NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARISAN YANG TERENGGUT

Mentari Jakarta pagi itu bersinar cerah, namun tidak mampu menembus kegelapan yang merayapi hati Qinara. Gadis kecil itu, baru saja menginjak usia enam tahun, berdiri di depan jendela kamarnya, memandang taman luas yang dulu selalu menjadi tempatnya bermain. Sekarang, taman itu terasa asing, seolah bukan lagi bagian dari dunianya.

Rumah besar ini, rumah yang seharusnya menjadi tempatnya tumbuh dengan bahagia, kini terasa seperti penjara. Dinding-dindingnya seolah berbisik tentang pengkhianatan dan kebohongan. Aroma bunga mawar yang dulu selalu menenangkan, kini terasa menyesakkan dada.

Ayahnya, Hadian, seorang pengusaha pertambangan yang sukses dan disegani, baru saja meninggal dunia. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya meninggalkan luka yang menganga di hati Qinara. Namun, luka itu semakin perih ketika ia menyadari bahwa kematian ayahnya bukanlah akhir dari segalanya. Justru, itu adalah awal dari mimpi buruk yang lebih besar.

Qinara selalu menjadi gadis kecil yang cerdas dan peka. Ia mampu merasakan hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa. Sejak lama, ia sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangganya. Ibunya, Laras, wanita cantik yang selalu tampil anggun di depan umum, menyimpan rahasia kelam di balik senyumnya.

Qinara seringkali memergoki ibunya berbicara lirih di telepon, dengan nada suara yang berbeda dari biasanya. Ia juga melihat ibunya bertemu dengan seorang pria di tempat-tempat tersembunyi. Awalnya, Qinara tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa ibunya berselingkuh.

Kecurigaan Qinara semakin menguat ketika ia mendengar pertengkaran hebat antara kedua orang tuanya. Malam itu, Qinara terbangun karena suara teriakan yang memekakkan telinga. Ia mengintip dari balik pintu kamarnya dan melihat ibunya menunjuk-nunjuk ayahnya dengan wajah penuh amarah.

"Kamu tidak pernah mengerti aku! Kamu hanya peduli dengan pekerjaanmu!" teriak Laras.

"Apa lagi yang kurang? Aku sudah memberikan semua yang kamu inginkan!" balas Hadian dengan nada frustrasi.

"Aku tidak butuh hartamu! Aku butuh cinta! Cinta yang tulus, bukan hanya sekadar materi!"

Qinara tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cinta yang tulus. Namun, ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hubungan kedua orang tuanya. Sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan harta dan kemewahan.

Setelah pertengkaran itu, suasana di rumah menjadi semakin dingin. Laras semakin sering keluar rumah dan mengabaikan Qinara. Hadian, di sisi lain, menjadi lebih pendiam dan murung. Ia seringkali menghabiskan waktu di ruang kerjanya, membaca buku atau menatap foto-foto lama.

Qinara merasa sangat sedih melihat kedua orang tuanya seperti itu. Ia ingin membantu mereka, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia hanyalah seorang anak kecil yang tidak berdaya.

Suatu malam, Hadian memanggil Qinara ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursi kebesarannya dan memangku Qinara di pangkuannya.

"Qinara sayang, ayah ingin bicara sesuatu," kata Hadian dengan nada lembut.

Qinara menatap wajah ayahnya dengan rasa ingin tahu. Ia melihat ada kesedihan yang mendalam di mata ayahnya.

"Ayah tahu, kamu anak yang pintar dan kuat. Ayah ingin kamu selalu ingat, bahwa ayah sangat menyayangimu. Apapun yang terjadi, ayah akan selalu ada di hatimu," kata Hadian sambil memeluk Qinara erat-erat.

Qinara membalas pelukan ayahnya. Ia merasakan kehangatan dan cinta yang tulus dari ayahnya. Ia tidak tahu mengapa ayahnya berkata seperti itu. Namun, ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Beberapa hari kemudian, Hadian mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Mobil yang dikendarainya menabrak sebuah truk dan hancur berkeping-keping. Hadian meninggal di tempat kejadian.

Kabar kematian Hadian bagaikan petir di siang bolong bagi Qinara. Ia tidak percaya bahwa ayahnya telah pergi meninggalkannya. Ia merasa dunianya runtuh seketika.

Di pemakaman ayahnya, Qinara hanya bisa menangis dalam diam. Ia melihat ibunya berdiri di sampingnya, dengan wajah yang tampak sedih. Namun, Qinara tidak bisa merasakan kesedihan yang tulus dari ibunya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya.

Setelah kematian Hadian, kehidupan Qinara berubah drastis. Laras menjadi semakin dingin dan tidak peduli padanya. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya dan mengabaikan Qinara.

Suatu hari, Laras membawa seorang pria ke rumah. Pria itu bernama Arman, seorang pengusaha yang dikenal licik dan serakah. Qinara tidak menyukai Arman sejak pertama kali bertemu. Ia merasakan aura negatif yang kuat dari pria itu.

"Qinara, kenalkan, ini Om Arman. Dia akan sering datang ke rumah kita," kata Laras dengan nada datar.

Qinara hanya mengangguk tanpa menjawab. Ia menatap Arman dengan tatapan menyelidik. Arman membalas tatapan Qinara dengan senyum sinis.

Sejak saat itu, Arman semakin sering datang ke rumah dan ikut campur dalam urusan keluarga Qinara. Ia mulai mengatur-atur keuangan dan aset perusahaan Hadian. Laras tidak keberatan dengan hal itu. Ia justru tampak senang dengan kehadiran Arman.

Qinara merasa semakin tidak nyaman dengan situasi ini. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia mulai mencari tahu tentang Arman dan menemukan fakta-fakta yang mengejutkan.

Ternyata, Arman adalah cinta pertama Laras. Mereka pernah menjalin hubungan asmara saat masih kuliah. Namun, hubungan mereka kandas karena Arman tidak memiliki pekerjaan tetap. Laras kemudian menikah dengan Hadian karena tergiur dengan kekayaan dan status sosialnya.

Qinara juga menemukan bukti bahwa Arman memiliki hubungan dengan perusahaan pertambangan ilegal. Ia mencurigai bahwa Arman terlibat dalam kecelakaan yang menimpa ayahnya. Ia yakin bahwa Arman dan Laras bersekongkol untuk membunuh ayahnya dan menguasai hartanya.

Qinara mencoba menceritakan kecurigaannya kepada ibunya. Namun, Laras justru marah dan menuduh Qinara berbohong.

"Kamu jangan menuduh Om Arman yang tidak-tidak! Dia orang baik. Dia hanya ingin membantu kita," kata Laras dengan nada membentak.

"Tapi, Bu..."

"Sudah! Jangan membantah! Kamu tidak tahu apa-apa!"

Qinara merasa sangat kecewa dengan sikap ibunya. Ia merasa tidak ada seorang pun yang mempercayainya. Ia merasa sendirian di dunia ini.

Suatu malam, Qinara mendengar percakapan antara Laras dan Arman di ruang kerja ayahnya. Ia menguping dari balik pintu dan mendengar rencana jahat mereka.

"Setelah kita berhasil menguasai semua aset perusahaan, kita akan menyingkirkan Qinara. Dia terlalu pintar. Dia bisa membahayakan rencana kita," kata Arman.

"Aku sudah memikirkannya. Kita akan mengirimnya ke sekolah asrama di luar kota. Dengan begitu, dia tidak akan bisa ikut campur lagi," jawab Laras.

Qinara terkejut mendengar rencana ibunya. Ia tidak menyangka bahwa ibunya tega melakukan hal itu padanya. Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya.

Qinara memutuskan untuk bertindak. Ia tidak akan membiarkan Laras dan Arman menguasai hartanya dan menghancurkan hidupnya. Ia akan mencari cara untuk mengungkap kebenaran dan membalas dendam atas kematian ayahnya.

Keesokan harinya, Qinara mengemasi barang-barangnya. Ia hanya membawa pakaian yang ada di tubuhnya dan sebuah kotak kecil yang diberikan oleh ayahnya saat ulang tahunnya yang kelima. Kotak itu berisi foto-foto kenangan mereka dan sebuah surat yang ditulis oleh ayahnya.

Qinara meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur dan penuh dengan dendam. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan kembali suatu hari nanti dan mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Ia akan membuktikan bahwa Laras dan Arman telah melakukan kesalahan besar dengan meremehkannya.

Qinara berjalan menyusuri jalanan Jakarta yang ramai. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia tidak memiliki keluarga atau teman yang bisa membantunya. Ia hanya memiliki tekad yang kuat untuk bertahan hidup dan membalas dendam.

Di tengah keramaian kota, Qinara merasa sendirian dan tersesat. Namun, ia tidak menyerah. Ia tahu bahwa ia harus kuat dan berani menghadapi semua tantangan yang ada di depannya. Ia yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan mencapai tujuannya.

Qinara terus berjalan, dengan harapan dan dendam yang membara di dalam hatinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melupakan ayahnya dan ia akan selalu berjuang untuk keadilan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!