NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Keadilan Navasari

Suara baling-baling helikopter di atas gedung Perpustakaan Nasional terdengar seperti degup jantung raksasa yang panik. Arum berdiri di lantai 20, menatap Sekar yang menyodorkan pemantik api. Di bawah sana, lautan manusia dan kilatan lampu polisi mulai mengepung gedung, namun di atas sana, sang Profesor bersiap melenyapkan diri dari tanggung jawab.

"Hancurkan dia, Arum! Jika dia naik ke helikopter itu, dia akan terbang ke negara yang tidak punya ekstradisi. Semua bukti ini tidak akan berguna jika orangnya hilang!" suara Sekar meninggi, penuh kebencian yang telah dipendam selama tiga puluh tahun.

Arum menatap pemantik itu, lalu beralih ke panel kontrol pemadam kebakaran (Fire Command Center) lantai 20 yang ada di sampingnya. Otak auditornya bekerja dalam hitungan mili detik. Ia melihat skema pipa gas pemadam api Halon yang menuju ke dek pendaratan helikopter di atap.

"Tidak, Sekar," Arum mendorong tangan bibinya menjauh. "Aku bukan hakim, dan aku bukan algojo. Aku adalah seorang auditor. Dan tugas seorang auditor adalah memastikan semua catatan ditutup dengan benar, bukan dibakar."

"Kau membiarkannya lolos?!"

"Siapa bilang?" Arum kembali ke laptopnya.

Ia tidak meledakkan helikopter itu. Sebaliknya, ia meretas sistem navigasi dan pendaftaran penerbangan (Flight Management System) helikopter tersebut melalui jaringan internal gedung yang terhubung ke atap.

"Mas Baskara, pegang ini," Arum memberikan ponselnya kepada suaminya. "Pastikan siaran langsung ini merekam wajah Profesor Darmono saat dia mengira dia sudah menang."

Di atap gedung, Profesor Darmono baru saja menginjakkan kaki ke dalam helikopter. Ia mengatur napasnya, menatap Jakarta dari ketinggian dengan tatapan sinis. "Kalian bisa memiliki datanya, tapi kalian tidak akan pernah memiliki kepalaku," gumamnya.

Helikopter itu mulai terangkat. Namun, alih-alih terbang menuju arah bandara, helikopter itu justru berputar di tempat. Monitor di dalam kokpit mendadak berubah menjadi merah.

"Akses Dibatalkan. Protokol Keamanan Navasari Aktif," sebuah suara mekanis muncul dari interkom helikopter.

Di lantai 20, Arum tersenyum tipis. "Aku baru saja mengunci koordinat pendaratan helikopter itu ke halaman depan Markas Besar Kepolisian RI. Pilotmu tidak punya kendali lagi, Profesor. Sistem autopilotnya sekarang mengikuti perintahku."

Darmono berteriak di dalam kokpit, namun helikopter itu bergerak dengan presisi yang menakutkan, perlahan menjauh dari perpustakaan dan terbang rendah menuju gedung kepolisian yang jaraknya hanya beberapa blok.

Tiga bulan kemudian.

Navasari kembali tenang. Namun, ketenangannya berbeda. Tidak ada lagi ketakutan di wajah warga. Balai desa kini memiliki pusat informasi digital di mana setiap warga bisa memantau aliran dana BUMDes melalui aplikasi yang dirancang oleh Arum.

Arum duduk di teras rumah dinas, memandangi matahari terbenam. Map merah itu kini sudah berada di museum sejarah desa sebagai pengingat. Profesor Darmono, Siska, dan Kolonel Baskoro sedang menjalani proses hukum yang panjang.

"Rum," Baskara datang membawa dua cangkir kopi. "Ada surat dari Jakarta."

Arum membukanya. Itu adalah tawaran untuk menjadi Kepala Dewan Pengawas Keuangan Negara. Jabatan yang sangat tinggi untuk seseorang yang baru saja mengguncang stabilitas politik bangsa.

"Kamu ambil?" tanya Baskara.

Arum melihat ke arah sumur tua yang kini telah disulap menjadi monumen peringatan yang indah. Ia melihat Marno dan para pemuda desa sedang belajar menggunakan alat ukur kadar mineral ramah lingkungan.

"Mas, audit di Jakarta itu membosankan. Isinya cuma angka-angka palsu yang dibungkus jas mahal," Arum menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Di sini, aku melihat hasil auditku setiap hari. Di senyum warga, di sawah yang hijau, dan di mata suamiku yang cerdik."

Arum merobek surat tawaran itu dan membiarkannya terbang ditiup angin Navasari.

"Lagi pula," sambung Arum dengan senyum misterius. "Aku baru saja menemukan selisih dana di laporan pembangunan jembatan kabupaten sebelah. Sepertinya mereka butuh 'kunjungan' dari Istri Pak Kades."

Baskara tertawa lepas. "Kasihan sekali mereka. Mereka tidak tahu siapa yang akan datang."

Navasari tidak lagi hanya sebuah titik di peta. Navasari adalah sebuah simbol bahwa di tangan orang yang cerdik dan jujur, selembar kertas bisa mengalahkan senapan, dan sebuah kejujuran bisa meruntuhkan kerajaan kebohongan.

Arum menatap layar laptopnya yang menunjukkan ikon helikopter Profesor Darmono bergerak perlahan di peta digital, dipaksa oleh protokol autopilot menuju koordinat yang telah ia kunci. Di sampingnya, Sekar masih terengah-engah, matanya yang penuh luka menatap tidak percaya ke arah langit.

"Kau membiarkannya hidup," desis Sekar. "Setelah semua yang dia lakukan pada ibumu... pada wajahku... kau membiarkannya hanya dipenjara?"

Arum menutup laptopnya dengan tenang. "Kematian adalah akhir dari sebuah audit, Sekar. Tapi penjara? Penjara adalah proses audit yang berjalan selamanya. Dia akan dipaksa melihat setiap angka kejahatannya dibedah satu per satu di depan pengadilan. Bagi orang seperti Darmono, kehilangan nama baik jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawa."

Baskara memegang bahu Arum, memberikan kekuatan. "Kita harus turun sekarang, Rum. Polisi sudah mengamankan lantai dasar."

Tiga Bulan Kemudian: Navasari yang Baru

Pagi di Navasari kini tidak lagi diselimuti kabut ketakutan. Menara desa yang dulunya terbakar kini telah dibangun kembali, bukan lagi sebagai gudang kertas tua, melainkan sebagai Pusat Digital Navasari.

Arum berdiri di teras rumah dinas, menyesap teh hangatnya. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan sistem manajemen transparan milik desa.

"Mas, lihat ini," Arum menunjukkan layar itu pada Baskara. "Dividen dari hasil pengelolaan mineral ramah lingkungan bulan ini sudah otomatis masuk ke rekening pendidikan anak-anak desa. Tidak ada satu rupiah pun yang mampir ke kantong pribadi pejabat."

Baskara tersenyum, ia baru saja pulang dari sawah dengan pakaian yang masih sedikit berlumpur. "Warga masih tidak percaya mereka bisa kuliah gratis hanya karena 'batu biru' di dasar sumur itu, Rum. Mereka bilang Pak Kades punya istri penyihir angka."

"Bukan penyihir, Mas. Hanya auditor yang teliti," canda Arum.

Kehidupan di Jakarta kini terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh. Profesor Darmono telah dijatuhi hukuman seumur hidup setelah Arum membedah seluruh skema pencucian uangnya di persidangan yang disiarkan secara nasional. Siska, melalui bantuan pengacara, mencoba mengajukan banding, namun data digital yang diselamatkan Arum terlalu kuat untuk dipatahkan.

Tiba-tiba, Marno datang dengan berlari kecil, membawa sebuah map kuning. "Bu Kades! Ada surat dari kantor Gubernur!"

Arum membukanya. Itu adalah surat undangan untuk menjadikan Navasari sebagai percontohan nasional "Desa Integritas".

"Kamu mau datang?" tanya Baskara.

Arum melihat ke arah bukit Navasari yang hijau, lalu ke arah warga yang sedang bergotong royong. Ia teringat ibunya, Ratna, yang mengorbankan segalanya agar hari ini bisa terjadi.

"Kirimkan saja akses link Zoom-nya, Marno," ujar Arum sambil tersenyum. "Bilang pada mereka, Istri Pak Kades sedang sibuk melakukan audit untuk proyek jembatan baru di dusun seberang. Aku tidak mau ada satu sen pun semen yang dikurangi di sana."

Baskara tertawa dan merangkul Arum. Mereka berdiri di sana, di tanah yang dulu ingin ditenggelamkan oleh keserakahan, namun kini justru berdiri tegak karena kecerdikan. Arum telah membuktikan bahwa di dunia yang penuh dengan angka-angka palsu, kejujuran adalah satu-satunya aset yang nilainya tidak akan pernah menyusut.

Navasari kini bukan lagi desa yang tersembunyi. Ia adalah mercusuar kebenaran di tengah badai korupsi. Dan selama Arum ada di sana, tidak akan ada satu pun "setan" kota yang berani mencoba mengutak-atik angka di tanah para petani itu.

1
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!