Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Lepaskan Aku, Pa!
^^^SEASON III^^^
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
...(30 Tahun)...
Dulu, hidupku benar-benar luar biasa.
Restoran tempatku bekerja sebagai Sous-Chef, baru saja mendapatkan Michelin Star (Gelar Penghargaan Kuliner International) pertamanya berkat aku. Dan aku bahkan sudah dipromosikan untuk wawancara kerja di salah satu restoran terbaik di Jakarta. Kalau aku dapat posisi sebagai kepala koki, aku bisa menciptakan hidangan khas aku sendiri.
Aku sedang di puncak karir, menggebu tanpa henti. Tapi benar kata orang, semakin tinggi kamu terbang, semakin keras juga kamu jatuh. Dan sialnya, aku jatuh sekeras-kerasnya.
Sekarang aku terbaring di rumah sakit, dengan mesin cuci darah yang berdengung di sampingku, berusaha mencerna kata-kata Dr. Nolan.
Gagal ginjal stadium akhir.
Waktuku hampir habis.
Kalau aku enggak segera menjalani transplantasi, aku bakal mati.
Di usia tiga puluh tahun.
Hidup indahku berakhir tiga tahun lalu, waktu aku mengalami kecelakaan mobil bareng Mama. Mama koma selama delapan bulan sebelum akhirnya kami harus membuat keputusan yang paling menyakitkan, mencabut alat bantu hidupnya.
Aku pikir itu momen tergelap dalam hidupku.
Ternyata aku salah.
Segalanya malah semakin buruk.
Papa memanggil dokter-dokter terbaik dari seluruh dunia, membayar berapa pun yang mereka minta. Tapi enggak ada yang berhasil.
Setelah kecelakaan itu, tulang panggulku yang patah, mulai sembuh. Kandung kemihku yang direkonstruksi, mulai berfungsi lagi. Tapi kerusakan ginjalku enggak bisa dipulihkan.
Kalau bukan karena dialisis, aku sudah mati beberapa bulan lalu. Tapi sekarang?
Bahkan itu pun enggak cukup.
Aku butuh ginjal dalam beberapa minggu ke depan, atau aku mati.
Pelan-pelan, pandanganku bergeser ke tabung-tabung berisi darahku sendiri. Dua puluh menit berlalu, Papa pergi bersama Dr. Nolan, dan sejak itu aku belum melihat mereka lagi.
Tiga tahun terakhir ini sudah menjadi siksaan buat aku. Tapi jauh lebih parah buat Papa.
Dia kehilangan istrinya, dan sekarang dia bakal kehilangan aku juga.
Setiap kali aku menatap dia, aku lihat kepanikan yang membara di matanya. Keputusasaan untuk menemukan ginjal buat aku, terukir jelas di tiap garis-garis wajahnya.
Aku benci melihat apa yang penyakit ini lakukan ke Papa.
Aku benci, dia harus menyaksikan aku mati pelan-pelan.
Aku benci, terbaring di rumah sakit ini, bergantung sama mesin yang mati-matian berusaha bikin aku tetap hidup.
Apa ini semua benar-benar sepadan?
Ada saat-saat gelap di mana aku merasa lebih baik mati sekarang saja.
Itu bakal mengakhiri semua siksaan ini, dan Papa bisa berkabung, lalu lanjut hidup tanpa harus menunggu aku mati sedikit demi sedikit.
Aku capek hidup dengan pedang yang terus menggantung di atas kepalaku.
Aku capek cuma bertahan hidup sampai sesi cuci darah berikutnya.
Apa arti hidup kalau enggak ada harapan dan mimpi?
Apa yang tersisa kalau semua kemungkinan sudah direnggut?
Kehilangan nyawa itu mengerikan.
Dan melelahkan.
Aku enggak sanggup lagi.
Gerakan kecil di dekat pintu menarikku keluar dari lamunan gelapku. Aku mendongak dan melihat Papa berdiri di sana, rasa sakit yang enggak tertahankan jelas tergambar di wajahnya.
Aku enggak sanggup menerima pukulan mematikan ini, tapi aku harus kuat demi dia.
Entah bagaimana caranya, aku memaksakan senyum di bibirku.
“Semuanya bakal baik-baik aja, Pa.”
Dia langsung geleng-geleng kepala, matanya merah dan penuh air mata. Dia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan menggenggam tanganku. Kepalanya tertunduk, menanggung beban ini di pundaknya.
“Semuanya baik-baik aja,” bisikku lagi.
Dia geleng kepala sekali lagi, berdeham, lalu matanya bertemu mataku. Sesaat, dia cuma menatapku, berusaha menghafal ekspresi wajahku.
Dia berdeham lagi sebelum akhirnya berkata, “Kita enggak akan nyerah. Bertahan sedikit lagi. Oke?”
Aku sudah enggak punya tenaga lagi, Pa.
Karena aku tahu aku enggak sanggup mengatakan itu dengan lantang, jadi aku berbohong, “Oke. Aku bakal bertahan.”
Dari ekspresi putus asa di wajahnya, aku tahu dia enggak percaya sama aku.
Itu saja yang kami lakukan beberapa bulan terakhir.
Berbohong.
Enggak ada satu pun kata-kaya yang jujur di antara kami.
Aku menatap pria yang telah membesarkanku seperti anak kandungnya sendiri. Waktu dia bertemu Mama, aku baru berusia enam tahun, dan enggak ada satu hari pun dia enggak memperlakukanku seperti anaknya sendiri.
Dia orang terbaik yang pernah aku kenal, dan aku benci melihat dia seperti ini.
Akhirnya aku enggak sanggup berpura-pura lagi. Air mata menggenang di mataku, dan aku berbisik, “Aku sayang Papa.”
Dia menundukkan kepala dan mencium punggung tanganku. Jari-jarinya gemetar waktu dia menggenggam tanganku lebih erat.
Aku membolehkan air mataku jatuh, takut kalau waktuku keburu habis dan aku enggak sempat mengungkapkan semua isi hatiku. Tapi akhirnya semuanya keluar juga dari mulutku, "Makasih udah menjadi Papa terbaik yang bisa diharapkan seorang anak perempuan. Makasih udah menjadi segalanya yang aku butuhin dan udah merawat aku. Makasih udah sayang sama aku, Pa."
Suara pilu dari Papa membuat air mataku makin deras. "Kalau nanti aku udah enggak ada, aku pingin Papa jalanin hidup yang panjang dan indah ... Jatuh cinta lagi. Papa belum tua buat punya anak lagi. Jalanin hidup Papa ... Bahagia."
Tatapan Papa langsung berubah jadi penuh amarah, lalu dia teriak. "Berhenti ngomong kayak gitu! Aku enggak bakal biarin kamu mati, dan aku jelas enggak mau anak lagi. Aku maunya kamu, Quinn. Kamu anak aku, dan enggak ada siapa pun yang bisa gantiin kamu!!!"
Dengan kepala sedikit miring, aku menatap dia dengan memohon.
"Pa!"
Dia melepas tanganku, berdiri, lalu dengan kasar menyeka air mata di wajahnya.
“Kamu enggak akan mati!”
Sebelum aku sempat bicara apa pun lagi, dia keluar dari kamar rumah sakit dengan marah.
Ya Tuhan, ini berat banget.
Bagaimana caranya aku mengucapkan selamat tinggal ke Papa, sementara aku tahu dia akan sendirian di dunia ini?
Bagaimana caranya aku meminta dia untuk melanjutkan hidupnya setelah aku enggak ada?
Aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan dia dari rasa sakit dan kesepian ini.