Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Nyawa dengan Darah
Udara di halaman kediaman kepala desa mendadak menjadi berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri berubah menjadi cairan timah yang menekan paru-paru. Jiangzhu berdiri di tengah reruntuhan tembok, napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin. Di depannya, sosok berjubah hitam itu tidak lagi terlihat seperti manusia, melainkan malaikat maut yang turun dari mitologi kuno.
Pria tua berjubah hitam itu, yang dikenal sebagai Penatua Gu dari faksi Penjaga Langit, menyipitkan mata. Ia memandang Jiangzhu bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah anomali—sebuah kesalahan kosmis yang harus segera dihapus.
"Kau hanya seekor semut yang kebetulan menelan mutiara naga," suara Penatua Gu bergetar, rendah namun tajam, membuat kerikil di bawah kaki Jiangzhu bergetar. "Serahkan kepalamu, dan aku berjanji tidak akan membantai seluruh penduduk desa ini."
Jiangzhu meludah ke samping, darah bercampur lumpur. "Desa ini sudah membiarkanku mati kelaparan selama bertahun-tahun. Jika kau ingin membantai mereka, silakan. Tapi kalung ini? Kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Kalimat itu bukan sekadar gertakan. Di dalam nadi Jiangzhu, energi hitam dan putih saling bertabrakan seperti dua badai yang mengamuk. Rasanya sakit. Sangat sakit. Seolah-olah ada ribuan ulat bulu api yang merayap di bawah kulitnya. Ini adalah harga dari menggunakan kekuatan yang belum mampu ditampung oleh wadah manusianya.
"Keras kepala," desis Penatua Gu.
Tanpa peringatan, Penatua Gu menggerakkan jarinya. Pedang terbang di belakang punggungnya melesat, membelah tetesan hujan menjadi dua bagian sempurna. ZING! Pedang itu meluncur dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.
Klang!
Dunia seolah melambat bagi Jiangzhu. Di saat kritis itu, mata kanannya—yang kini sehitam lubang jarum—menangkap lintasan energi pedang tersebut. Refleksnya bergerak di luar nalar. Ia tidak menghindar; ia justru menangkap bilah pedang itu dengan tangan kosong.
Bilah pedang yang dilapisi Qi tajam itu mengiris telapak tangan Jiangzhu, namun alih-alih memotong jarinya, pedang itu tertahan oleh tulang tangan Jiangzhu yang kini berwarna keemasan samar.
"Apa?!" Penatua Gu terbelalak. Seorang pemuda tanpa dasar kultivasi menangkap pedang tingkat Bumi dengan tangan kosong?
"Rasanya... hangat," bisik Jiangzhu. Suaranya berubah, ada nada ganda yang bergema—satu suaranya sendiri, satu lagi suara purba yang haus akan kehancuran.
Jiangzhu meremas bilah pedang itu. Energi hitam merambat dari tangannya, mengontaminasi pedang suci tersebut. Warna perak pedang itu perlahan memudar, digantikan oleh karat hitam yang menjalar cepat.
"Berani-beraninya kau merusak senjataku!" Penatua Gu menggeram murka. Ia melompat maju, telapak tangannya bercahaya dengan api biru. "Teknik Telapak Penekan Surga!"
BUM!
Ledakan energi terjadi. Jiangzhu terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam pohon besar hingga tumbang. Tulang-tulangnya berderak, organ dalamnya terasa bergeser. Namun, rasa sakit itu justru memicu adrenalin yang lebih gila. Di dalam benaknya, sebuah ruang gelap yang luas mulai terbuka. Di sana, duduk tiga figur raksasa yang tertutup kabut: Satu bersinar terang, satu dipenuhi api neraka, dan satu lagi terlihat seperti manusia biasa namun dengan aura yang tak terhingga.
Gunakan sedikit esensi manusia untuk menyeimbangkan badai ini, Nak... suara itu berbisik.
Jiangzhu bangkit perlahan dari tumpukan kayu. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit. Ia mulai tertawa—tawa yang kering dan menyeramkan. "Hanya itu kekuatan seorang 'Dewa'? Mengecewakan."
Penatua Gu mulai merasa gentar. Ada sesuatu yang salah dengan pemuda ini. Normalnya, serangan tadi sudah cukup untuk mengubah manusia biasa menjadi kabut darah. Tapi Jiangzhu? Ia justru terlihat semakin kuat setiap kali terluka.
"Kau... kau adalah wadah dari Tiga Dunia," Penatua Gu menyadari kebenaran yang mengerikan. "Jika kau dibiarkan hidup, keseimbangan akan hancur. Langit akan runtuh!"
"Maka biarlah ia runtuh!" teriak Jiangzhu.
Ia menerjang maju. Kali ini, ia tidak menggunakan teknik beladiri yang kaku. Ia bergerak seperti binatang buas. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang terbakar di tanah. Ketika jarak mereka hanya satu meter, Jiangzhu melepaskan pukulan yang menggabungkan dua energi kontras: Dinginnya kematian dan panasnya penciptaan.
BOOOM!
Kediaman kepala desa itu rata dengan tanah. Gelombang kejutnya menerbangkan genteng-genteng rumah penduduk di radius satu kilometer. Penatua Gu terlempar seperti layang-layang putus, jubah sucinya kini compang-camping, dan dadanya cekung ke dalam.
Jiangzhu berdiri di tengah kawah yang terbentuk. Napasnya berat, matanya mulai kembali normal, namun rasa lelah yang luar biasa menyerangnya. Ia menoleh ke arah Xiao Feng yang masih pingsan tidak jauh dari sana, dan ke arah penduduk desa yang mulai keluar rumah dengan wajah ketakutan.
Mereka melihatnya bukan lagi sebagai "Jiangzhu si yatim piatu", tapi sebagai monster yang harus dimusnahkan.
"Pergi... lari..." Jiangzhu berbisik pada dirinya sendiri.
Ia tahu, Penatua Gu hanyalah pion kecil. Ribuan pengejar lainnya sedang dalam perjalanan. Jika ia tetap di sini, desa ini akan benar-benar menjadi kuburan massal.
Dengan sisa tenaganya, Jiangzhu melompat ke arah hutan terlarang yang gelap. Ia harus menghilang. Ia harus belajar menguasai kutukan di dalam tubuhnya ini sebelum kutukan itu memakannya hidup-hidup.
Di kejauhan, di atas awan, sosok-sosok yang lebih kuat sedang memperhatikan. Mata-mata dari Alam Langit dan Alam Bawah telah terkunci pada satu koordinat: Jiangzhu.
Roda takdir Tiga Dunia telah resmi berputar, dan jalannya akan diaspal dengan mayat dan darah.
Sisa-Sisa Kehancuran
Hujan yang tadinya rintik berubah menjadi badai yang menderu, seolah-olah langit sendiri sedang berusaha mencuci dosa yang baru saja tumpah di tanah Desa Awan Biru. Jiangzhu berdiri mematung di tengah kawah. Tangannya gemetar—bukan karena takut, melainkan karena kelebihan beban energi yang masih berdenyut di bawah otot-ototnya.
Ia menunduk melihat telapak tangannya. Kulitnya pecah-pecah, mengeluarkan uap hitam yang berbau belerang dan bunga melati yang busuk. Itu adalah bau dari penggabungan energi iblis dan dewa yang belum sempurna.
"Jiangzhu...?"
Sebuah suara gemetar memecah keheningan badai. Jiangzhu menoleh dengan gerakan kaku. Di sana, di balik reruntuhan gerbang yang hangus, berdiri seorang gadis remaja dengan gaun kasar yang basah kuyup. Itu adalah Liling, anak tabib desa, satu-satunya orang yang pernah memberinya sisa roti saat Jiangzhu hampir mati kelaparan musim dingin lalu.
Mata Liling penuh dengan air mata, tapi bukan air mata simpati. Itu adalah air mata teror murni. Ia menatap Jiangzhu seolah melihat iblis yang merangkak keluar dari kerak neraka.
"Kau... apa yang kau lakukan pada Kakak Feng? Dan orang tua itu..." suara Liling terputus saat melihat tubuh Penatua Gu yang tak bergerak di lubang reruntuhan.
Jiangzhu ingin melangkah maju. Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya membela diri. Bahwa merekalah yang memulai ini semua. Namun, saat ia melangkah satu kaki, Liling menjerit dan mundur hingga jatuh terduduk di lumpur.
"Jangan mendekat! Monster! Kau bukan Jiangzhu yang kukenal!" teriaknya histeris.
Kata-kata itu menghantam Jiangzhu lebih keras daripada pukulan Penatua Gu. Dadanya terasa sesak. Inilah kenyataan pahit dari kekuatan yang ia miliki. Di dunia yang membenci perbedaan, kekuatan luar biasa hanya akan mendatangkan pengasingan, bukan penghormatan.
Jangan lemah, Nak... Suara berat itu kembali bergema di batinnya. Manusia takut pada apa yang tidak bisa mereka pahami. Jika kau ingin dicintai, jadilah lemah. Jika kau ingin hidup, jadilah penguasa atas ketakutan mereka.
"Diam," desis Jiangzhu pada suara di kepalanya.
Ia memalingkan wajah dari Liling. Pilihan telah dibuat. Ia tidak bisa lagi kembali ke kehidupan sebagai pengumpul kayu bakar yang dihina. Dengan tatapan terakhir pada desa yang menjadi penjara baginya selama belasan tahun, Jiangzhu berbalik dan berlari menuju kegelapan Hutan Kematian—sebuah zona terlarang yang konon dihuni oleh binatang buas tingkat tinggi dan sisa-sisa arwah penasaran dari perang kuno.
Di Dalam Hutan Kematian
Setiap langkah yang diambil Jiangzhu meninggalkan jejak hangus di atas lumut basah. Di dalam hutan ini, kegelapan terasa lebih pekat, seolah-olah pepohonan kuno di sana memiliki mata yang mengawasi setiap gerakannya.
Tiba-tiba, rasa sakit yang tertunda menghantamnya seperti palu godam. Pandangan Jiangzhu berputar. Dantian-nya bergejolak hebat. Energi yang ia serap dari pedang Penatua Gu tadi ternyata adalah racun yang mulai bereaksi dengan energi iblisnya.
"Ugh..." Jiangzhu jatuh berlutut, memuntahkan cairan kental berwarna ungu tua.
Sistem di batinnya memberikan peringatan merah:
Peringatan! Ketidakseimbangan Esensi!
Esensi Langit: 10% | Esensi Iblis: 40% | Esensi Manusia: 50%
Risiko: Penghancuran diri dalam 300 napas. Segera cari titik fokus energi!
Dalam kondisi setengah sadar, Jiangzhu merangkak menuju sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa. Di sana, ia merasakan sesuatu yang menarik jiwanya. Sebuah aura yang terasa akrab, namun asing.
Di dalam gua itu, tidak ada emas atau senjata legendaris. Hanya ada sebuah kerangka manusia yang duduk bersila dalam posisi meditasi sempurna. Di tulang rusuk kerangka itu, bersinar sebuah gulungan kain sutra tua yang tidak lapuk dimakan zaman.
Jiangzhu tidak punya pilihan. Ia meraih gulungan itu. Saat kulitnya bersentuhan dengan sutra tersebut, sebuah ledakan informasi menyerbu otaknya, membuat matanya memutih.
"Seni Trinitas Tak Terbatas: Bab Pemurnian Sumsum."
Ini bukanlah teknik kultivasi biasa. Ini adalah teknik yang sengaja ditinggalkan untuk siapa pun yang memiliki Segel Tiga Dunia. Jiangzhu segera mengikuti instruksi yang terpatri di benaknya. Ia mengatur napasnya, mencoba menjinakkan badai energi di dalam tubuhnya menggunakan metode yang tertulis di gulungan tersebut.
Perlahan, uap hitam yang keluar dari pori-porinya mulai menyusut. Rasa panas di nadinya berubah menjadi hangat yang menenangkan. Namun, ia tahu ini hanyalah permulaan. Di luar sana, pengejar dari berbagai sekte besar pasti sudah mencium jejaknya.
"Aku butuh waktu," gumam Jiangzhu dengan mata tertutup. "Berikan aku waktu sebulan di sini, dan aku akan membuat mereka semua membayar setiap tetes darah yang tumpah malam ini."
Di kejauhan, suara raungan binatang buas hutan menyambut lahirnya sang penghuni baru. Sang Penghubung Tiga Dunia baru saja melewati malam pertamanya sebagai buronan langit dan bumi.