NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. KECURIGAAN YANG MEMUNCULKAN RENCANA

Setelah keluar dari ruang arsip dengan marah, Rio tidak langsung pulang ke rumah. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman—suara yang dia dengar di dalam ruangan bukan hanya suara kipas pendingin atau angin seperti yang dikatakan Mira. Dia merasa ada orang lain di sana, seseorang yang berusaha menyembunyikan diri dari pandangannya.

Pada tengah malam, Rio kembali ke gedung perusahaan melalui pintu belakang yang jarang digunakan. Dia menyelinap masuk dengan hati-hati, menghindari kamera keamanan yang dia tahu lokasinya dengan baik. Ketika dia sampai di depan ruang arsip, dia melihat jejak kaki kecil di atas debu yang menutupi lantai koridor—jejak yang jelas bukan milik Mira yang mengenakan sepatu hak tinggi, melainkan milik seseorang yang mengenakan sepatu kerja kasar seperti petugas keamanan.

Rio mengikuti jejak kaki tersebut dengan cermat. Jejak tersebut berjalan melalui koridor belakang dan keluar melalui pintu belakang gedung, kemudian berhenti di dekat tempat parkir yang terletak di sudut belakang gedung. Di sana, dia menemukan cap ban mobil kecil yang masih basah karena embun malam—cap ban yang sama dengan mobil yang pernah dia lihat di depan pasar Cihampelas, di mana seorang penjual obat kampungan yang mirip dengan Dewi Wijaya berjualan ramuan tradisional.

“Ridwan Saputra…” bisik Rio dengan suara yang penuh dengan kecurigaan. Dia mengingat wajah petugas keamanan baru yang memiliki kemampuan beladiri luar biasa dan wajah yang anehnya mirip dengan pendiri perusahaan yang sudah lama tiada. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ratna.

“Bu Ratna, saya perlu berbicara dengan Anda sekarang juga,” ujar Rio dengan suara yang penuh dengan ketegangan setelah telepon diangkat. “Ada sesuatu yang tidak benar dengan petugas keamanan baru tersebut—Ridwan Saputra. Saya merasa dia adalah orang yang sama dengan penjual obat kampungan yang saya temui di pasar Cihampelas, dan saya melihat jejak yang menunjukkan dia berada di ruang arsip malam ini bersama Mira.”

Di ujung lain telepon, Ratna terdengar terkejut dan marah. “Apa yang kamu katakan?” ujarnya dengan suara yang kasar. “Kamu harus memastikan bahwa dia tidak menemukan apa-apa di ruang arsip. Jika dia adalah orang yang kita kira dia adalah—”

“Ya, Bu,” potong Rio dengan suara yang jelas. “Saya merasa dia adalah Ridwan Wijaya Santoso yang seharusnya sudah mati delapan tahun yang lalu. Dia kembali untuk mengambil apa yang dia anggap sebagai miliknya.”

Ratna mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. “Jangan panik, Rio,” katanya dengan suara yang lebih tenang namun penuh dengan ancaman. “Kita telah mengendalikan perusahaan selama bertahun-tahun dan memiliki banyak orang yang bekerja untuk kita. Kita tidak akan membiarkan seorang anak muda yang tumbuh besar di hutan merusak semua yang telah kita bangun.”

Dia kemudian mulai merencanakan langkah-langkah yang harus diambil. “Besok pagi, kamu akan mengeluarkan Ridwan Saputra dari perusahaan dengan dalih pelanggaran peraturan keamanan,” ujarnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita akan mengatakan bahwa dia mencoba mengakses area terbatas tanpa izin dan memiliki niat jahat terhadap perusahaan. Kita juga akan mengeluarkan Mira jika dia mencoba membela dia—katakan bahwa dia bersekongkol dengan orang luar untuk merusak nama baik perusahaan.”

“Tapi bagaimana dengan bukti yang mungkin telah dia dapatkan?” tanya Rio dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran.

“Kita akan menangkap dia sebelum dia punya kesempatan untuk menyerahkan bukti tersebut kepada pihak berwenang,” jawab Ratna dengan suara yang dingin dan kejam. “Saya telah menyewa beberapa orang untuk menangani masalah seperti ini. Mereka akan mengambil semua bukti yang dia miliki dan memastikan bahwa dia tidak akan pernah bisa muncul lagi untuk mengganggu kita.”

Setelah mengakhiri panggilan telepon, Rio segera pergi ke rumah salah satu orang yang bekerja untuk mereka—seorang pria bernama Joko yang dikenal sebagai orang yang tidak sungkan melakukan hal-hal kotor untuk mendapatkan uang. Dia menjelaskan situasi kepada Joko dan memberinya uang muka untuk menyewa beberapa orang lain untuk membantu menangkap Ridwan.

Pada pagi hari berikutnya, Ridwan datang ke perusahaan seperti biasa untuk menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan. Namun begitu dia memasuki gedung, dia merasakan bahwa suasana berbeda dari biasanya. Petugas keamanan lain melihatnya dengan ekspresi yang penuh dengan kecurigaan dan ketidaknyamanan, dan dia melihat Rio berdiri di depan meja resepsionis dengan wajah yang penuh dengan kemarahan.

“Ridwan Saputra!” teriak Rio dengan suara yang cukup keras agar semua orang bisa mendengar. “Kamu sedang dituduh mencoba mengakses ruang arsip perusahaan tanpa izin dan mencuri dokumen penting. Berdasarkan perintah dari Direktur Utama Ibu Ratna, kamu dipecat secara langsung dari perusahaan dan dilarang masuk ke dalam gedung perusahaan ini lagi!”

Beberapa petugas keamanan yang bekerja untuk Rio mendekati Ridwan dengan cepat, siap untuk menangkapnya jika dia mencoba melarikan diri. Namun sebelum mereka bisa menyentuhnya, Pak Sudarto muncul dari arah kantor keamanan dengan wajah yang penuh dengan kemarahan.

“Berhenti sekarang juga!” teriak Pak Sudarto dengan suara yang kuat. “Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Ridwan telah melakukan apa-apa yang salah. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan untuk memeriksa area yang dia tanggung jawab.”

Rio melihat Pak Sudarto dengan ekspresi yang penuh dengan kekesalan. “Kamu juga akan dikenai sanksi jika kamu terus membela dia, Pak Sudarto,” ancamnya dengan suara yang kasar. “Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa kamu bersekongkol dengannya untuk mencuri dokumen perusahaan.”

Pada saat yang sama, Mira datang berlari dari arah departemen hukum dengan beberapa berkas dokumen di tangannya. “Tidak ada bukti apapun yang bisa menunjukkan bahwa Ridwan telah melakukan kesalahan!” ujar Mira dengan suara yang jelas dan tegas. “Sebagai staf hukum perusahaan, saya akan memastikan bahwa setiap tindakan yang diambil terhadap karyawan dilakukan sesuai dengan hukum dan peraturan perusahaan.”

Rio merasa semakin marah melihat bahwa banyak orang yang bersedia membela Ridwan. Dia memberi isyarat kepada orang-orang yang bekerja untuknya untuk menyerang, tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara sirene polisi terdengar dari luar gedung. Semua orang berbalik arah dan melihat beberapa mobil polisi berhenti di depan gerbang utama gedung.

“Kita telah menerima laporan tentang dugaan pembunuhan dan pencurian aset perusahaan yang dilakukan oleh beberapa pejabat tinggi PT. Dewi Santoso,” suara seorang petugas polisi terdengar dengan jelas setelah keluar dari mobil. “Kita akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan akan menangkap siapa pun yang terbukti bersalah sesuai dengan hukum.”

Rio dan orang-orang yang bekerja untuknya melihat satu sama lain dengan ekspresi yang penuh dengan ketakutan dan kekesalan. Mereka tidak menyangka bahwa Ridwan telah bekerja cepat dan telah melaporkan kasus ini ke pihak berwenang sebelum mereka punya kesempatan untuk mengambil tindakan.

Ridwan berdiri dengan tegap di tengah ruangan, melihat Rio dengan mata yang penuh dengan tekad. Dia tahu bahwa perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai, tapi dengan dukungan dari orang-orang baik di sekitarnya dan bukti yang kuat yang dia miliki, dia merasa bahwa kebenaran akhirnya akan menang dan ibunya akan mendapatkan keadilan yang pantas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!