NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Interogasi.

Reynand termenung di ruang kerjanya di lantai tiga, memikirkan semua rentetan kejadian. Dari mulai kabar kecelakaan keponakannya, ibunya yang masih di ICU, raibnya jasad gadis itu, cerita tentang penyiksaan Rembulan di mansion dan akting keluarga kakaknya.

"Paman! Hubungi mbak Ellena. Suruh dia menghadapku di ruang kerja, lantai satu!" perintahnya.

Bukannya tak mau menghubungi langsung dia mengetahui karakter sang kakak sulungnya yang suka berkelit. Sudah tahu salah tapi tak mau mengaku. Dan dia pun malas berbicara dengannya. Khawatir emosinya meledak.

Henry menghubungi Ellena dengan ponselnya. Setelah tersambung dengan yang bersangkutan, disampaikanlah maksud dari tuan muda Ambrosia.

Drrrttt! Drrrttt!

"Mah! Telepon dari siapa? Kalau dari papa, bukannya pertemuannya jam 12:00 siang. Masih ada waktu dua jam dari sekarang. Kita belanja dulu!" tanya Ericka salah satu dari twins.

"Your uncle yang telepon. Ada apa yah!?" ucap Elena khawatir.

"Jangan-jangan bertanya masalah Rembulan. Kan kemarin Rika dengar, om pergi meninjau lokasi kejadian!" bisik Erina di telinga ibunya.

"Entahlah. Kita pulang dulu untuk memastikan. Kamu WA papa bahwa kita agak telat!" jawabnya.

"Roni, tidak jadi ke mall. Balik dulu ke mansion!" ucap Ellena menyuruh sopir pribadinya memutar mobil ke arah mansion.

"Baik, bu!" jawab sang sopir sambil memutar setir ke arah mansion.

Setengah jam, kedua ibu dan dua anak kembarnya sampai di mansion Ambrosia dan menuju ruang kerja di lantai satu.

"Ada apa, adikku sayang. Kamu panggil mbakmu yang cantik ini!? Aku ada janji dengan mas Damian dan Calvin, nih. Jangan lama, yah!" ucap Ellena ceriwis setelah menerobos pintu dan berada di ruang kerja sang adik.

"Ayo, duduk!" ucap Reynand mempersilahkan ketiganya duduk dan tidak berbasa-basi pada kakak dan kedua keponakannya.

Kepala butler itu sudah meninggalkan ruangan tak lama setelah menyiapkan tiga buah kursi yang ditempatkan di depan meja kerja tuan mudanya. Setelah ketiganya duduk, tanpa basa-basi, Reynand mengeluarkan beberapa lembar foto yang dijejerkan di meja kerja.

"Mbak, bisa dijelaskan padaku foto-foto ini!" ucapnya datar to the poin sambil menatap ketiganya.

Deg!

Ellena terkesiap melihat jejeran foto kamar milik Rembulan yang ada di paviliun belakang.

"Sial! Aku lupa memindahkan kamarnya ke semula. Padahal anak itu sudah mati. Mana sempat. Gerak cepat juga adik bungsuku ini!" rutuknya gelisah.

Melihat ketiganya bungkam, disimpulkan bahwa itu adalah perbuatan mereka dan mengakuinya. Jadi dia tidak perlu ragu untuk langsung menginterogasi.

"Mengapa mbak Ellena lakukan itu? Sementara, mbak tidak memiliki wewenang. Hanya daddy dan mommy yang berhak!" ucapnya tegas.

"Dan juga ... Aku!" tegasnya.

Glek!

Bukan namanya Ellena Carletha Ambrosia kalau tidak bisa mengelak.

"Tapi aku kan ibunya sedangkan keduanya hanya kakek dan nenek!" dalih Ellena tak mau kalah.

"Mbak! Ini rumah mommy dan daddy. Mereka yang punya peraturan dan wewenang disini. Bukan kalian!" menunjuk mbakyu dan kedua keponakannya.

"Mbak juga mempengaruhi saudari kita dan ikutan merundungnya."

"Ingat! Mbak hanya ketitipan dan mengetahui alasan dia bersama kalian, karena tak mungkin anak itu diadopsi daddy dan mommy karena faktor usia!" ucapnya sambil tersengal.

"Jangankan menyentuh Rembulan, menyakiti para pegawai dalam mansion juga salah. Mereka yang membawa dan menempatkan Rembulan di posisi setara dengan kita"

"Apa mbak lupa, kenapa dia dibawa kesini?" tanyanya dengan tatapan dingin pada ketiga anggota keluarganya yang menurutnya keterlaluan.

"Karena dia berjasa pada keluarga kita. Dia menyelamatkan mommy dan daddy dari kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawa keduanya."

"Lupa!?" cerocos Reynand dengan sengit.

Yah! Reynand melampiaskan kemarahan pada ketiganya. Semua memang terlambat karena gadis itu sudah berbeda alam. Dan penyesalan tak jua menguap dalam hatinya.

Ellena pun terdiam. Namun gengsinya yang tak mau mengakui kenyataan itu. Diamnya sang kakak membuat Reynand jengkel setengah mati.

"Dia adalah pahlawan untuk kita. Kita berhutang budi padanya bukan dia ke kita!"

"Seandainya kalian ditempatkan di tempat yang sama dengan Rembulan di lokasi kecelakaan, belum tentu kalian akan menolong. Paling jerit-jerit tidak karuan. Bayangkan, usia 7 tahun, bisa menerjang bahaya!" ucapnya sengit.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi kalaupun ada di lokasi yang sama, belum tentu memiliki keberanian untuk menolong keduanya. Menurut daddy, api sudah berkobar besar dari kabin mobil dan bau bensin menyengat di sekitar body kendaraan.

"Tangan kecilnya membuka sekuat tenaga pintu yang tidak bisa terbuka dari dalam sehingga sopir dan penumpang selamat dan tak lama meledak. Tidak ada CCTV dan jauh dari pemukiman penduduk. Coba bayangkan!" ucap Reynand benar-benar kalap.

"Belum ditambah perusahaan saat itu hampir kolaps karena adanya koruptor dan hantaman kompetitor akibat persaingan bisnis. Coba renungkan. Kalau saat itu daddy dan mommy tak selamat maka tidak akan kembali pada kita dan perusahaan bangkrut. Aku saat itu sedang kuliah sedangkan kakak-kakakku tidak ada satu pun yang terjun dalam perusahaan. Tinggal enaknya!" sentil Reynand pada sang kakak.

"Begitu pun kalian. Tinggal memetik hasilnya sekarang. Menghabiskan waktu berjam-jam di salon dan menghamburkan uang di mall tanpa mau bersusah payah bekerja. Nilai pun jeblok semua!" sinis Reynand sambil menunjuk pada si kembar.

"Menempatkan dia di kamar yang layak adalah harga yang pantas. Bahkan itu tidak ada apa-apanya dibanding jasanya pada kita. Seluruh aset diberikan padanya pun tak bisa membayar atas apa yang telah dia lakukan untuk orang tua kita, paham!?" tatap Reynand dingin kepada ketiganya.

Kedua anak kembar itu hanya menundukkan pandangan ke lantai. Ellena mengepalkan tangannya hingga memutih. Sejujurnya, dia tidak rela anak yang tak tahu asal-usulnya itu dibela dan dia dibanding-bandingkan dengannya dan memojokkan kedua puterinya. Dia masih diam dan menahan diri. Membiarkan adiknya meluapkan kemarahan sebab dia tahu kalau emosinya tidak keluar, sang adik pasti mengamuk atau melukai dirinya. Dia sendiri yang bakal repot nantinya.

"Kalian sangat kejam sekali dan tidak tahu berterima kasih. Dan untuk mbak, kamu seorang ibu dan memiliki anak perempuan, dua orang. Bagaimana kalau mereka berdua didisiplinkan seperti Rembulan oleh mertuanya. Apa kamu menerima!?" tanya Reynand tajam.

"Yah, tentu saja tidak!" ucapnya sengit.

"Hei! Jangan samakan anakku dengannya, yah. Kasusnya berbeda!" bela Ellena untuk kedua puteri kembarnya dengan nada tinggi.

Reynand pun berfikir untuk tidak ngotot berdebat dengan kakak sulungnya sebab dia tahu kakaknya tidak pernah mau mengakui walaupun salah. Jangankan dengannya. Kedua orangtuanya pun angkat tangan dan selalu menyerahkan perkara padanya untuk diputuskan.

Saat berusia 16 tahun, disaat ketiga kakaknya masih sibuk bermain, belajar dan pacaran dengan kekasihnya, dia sudah menjadi CEO muda untuk perusahaan keluarganya. Praktis, orangtuanya menganggap dirinya dewasa dan bisa mengambil keputusan untuk siapapun!

"Oh ya, kemarin aku ke lokasi kecelakaan Rembulan. Tubuhnya tidak ditemukan."

"Yakin, kalian tidak terlibat!?" tanyanya menyelidik.

Entah mengapa, setelah mendengar kesaksian Henry, ada perasaan menggelitik tentang kecelakaan yang menimpa ponakannya itu. Ada keraguan dalam hati Reynand tentang sepak terjang keluarga iparnya, Orion.

Ellena yang sudah menahan marah karena tersinggung, bangkit dari kursi dan condong ke depan, segera menggebrak meja di hadapannya.

Brakkkk!

"Reynand! Kamu keterlaluan! Aku sudah menahan diri sedari tadi saat kamu memojokkan kami dan kamu menuduh kami sengaja mencelakai anak itu. Iya!?" hardik mbakyunya dan menunjuk ke muka sang adik.

"Loh! Mbak jangan sewot gitu, dong! Kan saya bertanya, yakin tidak terlibat!?" pancing Reynand pada kakak sulungnya.

"Kalau enggak terlibat, yah sudah enggak usah marah, tinggal bilang.

" Wahai, adikku sayang mbakyu kamu ini tidak terlibat. Gitu saja kok repot!" ucapnya acuh dan tenang sambil melipat tangan di dada.

"Dasar adik sontoloyo! Kamu berarti tidak percaya sama kami. Bagaimana mungkin kami berbuat sekejam itu. Kalau pun iya, kenapa tidak dari dahulu saja ketika dia kecil, kan lebih mudah! Kamu nih, curigaan melulu sama saudara sendiri!" ujar Ellena masih kesal di ubun-ubun.

"Saya sih netral saja. Kalau salah dibilang salah, kalau benar yah dikatakan benar!" santai Reynand tidak terpengaruh oleh kemarahan sang kakak.

"Sekali lagi saya bertanya. Apa benar mbak bersama suami dan ketiga anak kandung, menyiksa Rembulan dengan cambukan, menjadikannya babu, memberi makan sisa dan menempatkan dirinya di kamar bekas gudang yang terletak di belakang mansion!?" tanya Reynand menyelidik.

Akhirnya, emosi Ellena yang sudah menyala akhirnya meluap dan terpancing. Dia pun tak segan mengakuinya pada sang adik.

"Kalau iya, kenapa? Ada masalah!?" ucapnya menantang.

"Dia itu tidak jelas asal-usulnya. Harusnya kamu curiga pada anak itu. Bisa saja dia disetting oleh kompetitor untuk merebut kekayaan kita dengan berpura-pura lugu. Siapa tahu, dia disuruh lawan yang sudah mengincar orangtua kita dan mengorbankannya agar bisa masuk ke rumah kita dengan jalan adopsi. Kita sudah memelihara anak harimau. Suatu saat, akan berbalik menerkam. Kita jangan terperdaya!" dalil Ellena membela diri menghasut sang adik agar nantinya berpihak padanya.

"Sudahlah! Aku tidak mau berurusan lagi tentangnya. Dan tolong, kamu lebih mempercayai saudaramu ketimbang orang lain!" ucap Ellena dongkol.

"Ayo, girls! Kita segera keluar dari tempat ini. Mallnya keburu tutup!" sarkas Ellena.

Ketiganya langsung pergi dengan Elena membanting pintu setelah keluar.

Brakkkk!

Reynand hanya menatapnya dingin. Dari bawah mejanya, dia mengeluarkan alat perekam suara dari speaker yang dia selipkan di bawah meja kerja.

Kisah masa tiga tahun yang lalu setelah kecelakaan pun berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!