Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Saudara Sedarah, Musuh Sejiwa
Angin di ketinggian sepuluh ribu kaki menderu dengan ganas, menghempas lambung kapal terbang Paviliun Merah hingga berderit nyaring. Di hadapan mereka, sebuah pedang raksasa yang seolah-olah dipahat dari meteorit langit tertancap di ruang hampa, memaku koordinat pelarian Xiao Yuan. Di atas gagang pedang itu, berdiri Xiao Tian sosok yang merupakan personifikasi dari segala hal yang seharusnya menjadi hak Xiao Yuan: kemuliaan, pengakuan, dan kekuatan tanpa noda.
Xiao Yuan melangkah ke ujung dek. Rambut hitam dengan garis-garis emasnya berkibar liar. Ia merasakan denyut ketakutan yang samar di dalam dadanya bukan miliknya, melainkan milik Yun’er yang kini terikat jiwanya. Melalui ikatan itu, Xiao Yuan mencoba menyalurkan ketenangan, meski hatinya sendiri sedang mendidih oleh amarah yang dingin.
"Adik?" Xiao Yuan mengulang kata itu dengan nada yang menghina. "Ibuku hanya melahirkan satu putra, dan dia dibuang ke lumpur oleh ayahmu. Jadi, katakan padaku, pangeran kecil, dari lubang mana kau berasal sehingga berani mengaku sebagai saudaraku?"
Xiao Tian tidak terpancing. Wajahnya tetap tenang, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang tumbuh besar di puncak dunia, tak pernah sekalipun merasakan lapar atau kehinaan. "Ayahanda Kaisar tidak pernah salah dalam tindakannya, Xiao Yuan. Kau dan ibumu adalah kesalahan dalam garis keturunan Naga Langit. Keberadaanmu hanya akan mencemari kemurnian alam atas. Aku datang ke sini untuk membersihkan noda itu."
Xiao Tian mengangkat tangan kanannya. Cahaya emas yang begitu murni jauh lebih murni daripada yang pernah dicuri Lu Chen meledak dari tubuhnya. Di belakangnya, proyeksi seekor Naga Ilahi dengan sembilan cakar muncul, memenuhi langit dengan otoritas yang menekan kapal terbang itu hingga perlahan-lahan mulai retak.
"Tuan Muda, dia berada di Ranah Transformasi Dewa!" Kakek Gu berteriak dari balik pintu kabin, tangannya gemetar menahan tekanan aura tersebut. "Kita harus pergi! Kau belum siap menghadapinya!"
"Tidak ada tempat untuk lari, Kakek Gu," jawab Xiao Yuan tanpa menoleh. Ia menghunus Pedang Keruntuhan Abadi. Bilah pedang itu bergetar, merespons kehadiran 'Sumsum Naga Ilahi' milik Xiao Tian. Pedang itu haus akan darah bangsawan yang sombong di depannya.
"Yun'er, pinjamkan aku kekuatanmu," bisik Xiao Yuan dalam hati.
Di dalam kabin, Yun’er memejamkan mata, memegang dadanya yang berdenyut. "Gunakanlah, Yuan. Apa pun yang terjadi, aku ada di sisimu."
Seketika, aura biru es menyelimuti Xiao Yuan, menyatu dengan energi naga hitamnya. Ia melompat dari dek kapal, melesat menuju Xiao Tian seperti meteor yang menantang matahari.
Duar!
Pertemuan antara Pedang Keruntuhan Abadi dan jari telunjuk Xiao Tian menciptakan gelombang kejut yang membelah awan dalam radius puluhan mil. Xiao Tian menahan tebasan penuh tenaga Xiao Yuan hanya dengan satu jari yang dialiri energi ilahi.
"Hanya segitu kekuatan dari 'Naga Terbuang'?" Xiao Tian tersenyum tipis. "Sangat mengecewakan."
"Ini baru permulaan!" Xiao Yuan meraung.
Ia memutar tubuhnya di udara, melepaskan Sembilan Tebasan Neraka: Tebasan Ketujuh
Penghancur Takdir. Energi hitam, emas, dan biru menyatu menjadi sebuah pusaran raksasa yang mencoba menelan Xiao Tian bersama pedang raksasanya.
Xiao Tian akhirnya bergerak. Ia menarik pedang raksasanya dari ruang hampa dan mengayunkannya dengan satu tangan. "Teknik Ilahi: Tebasan Cahaya Pemutus Dosa!"
Dunia seolah memutih. Cahaya yang sangat menyilaukan bertabrakan dengan kegelapan Xiao Yuan. Xiao Yuan terlempar jauh, tubuhnya menabrak penghalang ruang angkasa hingga memuntahkan darah. Namun, berkat ikatan jiwanya dengan Yun’er, luka-luka itu langsung tertutup oleh esensi phoenix yang memulihkan dengan cepat.
"Lagi!" Xiao Yuan melesat kembali, tidak memberi ruang bagi Xiao Tian untuk bernapas.
Di saat pertempuran sengit itu terjadi, di dalam kabin kapal, mata Ye Ling ibu Xiao Yuan tiba-tiba terbuka sepenuhnya. Namun, matanya tidak lagi menunjukkan kasih sayang seorang ibu. Ada kegelapan kuno yang berputar di sana.
"Lari..." suara Ye Ling terdengar lagi, kali ini lebih keras, hingga membuat Kakek Gu terjatuh berlutut. "Xiao Yuan... lari dari sini... dia bukan saudaramu... dia adalah... penjara!"
Xiao Tian yang mendengar suara Ye Ling tiba-tiba kehilangan ketenangannya. Matanya berkilat dengan amarah yang aneh. "Diam, wanita tua! Kau seharusnya tetap membusuk di dalam peti itu!"
Xiao Tian melepaskan kekuatan penuhnya. Langit di sekitar mereka mendadak dipenuhi oleh ribuan pedang cahaya yang mengarah ke kapal terbang. "Jika kau tidak mau menyerah, maka hancurlah bersama sampah-sampah ini!"
"TIDAK!" Xiao Yuan berteriak.
Ia merentangkan tangannya, mencoba membangun perisai energi raksasa untuk melindungi kapal. Namun, Xiao Tian terlalu kuat. Satu per satu pedang cahaya mulai menembus perisai Xiao Yuan.
Di saat kritis itu, Yun’er keluar ke dek. Rambutnya memanjang, warnanya berubah menjadi biru es sepenuhnya. Di dahinya muncul tanda Phoenix yang menyala-nyala.
"Xiao Tian! Kau ingin jiwa Phoenix?" Yun’er berteriak, suaranya mengandung otoritas yang membuat pedang-pedang cahaya itu bergetar. "Ambil jika kau sanggup menahan dinginnya kematian!"
Yun’er melepaskan seluruh energi esensinya. Udara di sekitar kapal membeku dalam seketika, termasuk pedang-pedang cahaya milik Xiao Tian. Namun, pengorbanan ini membuat Yun’er memuntahkan darah. Karena ikatan jiwa, Xiao Yuan juga merasakan dadanya seolah dihantam palu raksasa.
"Yun'er! Berhenti!" Xiao Yuan menangkap tubuh Yun’er yang limbung.
Xiao Tian melayang mendekat, wajahnya penuh penghinaan. "Pengorbanan yang sia-sia. Di Alam Atas, kalian semua hanyalah debu."
Tepat saat Xiao Tian hendak memberikan serangan pemungkas, Ye Ling keluar dari kabin. Langkahnya pelan, namun setiap langkahnya membuat ruang di sekelilingnya retak. Segel di dahinya mulai luntur, bukan karena dilepaskan, tapi karena dipaksa hancur oleh energi dari dalam.
"Ye Ling? Bagaimana mungkin...?" Xiao Tian terbelalak.
Ibu Xiao Yuan menatap Xiao Tian dengan pandangan yang sangat dingin. "Katakan pada ayahmu... bahwa naga yang dia kurung telah mematahkan rantainya. Dan hari ini, aku akan mengambil bunga dari hutang darahnya."
Ye Ling mengangkat tangannya, dan sebuah lubang hitam raksasa terbuka di belakang kapal terbang. Lubang itu menyedot segala sesuatu di sekitarnya.
"Kakek Gu, bawa mereka pergi!" perintah Ye Ling.
"Nyonya! Bagaimana dengan Anda?" Kakek Gu berteriak.
"Aku akan menahannya di sini. Xiao Yuan... pergilah ke Lembah Naga Tak Bertuan di perbatasan utara. Temukan ayahmu yang asli di sana," Ye Ling menoleh ke arah Xiao Yuan, dan untuk sesaat, cahaya kasih sayang kembali ke matanya. "Maafkan ibu, Nak."
Dengan dorongan energi yang luar biasa, Ye Ling mengirim kapal terbang itu masuk ke dalam lubang hitam. Xiao Yuan mencoba meraih tangan ibunya, namun portal itu tertutup terlalu cepat.
Suara ledakan terakhir terdengar saat portal menghilang, menyisakan Xiao Yuan yang meraung pilu di dalam kapal yang meluncur di antara dimensi.
Xiao Yuan terbangun di sebuah pesisir pantai yang asing, kapalnya hancur berkeping-keping. Yun’er tidak sadarkan diri di sampingnya, namun ikatan jiwa mereka terasa sangat lemah, seolah-olah Yun’er telah kehilangan sebagian besar esensi hidupnya. Saat Xiao Yuan mencoba mencari bantuan, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dunia rendah, namun juga belum sampai di Alam Atas. Ia terdampar di 'Dunia Antara' tempat pembuangan bagi jiwa-jiwa yang ditolak oleh langit dan bumi. Di kejauhan, sekelompok makhluk yang menyerupai manusia namun dengan kulit bersisik abu-abu mendekat, memegang tombak dari tulang naga. Dan yang lebih mengejutkan, di dahi mereka semua terdapat tanda yang sama dengan tanda di dada Xiao Yuan Tanda Buruan Surga.
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍