NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Kegelapan dan Rahasia di Balik Selubung

Terompet perunggu Kerajaan Aethelgard meraung panjang, suaranya memantul di antara menara-menara marmer dan tebing-tebing tinggi yang memagari ibu kota. Di gerbang utama, debu mengepul hebat saat iring-iringan ksatria berbaju zirah hitam legam memasuki pelataran istana. Itu adalah rombongan dari Kerajaan Noxvallys. Di tengah barisan, sebuah kereta kencana yang dihiasi ukiran naga hitam berhenti dengan anggun.

Raja Malakor turun dengan jubah beludru merah tua yang menyeret lantai. Wajahnya yang pucat dan matanya yang tajam seolah membawa hawa dingin yang tidak alami ke tengah hangatnya matahari Aethelgard. Kedatangannya bukan hanya untuk merayakan penemuan sang putri, melainkan untuk meresmikan aliansi besar yang akan menyatukan dua kekuatan terbesar di daratan ini.

Raja Alaric menyambutnya di tangga utama dengan senyum yang dipaksakan. Meskipun mereka akan menjadi sekutu, Alaric selalu merasakan kegelisahan setiap kali berada di dekat penguasa Noxvallys tersebut.

"Selamat datang, Malakor. Kau datang tepat waktu untuk melihat keajaiban yang kau simpan selama ini," ucap Raja Alaric sambil merangkul bahu Morena yang berdiri di sampingnya.

Malakor menatap Morena, lalu beralih ke arah tujuh pangeran yang berdiri berjajar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik yang tersembunyi. "Ah, Putri Aurora. Kau tampak jauh lebih bersinar sekarang setelah mengenakan mahkota yang seharusnya. Dan kau, Alaric, kau beruntung memiliki tujuh putra yang begitu gigih menjemput kembali jantung kerajaanmu."

Di saat upacara penyambutan berlangsung meriah di atas, di bawah tanah yang lembap, Gideon sedang duduk di depan sel Ara. Ia baru saja selesai memberikan sereal gandum hangat dan membalut luka di kaki Ara dengan kain bersih.

"Gideon... apa itu suara terompet di atas?" tanya Ara dengan suara yang masih lemah namun jauh lebih tenang dari sebelumnya.

"Raja Malakor telah tiba," jawab Gideon dengan nada benci. "Pria yang membiarkanmu disiksa selama belas tahun itu kini sedang berpesta di atas sana bersama Morena."

Ara menunduk, jemarinya tanpa sadar mengusap gambar Phoenix di debu yang ia buat semalam. "Hamba ingat tatapan matanya, Pangeran. Setiap kali beliau mengunjungi istana Valeska, beliau akan menatap hamba dengan pandangan yang sangat dingin, seolah-olah hamba adalah benda yang ia sembunyikan di tempat yang salah."

Gideon tertegun. "Dia sering menatapmu? Malakor?"

Sebelum Ara sempat menjawab, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekati sel. Gideon segera mengenali derap langkah itu—itu adalah Alistair dan Benedict. Gideon tidak punya waktu untuk bersembunyi. Ia berdiri tegak, menutupi jeruji sel dengan tubuhnya.

"Gideon? Apa yang kau lakukan di sini?" Alistair muncul dari balik pilar, matanya menatap tajam ke arah keranjang makanan yang masih terbuka di samping Gideon.

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ksatria sejati, Kak," sahut Gideon tanpa rasa takut. "Memberi makan orang yang lapar bukanlah kejahatan."

Alistair menghela napas panjang, tampak sangat lelah. "Gideon, aku sudah mengatakannya semalam. Darahnya sudah membuktikan segalanya. Mengapa kau begitu keras kepala?"

"Karena darah bisa dimanipulasi, tapi jiwa tidak!" seru Gideon. "Kak Benedict, kau sendiri yang bilang bahwa instingmu merasa ada yang salah. Mengapa kalian semua tunduk pada sepotong logam emas itu?"

Benedict melangkah maju, matanya tertuju pada Ara yang gemetar di dalam sel. "Raja Malakor ada di atas, Gideon. Dia membawa sebuah gulungan kuno yang berisi perjanjian aliansi. Dia menuntut agar pernikahan Morena dengan salah satu dari kita segera diumumkan sebagai pengikat dua kerajaan."

Mendengar kata "pernikahan", Ara tidak sengaja menjatuhkan mangkuk kayunya. Bunyi kayu yang membentur lantai menarik perhatian Benedict. Ia melihat ke dalam sel dan matanya terpaku pada gambar Phoenix di atas debu.

"Siapa yang menggambar itu?" tanya Benedict dengan suara yang mendadak parau.

"Ara yang menggambarnya," jawab Gideon mantap. "Simbol yang hanya diajarkan Bunda kepada kita secara rahasia di taman belakang. Bagaimana seorang pelayan Noxvallys bisa mengetahuinya jika dia bukan bagian dari kita?"

Alistair dan Benedict terpaku. Alistair berlutut, menyentuh debu yang membentuk sayap Phoenix itu. Pikirannya berperang hebat. Logika tentang kegagalan tes darah semalam berbenturan keras dengan bukti emosional di depan matanya.

"Mungkin dia melihatnya secara tidak sengaja di istana ini," Alistair mencoba mencari alasan logis, meskipun suaranya terdengar ragu.

"Di istana ini? Dia diseret langsung ke penjara sejak menginjakkan kaki di sini, Kak! Dia tidak pernah melihat dinding istana bagian atas!" Gideon mendesak.

Tiba-tiba, Benedict teringat sesuatu. "Alistair, ingatkah kau tentang Selubung Bayangan? Sihir terlarang dari Noxvallys yang bisa menutupi identitas asli seseorang bahkan dari benda sihir paling murni sekalipun?"

Wajah Alistair memucat. "Kau pikir Malakor menggunakan sihir itu pada Ara?"

"Pikirkanlah," Benedict berbicara dengan cepat. "Jika Malakor ingin menghancurkan Aethelgard dari dalam, dia akan mengirimkan seorang putri palsu yang membawa bukti sah, sementara putri yang asli ia biarkan menjadi budak agar identitasnya tak pernah terungkap. Malakor tahu kita akan menggunakan Pulpen Emas itu untuk mengetesnya. Dia sudah menyiapkan kegagalan itu agar kita membenci adik kita sendiri."

Alistair menatap Ara kembali. Kali ini, tatapannya bukan lagi penuh kebencian, melainkan rasa bersalah yang teramat dalam. Ia melihat bekas luka di pergelangan tangan Ara yang sedang diobati oleh Gideon.

"Maafkan aku..." bisik Alistair. Suaranya pecah. Ia teringat betapa kasarnya ia semalam saat membentak gadis ini.

Namun, sebelum mereka bisa bertindak lebih jauh, suara tawa Morena terdengar di lorong penjara. Rupanya, ia datang bersama beberapa pengawal untuk memastikan pencuri itu menderita.

"Oh, lihatlah para pangeranku berkumpul di sini," Morena masuk dengan langkah angkuh, diikuti oleh pengawal pribadinya. "Apakah kalian sedang melihat tikus selokan ini mengembuskan napas terakhirnya?"

Morena menyadari keberadaan makanan di sana. Wajahnya berubah menjadi sangat marah. "Siapa yang berani memberinya makan?! Ayahanda Raja telah memerintahkan agar dia kelaparan!"

"Aku yang melakukannya," Gideon berdiri menantang.

Morena tertawa sinis. "Kau selalu saja emosional, Gideon. Tapi tidak masalah. Besok, setelah penandatanganan aliansi, pelayan ini akan dieksekusi di depan umum sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani menipu keluarga kerajaan."

Morena menatap Ara dengan pandangan haus darah. Ia merasa sangat aman karena Raja Malakor ada di sana untuk mendukung setiap kebohongannya. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik wajah keras Alistair dan Benedict, sebuah rencana besar mulai tersusun.

"Kami akan mematuhi perintah Raja," ucap Alistair dengan nada datar yang dibuat-buat untuk mengelabui Morena. "Ayo Gideon, Benedict. Biarkan pelayan ini merenungi dosanya malam ini."

Alistair menarik Gideon pergi, namun saat melewati jeruji sel, ia memberikan kode dengan jari tangannya—sebuah isyarat bahwa mereka akan kembali.

Malam itu, di bawah kemeriahan pesta penyambutan Malakor, tiga pangeran tertua berkumpul secara rahasia. Mereka tahu mereka tidak bisa melawan secara terang-terangan karena Morena memegang dukungan penuh dari kedua Raja. Mereka harus menemukan cara untuk menghancurkan Selubung Bayangan itu sebelum fajar tiba, atau Ara akan benar-benar kehilangan nyawanya di tangan algojo istana.

"Kita butuh ramuan pemecah sihir dari perpustakaan rahasia Bunda," bisik Alistair.

"Dan kita harus melakukannya tanpa sepengetahuan Malakor. Jika dia tahu kita curiga, dia tidak akan ragu untuk menghancurkan istana ini."

Perlombaan melawan waktu dimulai. Di tengah pesta pora, sebuah rencana penyelamatan sedang dirajut dengan benang keberanian, sementara di dalam selnya, Ara terus berdoa, berharap bahwa janji Gideon bukanlah mimpi belaka.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!