NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Harga Sebuah Nyawa

Informasi itu datang tanpa peringatan, tanpa pengantar, dan tanpa basa-basi.

Sebuah berkas tipis diletakkan di atas meja besi di ruang briefing BALLERINA MURDERER. Meja itu dingin, penuh goresan lama, seolah telah menjadi saksi terlalu banyak keputusan yang berujung pada kematian. Tidak ada sampul, tidak ada logo, tidak ada penjelasan tertulis. Hanya sebuah simbol hitam berbentuk lingkaran terpotong, dicetak kasar di sudut kanan atas kertas pertama. Simbol dunia bawah. Tanda yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup dari kematian orang lain.

Bella Shofie berdiri tepat di depan meja itu. Punggungnya tegak, kedua tangannya terlipat di belakang tubuh. Wajahnya tenang, tetapi matanya waspada, seolah setiap detail sekecil apa pun bisa berubah menjadi ancaman.

Madam Doss berdiri di seberang meja, tubuhnya tak bergerak, suaranya rendah namun tegas.

“Ini bukan satu orang,” katanya pelan.

“Ini aliansi.”

Bella tidak langsung menjawab. Ia meraih berkas itu dan membukanya perlahan, seakan takut halaman-halaman di dalamnya menyimpan sesuatu yang lebih berat daripada sekadar tinta dan kertas.

Di dalamnya, nama-nama tersusun rapi. Simbol-simbol kecil di samping setiap nama menunjukkan afiliasi, spesialisasi, dan wilayah operasi. Jalur transaksi digambar seperti peta darah: dari rekening gelap, perusahaan bayangan, hingga tangan-tangan yang tidak pernah muncul di permukaan hukum. Sebuah jaringan pembunuh bayaran lintas kota, lintas negara, terorganisir, dan dingin. Mereka mempertaruhkan nyawa manusia seperti bidak catur, lalu menjual kematiannya kepada penawar tertinggi.

“Aliansi ini,” lanjut Madam Doss, “tidak membentuk misi untuk keadilan. Mereka tidak peduli benar atau salah. Mereka bergerak karena satu hal.”

Bella mengangkat pandangan.

“Uang,” kata Madam Doss singkat.

Bella kembali menunduk. Tangannya membalik halaman demi halaman. Semakin jauh ia membaca, semakin jelas pola yang muncul.

Metode eksekusi.

Cara mendekat.

Teknik menghilang.

Semuanya terasa terlalu familiar.

Jantungnya berdetak lebih keras. Rahangnya mengeras.

“Bounty,” ucap Madam Doss, kali ini sedikit lebih pelan.

“Setiap kepala punya harga.”

Bella berhenti pada satu halaman. Matanya menyusuri detail dengan cermat. Ada catatan kecil di pinggir kertas, dibuat dengan tinta merah gelap.

Ia menghela napas perlahan.

“Jadi ayahku—”

“—adalah bagian dari permainan mereka,” potong Madam Doss tanpa emosi.

“Entah sebagai target utama, atau hanya korban sampingan yang kebetulan berada di jalur mereka.”

Kata-kata itu jatuh berat di udara.

Ruangan briefing terasa lebih dingin. Tidak ada suara selain dengungan mesin pendingin dan napas Bella yang kini sedikit lebih dalam. Untuk sesaat, ia merasa seperti berdiri di tepi jurang yang sama sekali baru.

Sebelum Bella sempat mengatakan apa pun, layar besar di dinding menyala. Cahaya biru pucat memantul di wajah mereka berdua.

BOUNTY BARU TERBUKA

Target: Konglomerat

Lokasi: Houston, Texas

Nilai: 100.000.000

Bella menatap angka itu lama. Sangat lama.

Seratus juta.

Angka yang cukup untuk membeli kesetiaan, membungkam kebenaran, dan menghancurkan satu keluarga tanpa jejak. Tidak ada alasan tertulis. Tidak ada motif yang dijelaskan. Hanya data singkat dan nilai kontrak.

“Hanya satu pertanyaan,” kata Bella akhirnya. Suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.

“Kenapa?”

Madam Doss menatapnya lurus.

“Karena seseorang membayar.”

Tidak ada penjelasan tambahan.

Bella terdiam beberapa detik. Dalam benaknya, wajah ayahnya terlintas. Ingatan yang selama ini ia tekan, kini muncul kembali tanpa izin.

Lalu ia berkata, “Aku ambil.”

Tidak ada keraguan.

Tidak ada diskusi.

Pesan diterima.

Houston bukan kota yang ramah bagi pembunuh asing.

Begitu Bella menginjakkan kaki di kota itu, ia bisa merasakannya. Udara panas, jalanan luas, gedung-gedung tinggi menjulang seperti mata yang selalu terbuka. Kota itu hidup, berisik, dan penuh pengawasan. Dalam waktu singkat, Bella menyadari satu hal penting.

Ia tidak sendirian.

Beberapa pembunuh lain telah tiba lebih dulu. Mereka tidak saling menyapa, tidak saling menantang secara terbuka. Namun mereka saling mengenali. Dari cara berjalan yang terlalu terkontrol. Dari sikap tubuh yang siap bereaksi. Dari tatapan yang tidak pernah benar-benar lengah.

Semua mengincar satu target yang sama.

Namun hanya satu yang akan dibayar.

Bella mengamati dari kejauhan. Ia tidak terburu-buru. Ia memilih menjadi penonton sebelum menjadi pelaku. Ia mencatat rutinitas, pola keamanan, perubahan kecil yang sering diabaikan orang lain.

Konglomerat itu menginap di Hotel Mercure, lantai atas. Penjagaan ketat. Pengawal bersenjata. Kamera di setiap sudut. Jalur masuk terbatas.

Bella menyelinap masuk bukan sebagai pembunuh, melainkan sebagai bayangan.

Seragam staf.

Waktu yang tepat.

Langkah yang tidak meninggalkan jejak.

Satu tembakan.

Sunyi.

Teliti.

Tidak ada teriakan. Tidak ada kekacauan. Target jatuh bahkan sebelum sempat menyadari bahwa hidupnya telah dilelang di dunia yang tidak pernah ia kenal.

Bella keluar sebelum alarm berbunyi.

Namun dunia bawah bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Begitu kabar kematian itu menyebar, nama Bella Shofie mulai berbisik di antara jaringan pembunuh Houston. Dari bar gelap hingga komunikasi terenkripsi.

Gaya bertarungnya dikenal.

Tembakannya terlalu bersih.

Gerakannya terlalu presisi.

“Itu dia.”

“Ballerina.”

“Gadis itu.”

Beberapa kelompok tidak terima. Bukan karena target mati, melainkan karena bounty itu bukan milik mereka.

Di sebuah gang sempit dekat hotel, Bella menyadari langkah-langkah yang mengikutinya.

Satu.

Dua.

Lebih.

Ia berlari.

Bukan menjauh, melainkan memancing.

Pisau keluar. Senjata terangkat. Pertarungan singkat pecah di bawah lampu kota yang redup. Bella bergerak cepat, tubuhnya mengalir seperti tarian yang mematikan. Satu demi satu lawan jatuh. Tidak selalu berakhir dengan kematian, tetapi cukup untuk menghentikan mereka.

Ia tahu, malam itu, namanya telah masuk daftar buruan.

Ia berhasil kabur.

Mobil aksi membawanya menjauh dari lokasi. Napasnya berat. Bajunya ternodai debu dan darah, bukan semuanya miliknya.

Madam Doss menyambung komunikasi.

“Kau membuat gelombang,” katanya.

“Sekarang mereka tahu kau nyata.”

Bella menatap ke luar jendela. Lampu-lampu Houston perlahan menjauh, menyatu menjadi garis-garis cahaya.

“Bagus,” jawabnya dingin.

“Berarti aku semakin dekat.”

Karena jika aliansi itu benar-benar ada, jika bounty menjadi bahasa mereka, maka cepat atau lambat nama pembunuh ayahnya akan muncul. Entah sebagai pemburu, atau sebagai target.

Dan saat hari itu datang, Bella Shofie tidak hanya akan menari di antara peluru.

Ia akan memastikan bahwa harga yang harus dibayar jauh lebih mahal daripada apa pun yang pernah mereka lelang.

...Bersambung~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!