Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ghosting
Julian menghampiri Noah, menyodorkan secangkir kopi hangat.
"Ini, diminum dulu." Beberapa hari terakhir, Noah memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Julian.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Julian, matanya menyorotkan perhatian yang mendalam. Noah menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya, lalu menyesap kopi yang diberikan Julian.
"Aku baik-baik saja. Hanya... sedikit cemas," jawab Noah, berusaha meyakinkan. Namun, Julian tak mudah percaya. Tatapannya menyelidik, mencoba membaca kejujuran di balik mata sahabatnya.
"Oke, baiklah," Noah menghela napas panjang. "Sejujurnya, aku sangat ketakutan. Aku... aku menyukai seorang gadis. Umurnya 19 tahun."
Seketika, Julian tertawa terbahak-bahak.
"Serius? Itu saja? Usia itu cuma angka, bro!" ujarnya, masih dengan sisa tawa.
Noah semakin gelisah. "Masalahnya, dia... dia anak tiri Tonny sepupu ku"
Tawa Julian langsung berhenti. Matanya membelalak, namun sedetik kemudian ia tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"Ya Tuhan, Noah! Kau sudah gila?"
Noah merasa semakin bersalah mendengar reaksi sahabatnya.
"Dia gadis yang sangat cantik. Aku... aku senang menggodanya," Noah mencengkeram kepalanya, panik.
"Orang tuanya sangat percaya padaku, tapi aku diam-diam mencium putrinya. Aku merasa seperti bajingan."
"Lupakan saja. Anggap saja tidak pernah terjadi," saran Julian, mencoba menenangkan.
Noah menggeleng, frustrasi. "Tidak sesederhana itu, Julian. Aku..." Noah sedikit berteriak.
"Aku melihat sketsa-sketsanya. Dia menggambar wajahku di setiap momen saat kami bertemu."
Julian sedikit terkejut. "Dia juga menyukaimu? Bagus, kan?"
"Tidak, ini tidak bagus!" sergah Noah, semakin panik. "Aku tidak bisa berhubungan dengannya. Dia masih sangat muda."
"Aku bersumpah, kalau aku jadi Tonny, aku akan menghajarmu," ancam Julian, meski dengan nada bercanda.
"Ayolah, dia gadis muda. Kenapa kau mengganggunya? Masih banyak gadis lain di luar sana."
"Entahlah," sahut Noah, frustrasi. "Aku selalu ingin dekat dengannya, melihatnya, menginginkannya."
"Kau selalu seperti ini," gumam Julian, menatap Noah dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku tidak ingin menyakitinya. Aku laki-laki brengsek," keluh Noah, membuat Julian semakin heran.
"Sampai kapan kau akan menginap di rumahku?" tanya Julian, nadanya mulai ketus.
"Kau mengusirku?" tanya Noah, menatap sahabatnya tajam.
"Iya, aku ingin mengusirmu dari rumahku," jawab Julian, tanpa basa-basi.
"Aku tidak bisa pulang. Apartemenku berdekatan dengan apartemennya."
"Apa? Sejak kapan kau tinggal di apartemen?"
"Sejak dia tinggal di situ," jawab Noah, enteng.
"Kau parah sekali! Kau yang mengejarnya, sekarang kau ingin menjauhinya?" Julian mulai sewot.
"Aku hanya tidak mau semua ini menjadi di luar kendali. Aku harus menghentikannya," jelas Noah, mencoba menenangkan diri.
"Kau jatuh cinta padanya?" tanya Julian, nadanya serius.
"Tidak mungkin. Tidak!" bantah Noah, terlalu keras pada dirinya sendiri.
"Jangan permainkan perasaannya. Lebih baik kau akhiri sekarang, sebelum dia benar-benar jatuh cinta padamu."
"Itu masalahnya. Sepertinya... aku adalah cinta pertamanya," ungkap Noah, membuat Julian terdiam.
"Aku mau pulang," sahut Noah, berlalu dari hadapan Julian, semakin lama semakin tak terlihat sosoknya.
-----------
Di tempat lain, Ninda tampak gelisah. Setelah kejadian malam itu, Noah menghilang berhari-hari. Bahkan, dia tidak membalas pesan dari Ninda.
Sesekali, ia melihat ponselnya, berharap Noah membalas pesannya. Namun, hal itu semakin membuatnya overthinking.
Akhirnya, ia memutuskan untuk tak berharap. Ia mulai berpikir kalau dia adalah korban ghosting sekarang.
"Mungkin dia sengaja menghindariku," ucap Ninda pelan.
Hari ini, Ninda akan pindah ke apartemennya. Ia hanya membawa sisa baju dan sedikit buku, karena semua barang-barangnya sudah ada di sana.
Ia memandangi kamar yang baru sebulan ia tempati.
Selain itu, yang ia ingat selama tinggal di rumah itu adalah kebaikan Tonny. Semua itu sangat berarti untuk Ninda, karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga yang utuh.
Perlahan, ia menutup pintu kamarnya. Kemudian, ia berjalan perlahan hendak turun ke bawah sambil mendorong kopernya.
Di depan pintu kamar Asta, Ninda berhenti sejenak. Ia coba menguping, menempelkan telinganya di pintu, namun tak mendengar apa pun dari dalam. Ninda ingin pamit dengan adiknya, karena selama ini mereka sering sekali ribut.
Akhirnya, ia memberanikan diri dan menghilangkan gengsinya untuk bicara terlebih dahulu. Perlahan, Ninda mengetuk pintu kamar Asta.
Tok... tok... tok...
"Ya, masuk," terdengar suara sahutan dari dalam kamar Asta. Ninda pun membuka pintu kamar itu perlahan, raut wajahnya tampak sedih.
"Hai, bisa bicara sebentar?" ucap Ninda pelan. Asta tersenyum sambil mengangguk, kemudian Ninda menghampiri Asta dan langsung memeluknya.
"Maafin kakak, Dek, kalau kakak suka gangguin kamu," ucap Ninda sedikit menangis, ia memeluk adiknya sangat erat.
"Iya, Kak, maaf aku juga suka bikin kakak marah," ucap Asta kemudian. Ninda mengusap kepala adiknya itu.
"Jaga Mamah. Jangan main game terus," ucap Ninda sambil mengacak-acak rambut Asta.
"Iya, Kak, kakak juga jaga diri. Jangan mudah tergoda sama bule-bule itu," celetuk Asta sambil nyengir.
"Belajar yang benar, jangan pacaran terus," ucap Asta lagi.
"Apaan sih, nih anak kecil sok tahu," balas Ninda.
"Uncle Noah cakep juga, ya, Kak?" Ninda membelalak ke arah Asta.
"Hush, jangan ngomong sembarangan," sahut Ninda sambil melotot.
"Beberapa hari yang lalu, pagi-pagi pas aku baru datang, ngapain kalian di halaman belakang?" Ninda terkejut mendengar ucapan Asta. Ia heran melihat reaksi adiknya.
"Dia mau pamit pulang," ungkap Ninda mencoba bersikap tenang. Asta nyengir menatap Ninda, wajahnya tampak meragukan jawaban Ninda.
"Kalian tatapan lama amat, pacaran, ya?"
"Ya, enggaklah! Udah, ah, jangan halu," kata Ninda sambil memiting kepala Asta dengan tangannya. Ninda tambah kaget mendengar pertanyaan Asta yang seperti menginterogasi dirinya.
"Aw, sakit, Kak! Ampun!" teriak Asta. Ninda pun melepaskan Asta kemudian.
"Kak, aku bisa jaga rahasia. Aku enggak akan bilang ke Mamah dan Tonny," ungkap Asta meyakinkan, hal itu membuat Ninda terdiam. Wajahnya tampak bersedih dan seketika Ninda menangis.
"Lho, kok nangis, Kak? Aku salah, ya?" tanya Asta sambil menatap kakaknya panik. Ninda menoleh ke arah Asta, dia menggeleng.
"Terus kenapa kakak nangis? Kalau ada apa-apa, cerita sama aku, Kak," ungkap Asta lagi.
"Dek, kayaknya kakak di-ghosting deh," ucap Ninda sambil terisak. Asta coba menenangkan kakaknya dengan menepuk-nepuk bahunya.
"Sama Uncle Noah?" ucap Asta pelan, Ninda mengangguk.
"Emang kakak diapain sama dia? Jangan-jangan kakak..." Asta mulai berprasangka, mengingat Noah keluar dari kamar kakaknya beberapa hari yang lalu.
"Enggak, Dek, enggak sejauh itu," Ninda mematahkan prasangka Asta.
"Kita enggak ngapa-ngapain. Dia cuma ngasih kalung ini aja," ungkap Ninda lagi. Namun, Asta tampak tidak percaya.
"Aku bersumpah hanya sebatas itu," tukas Ninda.
"Dia cuma anggap kakak keponakannya, bukan di-ghosting," celetuk Asta membuat Ninda semakin down.
"Apa, iya?" ucap Ninda lemas.
"Iya, kakak enggak usah GR," sahut Asta menegaskan.
"Dek, kamu lihat dong Uncle Noah itu tampangnya kayak apa. Gimana kakak enggak GR?" ungkap Ninda.
"Belum ada ngomong apa-apa udah GR," Sahut Asta sedikit kesal dengan kakaknya yang sangat polos dan naif.
"Iya, tapi dia itu baik banget, Dek," ungkap Ninda ngeyel.
"Uncle kan emang baik ke semua orang, Kak," ucap Asta membuat Ninda tertampar.
"Siapa sih yang enggak mau sama cowok ganteng, kaya raya seperti Uncle Noah?" Ninda menghentikan ucapannya sejenak.
"Dan yang penting, dia itu gentleman banget," ucap Ninda lagi. Seketika dia menjadi malu pada dirinya sendiri.
"Kakak naksir banget, ya, sama Uncle Noah?" Ninda menunduk tak menjawab pertanyaan Asta.
"Mau denger saran aku enggak?" Ninda menatap Asta sejenak, kemudian mengangguk.
"Cowok akan penasaran kalau cewek yang naksir dia, enggak peduli lagi sama dia," Ucap Asta serius seolah-olah dia berubah jadi laki-laki dewasa.
"Jadi maksudnya kakak harus ngejauhin dia dek."
"Nggak gitu juga kak, tapi kakak cuek aja, hal yang kemarin itu anggap nggak pernah terjadi," sahut Asta mejelaskan. Ninda manggut-manggut mendengar ocehan adiknya.
"Kakak lanjutkan hidup kakak, fokus belajar .berteman dengan banyak orang. dan coba mengenal laki-laki yang lain."
"Dia pasti bakalan penasaran sama kakak, dan ingat yah kak, jangan hubungin dia duluan," Ninda menyimak omongan Asta dengan serius merasa omongan adiknya masuk akal juga.
"Apalagi kalau kakak udah jadi cewek sukses mandiri dan punya prinsif Uncle Noah pasti bakalan ngejar kakak," kali ini Asta mulai memotivasi kakaknya.
"Beneran dek," ucap Ninda bersemangat.
"Cobalah menolak ajakannya beberapa kali bilang kakak lagi fokus belajar,"
"Trus kalau dia menyerah gimana dek, dia malah pergi beneran?" Tanya Ninda sedikit kuatir.
"Ya berarti dia nggak serius sama kakak berjuang aja nggak mau," Ungkap Asta sambil tersenyum ke arah kakaknya.
"Laki-laki itu nalurinya ngejar kak, kalau dia nggak usaha dia nggak serius kak," Ninda tersenyum melihat sikap adeknya yang tampak dewasa.
"Semakin susah di dapat semakin besar juga usahanya, gitu kak"
"Ih jago banget adik aku ini kalau soal percintaan," kata Ninda sambil memegang kepala Asta dan mengacak-acak rambutnya.
"Iya deh, kakak akan fokus belajar dari pada mikirin cowok, hampir aja kakak kehilangan fokus" Ungkap Ninda sambil tersenyum ke arah Asta.
"Nah gitu dong itu baru kakak aku yang pintar," kata Asta sambil ngajak Ninda tos dengan mengepal kan tangannya. merekapun tertawa kemudian.
Setelah berpamitan dengan Asta. Ninda buru-buru naik taksi yang sudah menunggunya di depan rumah dia tak sempat berpamitan dengan Mamanya dan Tonny karena mereka sedang tidak berada di rumah.