NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Balet

Bella Shofie tetap terdiam. Belum satu kata pun keluar dari bibir kecilnya. Matanya menatap lantai kayu yang kusam, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari usianya yang baru delapan tahun. Bau lembap dan dingin bangunan tua itu menusuk hidungnya, sementara suara samar langkah kaki dan dentingan besi terdengar dari kejauhan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.

Kemudian, perlahan, Bella Shofie mengangguk.

Ia mau tinggal di tempat tua yang disebut BALLERINA MURDERER.

Madam Doss menatapnya dengan sorot mata tajam dan penuh penilaian. Dalam benaknya, anak kecil di hadapannya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tempat seperti BALLERINA MURDERER. Tubuhnya terlalu kecil, wajahnya terlalu polos, dan sorot matanya masih menyimpan luka yang belum sembuh. Tempat ini bukan sekolah biasa, bukan pula akademi balet seperti yang dikenal orang-orang di luar sana.

Namun Bella Shofie tetap memilih untuk berlatih.

Sejak kecil, ia memang sudah ingin menjadi penari balet. Impian itu adalah satu-satunya hal yang masih tersisa darinya—sesuatu yang menghubungkannya dengan ayahnya, dengan masa lalu yang kini telah hancur.

“Baiklah,” ucap Marchel Jolio sambil merapikan jasnya. “Aku akan meninggalkanmu di sini. Aku harap kamu akan menemukan jati dirimu.”

“Hhmmm,” Bella Shofie mengangguk lagi. Gadis berumur delapan tahun itu hanya mampu mengeluarkan suara lirih, hampir tak terdengar.

“Bawa dia,” perintah Madam Doss singkat kepada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.

Wanita itu melangkah maju. Namanya Catherine.

Bella Shofie mengikuti Catherine tanpa banyak bicara. Catherine merupakan guru balet yang akan menemani setiap aktivitas Bella Shofie selama berada di BALLERINA MURDERER. Wajah Catherine terlihat tenang, namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak—campuran ketegasan dan kewaspadaan.

Saat melangkah pergi, Bella Shofie menoleh ke belakang. Pandangannya tertuju pada Marchel Jolio. Untuk sesaat, ia mengingat kebaikan pria itu yang telah menyelamatkannya dari laut dan memberinya tempat berteduh. Dengan suara sangat pelan, hampir seperti bisikan, Bella Shofie mengucapkan terima kasih.

Marchel tidak menjawab. Ia hanya menatap Bella dengan tatapan dalam, lalu berbalik dan pergi.

Koridor yang dilewati Bella Shofie terasa panjang dan suram. Tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan itu. Lampu-lampu tua menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya redup berwarna kekuningan. Tempat itu terasa lebih seperti kuburan penyiksaan daripada sekolah balet.

Mata Bella Shofie tertegun melihat sekeliling. Di dinding-dinding tua itu, tergantung berbagai benda yang sama sekali tidak berhubungan dengan balet—pistol, senapan, pisau, hingga katana tersusun rapi seolah menjadi pajangan biasa.

Hatinya bertanya-tanya.

Ini latihan balet atau pelatihan menjadi pembunuh?

Rasa penasaran bercampur takut mengisi dadanya, namun Bella Shofie terus melangkah tanpa mengeluh.

Tak terasa lama, Catherine dan Bella Shofie tiba di sebuah ruangan besar yang dipenuhi kasur-kasur tipis. Catherine berhenti dan menunjuk ke arah ruangan itu.

“Ini kamarmu,” ucapnya datar.

Bella Shofie terkejut. Ruangan itu lebih menyerupai tempat penampungan gelandangan daripada kamar tidur. Dindingnya kusam, lantainya kotor, dan udara di dalamnya terasa pengap.

Ia melihat tikus berlarian di sudut ruangan, sementara beberapa kecoak melintas tanpa rasa takut. Walaupun satu kamar itu berisi sekitar dua puluh kasur yang tersusun rapat, Bella Shofie hanya mengangguk kecil dan berkata sopan, “Terima kasih, Miss.”

Catherine menatapnya sejenak, lalu pergi tanpa berkata apa-apa.

Setelah sendirian, Bella Shofie meletakkan barang-barangnya dan mulai membereskan kasur yang menjadi miliknya. Ia menghempaskan selimut lama yang sudah penuh bintik hitam dan bau lembap, lalu menggantinya dengan selimut baru yang sebelumnya diberikan oleh Madam Doss.

Saat Madam Doss muncul kembali untuk memeriksa kamar, Bella Shofie berdiri tegak.

“Terima kasih, Madam,” ucapnya dengan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.

Madam Doss menatapnya dingin. “Kalau tidak tahan dengan tempat ini, silakan pergi,” ucapnya penuh percaya diri, tanpa sedikit pun empati.

“Baik, Madam,” balas Bella Shofie dengan suara mantap. Ada keyakinan dalam nada bicaranya, seolah ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di tempat ini.

Madam Doss mengulurkan sebuah kotak panjang. “Besok kita akan latihan. Aku harap kamu sudah terbiasa dengan sepatu ini.”

Bella Shofie menerima kotak itu dengan kedua tangan.

Di dalamnya terdapat sepasang sepatu pointe shoes—sepatu khusus untuk penari balet profesional yang digunakan untuk berjinjit. Sepatu ini biasanya berbahan kanvas dan sangat sulit digunakan oleh penari pemula. Namun sepatu yang diberikan Madam Doss terasa jauh lebih keras dari yang pernah Bella lihat sebelumnya.

Meski demikian, Bella Shofie merasa senang. Matanya berbinar melihat keindahan sepatu itu. Ia langsung memakainya di kaki mungilnya dan berdiri di atas lantai.

Ia mencoba berputar perlahan, mengangkat kedua tangan dengan riang, membayangkan dirinya berada di atas panggung besar dengan cahaya lampu yang indah.

Tak!

Bella Shofie terjatuh.

Sepatu itu terasa kaku dan tidak mengikuti lekuk kakinya. Lututnya yang halus tergores lantai kotor, membuat debu dan pasir menempel di kulitnya. Rasa perih menjalar, namun ia tidak menangis.

Ia berdiri kembali.

Bella mencoba lagi. Menjinjit, menggerakkan tangan ke depan, lalu berputar.

Tak!

Ia kembali terjatuh.

Belum sempat ia bangkit, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Bella Shofie terkejut dan menoleh.

Beberapa gadis kecil dan remaja masuk ke kamar itu. Wajah-wajah mereka tampak lelah, namun mata mereka tajam dan penuh pengalaman. Bella Shofie sempat berpikir bahwa ia akan sendirian di kamar luas dan menyeramkan ini.

Salah satu gadis kecil melangkah maju. Usianya kira-kira sama dengan Bella.

“Penari balet tidak akan pernah berhasil menunjukkan aksinya jika tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu,” ucap gadis itu dengan nada tenang.

Namanya Cella Nasution.

Cella memegang gagang kasur Bella Shofie, lalu mulai melakukan pemanasan. Ia menekuk lutut perlahan sambil menjaga punggung tetap tegak, lalu meluruskannya kembali.

“Ini melatih paha dan paha dalam,” jelas Cella. “Gerakan ini disebut plié.”

Kemudian Cella menggeser satu kakinya lurus ke depan, ke samping, dan ke belakang, dengan ujung jari kaki tetap menyentuh lantai.

“Ini disebut tendu,” lanjutnya.

Terakhir, Cella mengangkat tumitnya perlahan hingga berada dalam posisi berjinjit, menjaga keseimbangan dengan inti tubuh yang kuat, lalu menurunkannya kembali dengan terkendali.

“Dan ini disebut relevé,” ucapnya tegas.

Bella Shofie memperhatikan setiap gerakan dengan penuh kekaguman. Ia baru menyadari bahwa balet bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang disiplin, kekuatan, dan ketahanan.

“Terima kasih,” ucap Bella Shofie tulus.

Cella hanya menganggukkan kepala, lalu berjalan melewati kasur Bella Shofie.

“Tunggu,” ucap Bella Shofie sambil menangkap tangan Cella dengan ragu. “Apakah kamu sudah lama di sini?” tanyanya penasaran.

Cella menoleh. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang dingin.

“Tentu,” jawabnya singkat. “Semoga kamu betah di tempat neraka ini.”

Nada suaranya lembut, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Bella Shofie merinding.

Bella melepaskan tangan Cella dan kembali duduk di kasurnya. Di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan pasti—hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak melangkah masuk ke BALLERINA MURDERER.

Namun ia tidak menyesal.

Karena di tempat inilah, ia akan belajar bertahan.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!