cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pasir dan Ritme Keheningan
Cahaya matahari pagi yang hangat menyusup masuk melalui celah gorden, menyentuh wajah Devi yang masih terlihat sedikit sembap sisa tangis semalam. Rohita sudah lebih dulu terjaga, duduk di tepi kasur sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Ia melirik kedua sahabatnya yang masih terlelap dalam posisi saling merangkul.
"Bangun, kalian berdua! Jangan jadi pemalas," suara lantang Rohita memecah kesunyian kamar. Devi mengerang kecil, sementara Dewi perlahan membuka matanya . Setelah bersiap-siap dengan perbekalan seadanya, mereka berangkat menuju pesisir.
Setibanya di sana, angin laut yang kencang langsung menyapu wajah mereka. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya yang penuh ketegangan dengan pria asing, kali ini mereka memilih area yang lebih terpencil. Devi, langsung berlari ke arah pasir yang basah. Ia tidak peduli jika roknya terkena air garam. "Wi, ayo ke sini! Pasirnya sangat halus!" teriak Devi sambil melambaikan tangan. Dewi, dengan langkah malu-malu, mendekat. Ia duduk di atas pasir sambil melipat kakinya , sementara Rohita berdiri tidak jauh dari mereka, bersedekap sambil mengawasi keadaan sekeliling dengan tatapan tajamnya .
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam bermain pasir. Devi mencoba membangun istana megah yang terus-menerus hancur diterjang ombak, sementara Dewi justru asyik mengumpulkan kerang-kerang kecil yang terbawa arus ke tepian. Rohita akhirnya ikut bergabung, duduk di antara mereka, tangannya bergerak cekatan membantu Devi memperkokoh gundukan pasirnya. Mereka bercanda hingga sore hari menjelang,
Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Sesampainya di kost, Tanpa menunggu lama, Rohita langsung memimpin di dapur. "Dewi, potong sayurnya! Devi, siapkan piringnya!" perintahnya tegas. Mereka memasak bersama, Devi sesekali membuat keriuhan dengan mencuri potongan lauk sebelum matang. Setelah makanan siap, mereka makan dengan lahap di meja kecil mereka,
Malam harinya, Di dalam kamar Devi merebahkan diri sambil asyik bermain ponsel, jarinya bergerak lincah di atas layar dengan senyum yang sesekali mengembang. Rohita duduk bersandar di tempat tidur, fokus pada sebuah buku tebal yang sudah ia baca separuh jalan. Di sudut kasur, Dewi sangat sibuk; ia mengeluarkan koleksi kerang hasil buruannya tadi sore dan menyusunnya berdasarkan ukuran dan warna dengan sangat teliti di atas meja kecil. Keheningan yang tercipta hanya diisi oleh suara detak jam dan gesekan kertas buku. Hingga akhirnya, larut malam menjemput, mereka mematikan lampu dan tertidur lelap dalam dekapan satu sama lain di atas kasur yang sama.
Pagi berikutnya, Devi merasa ingin menghirup udara segar sendirian. Tanpa pamit karena tidak ingin mengganggu Rohita dan Dewi yang sedang sibuk di kebun, ia berjalan santai meninggalkan area kost. Di sebuah sudut jalan, ia bertemu dengan seorang pemuda. Obrolan singkat terjadi, Devi tidak keberatan saat pemuda itu mengajaknya makan di sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Mereka berbincang tentang hal-hal remeh, tawa Devi sesekali terdengar renyah di antara kepulan asap masakan warung.
Sementara itu, di halaman kost. Rohita dan Dewi sedang berlutut di atas tanah kebun mereka. Rohita dengan telaten mencangkul kecil tanah yang mulai mengeras, sementara Dewi berada di sampingnya, menanam bibit baru dengan gerakan yang sangat lembut. "Jangan terlalu dalam menanamnya, Wi. Nanti dia susah tumbuh," ujar Rohita ,
Menjelang siang, Devi kembali dengan wajah berseri-seri. Ia menenteng beberapa kantong plastik berisi oleh-oleh berupa camilan dan makanan ringan. "Aku pulang! Lihat apa yang kubawa!" serunya saat memasuki kost. Rohita hanya mendengus, namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa tertarik. Mereka bertiga akhirnya berkumpul di atas tempat tidur, menghabiskan oleh-oleh tersebut sambil bercerita tentang apa yang mereka lakukan seharian. Devi bercerita tentang cowok yang ia temui dengan gaya yang dilebih-lebihkan, membuat Dewi tersipu malu mendengarnya.
Setelah makan malam yang sederhana, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Devi merasa perlu sedikit ruang, maka ia keluar ke teras kost. Di bawah kegelapan langit, ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung dan hilang tertiup angin malam. Ia menatap gerbang kost milik Rohita yang tertutup rapat, merasa bersyukur memiliki tempat bernaung seaman ini. Setelah rokoknya habis, ia kembali ke dalam kamar. Dewi sudah tertidur pulas dengan posisi menyamping. Devi naik ke atas kasur dan perlahan memeluk Dewi dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung sahabatnya itu hingga ia pun jatuh terlelap.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari ketika Rohita tiba-tiba terbangun karena dorongan dari dalam perutnya. Dengan hati-hati , ia melangkah keluar kamar menuju bagian belakang kost. Namun, tepat saat ia selesai dan hendak mencuci tangan, suara klik terdengar dari arah meteran listrik. Seluruh kost seketika gelap gulita.
Rohita mendesis kesal. "Sial, kenapa harus sekarang?" gumamnya. Ia meraba dinding dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya terulur ke depan untuk memastikan ia tidak menabrak apa pun. Bayangan benda di ruang tengah tampak seperti monster hitam yang diam mematung. Dengan jantung yang sedikit berdegup lebih cepat dari biasanya, ia mempercepat langkahnya hingga berhasil mencapai pintu kamar. Tanpa membuang waktu, ia segera masuk dan melompat ke atas kasur, meringkuk di antara Devi dan Dewi, mencari keamanan dalam kehangatan tubuh mereka hingga akhirnya ia bisa memejamkan mata kembali.