Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasir 7-Eleven
Cowok botak berseragam itu menatapku dari balik bahu pamanku. Matanya berbinar geli waktu melihatku berdiri di sini. Dia besar. Dan jelek. Walau enggak terlalu jelas, aku tahu badannya penuh otot.
Dialah orang yang dikirim rumah sakit jiwa untuk menjemputku.
"Enggak!" pikirku sambil menggeleng pelan ke arahnya.
“Masuk,” kata pamanku.
Panik langsung menyerbu dadaku.
Aku menengok ke Tante. Dia tampak lega. Aku mungkin benci Tante dan pamanku, tapi merekalah satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia. Dan mereka … lega untuk mengurungku.
Aku langsung putar badan dan lari ke pintu belakang, menyambar kunci mobilku. Semuanya terasa makin mendesak. Aku memutari rumah, lompat ke mobil, dan langsung tancap gas, enggak peduli apakah polisi atau raksasa itu mengejarku.
"Lari," kataku ke diri sendiri. "Lari aja."
Jari-jariku menyalakan radio dan naikkan volumenya keras banget sampai pikiran-pikiran itu lenyap.
Tiga puluh menit kemudian, aku belok dari jalan dan parkir di depan 7-eleven.
Jantungku berdegup kencang. Langit sudah gelap gulita, bintang hampir enggak kelihatan. Dan di situlah semua pikiran yang tadi aku tekan muncul lagi.
Darah.
Taring.
Kekuatan.
Otakku malah membuat kesimpulan yang absurd. Tapi vampir itu enggak mungkin nyata, kan?
Orang-orang keluar masuk 7-Eleven, minum atau mengunyah camilannya sebelum balik ke mobil mereka. Mulutku kering. Lapar menggerogoti perutku. Gusiku juga gatal.
Dan rasanya … aneh.
Makan itu terasa seperti beban untuk aku, dan makanan di sini enggak pernah enak. Yang enak cuma darahnya Darcel.
Pikiran itu berputar di kepalaku, campur sama pikiran-pikiran lain yang sudah naik ke permukaan.
Ember-ember darah.
Minum darah.
Pembunuhan.
Apa mungkin Darcel benaran vampir?
Aku masuk ke toko sambil pegang segenggam uang kertas kusut dan koin-koin yang aku ambil dari mobil. Mataku langsung mengarah ke mesin es serut. Sedikit gula dan es mungkin bisa menolong.
Jauh lebih mending daripada harus memaksa mengunyah keripik kentang yang renyah dan asin itu.
Ya Tuhan, keripik itu menjijikkan.
Beberapa detik kemudian, aku menunjuk ke gelas warna-warni di meja kasir. Cowok di balik meja itu melihat gelasnya dengan ekspresi datar, menekan tombol di layar mesin kasir, lalu menyebutkan angka.
Ada sesuatu yang anehnya menarik dari cowok itu. Aku enggak tahu apa. Dia enggak ganteng, enggak seksi, enggak tegap, atau apa pun yang biasanya dianggap menarik. Dia cuma cowok yang kelihatan butuh mandi. Rambut berminyak, kulit jelek, lingkar hitam di bawah mata.
Tapi lehernya …
Lekukannya bagus. Dan aku suka melihat arteri di lehernya berdenyut mendorong darah.
Detak jantungku mengebut, makin lama makin keras. Aku bolak-balik uang kembalian di tanganku, mainkan koinnya. Jari kami sempat bersentuhan waktu aku taruh uang itu di tangannya.
Bau badannya enggak enak, samar-samar masih tercium bau keringat. Tapi entah kenapa, aku malah condong ke depan dan tarik napas dalam-dalam, sementara perutku bunyi keroncongan.
Perhatiannya balik ke aku pas perutku bunyi, dan alisnya terangkat.
“Mau struk?” tanyanya. Dan di saat itu, aku mulai berpikir sebenarnya aku sedang apa, sih?
“Nggak, makasih,” jawabku sambil mengambil minuman itu.
Di pintu keluar aku sempat menabrak seseorang, dan aku bisa dengar degup jantungnya.
Aku masuk mobil dan tutup pintu, memperhatikan orang-orang keluar-masuk toko sambil minum. Rasanya manis banget, tapi anehnya aku malah merasa makin haus dan lapar. Lapar banget.
Jari-jariku menekan gigiku sendiri, mencoba merasakan, apa taring aku jadi lebih panjang dan lebih tajam?
Apa yang aku pikirkan ini benar?
Bayangan taringnya yang panjang muncul lagi di kepalaku. Dia yang mengerang waktu aku minum. Rasa panas yang merambat di pembuluh darahku.
Seumur hidup, aku enggak pernah mengalami halusinasi seperti ini.
“Ugh,” erangku sambil mematok kepalaku pelan-pelan ke setir berulang kali, sampai klakson mobil berbunyi lirih.
Ini gila.
Aku pasti gila.
Dan mungkin itu artinya aku enggak seharusnya terlalu percaya sama kesimpulan ini, tapi … ya, aku memang gila.
“Apa aku sekarang jadi vampir?” gumamku sambil mengangkat kepala.
Dan saat itulah aku sadar, kasir 7-Eleven itu sudah mati. Bukan cuma diam dan enggak bergerak … tapi benaran mati.
Cowok menjijikkan yang tadi aku cium baunya sudah tergeletak di atas meja, berenang di genangan darah, mata dan mulutnya terbuka lebar.
Orang yang aku tabrak saat keluar tadi juga tergeletak di jalan, darahnya menyebar luas. Aku pun menengok sekeliling, dua mayat lain di dekat pompa bensin.
“Anjing,” bisikku, akhirnya bisa menerima kalau semua ini nyata.
Dan aku baru saja bikin marah Vampir pembunuh itu.
Tanganku buru-buru mencari kunci, tapi pintu penumpang terbuka di saat yang bersamaan.
Dan tentu saja … Darcel.
Dia duduk pelan di kursi sebelahku, wajahnya datar. Penampilannya hampir sama seperti semalam. Kemeja berkancing, celana bahan. Sarung tangan kulit. Pisau di tangan. Masih berlumuran darah ... darah segar dari mayat-mayat yang berserakan di sekitar kami.