Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The actions of Freya's parents
Berita besar yang meledak di gala Waldorf Astoria tidak hanya sampai ke telinga Kakek Alan, tetapi juga menghantam kediaman pribadi orang tua Freya, Joice Rodriguez dan Anne Rodriguez.
Meskipun di depan publik keluarga ini selalu tampak sebagai satu kesatuan yang tak tergoyahkan, di dalam dinding rumah mereka, setiap anggota memiliki dinamika emosional yang berbeda.
Pagi itu, di ruang sarapan yang biasanya tenang dengan pemandangan taman bunga tulip yang rapi, suasana terasa mencekam. Anne duduk di kursi makan dengan iPad di tangannya, sementara Joice berdiri di dekat jendela, menatap kosong ke arah jalanan Manhattan dengan ponsel yang terus berdering di saku jasnya.
Antara Ibu dan Sosialita
Anne Rodriguez, seorang wanita yang menghabiskan seluruh hidupnya menjaga citra keluarga di kalangan elit New York, merasa dunianya seolah jungkir balik. Di layar iPad-nya, foto Freya yang berdiri tegak di depan mikrofon menjadi tajuk utama.
"Joice, kau lihat ini?" suara Anne bergetar, bukan hanya karena marah, tapi karena rasa cemas yang mendalam. "Putri kita... dia mengungkapkannya. Semuanya. Pernikahan rahasia itu, anak laki-laki itu. Dante Valerius benar-benar menyeret nama kita ke lumpur semalam."
Anne meletakkan iPad-nya dengan tangan gemetar. Sebagai seorang ibu, ia merasa hancur karena Freya tidak membagi beban ini dengannya sebelumnya. Namun sebagai seorang sosialita, ia bisa membayangkan teleponnya akan dibanjiri oleh pertanyaan-pertanyaan sinis dari rekan-rekan yayasannya.
"Mengapa dia tidak bicara pada kita?" tanya Anne lagi, menatap suaminya. "Kita bisa membantunya menyusun strategi. Sekarang, seluruh dunia tahu Pablo Xander punya anak haram dan putri kita menikahinya secara sembunyi-sembunyi!"
Joice berbalik. Wajahnya merah padam, dan matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh amarah. Namun, kemarahan Joice bukan ditujukan kepada Freya, melainkan kepada dua orang. Dante Valerius yang berani mempermalukan putrinya, dan Pablo Xander yang ia anggap gagal melindungi privasi keluarganya.
"Dante sudah melampaui batas," desis Joice. Ia membanting ponselnya ke atas meja kayu ek. "Dia pikir dia bisa menggunakan rahasia domestik untuk menjatuhkan harga saham kita? Dia meremehkan siapa Freya Rodriguez sebenarnya."
Joice berjalan mendekati istrinya. "Anne, berhentilah mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan teman-teman arisanmu. Putri kita baru saja melakukan manuver yang paling berani dalam sejarah keluarga ini. Dia tidak menunggu untuk dihancurkan; dia menyerang lebih dulu."
"Tapi Joice, anak itu... Nael," sela Anne. "Kita sekarang punya cucu angkat yang kemunculannya seperti hantu. Bagaimana kita menjelaskannya pada publik?"
"Anak itu adalah bagian dari Pablo, dan Pablo adalah suami Freya sekarang," jawab Joice dengan nada final. "Jika Freya sudah memutuskan hal ini, kita harus mendukungnya. Titik."
Anne terdiam. Ia teringat kembali saat Freya masih kecil, betapa keras kepalanya gadis itu jika sudah meyakini sesuatu. Ia menyadari bahwa Freya mewarisi sifat pantang menyerah dari Daddynya.
"Aku hanya takut, Joice," bisik Anne. "Dunia bisnis ini kejam. Pablo punya banyak musuh. Dengan mengakui Nael secara terbuka, Freya telah menaruh target di punggungnya sendiri."
Joice duduk di samping istrinya, menggenggam tangannya. "Itulah sebabnya kita harus berdiri di belakang mereka. Aku akan memerintahkan tim keamanan kita untuk memperketat penjagaan di sekitar mansion Pablo. Dan Anne... aku ingin kau mengatur sebuah acara makan siang kecil.
Undang orang-orang paling berpengaruh. Tunjukkan pada mereka bahwa kita bangga. Jangan biarkan mereka melihat setitik pun keraguan di wajahmu."
Panggilan Telepon yang Menentukan
Di tengah perdebatan itu, ponsel Joice kembali berbunyi. Kali ini, ID penelepon menunjukkan nama: Freya.
Joice segera mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.
"Daddy? Mommy?" suara Freya terdengar dari seberang sana, terdengar lelah namun tetap teguh.
"Freya," Anne langsung menyambar, "Sayang, apa yang kau pikirkan? Semalam itu benar-benar gila! Kau baik-baik saja? Di mana Nael?"
"Aku baik-baik saja, Bu. Nael sedang sarapan dengan Pablo. Aku tahu kalian pasti terkejut dengan apa yang terjadi di gala," ucap Freya pelan.
Joice berdeham, berusaha menahan emosinya agar tetap terdengar berwibawa. "Kau melakukan apa yang harus dilakukan, Freya. Meskipun aku berharap kau memberitahu kami lebih awal sebelum bom itu meledak."
"Maafkan aku, Daddy. Segalanya terjadi begitu cepat. Dante memojokkan kami, dan aku tidak punya pilihan selain menghancurkan kartu as-nya. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan akan pemerasan."
Mendengar kejujuran putrinya, amarah Joice sedikit mencair. "Dante sedang berurusan dengan Kakek Alan sekarang. Kau tahu kakekmu tidak suka jika investasinya diusik oleh skandal murahan. Tapi kau, Freya... Daddy bangga padamu. Kau menunjukkan bahwa seorang Rodriguez tidak pernah bisa didikte."
Anne mengambil ponsel dari tangan Joice. "Freya, Mommy ingin bicara. Tentang Nael... Mommy ingin dia datang ke rumah akhir pekan ini. Jika dunia menganggapnya cucu kami, maka Mommy harus memastikan dia mendapatkan segala kemewahan yang layak didapatkan oleh seorang Rodriguez. Mommy sudah memesan beberapa set pakaian baru dan mengatur ulang salah satu kamar tamu untuknya."
Di seberang sana, terdengar isak tangis kecil dari Freya. "Terima kasih, Mommy. Itu sangat berarti bagiku. Aku terharu karena dukungan kalian semua."
"Katakan pada suamimu yang keras kepala itu," sahut Joice dengan nada bercanda yang tajam, "bahwa jika dia berani membiarkan hal seperti ini terjadi lagi tanpa koordinasi denganku, aku sendiri yang akan menyeretnya keluar dari kantornya. Tapi untuk sekarang... katakan padanya dia selamat."
Setelah menutup telepon, suasana di ruang sarapan berubah menjadi lebih produktif. Anne mulai mencatat daftar tamu untuk acara makan siang yang diminta Joice, sementara Joice mulai menghubungi para pemegang saham utama untuk memastikan stabilitas pasar.
"Kita akan mengubah skandal ini menjadi sebuah narasi tentang kekuatan keluarga," gumam Joice sambil merapikan jasnya.
"Dan tentang cinta," tambah Anne, sambil tersenyum tipis. "Karena sejujurnya, Joice, tidak ada wanita yang akan melakukan itu jika dia tidak sangat mencintai suaminya. Freya benar-benar jatuh cinta pada Pablo."
Joice mengangguk setuju. Ia menyadari bahwa perjodohan yang awalnya ia ragukan kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat. Pernikahan Pablo dan Freya bukan lagi sekadar merger dua perusahaan besar, melainkan benteng pertahanan bagi masa depan mereka.
Malam itu, Joice dan Anne mengirimkan sebuah karangan bunga raksasa ke mansion Xander dengan kartu ucapan sederhana namun bermakna: "Kami selalu bersamamu. Jaga cucu kami."
Reaksi Joice dan Anne menunjukkan bahwa meski awalnya dipenuhi kekhawatiran dan keterkejutan, cinta mereka kepada Freya melampaui segala ketakutan akan skandal. Mereka siap berperang di sisi putrinya, memastikan bahwa siapa pun yang mencoba menyentuh keluarga kecil Freya akan berhadapan dengan seluruh kekuatan dinasti Rodriguez yang murka.
Dante Valerius mungkin telah membuka kotak Pandora, tetapi ia tidak menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga-naga yang selama ini tertidur di keluarga Rodriguez.