NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pagi itu, landasan pacu jet pribadi di Bandara Halim Perdanakusuma diselimuti kabut tipis. Sebuah jet pribadi dengan lambang Wijaksana Group sudah terparkir gagah, mesinnya menderu halus siap membawa keluarga itu menuju Singapura.

​Proses keberangkatan berlangsung dengan efisiensi tingkat tinggi. Andrew sendiri yang mendorong kursi roda Ares menuju lift pesawat, sementara Papi Adrian dan Mommy Revana berjalan di belakang dengan wajah yang campur aduk antara cemas dan harapan. Alesya tidak bisa ikut karena jadwal operasinya yang padat, namun ia sudah memberikan instruksi medis berlapis kepada tim dokter di Singapura.

​Di dalam kabin pesawat yang mewah, Andrew memastikan Ares duduk di kursi khusus yang telah dimodifikasi agar kakinya tetap nyaman. Ia memasangkan sabuk pengaman untuk adiknya, merapikan selimut, dan memastikan tablet milik Ares sudah terisi dengan film-film favoritnya.

​"Kita bakal sampai dalam satu setengah jam, Res. Kalau merasa pusing atau kaki lo sakit, langsung bilang gue ya," ucap Andrew lembut.

​Ares mengangguk kecil. Ia menatap ke luar jendela, melihat tanah air yang perlahan menjauh saat pesawat mulai lepas landas. Ada rasa sesak yang aneh, seolah ia sedang meninggalkan satu babak gelap hidupnya untuk menuju sesuatu yang belum pasti.

✨️​Arrival at Mount Elizabeth✨️

​Setibanya di Singapura, mereka tidak membuang waktu. Sebuah ambulans privat telah menunggu di samping pesawat untuk membawa Ares langsung ke kawasan Orchard, menuju pusat rehabilitasi elit. Andrew telah menyewa sebuah penthouse medis yang memiliki fasilitas lengkap, namun tetap terasa seperti rumah agar Ares tidak merasa terkungkung di bangsal rumah sakit yang dingin.

​Selama tiga hari pertama, Papi Adrian dan Mommy Revana mendampingi dengan setia. Papi Adrian terlihat terus memantau perkembangan diagnosa dari para ahli, sementara Mommy Revana tak henti-hentinya menyiapkan makanan sehat dan memastikan suasana hati Ares tetap terjaga.

​Namun, realitas tanggung jawab di Jakarta mulai memanggil. Sebagai pimpinan tertinggi perusahaan, Adrian tidak bisa meninggalkan Indonesia terlalu lama, terutama dengan beberapa proyek strategis yang sedang berjalan. Dia harus menghandle sementara Andrew mengurus Ares, Begitu juga Revana yang harus mengurus yayasan dan membantu Alesya sesekali menjaga kiara di Jakarta.

​Malam sebelum kepulangan orang tua mereka, suasana di ruang tengah penthouse terasa melankolis. Mereka makan malam bersama dalam keheningan yang hangat.

​"Ares, Sayang..." Revana menggenggam tangan Ares erat. "Mommy berat sekali harus pulang besok. Tapi Mommy janji, setiap akhir pekan Mommy akan terbang ke sini. Kamu harus kuat, ya? Turuti semua kata dokter dan... dengerin kata Kakakmu."

​Ares tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. "Iya, Mi. Jangan khawatir. Ares kan dijagain sama Bodyguard paling galak se-Jakarta," canda Ares sambil melirik Andrew.

​Adrian berdehem, lalu menatap Andrew dengan tatapan yang kini jauh lebih lunak. "Andrew, Papi serahkan adikmu sepenuhnya padamu. Pekerjaan di kantor biar Papi yang ambil alih sebagian besar. Fokus saja di sini. Kembalikan dia ke kami dalam keadaan bisa berjalan lagi."

​Andrew mengangguk mantap. "Papi tenang saja. Nyawa Andrew taruhannya untuk kesembuhan Ares."

​Keesokan paginya, setelah mobil yang membawa Adrian dan Revana meluncur menuju Changi, suasana apartemen menjadi sunyi. Kini hanya tinggal Andrew, Ares, dan dua perawat pria profesional.

​Andrew berjalan mendekati Ares yang sedang menatap gedung-gedung tinggi Singapura dari balkon. "Sekarang tinggal kita berdua, Res. Nggak ada Mommy yang bakal manjain lo kalau lo males latihan."

​Ares tertawa kecil, suara tawa yang sudah sangat dirindukan Andrew. "Gue tahu. Lo pasti bakal jadi sersan pelatih yang paling menyebalkan."

​"Emang," sahut Andrew sambil bersandar di pagar balkon di samping kursi roda Ares. "Besok jam 7 pagi kita mulai sesi robotik pertama. Gue udah cek jadwalnya. Habis itu kita makan siang di luar, gue bakal dorong lo keliling Botanic Gardens biar lo nggak suntuk."

​Ares terdiam sebentar, lalu menatap kakaknya. "Kak... makasih ya. Gue tahu lo ngelepasin banyak hal di Jakarta cuma buat nemenin gue di sini."

​Andrew menoleh, menepuk bahu Ares dengan kuat. "Gue nggak ngelepasin apa-apa, Res. Gue cuma lagi menjaga hal yang paling berharga yang gue punya. Udah, sekarang lo istirahat. Besok adalah hari pertama perjuangan kita."

​Di bawah langit Singapura yang cerah, hubungan dua bersaudara itu perlahan-lahan mulai tumbuh kembali. Tanpa bayang-bayang pengkhianatan, tanpa nama wanita yang pernah memisahkan mereka. Andrew benar-benar menjadi pelindung bagi adiknya, siap menghadapi bulan-bulan sulit yang menanti di depan mata.

Minggu pertama di Singapura ternyata jauh lebih berat daripada yang mereka bayangkan. Fasilitas medis di sini memang canggih, namun teknologi robotik yang digunakan untuk menstimulasi saraf Ares menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.

​Sesi itu disebut Lokomat. Tubuh Ares disangga oleh serangkaian kabel dan penyangga besi, sementara kakinya diikatkan pada kerangka robotik yang akan memaksa ototnya melakukan gerakan berjalan secara mekanis. Bagi orang sehat, itu terlihat seperti latihan biasa, namun bagi Ares, setiap tarikan mesin itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk sarafnya yang baru saja "terbangun" dari tidur panjang.

​"Kak... berhenti... sakit..." rintih Ares. Peluh dingin membanjiri keningnya. Wajahnya yang pucat pasi menahan perih yang tak tertahankan.

​Andrew berdiri tepat di depan adiknya, hanya berjarak beberapa senti. Ia tidak tega melihat penderitaan itu, namun ia tahu jika mereka berhenti sekarang, semua perjuangan ini akan sia-sia. Andrew menggenggam kedua tangan Ares yang gemetar hebat.

​"Tahan, Res. Sebentar lagi. Lihat mata gue, fokus ke gue," ucap Andrew dengan suara yang bergetar namun mencoba tetap tegar. "Gue tahu ini sakit, tapi saraf lo lagi bereaksi. Itu pertanda bagus. Lo nggak mau selamanya di kursi roda itu, kan?"

​"Sakit banget, Kak... gue nggak kuat..." Ares memejamkan mata rapat-rapat, giginya bergeletuk menahan jeritan.

​Sesi yang seharusnya berlangsung 40 menit itu terpaksa dihentikan di menit ke-25 karena tekanan darah Ares naik drastis. Begitu alat dilepaskan, Ares nyaris jatuh jika Andrew tidak segera menangkap tubuhnya dan mendekapnya erat.

Akhirnya mereka ​kembali ke apartemen, suasana menjadi sangat suram. Ares menolak makan dan hanya diam menatap dinding kamar. Frustrasi yang selama ini ia pendam akhirnya meledak.

​"Kenapa lo nggak biarin gue mati aja malam itu, Kak?!" teriak Ares tiba-tiba saat Andrew mencoba memijat kakinya yang kram. "Buat apa gue ngerasain sakit kayak gini setiap hari? Gue cacat! Gue nggak bakal bisa akting lagi, gue nggak bakal bisa lari lagi!"

​Ares menyapu semua gelas dan botol obat di atas meja samping tempat tidurnya hingga hancur berkeping-keping. "Pergi lo, Kak! Gue benci liat muka lo yang sok pahlawan itu! Lo yang bikin gue kayak gini!"

​Andrew tidak membalas teriakan itu. Ia juga tidak menghindar saat sebuah bantal mengenai bahunya. Ia justru berlutut di tengah pecahan kaca, memunguti botol-botol obat itu satu per satu dengan tangan kosong hingga jarinya teriris kecil.

​"Lo boleh benci gue, Res. Lo boleh maki-maki gue setiap hari," ucap Andrew pelan, suaranya tenang meski hatinya hancur. "Gue emang penyebab malam itu terjadi. Gue emang pantes lo benci. Tapi jangan pernah menyerah sama diri lo sendiri."

​Andrew mendekat, duduk di tepi tempat tidur dan menatap Ares yang tengah terisak hebat. "Gue bakal tetep di sini. Mau lo usir, mau lo ludahin, gue nggak akan pergi. Sampai lo bisa berdiri dan mukul gue pake tangan lo sendiri, gue bakal tetep jadi kaki buat lo."

​Ares menenggelamkan wajahnya di bantal, bahunya terguncang hebat karena tangis yang pecah. Andrew hanya diam di sana, mengusap punggung adiknya dengan penuh kesabaran. Ia tidak lagi memikirkan harga dirinya sebagai CEO yang disegani, di sini, ia hanya seorang kakak yang sedang mencoba menjahit kembali nyawa adiknya.

​----

​Dua jam kemudian, setelah badai emosi itu mereda, Ares akhirnya tertidur karena kelelahan. Andrew tetap berjaga di sampingnya, mengompres kening Ares dengan air hangat.

​Tengah malam, Ares terbangun dalam keadaan lebih tenang. Ia melihat Andrew tertidur di kursi sambil memegang catatan medisnya. Ares menatap kakinya yang masih kaku, lalu menatap kakaknya. Untuk pertama kalinya, ada rasa penyesalan karena telah memaki Andrew.

​"Kak..." bisik Ares parau.

​Andrew langsung terjaga. "Kenapa, Res? Ada yang sakit?"

​"Besok... jam berapa latihannya?" tanya Ares pelan.

​Andrew tertegun sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya yang letih. "Jam 7 pagi. Mau gue temenin lagi?"

​Ares mengangguk kecil. "Jangan telat. Gue mau tunjukin kalau gue bisa lebih dari 25 menit besok."

​Andrew merasa matanya memanas. Rasa sakit fisik itu memang masih ada, dan perjalanan ini masih sangat jauh dari kata selesai. Namun di tengah penderitaan yang luar biasa itu, mereka baru saja memenangkan pertempuran paling penting: keinginan untuk tidak menyerah.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!