Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan yang menyakitkan
Pagi itu, kediaman Vance terasa jauh lebih cerah. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik di ruang makan. Brixton, yang kini telah "sembuh" dari sandiwara sakitnya, benar-benar menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Ia tidak lagi berangkat ke kantor sebelum matahari terbit, dan ia tidak lagi pulang saat fajar menyingsing dengan aroma alkohol yang menyengat. Sebaliknya, ia mulai meluangkan waktu untuk duduk di meja makan bersama Alana, meski percakapan mereka masih terasa kaku dan sering kali didominasi oleh omelan kecil Alana tentang pola makan Brixton.
Brixton mulai belajar menahan diri. Ia tidak lagi memaksakan nafsunya pada Alana. Ia menyadari bahwa tubuh istrinya adalah tempat suci di mana darah dagingnya sedang tumbuh. Setiap kali ia melihat Alana berjalan dengan langkah yang mulai berat, ada rasa haru yang asing di dadanya. Ia sering kali tertangkap basah sedang menatap perut buncit Alana dengan tatapan yang mulai melembut, seolah-olah ia sedang mencoba meminta maaf kepada janin itu atas segala kekacauan yang ia ciptakan di awal kehamilan.
Namun, kedamaian yang baru saja bertunas itu hanyalah ketenangan sebelum badai besar melanda.
Sore itu, Alana sedang berada di ruang baca, mencoba menata beberapa buku tentang pengasuhan anak. Brixton sedang berada di kantornya di lantai atas, menyelesaikan beberapa dokumen penting. Sebuah kurir datang membawa sebuah kotak kayu tua yang dialamatkan secara pribadi untuk Brixton. Paket itu tidak memiliki nama pengirim, hanya tertera label: “Keadilan untuk Masa Lalu.”
Bibi Martha membawa kotak itu ke ruang kerja Brixton. Dengan dahi berkerut, Brixton membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat tumpukan surat lama, sebuah buku catatan kecil bersampul hitam, dan sebuah flashdisk.
Brixton mengambil buku catatan itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mengenali tulisan tangan di dalamnya. Itu adalah tulisan tangan Elena—mantan kekasih yang selama ini ia puja sebagai martir dalam hidupnya, alasan di balik kebenciannya kepada Alana.
Dengan tangan gemetar, ia mulai membaca lembar demi lembar. Semakin jauh ia membaca, semakin pucat wajahnya. Matanya membelalak, dan napasnya mulai tersengal-sengal.
Kebenaran yang selama ini ia percayai ternyata adalah sebuah kebohongan besar yang disusun dengan rapi. Selama ini, Brixton percaya bahwa ayahnya dan keluarga Alana adalah pihak yang memaksa Elena pergi dengan cara yang kejam, yang mengakibatkan Elena meninggal dalam kecelakaan saat mencoba melarikan diri. Namun, buku catatan itu mengungkapkan hal yang sebaliknya.
Elena tidak pernah dipaksa pergi. Ia pergi karena ia telah menerima suap besar dari pesaing bisnis keluarga Vance untuk mencuri data rahasia perusahaan dan kemudian menghilang ke luar negeri untuk hidup mewah dengan kekasih gelapnya yang lain. Kecelakaan itu terjadi bukan karena ia melarikan diri dari tekanan keluarga Brixton, melainkan karena ia mengemudi dalam keadaan mabuk bersama pria lain setelah merayakan keberhasilan pengkhianatannya.
Surat-surat di dalam kotak itu juga melampirkan bukti transfer bank yang menunjukkan bahwa keluarga Alana—yang saat itu sedang dalam kesulitan finansial—justru mencoba menutupi aib Elena demi menjaga perasaan Brixton. Ayah Alana telah membayar mahal kepada pihak kepolisian dan media agar rincian kecelakaan itu tidak dipublikasikan, agar Brixton tetap bisa mengenang Elena sebagai sosok yang baik. Keluarga Alana mengorbankan reputasi dan sisa harta mereka untuk melindungi kesehatan mental Brixton yang saat itu hancur.
Dan sebagai imbalannya, mereka hanya meminta perjodohan itu agar perusahaan mereka bisa tetap berdiri. Alana masuk ke dalam pernikahan ini bukan sebagai pemangsa, melainkan sebagai tumbal dari sebuah rahasia yang ia sendiri mungkin tidak tahu sepenuhnya, atau mungkin ia tahu tapi memilih diam untuk melindungi Brixton dari rasa sakit yang lebih besar.
"Tidak... ini tidak mungkin," bisik Brixton, suaranya parau oleh rasa ngeri. "Jadi selama ini... aku membenci orang yang salah?"
Ia merasakan gelombang mual yang luar biasa. Ia teringat setiap makian yang ia lontarkan pada Alana. Ia teringat bagaimana ia menyebut Alana sebagai parasit yang menghancurkan kebahagiaannya dengan Elena. Ia teringat tamparan di pipi Alana, pemaksaan di tempat tidur, dan pengabaian yang kejam saat Alana sedang meregang nyawa karena pendarahan.
Semua itu ia lakukan atas nama "cinta" kepada seorang wanita yang sebenarnya telah mengkhianatinya sedalam mungkin.
Brixton keluar dari ruang kerjanya dengan langkah limbung. Ia berjalan menuju ruang baca tempat Alana berada. Saat ia membuka pintu, ia melihat Alana sedang duduk di kursi goyang, tangannya sibuk merajut sambil sesekali mengusap perutnya yang besar. Wajah Alana tampak begitu tenang, memancarkan aura keibuan yang tulus.
Melihat pemandangan itu, air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari mata Brixton, akhirnya jatuh. Ia merasa seperti monster yang baru saja tersadar dari kutukan.
"Alana..." panggilnya lirih.
Alana mendongak. Ia terkejut melihat wajah suaminya yang tampak hancur. Ia segera meletakkan rajutannya dan mencoba berdiri dengan susah payah. "Brixton? Ada apa? Kau sakit lagi? Wajahmu sangat pucat."
Alana berjalan mendekati Brixton, niat baik dan kecemasannya masih tetap sama meski telah disakiti berulang kali. Ia memegang lengan Brixton. "Bicaralah padaku, apa yang terjadi?"
Brixton menatap mata hijau Alana. Ia melihat ketulusan yang selama ini ia anggap sebagai sandiwara. Ia melihat pengorbanan yang tidak pernah ia hargai.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?" suara Brixton bergetar hebat. "Kenapa kau diam saja saat aku memaki keluargamu? Kenapa kau membiarkan aku percaya bahwa Elena adalah malaikat dan kau adalah iblisnya?"
Alana membeku. Ia melirik ke arah kotak kayu yang dibawa Brixton. Ia seolah mengerti apa yang baru saja ditemukan oleh suaminya. Alana menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca.
"Karena aku tahu betapa kau sangat mencintainya, Brixton," jawab Alana pelan. "Saat itu, kau hampir kehilangan akal sehatmu karena kematiannya. Ayahku bilang, jika kau tahu kebenarannya—bahwa Elena mengkhianatimu dan mencuri hartamu—kau tidak akan bisa bertahan. Kau butuh sebuah alasan untuk tetap hidup, meskipun alasan itu adalah kebencian padaku."
"Jadi kau membiarkan dirimu disiksa olehku hanya agar aku tetap punya pegangan hidup?" Brixton berteriak frustrasi, air matanya kini mengalir deras. "Kau membiarkan aku memperlakukanmu seperti sampah selama berbulan-bulan!"
"Aku mencintaimu, Brixton," bisik Alana, air matanya ikut jatuh. "Bahkan sebelum kita dijodohkan. Aku melihatmu dari jauh sebagai pria yang hebat, namun terluka. Aku pikir, seiring berjalannya waktu, lukamu akan sembuh dan kau akan melihatku. Tapi aku tidak tahu bahwa kebencianmu akan sedalam itu."
Brixton jatuh berlutut di depan Alana. Ia memeluk pinggang Alana yang besar karena kehamilan, menyandarkan kepalanya di perut istrinya. Ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, mengeluarkan seluruh rasa sesak, rasa bersalah, dan rasa jijik pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Alana," isak Brixton. "Aku telah menjadi binatang. Aku telah menyakitimu dan anak kita. Aku tidak pantas mendapatkan maafmu. Aku tidak pantas berada di rumah ini."
Alana terdiam, tangannya yang lembut perlahan menyentuh rambut Brixton. Ia merasakannya—getaran hebat dari tubuh suaminya yang hancur. Bagian dari dirinya ingin marah, ingin berteriak bahwa semua permohonan maaf ini terlambat. Namun, saat ia merasakan gerakan bayinya di dalam kandungan, hatinya melunak.
"Berdirilah, Brixton," ucap Alana lembut.
"Tidak... biarkan aku seperti ini. Aku ingin bersujud di kakimu atas semua yang telah kulakukan."
"Jangan bicara seperti itu. Kau ayah dari anak ini," Alana membantu Brixton berdiri, meski ia sendiri merasa lemas. "Kebenaran itu memang menyakitkan, tapi sekarang semuanya sudah terbuka. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi bayang-bayang Elena di antara kita."
Brixton menatap Alana dengan penuh penyesalan. "Bagaimana kau bisa memaafkanku setelah aku membawamu ke ambang kematian? Setelah aku pergi ke bar dan tidur dengan wanita lain hanya untuk menghinamu?"
Alana tersenyum pahit. "Aku tidak bilang aku sudah memaafkanmu sepenuhnya, Brixton. Luka itu masih ada. Rasa perih saat kau menamparku, rasa takut saat kau memaksaku... itu tidak hilang hanya karena sebuah rahasia terungkap."
Alana menghela napas, menatap keluar jendela. "Tapi aku ingin anak ini memiliki ayah yang utuh. Aku ingin kau berubah bukan karena kau merasa bersalah pada masa lalu, tapi karena kau benar-benar ingin menjadi manusia yang lebih baik untuk masa depan kita."
Brixton meraih kedua tangan Alana, menciuminya berkali-kali. "Aku berjanji, Alana. Aku bersumpah demi nyawa anak ini dan nyawaku sendiri. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membayar setiap air mata yang kau jatuhkan karena aku."
Malam itu, suasana di rumah Vance benar-benar berbeda. Brixton tidak bisa melepaskan pandangannya dari Alana. Ada rasa takut yang baru di dalam dirinya—takut jika Alana tiba-tiba berubah pikiran dan meninggalkannya sekarang karena ia sudah tahu kebenarannya. Ia menyadari bahwa selama ini Alana-lah yang memegang kekuatan dalam hubungan mereka melalui kesabaran dan diamnya.
Brixton membantu Alana bersiap untuk tidur dengan penuh kehati-hatian, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia membantu melepaskan sepatu Alana, memijat kakinya yang bengkak tanpa diminta, dan memastikan bantal di punggung Alana terpasang dengan nyaman.
"Brixton, kau tidak perlu melakukan semua ini secara berlebihan," ucap Alana, merasa sedikit kikuk dengan perhatian yang tiba-tiba ini.
"Biarkan aku melakukannya, Alana. Ini adalah hal terkecil yang bisa kulakukan," jawab Brixton tulus.
Saat mereka berbaring di tempat tidur, kali ini Brixton tidak menyentuh Alana dengan nafsu. Ia hanya berbaring di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehangatan Alana. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut Alana.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tendangan kuat dari dalam.
Mata Brixton membelalak. "Dia... dia bergerak?"
Alana tersenyum, kali ini senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. "Iya. Dia sepertinya tahu ayahnya sedang ada di dekatnya."
Brixton terpaku. Merasakan gerakan kehidupan di bawah telapak tangannya membuatnya merasa sangat kecil sekaligus sangat bertanggung jawab. Air matanya kembali mengalir tanpa suara. Ia mendekatkan wajahnya ke perut Alana dan membisikkan sesuatu yang selama ini enggan ia katakan.
"Maafkan Ayah, kecil. Ayah akan menjagamu dan Ibumu. Ayah janji tidak akan ada lagi air mata di rumah ini."
Alana mengusap kepala Brixton dengan lembut. Meskipun kedamaian ini baru saja dimulai dan jalan menuju kesembuhan hati yang sebenarnya masih sangat panjang, setidaknya badai besar tentang masa lalu telah berlalu. Rahasia Elena yang selama ini menjadi racun telah terangkat, menyisakan dua jiwa yang terluka namun kini memiliki tujuan yang sama.
Namun, di balik kedamaian itu, Brixton tahu bahwa ia harus menghadapi dirinya sendiri setiap hari. Ia harus berjuang melawan rasa malunya dan ingatan tentang kekejamannya sendiri. Ia menyadari bahwa dicintai oleh Alana adalah sebuah anugerah yang tidak seharusnya ia dapatkan, dan ia tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi.
Kediaman Vance kini bukan lagi sebuah penjara emas. Meskipun masih ada gema kesedihan di setiap sudut ruangannya, ada juga harapan baru yang mulai bernapas. Sumpah di atas luka itu kini sedang diuji—bukan lagi dengan kebencian, melainkan dengan penebusan dosa yang tulus.