Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN
"Satu tahun lagi, hanya satu tahun lagi untuk mereka tumbuh," gumam Nyonya Kimberly, suaranya kini terdengar parau dan penuh penderitaan.
"Bertahanlah, Lucas, jangan biarkan sihir hitam itu memakan jiwamu sebelum istrimu datang menjemputmu," lanjut Nyonya Kimberly, setetes airmata nya jatuh dari pelupuk mata nya.
Mendengar nama Lucas disebut dengan begitu jelas, jantung Leo berdegup kencang.
Pria kecil itu ingin sekali berlari keluar dan bertanya di mana ayahnya berada, namun pegangan Lucian di bahunya semakin menguat, menahannya tetap di tempat.
"Diam Leo," cegah Lucian.
"Tapi kak, aku harus bertanya dimana Ayah sekarang," ucap Leo, dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba, Nyonya Kimberly terdiam, telinganya sedikit bergerak, persis seperti yang sering dilakukan Lucian.
Dengan gerakan waspada, Nyonya Kimberly menoleh perlahan ke arah pilar tempat kedua cucunya bersembunyi.
"Siapa di sana?" tanya Nyonya Kimberly, suaranya kembali dingin dan berwibawa.
Lucian tahu mereka tidak bisa bersembunyi lagi, dengan ketenangan yang luar biasa, dia keluar dari balik pilar sambil menggandeng tangan Leo yang masih tampak linglung.
"Kami hanya haus, Nenek," ucap Lucian datar.
Mata kecil yang sangat mirip dengan Duke Lucas itu menatap langsung ke mata Nyonya Kimberly, mencoba mencari sisa-sisa cahaya keemasan yang ia lihat tadi, namun mata neneknya sudah kembali menjadi cokelat tua yang teduh.
Nyonya Kimberly menatap kedua cucunya dengan pandangan menyelidik, dia tahu Lucian terlalu pintar untuk sekadar mencari air di tengah malam, dia juga bisa mencium aroma sisa-sisa adrenalin dan rasa ingin tahu yang meluap dari tubuh kedua bocah itu.
"Haus di jam seperti ini?" Nyonya Kimberly berjalan mendekat, jubah tidurnya terseret di lantai porselen.
Nyonya Kimberly berlutut di depan mereka, membelai pipi Leo yang terasa panas.
"Kalian mendengar sesuatu?" tanya Nyonya Kimberly lembut, namun penuh penekanan.
Leo hampir saja membuka suara, namun Lucian mendahuluinya.
"Kami mendengar suara angin yang kencang di luar jendela, Nenek, suaranya seperti orang yang sedang memanggil nama kami," jawab Lucian, meyakinkan.
Nyonya Kimberly tertegun, dia tahu itu bukan sekadar angin, itu adalah panggilan darah Lucas, di tengah sisa-sisa kesadarannya, sedang memanggil belahan jiwanya.
"Kembalilah ke kamar kalian," perintah Nyonya Kimberly, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Dan jangan pernah keluar dari kamar setelah tengah malam, ada hal-hal di kediaman ini yang belum saatnya kalian lihat," lanjut Nyonya Kimberly.
Sementara itu, di kamar utama, Jasmine terbangun dengan napas tersengal, dia menyentuh dadanya yang terasa sesak, mimpi itu datang lagi, mimpi tentang seorang pria yang meronta di balik jeruji besi, memanggil namanya dengan suara yang nyaris hilang.
Jasmine menoleh ke samping dan menyadari bahwa kedua putranya tidak ada di tempat tidur.
"Lucian? Leo?" panggil Jasmine, panik.
Kepanikan langsung menjalar di sekujur tubuhnya.
Jasmine segera bangkit dan berlari menuju pintu kamar, tapi saat dia membukanya, dia berpapasan dengan Lucian dan Leo yang baru saja digiring kembali oleh Nyonya Kimberly.
"Ibu!"
Teriak Leo langsung berlari memeluk kaki Jasmine.
"Ada apa ini, Ibu?" tanya Jasmine pada Nyonya Kimberly, matanya menatap tajam mencari penjelasan.
"Anak-anakmu sedang berjalan-jalan di tengah malam, Jasmine, mungkin mereka mengigau karena terlalu banyak mendengar ceritamu tentang Lucas," jawab Nyonya Kimberly dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di depan cermin tadi.
"Lucian, apa yang terjadi?" tanya Jasmine berlutut di depan Lucian, memegang bahu putranya.
Lucian menatap ibunya lama, dia melihat gurat kesedihan dan kelelahan di wajah Jasmine, untuk pertama kalinya, si kecil Lucian memutuskan untuk menyimpan sebuah rahasia dari ibunya, karena dia tahu, jika dia menceritakan apa yang dia dan Leo dengar tadi, pasti ibunya akan hancur oleh harapan yang belum pasti.
"Kami hanya ingin mencari udara segar, Ibu. Maafkan kami," jawab Lucian berbohong.
"Jangan pernah pergi tanpa memberitahu Ibu lagi, Ibu tidak bisa kehilangan kalian juga, cukup Ayah kalian yang meninggal kan Ibu..." ucap Jasmine menarik kedua putranya ke dalam pelukan.
Nyonya Kimberly hanya berdiri diam memperhatikan mereka. Di dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus pedih. Cucu-cucunya tumbuh terlalu cepat, dan kekuatan yang mengalir di dalam darah mereka mulai menuntut untuk diakui.
"Masuklah ke dalam, Jasmine, istirahatlah, karena besok akan menjadi hari yang panjang," ucap Nyonya Kimberly sebelum berbalik dan pergi menuju kamarnya sendiri.
Jasmine dan kedua Putranya masih berdiri di sana.
"Ibu..."
Panggil Leo dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Hem?" tanya Jasmine, berlarut di depan Putra nya.
"Sayang, apa kalian sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari ibu kan?" tanya Jasmine, melihat kedua Putra nya.
Lucian memalingkan wajahnya, tidak mau menatap ibu nya, karena dia tidak akan tega melihat wajah sendu ibu nya.
Leo tidak menjawab, pria kecil itu memeluk Jasmine, menyembunyikan wajah nya di ceruk leher ibu nya, dengan isak tangis yang tidak bisa di tahan lagi.
Perkataan Nenek nya tadi terus terngiang-ngiang di otak kecil nya, dimana ternyata Ayah nya masih hidup.
"Leo sayang, kenapa Nak?" tanya Jasmine, khawatir.
Leo hanya menggeleng kan kepala nya, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Melihat Putra bungsu nya seperti itu, Jasmine memutus untuk membawa anak-anaknya kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Ayo masuk, jangan takut, ada ibu di sini," ucap Jasmine, menggendong Leo, dan menuntun Lucian.
Jasmine membaringkan anak-anak nya, di atas ranjang, menyelimuti mereka.
"Tidur lagi ya, ini masih malam," ucap Jasmine, dengan lembut mengusap kepala anak-anak nya.
Leo masih sedikit sesenggukan di dalam tidur nya, sementara Lucian, dia lebih tenang.
Setelah anak-anak kembali tertidur, Jasmine tidak bisa memejamkan mata.
Jasmine beranjak, dan duduk di kursi dekat jendela, menatap hutan salju yang gelap.
"Ada yang tidak beres," gumam Jasmine
Jasmine teringat kembali pada Lucian yang berkata mendengar detak jantung Nyonya Kimberly dari kejauhan.
Jasmine kemudian teringat pada lencana perak Lucas yang dia simpan di bawah bantal. Ia mengambil lencana itu, dan secara tidak sengaja, ujung lencana yang tajam menggores ibu jarinya.
Tes
Setetes darah Jasmine jatuh mengenai lencana perak itu.
Tiba-tiba, lencana itu terasa sangat panas di tangannya, warna peraknya yang kusam mendadak berpendar dengan cahaya biru pucat yang samar.
Jasmine terkesiap, lencana ini tidak pernah bereaksi seperti ini sebelumnya.
"Lucas... apa kau sedang mencoba memberitahuku sesuatu?" bisik Jasmine dengan air mata yang mulai mengalir.
Di tempat yang sangat jauh, di dalam sel gelapnya, Duke Lucas tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, dia merasakan denyutan di dadanya, denyutan yang berasal dari lencana miliknya.