"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Panggilan Dari Guru BK
Adrian tidak menyadari bahwa di balik pintu ruang tindakan, seorang guru dari sekolah Lala sedang berdiri dengan wajah yang sangat marah sambil memegang surat panggilan dari bimbingan konseling. Wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger kaku di ujung hidungnya itu menatap tajam ke arah Adrian yang masih memegang kapas medis di dekat lutut Lala. Suasana haru yang baru saja terbangun seketika pecah berantakan seperti cermin yang dipukul palu godam.
"Jadi di sini rupanya siswi teladan saya menghabiskan waktu bolosnya, di pelukan seorang dokter spesialis?" sindir guru tersebut dengan nada suara yang sangat melengking.
"Ibu Ratna? Kok Ibu bisa ada di sini? Ini tidak seperti yang Ibu bayangkan!" teriak Lala sambil mencoba melompat turun dari tempat tidur periksa.
Adrian segera menahan bahu Lala agar gadis itu tidak melakukan gerakan yang bisa merobek kembali jahitan luka di kulitnya yang halus. Ia berdiri dengan tenang lalu merapikan jas putihnya yang sudah ternoda oleh sisa darah dan cairan pembersih kuman dari kejadian sebelumnya. Tatapan mata Adrian yang dingin dan sangat berwibawa beradu dengan sorot mata penuh selidik milik sang guru bimbingan konseling.
"Selamat siang, saya Dokter Adrian, ada kepentingan apa Ibu mencari pasien saya di jam pemulihan seperti ini?" tanya Adrian dengan nada yang sangat datar.
"Pasien? Dia ini seharusnya ada di kelas sejarah, bukan malah bermain peran menjadi asisten dokter gadungan di rumah sakit ini!" balas Ibu Ratna sambil mengacungkan surat panggilan berwarna kuning.
Lala hanya bisa menciut di balik punggung lebar Adrian sambil meremas ujung perban yang baru saja dipasang dengan sangat rapi. Ia tahu bahwa Ibu Ratna adalah momok paling menakutkan di sekolah karena hobi memberikan hukuman membersihkan toilet kepada siswa yang nakal. Namun, kali ini masalahnya jauh lebih serius karena melibatkan orang luar yang memiliki kedudukan terhormat di masyarakat.
"Ibu Ratna, saya baru saja menyelamatkan nyawa orang dan menangkap penjahat, seharusnya aku dapat medali!" bela Lala dengan suara yang masih gemetar.
"Diam kamu Lala! Dokter Adrian, saya harus membawa siswi ini pulang ke sekolah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan kepala sekolah!" tegas Ibu Ratna.
Adrian merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan cara guru ini menyudutkan Lala tanpa mau mendengarkan penjelasan medis terlebih dahulu. Ia melangkah maju hingga jaraknya dengan Ibu Ratna hanya tersisa beberapa jengkal saja, menciptakan aura tekanan yang sangat menyesakkan dada. Sebagai seorang dokter, ia tidak akan membiarkan siapa pun membawa pasiennya pergi sebelum kondisi fisiknya dinyatakan benar benar stabil.
"Secara hukum medis, Lala sedang dalam perlindungan saya karena dia adalah saksi kunci sekaligus korban dalam penangkapan buronan tadi pagi," ucap Adrian dengan suara berat.
"Saya tidak peduli dengan urusan polisi, tugas saya adalah memastikan moral siswi ini tidak rusak karena pergaulan yang tidak sehat!" sanggah Ibu Ratna tidak mau kalah.
Lala menatap punggung Adrian dengan binar mata yang penuh kekaguman karena sang dokter kulkas kini sedang pasang badan untuk membelanya. Ia merasa seperti putri di dalam dongeng yang sedang dilindungi oleh ksatria berbaju zirah putih dari serangan naga yang menyemburkan api kemarahan. Namun, lamunan indah itu terhenti saat Ibu Ratna mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai menekan nomor telepon ayah Lala.
"Halo Bapak Polisi? Saya sudah menemukan putri Anda di rumah sakit bersama seorang pria dewasa yang sangat mencurigakan," lapor Ibu Ratna dengan wajah penuh kemenangan.
"Ibu jangan memfitnah! Dokter Adrian itu orang baik, dia bahkan sudah menghafal jadwal sekolahku!" teriak Lala yang malah membuat situasi semakin runyam.
Adrian memejamkan mata sejenak sambil merutuki kepolosan Lala yang justru memberikan senjata baru bagi Ibu Ratna untuk menyerang mereka. Ia menyadari bahwa perdebatan ini tidak akan selesai hanya dengan logika medis jika sudah melibatkan perasaan protektif seorang ayah dan aturan sekolah yang kaku. Adrian mengambil kembali surat panggilan bimbingan konseling itu lalu menandatanganinya dengan coretan tangan yang sangat cepat dan sangat tegas.
"Saya akan datang ke sekolah besok pagi sebagai wali medis Lala, sekarang biarkan dia beristirahat di bawah pengawasan saya," kata Adrian sambil memberikan surat itu kembali.
"Baik, saya pegang janji Anda, jika Anda tidak datang maka saya akan melaporkan ini ke dinas pendidikan!" ancam Ibu Ratna sebelum akhirnya berbalik pergi dengan langkah kaki yang menghentak.
Setelah guru itu menghilang dari pandangan, Adrian mengembuskan napas panjang dan segera terduduk di kursi kecil yang ada di pojok ruangan. Ia merasa energi dalam tubuhnya terkuras habis hanya untuk menghadapi satu orang guru yang memiliki tingkat keras kepala setingkat dengan batu granit. Lala mendekati Adrian dengan gerakan yang sangat pelan lalu menyentuh lengan pria itu dengan ujung jarinya yang masih gemetar.
"Maafkan aku Dokter, gara-gara aku Dokter harus berurusan dengan bimbingan konseling sekolah yang sangat menyeramkan itu," bisik Lala dengan nada penuh penyesalan.
"Ini adalah konsekuensi dari tindakan ugal ugalan kamu, sekarang diamlah dan biarkan saya berpikir bagaimana cara menjelaskan ini pada ayahmu," jawab Adrian tanpa menoleh.
Adrian menyadari bahwa hidupnya yang selama ini sangat teratur dan sangat membosankan kini telah berubah menjadi sebuah wahana permainan yang sangat liar. Ia mulai merasakan ada getaran yang tidak terdiagnosis di dalam dadanya setiap kali ia harus melindungi gadis sekolah yang penuh dengan masalah ini. Namun, ia harus tetap menjaga jarak profesional karena ia tahu bahwa benturan dua dunia ini baru saja dimulai.
"Dokter, apa benar Dokter sudah menghafal jadwal sekolahku?" tanya Lala dengan nada menggoda yang muncul kembali.
"Hanya agar saya tahu kapan harus mengunci pintu ruangan ini rapat rapat agar kamu tidak bisa masuk lagi," sahut Adrian yang membuat Lala tertawa kecil.
Adrian kemudian membawa Lala keluar dari ruang tindakan untuk mengantarkannya pulang ke rumah melalui pintu belakang agar tidak bertemu dengan wartawan yang mulai berdatangan. Ia memastikan Lala masuk ke dalam mobil dengan sangat hati hati dan memberikan beberapa butir obat pereda nyeri untuk diminum di rumah. Namun, saat mobil baru saja hendak berjalan, seorang pria tinggi dengan wajah yang sangat mirip dengan Adrian tiba tiba berdiri di depan kap mobil mereka.
Pria itu mengetuk kaca jendela dengan senyum yang sangat misterius dan menyapa Adrian dengan sebutan adik kecil di depan Lala yang ternganga.