NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI YANG MENENTUKAN

Mentari pagi menyinari hutan di mana Qinara dan Pak Santoso berlindung. Dia bangun dengan rasa nyeri di punggung dan perut yang keroncongan. Malam sebelumnya telah terasa begitu panjang dan dingin, dan dia tidak bisa tidur lebih dari beberapa jam.

Pak Santoso sudah bangun, sedang memasak air di api unggun yang dia buat. Dia melihat Qinara dan menyenyum lemah. "Nak, bangun sudah? Ini ada air hangat untukmu. Dan aku menemukan beberapa buah liar di dekat sungai."

Qinara mengangguk dan mendekati dia. Dia minum air hangat dan memakan buah liar yang manis. Meskipun sederhana, itu adalah makanan yang paling enak yang dia makan selama beberapa hari.

"Pak, apa yang kita lakukan sekarang? Kita kehilangan semua bukti. Kita tidak punya apa-apa lagi," kata Qinara dengan suara putus asa.

Pak Santoso menghela napas. "Kita tidak kehilangan semuanya, Nak. Kita masih punya Pak Slamet, saksi yang melihat kecelakaan itu. Dan kita masih punya Pak Rio. Dia pasti sudah menyimpan sebagian bukti sebelum Arman tiba. Kita hanya perlu menemukan cara untuk menghubunginya lagi."

"Tapi bagaimana, Pak? Kita tidak punya telepon. Kita tidak tahu di mana dia berada," jawab Qinara.

"Kita akan pergi ke kota terdekat. Di sana, ada warung telepon yang kita bisa gunakan. Aku akan mencoba menghubungi Pak Rio dan bertanya apa yang terjadi," kata Pak Santoso.

Mereka membersihkan perkemahan dan melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan selama beberapa jam, melalui hutan dan ladang. Qinara lelah, tapi dia tidak berani mengatakannya—dia tahu bahwa Pak Santoso juga lelah, tapi dia tetap kuat untuknya.

Ketika mereka tiba di kota terdekat, yang bernama Cianjur, mereka langsung pergi ke warung telepon yang terletak di pinggir jalan. Pak Santoso meminta izin kepada pemilik warung untuk menggunakan telepon, dan kemudian memutar nomor Pak Rio.

Qinara menunggu dengan hati yang berdebar kencang. Setiap detik tunggu terasa seperti abad. Akhirnya, telepon di sisi lain diangkat.

"Halo? Siapa ini?" suara Pak Rio terdengar dari telepon.

"Pak Rio, ini Pak Santoso. Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi setelah kita melarikan diri?" tanya Pak Santoso.

"Santoso! Aku baik-baik saja. Terima kasih tanya. Arman dan pengawalnya pergi setelah beberapa saat. Mereka mengambil semua bukti yang ada di rumah Joko, tapi aku berhasil menyembunyikan surat wasiat dan nomor telepon Pak Slamet. Mereka tidak menemukan itu!" kata Pak Rio dengan suara penuh kegembiraan.

Qinara merasa lega. Semua harapan tidak hilang. Ada sesuatu yang tersisa yang bisa mereka gunakan.

"Baiklah, Pak. Aku dan Qinara ada di Cianjur. Kamu bisa datang ke sini? Kita perlu berbicara tentang langkah selanjutnya," kata Pak Santoso.

"Ya, tentu. Aku akan datang secepat mungkin. Tapi kamu harus berhati-hati. Arman pasti sedang mencari kamu keduanya. Jangan tinggal di satu tempat terlalu lama," jawab Pak Rio.

Mereka menutup telepon dan pergi ke penginapan sederhana di dekat sana. Pak Santoso menyewa kamar kecil untuk satu malam, dan mereka beristirahat sambil menunggu Pak Rio.

Qinara duduk di kasur, memikirkan semua yang terjadi. Dia merasa bersyukur bahwa Pak Rio berhasil menyimpan surat wasiat dan nomor telepon Pak Slamet. Ini adalah bukti terakhir yang mereka miliki, dan mereka harus memanfaatkannya dengan baik.

Setengah hari kemudian, Pak Rio tiba dengan mobilnya. Dia menyambut Qinara dan Pak Santoso dengan senyum ramah. "Aku senang melihat kamu keduanya baik-baik saja. Aku khawatir sekali setelah Arman pergi," ucapnya.

Mereka masuk ke kamar dan mulai berbicara. Pak Rio menunjukkan surat wasiat dan nomor telepon Pak Slamet yang dia simpan. "Ini adalah bukti terakhir yang kita miliki, Qinara. Kita harus menggunakan ini untuk membuktikan kejahatan Arman dan Laras. Tapi kita tidak bisa melakukannya di Jakarta. Mereka memiliki terlalu banyak kekuasaan di sana. Kita harus pergi ke Bandung, ke pengadilan yang berbeda. Di sana, kita punya peluang lebih besar untuk menang."

Qinara mengangguk. "Aku siap, Pak. Aku akan pergi ke mana saja yang perlu kita pergi. Asalkan kita bisa mendapatkan keadilan untuk ayahku."

Pak Rio mengangguk puas. "Baiklah. Kita akan pergi ke Bandung besok pagi. Tapi kita harus berhati-hati. Arman pasti sedang mencari kita, dan dia akan melakukan apa saja untuk menghentikan kita."

Mereka beristirahat malam itu, menyiapkan diri untuk perjalanan ke Bandung esok pagi. Qinara tidak bisa tidur, memikirkan hari yang akan datang. Ini adalah hari yang menentukan dalam hidupnya—hari di mana semuanya akan berakhir, baik dengan kemenangan atau kekalahan.

Keesokan harinya, mereka berangkat ke Bandung dengan mobil Pak Rio. Perjalanan terasa panjang, tapi Qinara tidak merasa bosan. Dia hanya memikirkan ayahnya dan keadilan yang dia cari.

Ketika tiba di Bandung, mereka langsung pergi ke kantor pengadilan. Pak Rio telah menghubungi jaksa penuntut umum di sana, yang bersedia mendengar kasus mereka. Mereka memasuki kantor jaksa penuntut umum, yang bernama Pak Adi, dan menceritakan semua yang terjadi.

Pak Adi mendengar dengan seksama, matanya semakin serius. Ketika mereka selesai bercerita, dia melihat surat wasiat dan nomor telepon Pak Slamet. "Ini adalah bukti yang kuat, tapi kita masih butuh lebih banyak. Kita butuh kesaksian Pak Slamet, yang melihat kecelakaan itu. Dan kita butuh rekaman CCTV dari lokasi kecelakaan. Tanpa itu, kita tidak bisa membuktikan bahwa kecelakaan itu disengaja."

"Kita bisa menghubungi Pak Slamet, Pak. Dia bersedia bersaksi," kata Qinara.

Pak Adi mengangguk. "Baiklah. Hubungi dia sekarang. Kita perlu membawanya ke sini untuk memberikan kesaksian."

Pak Rio memutar nomor telepon Pak Slamet. Setelah beberapa saat, telepon di sisi lain diangkat. "Halo? Siapa ini?" suara Pak Slamet terdengar.

"Pak Slamet, ini Pak Rio, pengacara Hadian. Kamu ingat aku? Aku ingin bertanya apakah kamu bersedia bersaksi di pengadilan tentang kecelakaan yang kamu lihat beberapa minggu yang lalu. Kita perlu bukti untuk membuktikan kejahatan Arman dan Laras."

Pak Slamet menghela napas. "Aku tahu, Pak. Aku ingin membantu. Tapi aku takut. Arman telah mencari aku. Dia telah mengirim orang untuk memberi tahu aku agar tidak bersaksi. Dia bilang dia akan membunuhku jika aku memberitahu apa-apa."

"Jangan takut, Pak. Kita akan melindungimu. Kita akan membawamu ke Bandung dan memberi kamu perlindungan. Kamu tidak akan dalam bahaya lagi," kata Pak Rio.

Setelah beberapa saat berpikir, Pak Slamet akhirnya mengangguk. "Baiklah, Pak. Aku akan membantu. Aku tidak bisa melihat anak Hadian menderita sendirian."

Mereka mengatur untuk menjemput Pak Slamet di rumahnya esok pagi. Qinara merasa harapan kembali muncul di hatinya. Dengan kesaksian Pak Slamet, mereka memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan kejahatan Arman dan Laras.

Malam itu, mereka tinggal di penginapan di Bandung. Qinara tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Dia tahu bahwa hari esok akan menjadi hari yang paling penting dalam hidupnya—hari di mana Pak Slamet akan memberikan kesaksian, dan hari di mana mereka akan memulai proses untuk mendapatkan keadilan.

Keesokan pagi, mereka menjemput Pak Slamet di rumahnya. Pak Slamet adalah pria tua yang lemah, tapi matanya penuh tekad. "Aku siap, Pak. Aku akan memberitahu semua yang aku lihat," ucapnya.

Mereka kembali ke kantor jaksa penuntut umum. Pak Slamet memberikan kesaksian secara terperinci tentang apa yang dia lihat pada hari kecelakaan. Dia menceritakan bagaimana truk besar keluar dari jalan buntu dan menabrak mobil ayahnya dengan sengaja, bagaimana pengemudi truk itu laki-laki tinggi berambut hitam, dan bagaimana ada seorang wanita dengan rambut pirang di dalam truk.

Setelah kesaksian Pak Slamet selesai, Pak Adi mengangguk puas. "Ini adalah bukti yang cukup. Kita akan mengajukan tuntutan pidana terhadap Arman dan Laras. Mereka akan ditahan dan diadili di sini, di Bandung. Di sini, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk menghalangi proses hukum."

Qinara merasa air mata mengalir deras. Akhirnya, mereka telah mencapai titik ini. Mereka telah menemukan bukti yang cukup untuk membuktikan kejahatan Arman dan Laras. Ayahnya akan mendapatkan keadilan.

Mereka keluar dari kantor jaksa penuntut umum dengan hati yang penuh kegembiraan. Mentari bersinar terang di langit Bandung, seolah menyimbolkan awal dari sesuatu yang baru. Qinara memandang langit dan berdoa kepada ayahnya. "Ayah, kita sudah melakukan itu. Kita sudah menemukan bukti yang cukup. Kamu akan mendapatkan keadilan. Aku mencintaimu, ayah."

Hari ini adalah hari yang menentukan. Hari di mana perjuangan yang panjang akhirnya mulai menghasilkan hasil. Dan Qinara siap untuk menghadapi apa yang akan datang selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!