Xiao Nan pernah menjadi Godfather paling ditakuti di Bumi, membangun kerajaan kriminal sebelum tewas akibat pengkhianatan orang terdekat. Namun kematian bukan akhir. Jiwanya bereinkarnasi ke dunia kultivasi di Pulau Matahari Abadi, bangkit sebagai penguasa bayangan sebelum kembali dikhianati dan dijatuhkan ke Pulau Bulan Surga.
Di sana ia terlahir sebagai tuan muda Keluarga Xiao. Ibunya dibunuh, bakat Akar Naga dirampas ayahnya sendiri, dan ia dibuang ke Reruntuhan Dewa dan Iblis. Di neraka itulah Xiao Nan bangkit. Ia mewarisi Sutra Bayangan Naga dan Tulang Naga Dewa, memadukan insting mafia dengan hukum kultivasi. Bersama entitas misterius Finn, ia membentuk Fraksi Shadow Dragon, menghancurkan Keluarga Xiao dari dalam. Namanya mengguncang dunia dan menyeretnya ke Turnamen Jalan Langit Sepuluh Ribu Ras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon King Nan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 7 - TARIAN MAUT DI BALIK KABUT
Suasana di sekitar gubuk Xiao Nan mendadak sunyi senyap. Serangga malam yang tadinya bersahutan kini terdiam, seolah tahu bahwa maut sedang mengintai di antara pepohonan.
Xiao Nan berdiri diam di tengah ruangan yang remang-remang. Tubuhnya yang baru saja dibersihkan dari kotoran, sirkulasi darah kini memancarkan aura yang berbeda lebih tajan dan waspada. Di belakangnya, Ling’er meringkuk di sudut, menahan napas sesuai instruksi tuannya.
Srak...
Suara gesekan kain dengan semak-semak terdengar dari arah kiri. Sangat halus, namun di telinga Xiao Nan yang indranya telah diperkuat oleh Sutra Bayangan Naha, suara itu sekeras ledakan. "Tiga orang," bisik Xiao Nan pada dirinya sendiri. "Satu di depan sebagai pancingan, dua dari samping untuk mengepung. Taktik standar mafia kelas teri."
Tanpa peringatan, sebuah bayangan melesat masuk melalui jendela yang bolong. Seorang pria berpakaian hitam dengan penutup wajah menghujamkan pedang pendek ke arah dada Xiao Nan.
"Mati kau, sampah!" desis si pembunuh.
Namun, Xiao Nan tidak menghindar ke belakang. Ia justru maju selangkah ke depan, masuk ke dalam area buta lawan. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia menggunakan teknik Langkah Seribu Awan meskipun hanya versi dasar yang ia improvisasi untuk menggeser tubuhnya hanya beberapa inci.
Pedang lawan hanya memotong udara kosong. Di detik yang sama, tangan kiri Xiao Nan mencengkeram pergelangan tangan si pembunuh, sementara telapak tangan kanannya yang dialiri Qi hitam menghantam tulang rusuk lawan dengan teknik Tinju Raja Naga.
Krak!
Suara tulang yang patah terdengar renyah. Si pembunuh memuntahkan darah dan terlempar keluar dari gubuk.
"Satu," gumam Xiao Nan dingin.
Dua pembunuh lainnya yang masih bersembunyi di luar terkejut. Mereka tidak menyangka target yang dikatakan `sampah` ini bisa bergerak secepat itu. Tanpa membuang waktu, mereka berdua menyerang secara bersamaan dari arah pintu dan dinding yang hancur.
"Gunakan Teknik Pedang Tanpa Bayangan (Tingkat 3)!" teriak salah satu dari mereka.
Dua kilatan perak menebas udara, menciptakan jaring serangan yang sulit dihindari. Xiao Nan menyipitkan matanya. Di matanya, gerakan mereka terasa lambat karena pengalamannya sebagai Qing Zhao di dunia atas yang terbiasa melihat teknik tingkat tinggi.
Ia meraih belati berkarat di bawah bantal.
Clang! Clang!!
Xiao Nan menangkis serangan itu dengan presisi luar biasa. Ia tidak mengadu kekuatan, melainkan membelokkan arah tebasan lawan. Dengan memanfaatkan momentum lawan, ia menggunakan Langkah Kekosongan yang merupakan sebuah teknik gerak kaki yang ia ingat dari memori masa lalunya untuk muncul di belakang salah satu pembunuh.
Jleb!
Belati berkarat itu menembus leher si pembunuh kedua. Darah hangat muncrat membasahi jubah hitam Xiao Nan.
Pembunuh ketiga, yang tampaknya adalah pemimpin mereka dan memiliki basis kultivasi Pembentukan Qi tingkat Rendah, gemetar hebat. "Kau... kau bukan Xiao Nan! Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku?" Xiao Nan melangkah maju perlahan, belatinya meneteskan darah. "Aku adalah orang yang seharusnya tidak kau ganggu saat sedang mandi."
"Jangan sombong! Terima ini, Telapak Petir Pembelah Langit (Tingkat 4)!"
Pria itu mengumpulkan seluruh Qi na ke telapak tangan. Percikan listrik biru mulai muncul di antara jemarinya. Ia menghantamkan telapak tangannya ke arah Xiao Nan dengan kekuatan penuh. Xiao Nan tidak menghindar. Ia ingin menguji kekuatan fisiknya yang baru. Ia mengumpulkan energi hitam dari Sutra Bayangan Naga ke kepalan tangannya, membuat tinjunya tampak seperti dibungkus oleh asap gelap yang pekat.
BOOM!
Ledakan energi terjadi saat kedua serangan itu bertemu. Percikan listrik dan asap hitam saling melahap. Namun, kekuatan Sutra Bayangan Naga (Tingkat 9) jauh mengungguli teknik tingkat 4 tersebut. Energi hitam Xiao Nan merambat naik ke lengan si pembunuh, menghancurkan meridiannya seketika.
"AAARRGGHHH!" Pria itu jatuh berlutut, lengannya hangus dan lumpuh total.
Xiao Nan berdiri tegak tanpa luka sedikit pun. Ia menatap pembunuh terakhir itu dengan pandangan dingin yang kosong pandangan seorang Lin Ye saat akan melenyapkan saksi mata.
"Siapa yang mengirimmu? Xiao Yi? Xiao Han? Atau si sombong Xiao Mei?" tanya Xiao Nan sambil menaruh ujung belatinya di dahi pria itu. "Xiao... Xiao Han... Dia bilang kau memiliki rahasia... Argh!"
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Xiao Nan sudah menghunjamkan belatinya. Ia tidak butuh jawaban lengkap ia sudah tahu pelakunya. Suasana kembali hening. Xiao Nan mengatur napasnya, merasakan sedikit kelelahan karena memaksakan Qi nya. Ia menoleh ke arah Ling’er yang masih ketakutan.
"Beritahu mereka untuk membersihkan sampah ini besok pagi," ujar Xiao Nan sambil membuang belatinya yang kini patah. "Dan Ling’er... carikan aku pakaian baru. Yang ini sudah kotor oleh darah orang-orang tidak berguna."
Di kejauhan, di paviliun mewah milik Xiao Han, pria itu mendadak merasakan perasaan tidak enak. Ia tidak tahu bahwa tiga pembunuh terbaiknya baru saja menjadi pupuk bagi gubuk tua di pinggiran sekte.