Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir kehilangan?
Malam itu, keheningan di kediaman Vance terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seolah-olah udara sendiri mengandung firasat buruk yang siap meledak kapan saja. Di dalam kamar utama yang diterangi cahaya temaram, Alana terbaring kaku. Tubuhnya terasa seperti bukan miliknya lagi; hanya sebuah cangkang kosong yang sedang dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya.
Baru saja, beberapa jam yang lalu, Brixton kembali datang. Pria itu masuk dengan aroma wiski yang tajam dan emosi yang tidak stabil. Seperti malam-malam sebelumnya, ia mengabaikan rintihan Alana tentang rasa kram di perut bawahnya. Ia mengabaikan keringat dingin yang membasahi dahi istrinya. Bagi Brixton, kebutuhan fisiknya adalah hukum tertinggi, dan kehamilan Alana justru membuatnya merasa memiliki hak lebih untuk menuntut perhatian dari tubuh wanita itu. Ia telah memaksa Alana melayaninya dengan intensitas yang kejam, menganggap rasa sakit yang dikeluhkan Alana hanyalah alasan untuk menghindar.
Namun, saat Brixton akhirnya bangkit dan menyalakan lampu kamar mandi, ia tertegun.
Alana masih meringkuk di atas ranjang, wajahnya terbenam di bantal. Ia tidak menangis bersuara, hanya napasnya yang terdengar putus-putus. Brixton melirik ke arah seprai putih yang kini tersingkap, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ada noda merah yang kontras. Kecil, namun sangat nyata. Darah.
"Alana..." suara Brixton pecah, kehilangan nada angkuh yang biasanya ia miliki.
Alana tidak menjawab. Ia hanya memegangi perutnya dengan tangan yang gemetar hebat. Saat ia mencoba bergeser, ia merasakan cairan hangat mengalir di antara pahanya, dan rasa sakit yang tadinya hanya tumpul kini berubah menjadi tajam, seolah-olah ada pisau panas yang sedang mengoyak rahimnya dari dalam.
"Brixton... sakit..." rintih Alana, matanya yang hijau zamrud terbuka sedikit, memancarkan ketakutan yang begitu murni hingga sanggup menembus tembok ego Brixton. "Anakku... tolong..."
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini, Brixton Alistair Vance merasakan ketakutan yang nyata. Bukan rasa marah karena rencana bisnisnya gagal, bukan pula rasa kesal karena egonya tergores, melainkan rasa panik yang membuat lututnya lemas. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia coba sangkal: nyawa di dalam rahim Alana—dan nyawa Alana sendiri—adalah sesuatu yang sangat rapuh. Dan ia adalah orang yang baru saja menghancurkan kerapuhan itu.
"Bibi Martha! Panggil dokter! Sekarang!" teriak Brixton dengan suara yang menggelegar ke seluruh koridor rumah.
Ia tidak menunggu bantuan. Ia segera mengangkat tubuh Alana yang terasa sangat ringan, seolah-olah wanita itu hanyalah kumpulan tulang yang dibalut kulit pucat. Saat ia menggendongnya, ia bisa merasakan tubuh Alana yang terus gemetar. Darah itu menodai kemeja hitam Brixton, namun kali ini, ia tidak merasa jijik. Ia justru merasa ngeri.
"Bertahanlah, Alana. Jangan berani-berani kau menyerah," bisik Brixton, suaranya parau oleh kepanikan yang tidak terkendali.
Dr. Aris datang dengan wajah yang sangat marah. Ia segera mengusir Brixton keluar dari kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Selama dua jam yang terasa seperti keabadian, Brixton mondar-mandir di depan pintu dengan langkah gelisah. Ia menatap telapak tangannya yang masih meninggalkan jejak noda darah Alana.
Pikirannya berkecamuk. Bayangan masa lalu tentang Elena mendadak pudar, digantikan oleh bayangan wajah Alana yang kesakitan. Ia mulai menyadari sebuah kenyataan pahit: selama ini ia mencoba membunuh Alana secara perlahan dengan kebenciannya, namun saat kematian itu benar-benar mendekat, ia merasa dunianya akan runtuh. Jika Alana mati, anak itu akan mati. Dan jika keduanya mati, ia akan dibiarkan sendirian dengan rasa bersalah yang tidak akan pernah bisa ia hapus sampai akhir hayatnya.
Pintu terbuka. Dr. Aris keluar dengan wajah yang letih.
"Bagaimana mereka?" tanya Brixton segera, suaranya tidak stabil.
"Keajaiban mereka masih ada di sana, Brixton," jawab Dr. Aris dengan nada menghina. "Pendarahan itu terjadi karena stres fisik yang sangat berat dan trauma pada rahim. Alana mengalami kontraksi dini karena aktivitas fisik yang kau paksakan padanya. Aku sudah memberinya obat penguat dan penenang. Jika ini terjadi sekali lagi, jangan harap kau akan melihat salah satu dari mereka tetap bernapas."
Dr. Aris menatap mata Brixton dengan tajam. "Kau hampir membunuh mereka berdua hanya untuk melegakan nafsumu, Brixton. Apa kau begitu haus hingga kau bersedia menjadi pembunuh anakmu sendiri?"
Brixton terdiam. Ia tidak bisa membela diri. Kata-kata dokter itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada makian mana pun.
Hari-hari setelah kejadian itu, atmosfer di kediaman Vance berubah secara drastis. Brixton mulai jarang menyentuh Alana secara seksual. Ketakutan melihat darah itu kembali muncul setiap kali ia melihat Alana. Ada trauma yang tertanam di kepalanya; bayangan bahwa setiap kali ia menggunakan tubuh Alana, ia sedang membunuh bayi yang dikandungnya.
Ia tetap masuk ke kamar Alana, namun hanya untuk duduk di kursi di sudut ruangan, memperhatikan Alana yang sedang tidur atau menatap jendela dengan tatapan kosong. Ia tetap bersikap dingin, tetap acuh tak acuh dalam bicaranya, namun ia tidak lagi memaksakan keinginannya. Ia merasa jijik pada tubuh Alana yang kini ia anggap sebagai 'barang rusak' yang bisa pecah kapan saja jika ia sentuh.
Namun, sifat dasarnya sebagai pria yang penuh nafsu dan frustrasi tidak bisa hilang begitu saja. Brixton butuh pelampiasan. Karena ia merasa 'sangkar' di rumahnya kini terlalu berbahaya untuk disentuh, ia mulai mencari jalan keluar lain.
Setiap malam, setelah memastikan Alana tertidur di bawah pengawasan ketat para perawat, Brixton akan pergi ke klub malam atau bar-bar eksklusif yang gelap. Di sana, ia kembali menjadi sosok yang dingin dan berbahaya. Ia tidak lagi peduli pada moralitas. Ia mulai melampiaskan kebutuhan seksualnya kepada para wanita penghibur, para jalang yang ia temui di sana.
Baginya, wanita-wanita itu tidak memiliki nilai. Ia bisa menggunakan mereka sekeras yang ia mau, membuang mereka setelah selesai, dan tidak perlu khawatir akan ada darah yang menodai seprainya atau nyawa yang terancam. Di pelukan wanita-wanita asing itu, ia mencoba melupakan wajah pucat Alana dan rasa bersalah yang mulai menghantuinya.
"Tuan Vance, Anda sangat kasar malam ini," bisik seorang wanita bergaun merah minim yang duduk di pangkuannya di sebuah ruang VIP bar.
Brixton tidak menjawab. Ia hanya menghisap cerutunya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke wajah wanita itu. Di matanya, wanita di depannya ini hanyalah sebuah benda. Namun, ironisnya, bahkan saat ia sedang bersama wanita-wanita murahan itu, pikirannya seringkali melayang kembali ke kamar yang sunyi di rumahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena merindukan sensasi 'memiliki' Alana, namun ketakutan akan kehilangan ahli warisnya jauh lebih besar daripada hasratnya.
Di sisi lain, Alana mulai menyadari perubahan suaminya. Brixton tidak lagi memaksanya di tempat tidur, dan itu adalah sebuah kelegaan yang luar biasa besar baginya. Namun, ia juga tahu ke mana suaminya pergi setiap malam. Ia mencium aroma parfum wanita yang berbeda-beda setiap kali Brixton pulang menjelang subuh. Ia mendengar suara mobil Brixton yang menderu pergi saat malam tiba.
Alana duduk di ranjangnya, memeluk perutnya yang kini sudah mulai terasa sedikit keras. Ia merasa sedih, namun juga merasa hancur secara martabat. Suaminya lebih memilih mencari pelampiasan pada wanita murahan daripada menunjukkan sedikit saja kasih sayang padanya. Ia merasa seperti barang yang sudah tidak berguna; setelah benih ditanamkan dan kondisi fisiknya melemah, ia dikesampingkan begitu saja.
"Setidaknya dia tidak menyakitiku lagi," bisik Alana pada dirinya sendiri, mencoba mencari penghiburan di tengah kehampaan. "Setidaknya kau aman, Nak."
Suatu malam, Brixton pulang dalam keadaan mabuk berat. Ia masuk ke kamar Alana, aromanya bercampur antara alkohol, tembakau, dan parfum wanita yang menyengat. Ia berdiri di tepi tempat tidur, menatap Alana yang sedang membaca buku di bawah cahaya lampu tidur.
"Kau masih bangun?" tanya Brixton, suaranya parau.
Alana mendongak, matanya yang hijau zamrud menatap Brixton dengan tatapan datar yang menyakitkan. "Aku sedang menunggu vitamin terakhirku."
Brixton tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit. Ia duduk di lantai di samping ranjang, menyandarkan kepalanya pada kasur. "Kau tahu, Alana... wanita-wanita di luar sana... mereka tidak punya mata seperti matamu. Mereka tidak punya rambut pink yang aneh ini."
Ia mencoba meraih rambut Alana, namun tangannya berhenti di udara, gemetar. Ia menarik tangannya kembali seolah-olah rambut Alana adalah api.
"Kau takut padaku sekarang, bukan?" tanya Alana pelan. "Kau takut menyentuhku karena kau takut membunuh anakmu sendiri."
Brixton mendongak, matanya merah karena alkohol dan emosi. "Aku tidak takut padamu. Aku hanya tidak ingin investasi keluargaku sia-sia."
"Bohong," sahut Alana. "Kau panik malam itu, Brixton. Aku melihatnya. Kau takut kehilangan kendali atas hidupku karena kematian bisa mengambilku darimu kapan saja."
"Diam!" bentak Brixton, namun ia tidak bangkit untuk memukulnya. Ia justru membenamkan wajahnya di kedua tangannya. "Aku benci rumah ini. Aku benci melihatmu terbaring di sana seperti pengingat akan setiap kesalahanku."
"Kalau begitu, berhentilah mencari wanita lain untuk melupakan apa yang kau rasakan di sini," kata Alana, suaranya tenang namun tajam. "Kau hanya membuang-buang waktu. Rasa bersalah itu tidak akan hilang hanya karena kau tidur dengan seribu jalang, Brixton."
Brixton bangkit berdiri dengan tiba-tiba. Wajahnya mengeras kembali menjadi topeng es yang biasa ia pakai. "Jangan pernah mengatur hidupku, Alana. Aku pergi ke luar sana karena aku muak melihat wajahmu yang selalu tampak seperti korban. Kau adalah istri di atas kertas, tapi jangan pernah berharap kau akan mendapatkan tempat lebih dari itu."
Brixton melangkah keluar dari kamar, menutup pintu dengan dentuman yang tidak terlalu keras kali ini, seolah ia sadar bahwa getaran keras bisa membahayakan janin itu.
Minggu-minggu berlalu. Brixton semakin tenggelam dalam kehidupan malamnya. Ia menjadi pelanggan tetap di bar-bar kelas atas, dikenal sebagai miliarder dingin yang tidak pernah tersenyum namun royal dalam membuang uang pada wanita penghibur. Di kantor, ia menjadi semakin gila kerja, mencoba melarikan diri dari kenyataan bahwa rumahnya kini menjadi tempat yang paling ia takuti.
Sementara itu, Alana mulai pulih secara fisik, namun secara mental ia semakin menjauh. Ia menjadi sangat pendiam. Ia melakukan semua instruksi dokter, makan semua makanan bergizi yang diberikan, namun ia tidak pernah lagi mencoba bicara pada Brixton jika tidak terpaksa. Ia menjadi seperti patung indah yang bernapas di dalam kamar itu.
Suatu sore, saat Brixton sedang bersiap untuk pergi ke bar lagi, ia melihat Alana berdiri di balkon kamarnya, menatap matahari terbenam. Rambut merah jambunya tertiup angin, dan gaun putihnya melambai lembut. Ia tampak sangat cantik, namun kecantikan itu terasa sangat jauh, seolah Alana sudah tidak lagi berada di dunia yang sama dengannya.
Brixton berhenti sejenak, memegang gagang pintu mobilnya. Ada dorongan kuat untuk membatalkan rencananya malam itu, masuk ke dalam, dan hanya duduk di samping Alana tanpa kemarahan. Namun, ego dan rasa malunya menahan langkahnya. Ia merasa ia sudah terlalu jauh menyakiti wanita itu, dan kembali bersikap baik sekarang akan membuatnya terlihat lemah.
Ia masuk ke dalam mobilnya dan menderu pergi menuju distrik hiburan malam, mencari pelampiasan seksual yang hambar dan tanpa jiwa dari wanita-wanita yang bahkan tidak tahu namanya.
Di atas balkon, Alana melihat mobil suaminya menjauh. Ia mengusap perutnya yang kini sudah mulai terlihat menonjol kecil. "Ayahmu sedang melarikan diri lagi, Nak," bisiknya lirih. "Dia terlalu pengecut untuk menghadapi apa yang dia tanam di dalam diriku."
Sumpah di atas luka itu kini telah berubah bentuk. Kebencian Brixton kini bercampur dengan rasa takut yang pengecut, sementara kesabaran Alana telah berubah menjadi kedinginan yang membeku. Kehamilan itu seharusnya menjadi jembatan, namun bagi mereka berdua, itu justru menjadi garis pembatas yang semakin memperjelas bahwa mereka adalah dua orang asing yang dipaksa berbagi rahasia berdarah di dalam satu rumah yang dingin.
Malam itu, saat Brixton berada di pelukan seorang wanita asing di sebuah bar remang-remang, dan Alana tidur sendirian dengan mimpi buruk tentang darah, kesunyian di kediaman Vance terasa semakin mematikan. Perjalanan mereka masih sangat panjang, dan luka-luka baru terus tercipta di bawah bayang-bayang pengkhianatan dan nafsu yang tersesat.