NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Menghapua Segala Harapan

Langit di atas kota Bandung sudah mulai gelap ketika Ridwan berusia empat belas tahun memasuki rumah besar mereka yang terletak di kawasan elit di sekitar Jalan Dipati Ukur. Lampu-lampu hias di halaman rumah menyala dengan terang, namun tidak memberikan kesan hangat bagi Ridwan yang baru saja tiba dari sekolah. Udara malam yang sejuk membawa aroma bunga kamboja dari taman belakang, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, aroma tersebut tidak lagi membuatnya merasa nyaman.

“Ayah sedang menunggumu di ruang tamu, Ridwan,” suara Ratna terdengar dari pintu masuk, keras dan jelas di tengah keheningan rumah yang biasanya ramai dengan suara pekerja rumah tangga. Ibu tirinya mengenakan baju kantor berwarna hitam yang rapi, rambutnya diikat rapi ke belakang kepala, memberikan kesan yang dingin dan tidak bisa dilirik. “Dia ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting.”

Ridwan merasa hati nya mulai berdebar kencang. Ia menyelinap melewati Ratna dengan hati-hati, merasa pandangan tajamnya seperti menyiksa kulitnya. Ruang tamu yang luas dan penuh dengan perabotan mahal terasa sangat kosong dan dingin pada malam itu. Ayahnya, Budi Santoso, sedang duduk di sofa besar berwarna coklat tua, tangan kanannya memegang gelas whiskey yang sudah hampir kosong. Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan kerut di dahinya, seolah sedang menghadapi masalah yang sangat berat.

“Kamu datang, Ridwan,” ujar Budi dengan suara yang pelan dan sedikit menggigil. Ia tidak melihat ke arah Ridwan, hanya menatap ke arah jendela yang menghadap ke taman belakang. “Aku perlu berbicara denganmu tentang sesuatu yang sulit.”

Ridwan duduk di sofa kecil di hadapan ayahnya, tangan nya terlipat rapi di pangkuannya. Ia merasa tubuhnya mulai menggigil bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang mulai muncul di dalam dirinya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, mencari sosok ibunya yang biasanya akan datang untuk melindunginya ketika suasana menjadi seperti ini. Tapi ia tahu bahwa ibunya sudah tidak ada lagi—telah meninggal tiga bulan yang lalu karena penyakit yang tidak pernah dijelaskan dengan jelas padanya.

“Seperti yang kamu ketahui, anakku,” mulai Budi dengan suara yang masih pelan, akhirnya menoleh untuk melihat ke arah Ridwan. Mata ayahnya yang biasanya penuh dengan cinta kini terlihat kosong dan jauh. “Setelah kepergian ibumu, perusahaan kita menghadapi kesulitan keuangan yang sangat besar. Aku sudah melakukan segala yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya, tapi sepertinya tidak cukup.”

Ridwan merasa dada nya terasa sesak mendengar kata-kata itu. Ia tahu bahwa perusahaan yang didirikan oleh ibunya dan ayahnya adalah hasil dari kerja keras mereka selama bertahun-tahun. Ia sering melihat ibunya bekerja hingga larut malam di kantor rumah mereka, membuat perencanaan dan menghitung angka-angka dengan sangat teliti. Bagaimana mungkin perusahaan bisa mengalami kesulitan begitu cepat setelah ibunya tiada?

“Untuk menyelamatkan perusahaan dan memastikan bahwa kita masih bisa hidup dengan layak,” lanjut Budi dengan suara yang semakin lemah. “Aku telah memutuskan untuk mengirim kamu ke panti asuhan yang baik di luar kota. Mereka akan merawatmu dengan baik, memberikan pendidikan yang baik, dan kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa lagi.”

Ridwan merasa seperti terkena petir di tengah hari yang cerah. Panti asuhan? Bagaimana bisa ayahnya mengirimnya ke sana? Ia adalah anak satu-satunya mereka, pewaris perusahaan yang didirikan oleh ibunya. “Tapi Ayah… kenapa harus seperti ini?” tanya Ridwan dengan suara yang sedikit gemetar, berusaha menahan air mata yang ingin keluar. “Aku bisa membantu Ayah dengan perusahaan, aku bisa belajar untuk menjadi berguna. Jangan kirim aku pergi.”

Budi hanya menggeleng-geleng kepala dengan perlahan, matanya kembali menatap ke arah jendela. “Ini adalah keputusan terbaik untukmu, Ridwan,” katanya dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Rio akan mengambil alih tanggung jawab untuk perusahaan kelak. Dia lebih tua darimu dan lebih siap untuk menghadapi tantangan dunia bisnis. Panti asuhan adalah tempat yang paling cocok untukmu sekarang.”

Pada saat itu, pintu ruang tamu terbuka dengan tiba-tiba, dan Rio masuk dengan langkah yang percaya diri. Saudara tirinya yang berusia enam belas tahun mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans ketat, rambutnya diatur dengan rapi. Wajahnya yang mirip dengan ayahnya menunjukkan senyum yang tidak bisa dikenali—seolah ia sedang meraih kemenangan atas sesuatu yang telah ia perjuangkan selama lama.

“Sudah cukup berbicara, Ayah,” ujar Rio dengan suara yang jelas dan penuh dengan kepercayaan diri. “Saya sudah siap untuk mengantar Ridwan ke sana. Mobil sudah menunggu di luar.”

Budi hanya mengangguk perlahan tanpa berkata-kata lagi, seolah telah menyerahkan semua kendali pada anak tirinya. Ratna kemudian masuk ke dalam ruangan, membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa baju dan barang-barang pribadi Ridwan. Ia menaruh tas tersebut di atas meja kayu dengan kasar, tidak melihat ke arah Ridwan sama sekali.

“Semua barangmu sudah ada di dalam tas itu,” ujar Ratna dengan suara yang dingin seperti es. “Kamu tidak perlu membawa banyak barang—panti asuhan akan menyediakan segala sesuatu yang kamu butuhkan.”

Ridwan merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang tidak bisa ia tinggalkan. Ia melihat ke arah ayahnya dengan harapan bahwa ayahnya akan berubah pikiran, bahwa dia akan mengatakan bahwa semua ini hanya lelucon yang tidak lucu. Tapi ayahnya hanya tetap diam, menatap ke arah jendela seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Ridwan berdiri dan mengambil tas kecil tersebut. Ia mengikuti Rio dan Ratna keluar dari rumah besar tersebut, merasakan pandangan dingin dari pekerja rumah tangga yang sedang melihat dari kejauhan. Mobil keluarga yang besar dan mewah sudah menunggu di depan pintu masuk, mesinnya menyala dengan tenang.

Rio membuka pintu kursi belakang dengan kasar, menunjukkannya untuk masuk. “Naiklah, Ridwan,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kebencian tersembunyi. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Ridwan masuk ke dalam mobil dengan tubuh yang menggigil, merasa seperti sedang memasuki tempat yang akan membawanya ke akhir dunia. Rio masuk ke dalam kursi pengemudi, sementara Ratna duduk di sebelahnya. Mobil mulai bergerak keluar dari halaman rumah mereka, meninggalkan rumah besar tersebut semakin jauh di belakang mereka.

Pada awalnya, mobil mengikuti jalan raya yang dikenal Ridwan—jalan yang biasanya membawa mereka ke pusat kota atau ke perusahaan di kawasan Dago. Tapi setelah beberapa saat, Rio memutar kemudi ke arah jalan kecil yang tidak pernah ia lewati sebelumnya, jalan yang menuju ke arah luar kota dan ke arah hutan belantara yang luas.

“Kak Rio… ini bukan jalan ke panti asuhan, kan?” tanya Ridwan dengan suara yang sudah mulai terengah-engah karena ketakutan. “Kita sedang pergi ke arah mana?”

Rio tidak menjawab langsung, hanya melihat ke arahnya melalui spion belakang dengan mata yang penuh dengan kebencian. Setelah beberapa saat, ia membuka mulutnya dengan nada yang membuat Ridwan merasa tubuhnya menjadi beku: “Kamu benar, Ridwan. Ini bukan jalan ke panti asuhan. Tempat yang akan kita tuju jauh lebih baik untukmu—tempat di mana kamu tidak akan pernah bisa mengganggu kita lagi.”

Ratna kemudian menoleh dengan perlahan, wajahnya menunjukkan senyum jahat yang membuat Ridwan merasa bulu kuduknya merinding. “Kamu adalah beban yang sudah lama harus kita singkirkan, anak kecil yang tidak berharga,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kesenangan. “Perusahaan dan semua hartanya adalah milik kita sekarang—Rio dan aku. Kamu tidak memiliki hak apapun untuk berada di dalam hidup kita lagi.”

Ridwan merasa seperti dunia sedang runtuh di sekelilingnya. Ia mencoba membuka pintu mobil dengan kekuatan penuh, tapi pintunya sudah terkunci dari luar. Ia berteriak dengan keras, memanggil nama ayahnya berkali-kali dengan harapan bahwa ayahnya akan datang menyelamatkannya. Tapi mobil hanya melaju semakin cepat menuju kedalaman hutan yang semakin gelap dan sunyi.

Ketika mereka sampai di pinggir jalan yang menghadap ke hutan belantara yang dalam, Rio menghentikan mobil dengan tiba-tiba. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, menarik lengan Ridwan dengan kekuatan yang membuatnya merasa sakit. “Keluar dari sini!” seru Rio dengan suara yang meninggi di tengah keheningan malam. “Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami jika kamu ingin hidup dalam damai!”

Sebelum Ridwan bisa melakukan apa-apa, Rio mendorongnya dengan kekuatan besar ke dalam semak-semak yang lebat di pinggir jalan. Tubuhnya menabrak duri-duri semak yang menyakitkan, membuatnya terjatuh di atas tanah yang basah dan licin. Ia melihat ke arah mobil yang mulai melaju menjauh, lampu belakangnya semakin memudar hingga hilang sama sekali di dalam kegelapan malam yang penuh dengan ketakutan dan kesendirian.

Di dalam saku celananya yang sobek, Ridwan merasakan sesuatu yang keras dan dingin—foto ibunya yang ia sembunyikan sebelum keluar dari rumah. Ia menggenggamnya dengan sangat erat, seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya dari kegelapan yang menghadang di depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!