berbeda, dipisahkan tembok yang tak terlalu tebal, namun terasa seperti jarak bertahun-tahun.

Nara berbaring, menatap langit-langit. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Ada sesuatu yang belum ia tahu. Sebuah benih kecil yang diam-diam sudah tumbuh, seperti harapan yang memilih bersembunyi.

Di kamar lain, Ardan duduk di tepi ranjang, menunduk. Kepalanya penuh, dadanya sesak. Ia lelah menjadi sandaran yang terus diuji, lelah merasa bersalah hanya karena ingin bernapas sendiri.

Mereka sama-sama terluka, tapi tidak tahu cara menyembuhkan, Ardan masih bersikukuh dengan prinsipnya sendiri, meskipun Nara sudah meminta kesempatan.

Dan diam malam itu menjadi saksi:

Bukan amarah yang paling menyakitkan dalam pernikahan, melainkan ketiadaan suara dari orang yang paling ingin kita dengar, dan malam ini Ardan tahu, siapa yang lebih dulu menyerah, atau siapa yang lebih dulu pergi.

Bersambung .....

Siang .... semoga suka yah .

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!