Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat
Tok ... Tok ... Tok
"Non!" panggil mbok Sarah sambil mengetuk pintu kamar Candy.
Sejak siang wanita paruh baya itu mondar-mandir memanggil nona mudanya. Namun pintu itu tetap diam seperti kuburan. Sekarang sudah pukul delapan malam, dan rasa khawatirnya makin menjadi-jadi.
Kali ini Mbok Sarah bertekad: pintu itu harus terbuka. Apa pun yang terjadi.
"Non! Non Candy! Ini mbok," panggil mbok Sarah tak gentar sambil mengetuk pintu kamar. Kali ini lebih kuat hingga buku jarinya memerah.
Tetap tak ada jawaban.
"Apa didobrak aja, ya..." gumamnya gelisah.
Mbok Sarah meletakkan nampan makan malam di lantai. Wanita paruh baya itu menggosok kedua telapak tangannya seperti seorang pendekar yang siap bertarung. Dia yakin dengan bobot tubuhnya yang gempal pasti tersimpan kekuatan yang dahsyat.
"Satu... dua... tiga!" seru mbok Sarah sambil menghantamkan tubuhnya ke pintu.
Bruk
"Alamak, Jan! Sakit rupanya," mbok Sarah meringis sambil mengusap bahu kanannya yang sepertinya retak.
Matanya langsung berkaca-kaca — bukan haru, tapi perihnya benar-benar menusuk.
Sementara itu, pintu kayu kokoh di depannya tetap berdiri angkuh, seolah mengejek.
"Edan emang..." gerutunya. "Di film-film ngga pernah bilang kalo dobrak pintu itu bikin encok. Tau gitu aku ngga usah gaya-gaya," oceh mbok Sarah.
"Aduh, non. Ngga kasian ta sama mbok? Bukain dong pintunya, non," keluh mbok Sarah sambil menyandarkan hampir seluruh berat tubuhnya ke daun pintu.
Klik.
Bruk!
Begitu pintu terbuka, tubuh mbok Sarah langsung ambruk ke dalam kamar. Candy refleks menepi, karena tak menduga mbok Sarah bersandar di sana. Tak pelak, tubuh bulat mbok Sarah mendarat mulus—atau lebih tepatnya gagal mulus—di atas lantai marmer yang dingin.
"Alamak, Jan! Mimpi apa aku tadi malam..." erangnya sambil meringis, tangan memegangi pinggulnya.
"Ya ampun, mbok!" Candy buru-buru berlutut, membantu wanita paruh baya itu duduk tegak. "Candy ngga tau mbok nyender di pintu, maaf ya mbok..."
"Ngga apa-apa non," jawab mbok Sarah sambil berusaha tersenyum walau wajahnya menahan nyeri. "Yang penting mbok masih hidup."
Candy ikut tersenyum nyaris tertawa meski wajahnya sembab.
"Mbok bawain makan malam. Non tadi cuma sarapan aja. Nanti non sakit. Mbok letakkan di luar," kata mbok Sarah lembut.
"Makasih, Mbok."
Candy bangkit mengambil nampan di luar, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia memilih duduk di lantai bersama mbok Sarah—tempat yang sama di mana wanita itu baru saja ‘mendarat’. Wajah Candy tampak jelas habis menangis.
Mbok Sarah memperhatikan itu diam-diam. Ia menahan diri beberapa detik sebelum akhirnya bertanya dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Non… sedih lagi, ya?"
Candy menunduk, jari-jarinya meremas ujung piyamanya. "Candy cuma… pusing, Mbok. Banyak banget yang datang tiba-tiba hari ini."
Mbok Sarah mendecak pelan, tapi nadanya penuh sayang. "Ya iyalah pusing. Baru tadi pagi dikasih kabar mau dilamar, sore pas lamaran udah disuruh siap-siap nikah bulan depan. Siapa yang ngga syok? Mbok aja kalo digituin bisa pingsan."
"Oh, jadi tadi sore udah lamaran, mbok?"
"Iyes non," mbok Sarah mengangguk cepat.
Candy tertawa sinis. "Kayak dikejar setan kredit yang jatuh tempo seminggu lalu aja."
"Emangnya ada setan kredit yang berani ngejar mamak Kunti?" celetuk mbok Sarah. "Apalagi emak kunti yang namanya Ranti. Baru mau nagih, kepalanya udah melayang," timpal mbok Sarah.
Candy mengusap matanya. Senyum kecil akhirnya muncul. "Mbok lucu banget."
"Ya harus lucu, biar Non ngga makin mewek," jawab mbok Sarah sambil merapikan rambut Candy yang berantakan. "Non masih muda. Masih punya banyak pilihan. Jangan mau hidup Non diatur sama orang lain."
Candy terdiam. Dadanya sesak, tapi hangat oleh kata-kata itu.
"Mbok…" ia menatap wanita yang sudah mengasuhnya sejak kecil, "…boleh aku cerita?"
Mbok Sarah menepuk paha gempalnya. "Sini. Cerita yang banyak. Kalo perlu sampai Subuh pun Mbok siap. Asal jangan dipendem sendiri."
Candy akhirnya memilih bersandar di bahu mbok Sarah, untuk pertama kalinya malam itu ia merasa aman.
Namun belum jejak kepalanya, mbok Sarah gegas menahannya.
"Eits, bentar non! Ceritanya sambil mbok suapin, ya," ucapnya sambil mengambil sepiring nasi yang sudah penuh dengan aneka lauk pauk.
Candy mengangguk setuju. Sudah lama dia tidak disuapi oleh mbok Sarah. Terakhir, dua bulan yang lalu saat Candy sakit.
Sebenarnya dari kecil mbok Sarah tidak mengijinkan Candy makan sambil bicara, tapi untuk kasus yang satu ini, mbok Sarah memberi pengecualian.
"Jadi mbok, aku tuh udah siapin semuanya. Setelah kelulusan Minggu depan, aku mau hidup mandiri. Eh, ngga taunya malah disuruh kawin."
"Lho, emangnya non mau kemana?"
"Masih di sekitaran Jakarta juga sih. Intinya aku mau keluar dari sini."
"Oh, maksudnya non cuma mau pindah rumah aja?" tanya mbok Sarah memastikan.
"Iya mbok."
"Kalo gitu mbok ikut non, ya."
"Emang mbok mau tinggal di kos-kosan kecil sama aku?"
"Ya maulah. Badan mbok kan kecil. Muat kok kalo tinggal sekamar sama non," ucap mbok Sarah percaya diri.
Candy tertawa sambil memutar bola matanya.
"Eh, mbok!" teriak Candy tiba-tiba sambil duduk tegak.
"Alamak, Jan! Si Non bikin kaget aja," ucap mbok Sarah sambil menepuk pelan paha Candy. "Kenapa lagi non?"
"Mbok ikut aku aja."
"Kemana non?"
"Nanti setelah nikah... aku pasti ikut suami. Mbok ikut aku ke sana."
"Hmm, pasti ngga diizinin sama emak kunti, non."
"Bukannya tadi mbok bilang mau ikut aku?"
Mbok Sarah tersenyum simpul, "Itu beda non. Yang rencana non itu kan kabur. Nah, kalo ini terang-terangan," kata mbok Sarah mantap.
Candy sampai menatap kosong beberapa detik.
"Iya juga sih." Candy mengangguk pelan. "Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun terakhir, mbok."
"Yang mana, non?" tanya Mbok Sarah sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut Candy.
Candy menerimanya, mengunyah sebentar, lalu menelannya. Setelah itu barulah ia melanjutkan,
"Waktu SMP, aku pernah kabur dari rumah. Belum setengah jam, udah ketangkep sama Tante Ranti."
"Yaela, non. Gimana ngga ketangkep," sahut Mbok Sarah. "Orang kaburnya terang-terangan lewat pintu depan. Jadinya malah kejar-kejaran sama Mang Jaja kan. Terus ketangkep di ujung jalan. Dibawa pulang dah sama mang Jaja."
Candy terdiam sejenak.
"Terus yang kedua," lanjutnya pelan, "aku udah sempat kabur beneran. Eh, malah dibalikin lagi sama Papa."
"Kan itu non sembunyinya di bagasi mobil tuan," kata Mbok Sarah. "Kalo Mbok ngga salah inget, pas banget tuan mau dinas ke luar kota. Begitu sampe bandara pas mau ambil koper malah ketemu non. Gimana coba ngga dibalikin lagi ke rumah sama tuan."
Candy memijat dahinya. Semakin ia mengingat kejadian-kejadian itu, kepalanya justru makin terasa nyut-nyutan. Ternyata dulu ia sebodoh itu.
"Makanya aku ngga mau kabur lagi, mbok," lanjutnya. "Aku bakal bicara sama Papa," ucap Candy akhirnya, tersenyum tipis. "Mbok tenang aja."
"Mbok nurut aja. Dah sekarang makan dulu. Aaa!" mbok Sarah menyuapinya lagi.
Candy menurut. Setidaknya ada satu hal yang pasti nanti: Mbok Sarah akan terus bersamanya.
Setelah tahu akan dinikahkan, Candy berpikir keras. Otaknya dipaksa untuk merenung dan berpikir hingga dia menemukan satu jawaban yang mungkin benar.
Menikah bukan masalah besar. Bisa jadi, ini menjadi langkah awal baginya untuk keluar dari rumah. Bukan rumahnya yang salah, tapi orang yang berada di dalam rumah itu.
Masalah utamanya, dia tidak tahu siapa calon suaminya nanti. Yang dia tahu hanya keluarga terpandang dan kaya raya. Di saat begini, dia malah merutuki kebodohannya dalam hati. Jika saja tadi dia tidak tertidur, dia pasti tau siapa calon suaminya.
Usai makan, Candy mantap menuju kamar papanya. Saat melangkah ke ujung lorong, Candy berhenti sejenak.
Lampu kamar Papa masih menyala. Dari balik pintu, terdengar suara televisi—dan suara lain yang membuat perut Candy mengencang.
Suara tawa pendek. Dingin.
Candy sudah hafal suara itu.
Ia berjalan dengan langkah tegap dengan tangan terkepal di samping. Tepat di depan pintu, ia mengetuk dua kali; langsung dibuka.
"Candy?" Adrian terlihat terkejut.
"Aku punya satu syarat, pa," ucap Candy tanpa ragu.
Tatapannya tajam hingga membuat Adrian tak mampu menatapnya lama.
Ranti yang sudah siap tidur langsung ikut berdiri di samping suaminya.
"Sayang, semuanya sudah diatur ..." Ranti bersuara.
Candy memotong cepat, malas mendengar ocehan Mak Kunti.
"Kalo gitu aku berhak untuk menolak menikah. Apalagi semuanya soal kerjasama papa dan nama keluarga. Candy ngga peduli," tegas Candy.
Mata Ranti membulat saking terkejutnya. Gadis itu semakin berani membantah ucapannya. Sedangkan Adrian menatap Candy dengan tatapan bersalah.
Candy memandang Ranti tanpa gentar, rahangnya mengeras.