NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:953
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Heist Beraroma Jengkol dan Penyamaran Pelayan VVIP

​Setelah melarikan diri dari ruko Bambang Hacker dengan jantung yang nyaris copot, ketiga janda ini tidak punya banyak pilihan. Mereka bersembunyi di sebuah kontrakan petak milik salah satu mantan anak buah Siska di pinggiran Bekasi. Di sana, mereka menyusun rencana yang jauh lebih gila daripada sekadar menangkap pencuri jemuran.

​"Kita tidak bisa menyerahkan kartu ini ke polisi biasa," ujar Bella sambil membersihkan debu dari jaketnya. "Jenderal Baskoro punya orang di mana-mana. Kalau kita salah langkah, kita bakal hilang dari muka bumi sebelum sempat bilang 'janda'."

​Siska, yang sedang mengulek sambal untuk menenangkan sarafnya, menoleh. "Besok malam adalah pesta perayaan ulang tahun Jenderal Baskoro di Hotel Grand Imperial. Bu Fatma atau siapa pun nama kembarannya itu pasti ada di sana. Mereka yang memegang logistik makanan lewat katering Fatma Jaya."

​Maya, yang sedang mencoba memperbaiki daster macannya yang robek dengan peniti, mendongak. "Grand Imperial? Itu kan hotel bintang lima yang satpamnya ganteng-ganteng? Tapi pengamanannya ketat banget, Bel. Kita masuk pakai apa? Panci?"

​Bella tersenyum licik. "Kita masuk lewat pintu yang paling tidak mereka curigai Dapur."

​Operasi "Pelayan Beracun"

​Rencananya sederhana tapi mematikan. Siska akan menghubungi Bu Fatma, berpura-pura bahwa dia ingin menyerah dan memberikan kartu memori itu asalkan dia diberi posisi sebagai koki pembantu di pesta Jenderal Baskoro. Bella dan Maya akan menyamar sebagai staf pelayan tambahan.

​Tujuannya? Mengunggah data dari kartu memori itu langsung ke layar proyektor utama saat Jenderal Baskoro sedang memberikan pidato kemenangan.

​"Kenapa harus di pesta?" tanya Maya ragu.

​"Karena di sana ada media nasional," jawab Bella tegas. "Begitu data itu tayang di TV nasional, Jenderal Baskoro dan Fiona tidak bisa menutupinya lagi. Itu satu-satunya cara kita tetap hidup. Keamanan kita adalah transparansi."

​Malam pesta tiba. Hotel Grand Imperial tampak berkilau dengan lampu-lampu kristal dan deretan mobil mewah yang harganya bisa membeli satu kecamatan. Di pintu belakang, sebuah truk katering Fatma Jaya terparkir.

​Siska keluar dari mobil dengan seragam koki lengkap, diikuti oleh Bella dan Maya yang mengenakan seragam pelayan rok hitam ketat, kemeja putih, dan apron kecil. Bella menyembunyikan beberapa alat taktis di balik roknya, sementara Maya menyembunyikan flashdisk di dalam sanggul rambutnya yang tinggi.

​"Ingat," bisik Siska. "Jangan sampai Bu Fatma melihat wajah kalian dengan jelas. Pakai masker medis, bilang saja kalian lagi flu berat."

​Di dalam dapur yang sangat sibuk, aroma daging wagyu dan lobster memenuhi udara. Bu Fatma yang malam itu tampak sangat berwibawa dengan kebaya beludru sedang membentak-bentak anak buahnya.

​"Siska! Akhirnya kamu datang!" teriak Bu Fatma. "Mana barangnya?"

​Siska menunjukkan sebuah kartu memori (yang sebenarnya palsu, berisi video tutorial memasak rendang 10 jam). "Saya akan berikan setelah hidangan utama keluar. Saya ingin memastikan keamanan teman-teman saya dulu."

​Bu Fatma mendengus. "Jangan main-main, Janda Kecil. Kamu punya waktu sampai hidangan penutup. Sekarang, bantu urus Lobster Thermidor itu!"

​Sementara Siska sibuk di dapur, Bella dan Maya mulai bergerak ke ruang utama. Tugas Bella adalah mencari panel kendali proyektor, sementara Maya harus mendekati meja utama Jenderal Baskoro untuk mengambil "kunci enkripsi" tambahan yang menurut Bambang Hacker ada di ponsel sang Jenderal.

​"Kenapa harus aku yang ke meja utama?" keluh Maya sambil membawa nampan berisi champagne.

​"Karena lo cantik, May. Cowok kayak Baskoro itu lemah sama cewek yang kelihatannya polos kayak lo," bisik Bella lewat earpiece kecil. "Gue bakal jaga lo dari sudut ruangan."

​Maya melangkah masuk ke aula besar. Jenderal Baskoro duduk di tengah, dikelilingi oleh para pengusaha dan pejabat. Di sampingnya duduk seorang wanita yang wajahnya identik dengan Bu Fatma, tapi dengan aura yang jauh lebih gelap dan elegan "Fiona".

​Maya mendekat dengan gemetar. "Permisi, Jenderal... Champagne?"

​Baskoro menoleh, menatap Maya dari bawah ke atas. "Oh, pelayan baru? Cantik sekali."

​Maya tersenyum manis, senyum "Guru TK" andalannya. "Terima kasih, Jenderal. Selamat atas prestasinya."

​Sambil menuangkan minuman, tangan Maya yang lain yang sudah dilatih Bella selama dua jam di kontrakan bergerak cepat menuju jas yang digantung di sandaran kursi Jenderal. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyelipkan sebuah alat cloning data ke saku jas tersebut.

​Pip. Lampu kecil di alat itu menyala hijau. Data ponsel Baskoro sedang disalin.

​Namun, mata tajam Fiona menangkap gerakan aneh Maya. "Tunggu dulu. Kamu... pelayan dari bagian mana?"

​Maya membeku. "S-saya dari bagian minuman, Bu."

​Fiona berdiri, mendekati Maya. Ia mencium udara di sekitar Maya. "Bau ini... parfum Lilac and Gooseberries? Ini bukan parfum pelayan murahan. Dan tunggu... wajahmu... kamu yang di apartemen itu, kan?"

​"Lari, Maya! Lari!" teriak Bella lewat earpiece.

​Kekacauan pecah dalam sekejap. Maya melemparkan nampan champagne ke arah Fiona dan berlari menuju panggung proyektor. Bella keluar dari balik tirai, melakukan tendangan memutar yang menjatuhkan dua pengawal bersenjata.

​"Siska! Sekarang!" teriak Bella ke mikrofonnya.

​Di dapur, Siska yang sedang memegang sutil raksasa langsung menendang meja kompor. "Maaf ya, Bu Fatma! Rendangnya gosong!"

​Siska melemparkan segenggam bubuk cabai ke udara, menciptakan bom asap pedas yang membuat seluruh dapur terbatuk-batuk. Ia berlari keluar menuju ruang utama, menghantam setiap pengawal yang mencoba menghalanginya dengan sutil besinya.

​Di panggung, Maya berhasil mencapai laptop operator proyektor. Ia mencabut sanggul rambutnya, mengambil flashdisk, dan mencolokkannya.

​"Ayo... ayo... loading-nya lama banget!" teriak Maya panik.

​Fiona mengeluarkan pistol kecil dari tasnya. "Berhenti, atau kepalamu pecah!"

​BANG!

​Sebuah botol kecap melayang dari arah pintu dapur, mengenai tangan Fiona hingga tembakannya meleset. Siska muncul dengan wajah penuh noda arang tapi mata menyala.

"Jangan berani-berani ganggu asisten saya!"

​Bella berhasil mencapai panggung, terlibat perkelahian tangan kosong dengan ajudan pribadi Baskoro. Pukulan, tangkisan, dan bantingan terjadi di atas panggung di depan ratusan tamu yang berteriak histeris.

​KLIK.

​Layar raksasa di belakang panggung tiba-tiba berubah warna. Bukan lagi foto Jenderal Baskoro yang sedang tersenyum, melainkan deretan angka, foto-foto transaksi narkoba di dalam daster, dan rekaman suara Jenderal Baskoro yang sedang merencanakan suap.

​"...Tenang saja, Fiona. Begitu saya jadi Menteri, jalur logistik bawangmu akan jadi jalur sutra narkoba kita..."

​Suara itu menggema di seluruh aula. Para wartawan langsung menyalakan kamera mereka. Kilatan lampu flash memenuhi ruangan.​Jenderal Baskoro pucat pasi. Fiona mencoba kabur, tapi ia langsung dihadang oleh Siska yang mengacungkan sutil panas.

​"Mau ke mana, Ratu Bawang? Masakannya belum matang," sindir Siska.

​Polisi militer dan unit reserse yang ternyata sudah disiagakan oleh mantan rekan Bella di luar gedung segera merangsek masuk. Jenderal Baskoro diciduk tepat di depan kamera televisi nasional. Fiona dan Bu Fatma juga ikut dibawa, meski Bu Fatma terus berteriak bahwa dia hanya urusan katering.

​Beberapa jam kemudian, di teras Hotel Grand Imperial yang kini dipenuhi garis polisi, ketiga janda itu duduk di pinggiran air mancur. Seragam mereka berantakan, rambut mereka acak-adul, tapi ada senyum puas di wajah mereka.

​"Jadi... kita beneran jadi pahlawan?" tanya Maya sambil memegang daster macan pink-nya yang sempat ia bawa sebagai jimat.

​"Pahlawan yang paling berisik di Jakarta," sahut Bella sambil menghisap sisa kopi dinginnya.

​Siska melihat ke arah langit subuh yang mulai membiru. "Aku cuma mau pulang, tidur, dan besok pagi menjemur serbetku dengan tenang tanpa takut hilang lagi."

​"Ngomong-ngomong soal jemuran," Bella mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah kartu memori yang asli. "Data ini sudah dikirim ke pusat. Kita bakal dapet imbalan besar dari pemerintah karena membongkar kasus ini."

​Mata Maya berbinar. "Imbalan? Bisa buat beli daster sutra yang asli? Yang nggak bau bawang?"

​"Bisa, May. Bahkan lo bisa beli pabrik dasternya sekalian," tawa Bella pecah.

​Namun, di tengah tawa mereka, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka. Seorang pria tampan dengan setelan jas rapi turun dari mobil. Ia mendekati Bella dan memberikan sebuah kartu nama.

​"Nama saya Kapten Adrian dari Intelijen Negara. Kami memperhatikan aksi kalian malam ini. Kemampuan bela diri yang taktis, strategi katering yang brilian, dan... penggunaan alat kecantikan sebagai senjata. Kami punya divisi baru yang membutuhkan orang-orang seperti kalian."

​Bella membaca kartu nama itu: "Divisi Operasi Khusus: Domestik & Infiltrasi".

​Bella melirik Siska dan Maya. Siska mengangkat sutilnya, Maya merapikan daster macannya.

​"Gimana, Sis? May? Mau jadi detektif beneran? Gajinya lebih gede dari jualan rendang dan ngajar TK," tanya Bella.

​Siska tersenyum misterius. "Asal dapur mereka punya stok bumbu yang lengkap, aku ikut."

​Maya berdiri dengan anggun. "Asal seragamnya nggak motif loreng kayak Bella, aku setuju!"

​Bella tertawa, lalu menatap Kapten Adrian. "Kami punya satu syarat, Kapten."

​"Apa itu?"

​"Jangan pernah sentuh jemuran kami."

​Dan begitulah, dari urusan daster yang hilang, Apartemen Puri Kencana melahirkan trio detektif amatir paling ditakuti di dunia bawah tanah Jakarta. Mereka adalah Janda-Janda Undercover. Berisik, berbahaya, dan selalu punya bumbu rahasia untuk setiap musuhnya.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!