NovelToon NovelToon
Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Teen School/College / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

​"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
​Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
​Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
​Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
​Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pelayan atau Istri?

Penuh wibawa yang sangat mengintimidasi, langkah kaki itu mendadak berhenti tepat di depan pintu kamar mandi sekolah menengah atas yang masih terbuka lebar. Maya dan kawan-kawan seketika mematung dengan wajah yang berubah menjadi sangat pucat pasi saat melihat sosok pria berjas hitam berdiri di sana. Pria itu bukan Xavier, melainkan orang kepercayaan sang pimpinan perusahaan yang memiliki tubuh sangat tegap dan sorot mata yang sangat dingin.

"Nona Gwenola, mobil sudah menunggu di gerbang belakang dan Anda diminta segera meninggalkan tempat ini," ucap pria tersebut dengan suara yang sangat berat.

Gwenola segera mengambil kesempatan itu untuk berlari melewati kerumunan siswi yang sedang ketakutan dan berdiri di belakang perlindungan sang pengawal. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah Maya yang nampak sangat kesal karena rencana jahatnya telah digagalkan secara mendadak. Di dalam hatinya, Gwenola merasa sangat lega sekaligus sangat cemas karena pengawasan Xavier ternyata telah masuk hingga ke dalam lingkungan sekolahnya.

"Siapa pria itu, Gwen? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan yang sangat formal seperti itu?" tanya Maya dengan nada yang penuh dengan rasa iri hati.

Gwenola tidak menjawab dan terus berjalan mengikuti langkah lebar sang pengawal menuju area parkir yang sunyi di belakang sekolah menengah atas tersebut. Ia merasa seolah dirinya sedang dikawal menuju tempat eksekusi daripada dibawa pulang menuju kediaman mewah yang nyaman. Sesampainya di depan mobil hitam yang mengkilap, pintu kabin belakang sudah terbuka seolah sedang menantinya untuk segera masuk ke dalam kegelapan.

"Apakah Tuan Xavier yang memerintahkan Anda untuk menjemput saya di jam istirahat seperti ini?" tanya Gwenola dengan suara yang sedikit parau.

Pengawal itu hanya mengangguk singkat tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan penjemputan yang sangat mendadak tersebut. Gwenola duduk di kursi belakang dengan perasaan yang sangat kacau dan dipenuhi oleh berbagai macam pikiran buruk yang menghantuinya. Mobil segera melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang berterbangan di koridor sekolah yang mulai sepi.

Setibanya di rumah mewah, Gwenola dikejutkan oleh pemandangan beberapa pelayan yang sedang sibuk menyiapkan pakaian pelayan berwarna hitam putih di atas meja ruang tamu. Xavier berdiri di dekat jendela besar sambil memandangi taman dengan kedua tangan yang tertaut di balik punggungnya yang sangat kokoh. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat asing dan dingin, jauh lebih mencekam daripada suasana di sekolah tadi pagi.

"Mulai sore ini, kau akan belajar bagaimana cara melayani pemilik rumah ini dengan sangat benar dan sangat teliti," perintah Xavier tanpa menoleh ke arah Gwenola.

Gwenola terbelalak tidak percaya saat mendengar perintah yang sangat merendahkan martabatnya sebagai seorang istri sah meski dalam ikatan rahasia. Ia menatap pakaian pelayan itu dengan rasa benci yang sangat memuncak dan ingin sekali ia merobek kain tersebut di depan wajah Xavier. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi saat ia menyadari bahwa posisinya di rumah ini mungkin tidak lebih dari seorang budak kontrak.

"Bukankah dalam perjanjian itu disebutkan bahwa aku adalah istrimu, bukan pelayan di rumah ini?" protes Gwenola dengan suara yang bergetar hebat.

Xavier berbalik dengan gerakan yang sangat tenang namun sangat mematikan bagi mental siapa pun yang menatap mata tajamnya secara langsung. Ia melangkah mendekati Gwenola lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan kekuatan yang membuat Gwenola meringis kesakitan secara mendadak. Senyum tipis yang sangat kejam menghiasi bibir pria pimpinan perusahaan yang sangat gila akan kendali tersebut.

"Kau adalah milikku, dan statusmu di rumah ini ditentukan oleh keinginanku yang bisa berubah kapan saja sesuai suasana hatiku," bisik Xavier dengan suara yang sangat rendah.

Gwenola dipaksa oleh para pelayan senior untuk masuk ke dalam kamar dan segera mengenakan seragam pelayan yang sangat ketat tersebut. Ia merasa harga dirinya hancur berkeping-keping saat melihat pantulan dirinya di cermin dengan pakaian yang sangat kontras dengan status sosialnya. Tidak ada lagi siswi sekolah menengah atas yang polos, yang ada hanyalah seorang gadis yang terperangkap dalam permainan kekuasaan pria dewasa.

"Sekarang bawakan nampan berisi teh ini ke ruang kerja pribadiku dan jangan sampai ada satu tetes pun yang tumpah," perintah seorang kepala pelayan dengan sangat tegas.

Gwenola membawa nampan perak itu dengan tangan yang sangat gemetar hingga bunyi dentingan cangkir terdengar berulang-ulang di sepanjang lorong marmer. Ia mengetuk pintu ruang kerja Xavier dengan penuh keraguan yang sangat mendalam sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma kayu cendana. Di sana, Xavier sedang duduk di balik meja kerja besarnya sambil memeriksa tumpukan dokumen yang sangat tebal.

"Letakkan di sana dan segera berlututlah untuk membersihkan sepatu kulitku yang baru saja terkena noda lumpur," ucap Xavier tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.

Gwenola merasa dunia seolah runtuh saat ia diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang sangat menghinakan tersebut di hadapan pria yang seharusnya melindunginya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya saat ia mulai berlutut di atas lantai yang sangat dingin dan sangat keras itu. Namun, di tengah kepasrahan itu, Gwenola mendengar suara keributan besar dari arah pintu depan yang disertai dengan suara teriakan seorang wanita paruh baya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!