Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 015 : POVELGIA~ PERJAMUAN DI ATAS ABU (Based on A True Story)
Venesia di kejauhan tampak seperti siluet kota mati yang tenggelam dalam kabut. Di dalam reruntuhan rumah sakit jiwa Poveglia, pintu besi putih ruang isolasi nomor empat terbuka dengan derit panjang yang menyayat hati.
Begitu Rachel melangkah masuk, pintu itu terbanting menutup di belakangnya, mengunci segala akses bantuan dari luar.
Kesan pertama yang menyambut Rachel adalah keheningan yang mematikan, diiringi bau busuk mayat, formalin, dan karat besi yang menusuk hidung, bercampur dengan kelembapan udara.
Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang berkedip-kedip, ia melihat pemandangan yang membekukan darah.
Aris tergeletak di meja bedah dengan tubuh yang kaku, sementara di kursi samping meja itu, sosok pria berpakaian dokter kuno duduk mematung.
Pria itu sudah lama mati; kulitnya mengering membungkus tulang, namun tangannya masih menggenggam erat sebuah pisau bedah berkarat.
Namun, saat mata Rachel bertemu dengan rongga mata tengkorak dokter itu, sebuah tarikan gravitasi yang luar biasa menghantam jiwanya.
Wushhh!
Dunia fisik Rachel mendadak luntur. Ruangan yang tadinya sunyi berubah menjadi dimensi kelabu yang bergejolak, dipenuhi rintihan-rintihan tipis yang tak teridentifikasi.
Ia tidak lagi melihat mayat, melainkan entitas Dokter Wabah yang berdiri tegak dengan jubah hitam yang berkibar seperti sayap kelelawar, matanya menyala hijau redup di balik topeng paruh burung.
Rachel telah ditarik paksa masuk ke Alam Sebelah—ruang antara hidup dan mati di mana aturan logika tidak lagi berlaku, dan setiap luka di sana akan langsung terukir di raganya.
"Kau pikir kematian adalah akhir dari pekerjaanku?" suara Dokter Wabah itu menggema di dalam kepala Rachel, bukan di telinganya, melainkan langsung merasuk ke sanubari.
"Kematian hanyalah meja bedah yang lebih besar. Jiwa ini... jiwa Aris ini akan menjadi 'pintu' bagiku untuk membebaskan semua dari penderitaan abadi!"
Rachel menyeringai, sebuah seringai penuh keberanian yang membuat aura di ruangan itu mendadak panas.
Di dunia nyata, tubuh fisiknya yang bersimpuh di depan mayat dokter itu mulai mengeluarkan darah segar dari lubang hidungnya, membasahi bibir pucatnya.
"Kau pikir aku selemah itu, bangkai?" tantang Rachel, suaranya di alam sebelah bergetar namun tegas, menggema seperti guntur.
"Aku tidak butuh sejentik pun jari keluargaku untuk mengalahkanmu. Ini adalah antara kau dan aku! Dan tidak akan kubiarkan kau merebut Aris dariku. Sebab dia adalah bagian dari kami, dan kau adalah perampas! Setan sesat!" tutur Rachel tegas. Mengakibatkan hawa emosi dari dokter itu memuncak untuknya.
"Beraninya kau, manusia kecil!" geram Sang Dokter. Di alam sebelah, ia mengibaskan jubahnya dan melesat ke arah Rachel. Pisau bedah ghaibnya berkilat.
Zrrasshh!
Pisau itu menusuk tepat di ulu hati jiwa Rachel. Seketika, di dunia nyata, Rachel menjerit tertahan.
Darah menyembur dari mulutnya, membanjiri lantai. Baju yang ia kenakan di bagian dada mendadak robek, memperlihatkan luka tusuk yang dalam, meski tidak ada benda fisik yang menyentuhnya. Ia terbatuk, gumpalan darah kental bercampur cairan lambung ikut keluar.
Rachel tersungkur di lantai ruang isolasi yang dingin, raga fisiknya mengejang hebat sementara jiwanya sedang dipahat secara brutal oleh kekuatan hitam sang Dokter.
"Kau... hanyalah parasit masa lalu!" geram Rachel di dimensi ghaib, mencoba bangkit.
"Parasit katamu? Aku adalah penyelamat mereka!" balas Sang Dokter, pisau bedahnya kini bergerak membelah dada jiwa Rachel, seolah sedang melakukan autopsi.
"Motifku adalah kedamaian! Ketenangan abadi bagi jiwa-jiwa yang kucintai ini! Hidup adalah penderitaan, dan aku... aku memberikan kebebasan!"
Setiap sayatan pisau ghaib itu terasa nyata. Di dunia fisik, kulit Rachel mendadak mengeluarkan darah tipis di sepanjang garis sayatan.
Rasa perihnya menusuk hingga ke tulang, membuatnya kembali memuntahkan darah. Mata Rachel mulai memerah, pembuluh darah di wajahnya menonjol, sebagian pecah dan meninggalkan noda merah di sekitar matanya yang sipit.
Di luar koridor, kengerian tidak kalah hebat. Gautama Family mendadak lumpuh. Sang Dokter Wabah telah melepaskan frekuensi trauma yang menyerang syaraf kesadaran mereka, mengubah koridor itu menjadi taman bermain horor psikologis yang paling brutal.
"Mas... Mas Suhu..." rintih Marsya. Ia tersungkur, matanya melotot melihat lantai yang basah.
Di sana, ia tidak melihat ubin, melainkan hamparan wajah-wajah orang yang pernah ia lihat tewas dalam tugas, semuanya menyalahkannya. Suara-suara mereka menusuk telinganya.
"Aku minta maaf... aku nggak bermaksud membiarkan kalian mati! Tolong! Jangan sentuh aku!"
Adio mencoba merangkak menuju pintu, namun kakinya terasa seperti ditarik oleh ribuan tangan pucat dari bawah lantai beton.
"Hel! Rachel!" teriaknya, namun suaranya tercekat.
Ia melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu, berdiri di depan meja operasi yang banjir darah, gagal menjahit luka pasiennya hingga pasien itu tewas di tangannya. Trauma kegagalan itu menghimpit dadanya hingga ia sulit bernapas.
Melissa, matanya terpejam erat, menjerit. Ia melihat bayangan orang tuanya yang selalu menuntut kesempurnaan, kini berteriak-teriak bahwa ia telah gagal, bahwa ia tidak pantas hidup.
Pram dan Teguh, dua pemuda tangguh itu, terkapar dengan wajah pucat, tangan mereka mencengkeram kepala. Mereka melihat ilusi wajah-wajah mengerikan yang pernah mereka hadapi, bangkit kembali dan mengejar mereka tanpa henti.
Cak Dika mematung dengan keris yang gemetar. Ia terjebak dalam delusi masa lalu yang diputar berulang-ulang—saat Rara dihantam dahan pohon dan ditusuk oleh Adi.
Ia melihat Rara bersimbah darah di batu persembahan berulang kali, membuatnya terperangkap dalam keputusasaan yang melumpuhkan motoriknya.
Namun, bagi Rara, yang terjadi jauh lebih dramatis. Pukulan ghaib dari sisa energi Sang Dokter menghantam tengkuknya—tepat di titik yang sama dengan hantaman dahan pohon milik Adi bertahun-tahun lalu.
(Temukan Jawabannya, Baca Penjelajah Ghaib Bab195-199)
Brakk!
Dunia Rara jungkir balik. Pintu-pintu memori yang selama ini terkunci rapat oleh janji Nyi Roro Kidul mendadak jebol.
Ia melihat senja itu lagi. Ia melihat Cak Dika yang murka, menghantam penjahat-penjahat itu demi dirinya. Ia mendengar suara Cak Dika yang bergetar :
"Aku akan memberikan apapun asalkan dia tidak hilang dari dunia ini! Tolong Rara, aku menyayanginya!"
Rara tersedu dalam diam di atas lantai yang dingin. Air matanya mengucur deras, membasahi abu manusia.
"Mas Dika..." rintihnya sangat pelan. Ia mengingat semuanya sekarang. Pria humoris itu adalah kekasihnya yang merelakan cintanya dianggap "tidak ada" demi kehidupan Rara.
Di dalam ruangan, Rachel sudah hampir hancur. Raga fisiknya terus memuntahkan darah, bahkan matanya mulai memerah akibat pembuluh darah yang pecah.
Ia terhuyung, tubuhnya oleng dan hampir jatuh. Namun, wangi melati mendadak menyeruak, mengalahkan bau busuk di ruangan itu.
Nyai Ratu muncul di belakang jiwa Rachel di alam sebelah, aura agungnya membuat dimensi itu bergetar. Kemunculannya membuat Sang Dokter hina itu terbelalak. Aura yang sangat pekat juga kuat.
"Gunakan kekuatanku, cah ayu. Hancurkan kekejian ini!"
Nyai Ratu menyalurkan energi hijau samudera ke dalam jiwa Rachel. Di dunia nyata, tubuh fisik Rachel mendadak memancarkan cahaya hijau keemasan yang luar biasa terang.
Pembuluh darah di lengan dan lehernya menghitam, menonjol, seolah menampung kekuatan yang terlalu besar, namun Rachel menahannya dengan sekuat tenaga.
Dengan satu sentakan hebat di alam sebelah, Rachel menghantamkan tangannya ke dada sang Dokter.
"Baliklah ke liang lahatmu! Kau bukan penyelamat, kau adalah tukang jagal kejam!" teriak Rachel, suaranya bergaung dengan kekuatan berlipat ganda.
BOOM!
Entitas itu meledak, jiwanya hancur menjadi debu hitam yang lenyap ditelan cahaya Nyai Ratu.
Di dunia nyata, mayat dokter yang duduk di kursi itu seketika hancur menjadi tumpukan debu kelabu. Bersamaan dengan lenyapnya sang Dokter Wabah, segel trauma di luar pun langsung sirna.
"Rachel!" teriak Adio.
Cak Dika menggebrak pintu yang kini bisa dibuka. Seluruh anggota Gautama berlari masuk.
Mereka melihat ruangan yang mengerikan; dinding yang retak dan bau karat yang pekat. Aris bersimpuh di lantai dengan wajah sangat khawatir, menatap sosok di depannya.
Rachel sedang bersimpuh membelakangi mereka. Ada banyak percikan darah di ubin putih di sekitarnya. Saat Adio melangkah lima langkah hendak memeluknya, Rachel berbalik pelan.
Wajahnya pucat pasi, namun penuh dengan percikan darahnya sendiri. Bibirnya yang merah oleh darah melengkung membentuk senyum tipis. Ia mengangkat jempolnya dengan tangan yang masih gemetar.
"Aku hebat, kan?" lirih Rachel, suaranya serak namun penuh kepuasan.
"Lebih hebat daripada Senopati maung!"
Cak Dika, yang tadinya tegang setengah mati, mendadak terkekeh sambil menyeka air matanya. Sedangkan Marsya, ia meneteskan air matanya. Mbaknya itu, benar-benar gila rasanya berulang kali menantang kematian. Saat itu Marsya lun berkata,
"Halah, Senopati maung itu kalau nyerang kan cuma pakai kuku, Mbak! Kalau kamu mah pakai bom atom, darah satu galon keluar semua! Yo jelas kamu yang menang!"
Rachel tertawa kecil, meski dadanya masih terasa sesak dan tubuhnya gemetar.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di atas kapal motor, menjauh dari pulau terkutuk itu. Malam yang sunyi menyelimuti mereka.
"Sumpah Bel, aku masih gemeteran," celetuk Marsya pada Bella.
"Lega banget rasanya bisa liat lampu Venesia lagi. Kapok aku ke pulau itu!" ujar Marsya lagi.
"Iya Sya, aku juga. Alhamdulillah kita masih lengkap," jawab Bella lemas.
Rachel melirik ke arah Rara. Gadis itu duduk diam, namun matanya yang sembab tak lepas dari Cak Dika yang sedang bergurau bersama Mas Suhu.
Rara membalas senyum Cak Dika dengan bibir gemetar, menyimpan rahasia memorinya rapat-rapat dalam dada untuk malam ini. Rachel tahu, ada sesuatu yang tersirat jelas dalam senyuman itu.
Rasanya ia ingin tahu apa itu? Tetapi tubuhnya dan dirinya yang lelah membuatnya pada akhirnya menyerah. Rachel memilih memiringkan kepalanya jatuh tepat di bahu Adio yang duduk di sampingnya.
"Pusing?" tanya Adio pelan lembut kepada Rachel yang bersandar padanya. Rachel hanya menganggukkan kepalanya. Pada detik itu, Adio merogoh sakunya. Sebuah obat pereda nyeri jelas ia bawa sejak tadi.
"Minumlah! Lalu beristirahatlah!"
Rachel samar-samar membuka kedua matanya. Ia melihat ke arah obat itu lalu mengambilnya. Di depan Rachel dan Adio, juga ada Melissa dna Peterson. Saat itu, Melissa yang memerhatikan kedua sejoli kaku itu berkata,
"Kamu gila, hel!" ucap Melissa. Rachel menatapnya dengan salah satu alis yang sengaja terangkat.
"Itu, pujian atau makian?"
Melissa tertawa mendengar itu. Malam ini, dia juga bersyukur rasanya. Kasus kelam yang datang pada mereka berhasil mereka selesaikan. Tidak ada korban jiwa di sini. Melissa selalu bangga tiap kali mereka kembali dalam formasi utuh.
_____
_____
Bagi para pembaca, Bab 15 ini terinspirasi dari lokasi paling berhantu di dunia yang terletak di utara Italia, yakni Pulau Poveglia. Berikut adalah fakta mengerikan di balik sejarahnya:
Tanah Setengah Manusia:
Selama wabah Black Death (Pes) melanda Eropa, Poveglia menjadi tempat pembuangan massal. Tercatat lebih dari 160.000 orang tewas dan dibakar di sini. Fakta geologis yang mengerikan adalah lapisan tanah pulau ini terdiri dari 50% abu jenazah manusia. Setiap langkah yang dipijak Rachel dalam cerita ini secara harfiah menginjak sisa-sisa raga manusia.
The Plague Doctors (Il Medico della Peste):
Sosok berpakaian jubah hitam dengan topeng paruh burung panjang adalah pemandangan nyata di masa itu. Paruh tersebut diisi dengan rempah-rempah untuk menyaring bau busuk mayat yang mereka yakini sebagai sumber penularan. Dalam dunia ghaib, sosok ini sering termanifestasi sebagai entitas yang membawa aroma kematian dan penderitaan.
Malpraktik Dokter Gila (1922):
Pada tahun 1920-an, sebuah rumah sakit jiwa dibuka di Poveglia. Sejarah mencatat seorang dokter kepala yang melakukan eksperimen Lobotomi (pembedahan otak) secara brutal kepada para pasiennya menggunakan bor tangan dan palu tanpa obat bius. Dokter ini akhirnya tewas jatuh dari menara lonceng, dan desas-desus mengatakan ia didorong oleh roh-roh pasien yang menuntut balas dendam.
Miasma dan Kematian Massal:
Di masa lalu, orang-orang yang menunjukkan gejala sekecil apa pun—meski hanya flu biasa—akan diculik secara paksa dari keluarga mereka dan dibuang ke Poveglia untuk dibiarkan mati bersama tumpukan mayat yang membusuk. Hal inilah yang mendasari munculnya trauma kolektif yang menyerang tim Gautama dalam cerita.
Larangan Pemerintah:
Hingga saat ini, pemerintah Italia melarang keras turis untuk mengunjungi Poveglia. Pulau ini ditutup total untuk umum, dan nelayan lokal pun menolak memancing di sekitar area tersebut karena sering ditemukannya potongan tulang manusia yang tersangkut di jaring mereka.,