Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Hukuman
Di BALLERINA MURDERER, kesalahan tidak pernah disebut sebagai kesalahan.
Kesalahan adalah kemewahan yang hanya dimiliki dunia luar.
Di tempat ini, segala kekeliruan memiliki satu nama yang lebih kejam dan lebih elegan: pelajaran.
Pagi itu tidak dimulai dengan bel. Tidak ada dentingan besi yang biasanya memecah kesunyian seperti lonceng kematian. Tidak ada tanda apa pun bahwa hari telah berganti. Namun justru ketiadaan itu yang membuat udara terasa jauh lebih berat, seolah bangunan tua BALLERINA MURDERER ikut menahan napas, menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Bella Shofie terbangun oleh suara langkah kaki yang berat di lorong. Langkah-langkah itu tidak terburu-buru, namun cukup keras untuk menembus dinding kayu tipis kamar mereka. Pintu-pintu kamar dibuka paksa satu per satu. Suara engsel berderit terdengar seperti jeritan tertahan.
“Semua ke aula utama.”
Perintah itu datang dari Madam Doss.
Nada suaranya sama seperti biasa—tenang, datar, dan dingin. Tidak ada ancaman, tidak pula emosi. Namun justru karena itulah perintah itu terasa mutlak. Tidak ada satu pun gadis yang berani menunda.
Bella Shofie bangkit perlahan dari kasurnya. Otot-otot kakinya terasa kaku, nyeri dari latihan kemarin belum juga mereda. Setiap kali ia menapak, rasa perih menjalar seperti serpihan kaca yang menusuk dari telapak kaki hingga betis. Namun ia menahan diri untuk tidak meringis. Di tempat ini, menunjukkan rasa sakit sama dengan membuka diri untuk dihancurkan.
Ia berjalan di samping Cella menyusuri lorong panjang yang dingin. Beberapa gadis lain berjalan terpincang-pincang. Ada yang menunduk dalam diam, ada yang menggigit bibir menahan nyeri, dan ada pula yang mencoba menyembunyikan perban seadanya di balik kaus kaki putih yang telah menguning.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang saling menatap terlalu lama. Keheningan itu bukan tanda ketenangan, melainkan bentuk ketakutan yang sudah terlalu lama berdiam di dalam tubuh mereka.
Aula utama terasa berbeda dari ruang latihan sebelumnya. Ruang itu jauh lebih luas, dengan langit-langit tinggi dan balok-balok kayu besar yang menggantung di atas kepala seperti tulang belulang raksasa. Dindingnya polos, nyaris tanpa jendela. Cahaya redup masuk dari lampu-lampu gantung tua yang berayun pelan, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Lantai kayu di tengah aula terlihat terlalu bersih. Tidak ada bekas goresan, tidak ada noda lama. Kebersihan yang mencurigakan, seolah sesuatu pernah disiram dan dihapus dengan paksa.
Madam Doss berdiri di depan barisan. Tubuhnya tegak, tangannya terlipat di belakang punggung. Di sampingnya berdiri Catherine, diam dan kaku, wajahnya kosong seperti patung yang diciptakan hanya untuk mengawasi penderitaan.
“Hari ini,” ucap Madam Doss akhirnya, suaranya menggema pelan di aula yang luas, “kita akan belajar tentang konsekuensi.”
Kata itu membuat jantung Bella Shofie berdegup lebih cepat. Konsekuensi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun nalurinya berteriak bahwa apa pun yang akan mereka saksikan pagi ini tidak akan mudah dilupakan.
Madam Doss melangkah perlahan menyusuri barisan. Sepatunya menghasilkan bunyi ketukan teratur di lantai kayu, seperti hitungan waktu yang kejam. Matanya menilai satu per satu wajah di hadapannya, seolah mencari sesuatu.
Ia berhenti di depan seorang gadis remaja dengan rambut hitam yang diikat rapi. Wajah gadis itu pucat, matanya cekung, namun posturnya masih berusaha tegak.
“Kamu,” kata Madam Doss singkat.
“Kemarin kamu jatuh.”
Gadis itu menelan ludah. Bahunya bergetar hampir tak terlihat.
“I-izin, Madam… kaki saya—”
Plak!
Tamparan itu terdengar nyaring, memantul di seluruh ruangan. Kepala gadis itu terhuyung ke samping. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Hanya suara napas yang tertahan dari puluhan gadis yang menyaksikan.
“Di sini,” ucap Madam Doss dingin, “alasan adalah bentuk lain dari penolakan.”
Gadis itu menunduk, air mata menggenang di matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh.
“Berdiri di tengah.”
Dengan langkah gemetar, gadis itu melangkah ke tengah aula. Lantai yang terlalu bersih kini terasa seperti panggung eksekusi. Madam Doss memberi isyarat kecil. Catherine berjalan ke sudut ruangan dan kembali dengan sepasang sepatu pointe lama. Sepatu itu tampak keras, kusam, dan bernoda merah kecokelatan yang tidak sepenuhnya hilang.
“Pakailah,” perintah Madam Doss.
Tangan gadis itu gemetar saat menerima sepatu tersebut. Ia memakainya perlahan, seolah tahu apa yang akan terjadi pada tubuhnya begitu sepatu itu menyatu dengan kakinya.
“Sekarang,” lanjut Madam Doss, “relevé. Tahan sampai aku bilang berhenti.”
Gadis itu berdiri berjinjit. Otot-otot kakinya menegang. Wajahnya berubah pucat, napasnya tersengal. Detik demi detik berlalu. Aula terasa sunyi, hanya diisi oleh suara napas dan degup jantung yang tidak terdengar namun terasa.
Bella Shofie tidak mampu mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sesak. Ada bagian dari dirinya yang ingin menutup mata, namun ada pula bagian lain yang memaksanya untuk melihat. Ia tahu, ini adalah pelajaran yang tidak boleh ia lewatkan.
Gadis itu mulai goyah.
“Jangan turun,” perintah Madam Doss tanpa emosi.
Darah mulai merembes dari ujung sepatu, membasahi kain yang sudah tua. Wajah gadis itu semakin pucat, tubuhnya bergetar hebat, namun ia tetap bertahan.
“Apa yang kamu pelajari?” tanya Madam Doss.
“B-bahwa saya lemah, Madam,” jawab gadis itu dengan suara pecah.
“Dan?”
“Bahwa kelemahan harus… dihilangkan.”
Madam Doss tersenyum tipis.
“Bagus.”
Beberapa detik kemudian, tubuh gadis itu runtuh. Ia jatuh menghantam lantai dengan bunyi tumpul. Tubuhnya tidak bergerak.
Catherine melangkah maju, memeriksa denyut nadinya sekilas, lalu mengangguk pelan.
“Bawa dia ke ruang pemulihan,” perintah Madam Doss.
Dua penjaga muncul dan mengangkat tubuh gadis itu tanpa sepatah kata pun, seolah ia hanyalah barang rusak.
Bella Shofie merasakan tangannya dingin. Ia menoleh ke Cella.
“Apakah… dia akan kembali?” bisiknya hampir tak terdengar.
Cella terdiam lama sebelum menjawab.
“Beberapa kembali,” ucapnya pelan.
“Beberapa berubah. Dan beberapa… tidak pernah sama lagi.”
Latihan dimulai setelah itu, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.
Plié.
Tendu.
Relevé.
Tidak ada yang berani jatuh.
Bella Shofie memusatkan seluruh pikirannya pada satu tujuan: bertahan. Rasa sakit masih ada, bahkan semakin tajam, namun kini ia tidak lagi melawannya. Ia membiarkannya mengalir, menjadi bagian dari napas dan geraknya.
Madam Doss memperhatikan Bella lebih lama dari yang lain.
“Kamu,” katanya tiba-tiba.
“Kenapa kamu tidak jatuh?”
“Saya… tidak tahu, Madam,” jawab Bella jujur.
Madam Doss mendekat, menatapnya tajam.
“Takut membuatmu mati,” ucapnya pelan.
“Dan di tempat ini, yang tidak berani… tidak pantas bertahan.”
Malam itu, kamar terasa lebih sunyi. Tidak semua kasur terisi.
Bella Shofie duduk di kasurnya, menatap tangannya sendiri.
Hukuman pertama, pikirnya.
Di BALLERINA MURDERER, bertahan bukan soal bakat.
Bertahan adalah pilihan yang harus diambil setiap hari.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Bella Shofie tahu—ia sedang belajar bertahan dengan cara yang paling kejam.
...Bersambung ~...