NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Ini mobilku, keren, kan?" tanya Karin sambil memamerkan mobilnya kepada Dimas.

Itu adalah Nissan sentra berwarna hitam mengilap. Dimas melihat senyum puas di wajah Karin, lalu mengangguk sambil berkata seperti yang diharapkan darinya,

“Wah, mobil ini memang cocok banget buat kamu.”

“Beneran? Ayahku ngasih ini pas ulang tahunku yang ke-20,” kata Karin tanpa malu-malu, lalu membuka pintu dan duduk di kursi pengemudi.

“Ayo, aku anterin kamu ke asrama,” katanya sambil menepuk kursi penumpang di sebelahnya, mengisyaratkan agar Dimas naik.

Namun Dimas malah mengeluarkan kunci mobilnya sendiri dan menunjukkannya pada Karin.

“Gimana kalau kita balapan kecil-kecilan?” katanya dengan senyum menantang.

“Oh? Pede juga, ya?” Karin tertawa kecil, lalu tersenyum lebar begitu tahu kalau Dimas juga punya mobil targetnya kini berubah dari sekadar teman kampus jadi “anak orang kaya” yang menarik perhatiannya.

Dimas duduk di dalam mobilnya, menatap Karin yang sudah keluar duluan dari area parkir dengan gaya percaya diri, seolah tidak sabar untuk menang.

Dimas tersenyum, menyalakan mesin mobilnya, lalu mengikuti dari belakang dengan semangat membara. Di dashboard mobilnya, terpasang kamera kecil yang merekam seluruh perjalanan.

Seperti yang diduganya, tak butuh waktu lama sebelum Karin mulai mengemudi secara sembrono. Dimas tersenyum tipis ia tahu arah cerita ini akan menuju bahaya.

Meskipun bukan orang jahat, Dimas punya masa lalu kelam. Dalam kehidupannya yang sebelumnya, ia pernah bersama Karin di mobil yang sama. Saat itu, Karin mengalami kecelakaan karena kebut-kebutan. Namun entah bagaimana, Dimaslah yang disalahkan dan bahkan dituduh sebagai penyebabnya.

Ia sempat dipenjara karena menerima kesalahan itu cinta membutakannya kala itu. Tapi kemudian, fakta terungkap: korban yang tewas dalam kecelakaan tersebut ternyata seorang terpidana pemerkosa berantai.

Akhirnya Dimas dibebaskan bersyarat, tapi harus membayar denda besar miliaran rupiah sebagai kompensasi bagi keluarga korban.

Sejak saat itu, Dimas memandang orang-orang seperti itu sebagai hama masyarakat yang pantas lenyap. Kini, dengan kesempatan kedua yang entah bagaimana ia dapatkan, ia bertekad untuk tidak ikut terseret. Ia akan biarkan nasib berjalan sendiri, tapi kali ini dengan bukti kuat yang bisa menyeret Karin ke penjara bila hal serupa terjadi lagi.

Dimas menatap ke depan, memastikan kamera dashcam merekam jelas. Jalanan malam itu lengang, dan mobil Karin sudah melaju kencang seperti orang mabuk padahal mereka baru keluar dari restoran lima menit lalu.

Ia melirik spidometer.

“Enam puluh mil per jam,” gumamnya. “Kalau dia tetap segila ini, dia bakal kehilangan kendali di tikungan itu…”

Ia melambat sedikit, menjaga jarak agar tidak ikut terlibat kalau kecelakaan terjadi.

Benar saja, ketika Karin berbelok tajam ke kiri, mobilnya sempat oleng. Dimas menahan napas, namun heran ketika Karin berhasil mengendalikan setir dengan mulus dan melambat setelahnya.

Dimas mengangkat alis.

“Hm… jadi dia belajar dari kesalahan masa lalu,” gumamnya pelan. Tapi tak lama kemudian, mobil Karin kembali menambah kecepatan setelah tikungan.

Dimas mendesah, lalu menekan pedal gas perlahan, mengikuti dari belakang sambil tetap merekam karena malam itu, entah kenapa, ia merasa semuanya baru saja dimulai.

Ketika mobil Karin mencapai hampir seratus mil per jam, lampu lalu lintas di depannya berubah menjadi merah. Ia panik, mencoba menginjak rem, tapi sudah terlambat. Mobil itu melaju menembus perempatan, dan di saat yang sama, seorang kakek tua sedang menyeberang jalan.

Terdengar benturan keras. Tubuh kakek tua itu terpental beberapa meter, sementara kaca depan mobil Karin pecah berantakan. Jalanan seketika dipenuhi darah, dan semua orang di sekitar teriak panik.

Kamera dasbor Dimas merekam semuanya dari awal sampai akhir. Ia memperlambat laju mobilnya dan berhenti beberapa meter di belakang mobil Karin yang kini diam dengan posisi miring di tengah jalan.

Dimas menarik napas panjang.

Ia tak pernah benar-benar mengerti kejamnya hidup tapi kali ini, ia tahu pasti kakek tua itu sudah tidak bernyawa.

Karin tampak shock. Ia menjerit histeris, memegang kepalanya dan menarik rambut sendiri di kursi pengemudi. Lalu, dengan wajah penuh air mata dan ketakutan, ia membuka pintu dan berlari tergesa ke arah mobil Dimas.

Begitu tiba di sana, ia mengetuk kaca mobilnya dengan panik.

Dimas menurunkan kaca jendela perlahan, wajahnya berpura-pura panik dan ketakutan. Ia menatap Karin seolah-olah tak tahu apa yang baru saja terjadi.

“K… kamu, tolong… ayo cepat, duduk di mobilku!” seru Karin dengan suara gemetar. Tangannya mencoba membuka pintu mobil Dimas, namun dari dalam, Dimas menahan pegangan pintunya erat-erat, tidak membiarkannya masuk.

“Kenapa aku harus ikut kamu?” tanya Dimas datar, dengan suara yang tiba-tiba berubah tenang.

Karin menatapnya kaget, wajahnya penuh kebingungan. “Kamu!! Kalau kamu nggak mau bantu aku, nanti aku yang disalahin! Aku bisa masuk penjara!” teriaknya putus asa.

Dimas menatapnya lama, lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya.

Tawa itu membuat Karin semakin ketakutan.

“Dulu aku percaya sama kamu,” katanya pelan tapi tajam. “Aku rela masuk penjara buat nutupin kebodohanmu. Tapi sekarang…” Dimas menatap langsung ke matanya. “Kamu yang harus tanggung jawab. Kamu penjahatnya, Karin.”

Dimas lalu keluar dari mobil dan menahan pergelangan tangan Karin yang bergetar hebat. Cengkeramannya kuat, membuat Karin tak bisa kabur.

“Please tolong… aku nggak bermaksud… aku cuma—” suaranya tercekat di tenggorokan, sementara air matanya mengalir deras. Alkohol yang tadi memberinya keberanian kini lenyap, berganti ketakutan murni.

Beberapa orang di pinggir jalan mulai berlari mendekat.

“Cepat, panggil ambulans!” teriak seseorang.

“Aku nggak punya HP!” sahut yang lain.

Dimas menoleh ke mereka dan berkata tenang, “Tolong juga panggil polisi. Pelakunya ini… mengemudi dalam keadaan mabuk.”

Karin langsung menatap Dimas dengan pandangan penuh ketakutan. “Aku... aku salah,... tolong, jangan biarkan mereka tangkap aku... aku nggak sengaja...” ucapnya sambil menangis tanpa henti, suaranya serak.

Namun Dimas bahkan tak menoleh sedikit pun. Di dalam hatinya, semua sudah mati sama seperti rasa cinta bodoh yang dulu pernah ia punya untuk wanita ini.

Ia teringat ayahnya yang dulu menanggung malu dan hutang karena kasus itu, adiknya yang harus berhenti sekolah demi mencari uang, dan ibunya… yang meninggal dengan membawa penyesalan karena tak sempat melihat anaknya bebas.

Air mata Dimas menetes pelan, tapi bukan karena iba. Itu air mata kemarahan lama yang akhirnya menemukan tempatnya.

Beberapa menit kemudian, sirene polisi terdengar mendekat. Mobil patroli berhenti di tengah jalan, dan dua petugas segera turun.

Karin yang masih berlutut di aspal menatap mereka dengan wajah ketakutan, Dimas keluar dari mobilnya sambil tetap memegang erat tangannya.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!